Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 72. Otw malam pertama


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Tanpa peduli ada dimana dan ada siapa, Leon memagut bibir wanita cantik yang kini telah resmi menjadi istrinya. Tangannya tidak tahan untuk segera menjelajahi tubuh istrinya.


Aileen melepas ciumannya lebih dulu, dadanya naik turun karena ia mulai kehabisan nafas. Kedua netra mereka bertemu dengan intens, Aileen dan Leon sama-sama tak sabar untuk meneguk manisnya malam pertama Ya, mungkin itulah arti tatapan mereka saat ini.


"Woy! udah dong, lanjut nanti di kamar aja." protes Bram pada sahabatnya itu.


"Ai... kita ke kamar yuk?" ajak Leon tanpa tahu malu. Tak hentinya ia menatap wanita yang kini telah menjadi istrinya. Wanita itu sangatlah cantik, imut dan membuatnya candu. Ia yakin kehidupannya dan Aileen akan bahagia selamanya.


"Ini masih siang pa," ucap Aileen gugup, ia memalingkan wajahnya yang tampak malu-malu.


Tanpa aba-aba lebih dulu, Leon langsung menggendong istrinya ala bridal. Semua orang disana terlihat senang, kecuali Agatha.


Agatha memang senang dengan kebahagiaan kakaknya, tapi dia tidak suka bila kakaknya bahagia dengan Aileen. Dia terus saja memasang wajah cemberut sambil membuka ucapan Aileen tadi pagi. Benarkah gadis itu akan pergi?


Ah! Agatha memutuskan untuk tidak memikirkan bualan itu. Dia memilih pergi dari sana bersama putrinya.


Usai pernikahan sakral dan khidmat itu, Aileen dan Leon langsung pulang ke rumah mereka untuk sekedar beristirahat lebih dulu sebelum pergi ke hotel tempat mereka menginap.


Kenapa tidak langsung ke hotel? Itu karena Aileen ingin berpamitan pada semua orang yang ada dirumah itu terlebih dahulu sebelum pergi selamanya. Tentu berpamitan dengan caranya sendiri.


Ia berkata pada semua orang disana agar selalu menjaga kesehatan, terutama kepada pak Anwar dan bi Ratna yang selama ini selalu menyayanginya. Menemani masa kecilnya disana dan sekarang semua yang terjadi di rumah ini hanya akan jadi kenangan saja.


"Bi Ratna, bi Lina, bi Mila, pak Anwar, pak Frans, kalian semua ayo sini!" Aileen melambaikan tangannya pada semua orang yang kebetulan sedang berkumpul di halaman depan rumah. Aileen membawa kamera di tangannya.


Hari itu mereka bebas tugas karena Leon memberikan libur pada para pekerjanya. Kini mereka tengah bersantai di depan sana sambil ngobrol-ngobrol. Leon juga tidak marah ataupun melarangnya.


"Ada apa non?" tanya semua orang terheran-heran kenapa si pengantin yang baru menikah beberapa menit itu memanggil mereka.


"Kita foto yuk! Selfie selfie!" ajak Aileen pada semua pekerja di rumahnya itu.


"Tumben banget si non ngajakin Selfi non, hehe." celetuk pak Anwar.


"Ini kan hari bahagia aku dan kalian belum ambil foto sama aku, jadi aku mau ambil foto kalian! Hehehe." Aileen terkekeh, senyuman lebarnya sampai memperlihatkan kedua lesung pipinya yang manis.


"Hayo non."


Semua pelayan, supir, satpam bahkan para bodyguard itu menganggukkan kepala mereka dengan setuju. Mereka berfoto bersama Aileen, fotonya langsung jadi karena Aileen memakai kamera polaroid.


"Bagus banget non, hehe." kata Lina heboh.


"Iya bagus kan." sahut Aileen sambil melihat foto-foto itu. Ia mencegah sekuat tenaga agar air matanya tak jatuh sekarang.

__ADS_1


Ini mungkin kenang-kenangan terakhirku bersama kalian.


Kemudian Aileen pun pamit ke kamar untuk jelaskan barang-barang yang untuk dibawa ke hotel. Aileen juga membawa boneka yang diberikan oleh Leon saat pria itu menyatakan cinta padanya di hotel Samudra. Dia memasukkannya ke dalam koper bersama baju-baju. Setelah dari hotel dan menghabiskan malam bersama suaminya, dia akan pergi dari Leon.


"Sayang,"


"Iya pa?" Aileen menoleh ke arah Leon yang ada dibelakangnya, kemudian dia disambut sebuah kecupan manis di bibirnya oleh sang suami. "Papa..." semburat merah terlihat di wajah Aileen.


"Udah nikah masa masih panggil papa sih?" Leon melingkarkan tangannya di tubuh mungil gadis itu. Terpancar kebahagiaan di wajah Leon, pria yang berulang tahun pada esok hari tapi sepertinya Leon tak ingat.


"Aku harus panggil apa dong? Honey, hubby, sweetie atau--MAS." ucapnya pada Leon seraya tersenyum tipis.


Mendengar kata Mas, membuat Leon tersipu malu. Ternyata benar apa kata Bram, Leon ingin dipanggil mas.


"Ah...atau papa mau dipanggil om sayang?" Goda gadis itu seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Leon.


Cup!


Aileen mencium bibir Leon dengan lembut.


"Jangan om dong! Lebih manis dikit." protes Leon tak terima.


"Ehm...mas.." ucap Aileen dengan mendesah dan suara manjanya.


Hingga tubuh keduanya menjadi panas tak karuan dan meminta lebih. Tanpa sadar mereka sudah ada diatas ranjang. Tiba-tiba saja Aileen mendorong tubuh Leon, hingga ciuman mereka terlepas. Nafas keduanya terengah, tampak mereka menikmati adu lidah itu. Sampai benang saliva keduanya masih terhubung, bahkan setelah ciuman itu berlalu.


"Nanti kita lanjut di hotel pa," bisik Aileen lalu mengigit pelan telinga Leon dengan gemas.


Aku harus kasih kejutan sama kamu di hotel, kejutan ulang tahun buat kamu.


"Tapi mas udah on fire, sayang." bisik Leon seraya melirik bagian bawahnya memegang.


"Sabar mas, nanti di hotel kamu bebas mau ngapain aku aja!" kata Aileen manja.


Leon tersenyum gemas menatap wajah cantik istrinya. "Gemes banget sih, saat bibir kamu bilang mas...mas jadi gak sabar pengen--"


Hup!


Aileen menutup mulut Leon dengan tangannya. "Mas jangan mulai deh mesumnya!"


"Oke deh oke." Leon menepis pelan tangan Aileen, lalu mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut. "Yuk kita siap-siap ke hotel, mas gak sabar. Junior yang udah gak sabar," bisik Leon yang sontak saja membuat bulu kuduk Aileen merinding membayangkan malam pertamanya.


Setelah berganti pakaian, mereka pergi ke hotel tempat mereka menginap. Hotel Samudra menjadi pilihan karena hotel itu adalah salah satu hotel dengan fasilitas mewah, bahkan di dalam kamar VVIP nya ada fasilitas kolam renang. Khusus paket honeymoon.

__ADS_1


Sesampainya di dalam gedung hotel mewah itu, Sam dan Sahara yang kebetulan ada disana tak sengaja berpapasan dengan Aileen dan Leon yang sedang berpegangan tangan.


Sam menatap Aileen dengan dingin, namun tersirat kesedihan di matanya. Sementara Leon tersenyum menang karena sudah berhasil mengikat Aileen disisinya.


"Selamat sore pak Leon," sapa Sahara yang lebih dulu memulai pembicaraan. Jujur, ia menginginkan Aileen menjadi menantunya. Sam juga mencintainya, tapi apa daya jika takdir gak mengizinkan.


"Sore Bu Sahara, sore pak Samuel." balas Leon menyapa ibu dan anak itu. Sahara tersenyum tapi Sam mendelik sinis, dia melengos menghindari Leon.


"Sore Tante, sore kak Sam." Aileen tersenyum dan berjalan mendekati Sahara.


"Iya sayang," Sahara tetap bersikap lembut pada Aileen, ya dia sudah menganggap Aileen sebagai anaknya sendiri. Sahara memeluk Aileen dengan lembut. "Semoga kamu bahagia ya sayang, kalau suamimu menyakitimu kamu bisa pulang ke rumah Tante."


"Itu tidak akan terjadi Bu Sahara, saya tidak akan pernah menyakiti Aileen. Saya juga tidak akan pernah memberikan ruang kepada Aileen untuk kecewa dan menangis." kata Leon tegas. Sebenarnya Aileen tidak tahu menahu soal Sam dan Sahara yang tau tentang pernikahannya. Tapi pasti Leon sudah memberitahunya.


"Baiklah, saya pegang janji anda pak Leon. Aileen sudah seperti putri saya sendiri, jika anda menyakitinya...anda akan berhadapan dengan saya." kata Sahara bak seorang ibu yang sayang pada anaknya dan membuat Aileen terharu.


"Tante, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan tante. Semoga Tante sehat selalu ya," ucap Aileen pada Sahara.


"Iya sayang, kamu juga." balas Sahara lalu mengelus pipi Aileen. Kemudian dia menyenggol tangan Sam.


"Ehem, selamat atas pernikahan kalian, semoga bahagia." kata Sam canggung.


"Makasih kak, makasih selama ini kakak udah banyak bantu aku dan semoga kakak sehat selalu, lalu mendapatkan wanita yang benar-benar mencintai kakak." kata Aileen mendoakan dengan tulus.


Kak Sam makasih, aku tak tahu kapan kita bertemu lagi.


"Ya." balas Sam dingin.


Setelah itu Leon buru-buru mengajak Aileen pergi ke kamar yang telah mereka pesan disana. Sam menatap kepergian mereka dengan sedih, bahkan tanpa sadar air matanya luruh begitu saja.


"Kamu harus relakan dia Sam...tapi kenapa mama merasa Aileen seperti orang yang akan pergi ya?" gumam Sahara.


Sam menoleh pada mamanya dengan tatapan bertanya-tanya. Orang yang akan pergi?


...****...


Spoiler...


Suara dessahan dan erangan menggema di ruangan itu, suara decitan ranjang menjadi saksi bisu kegiatan erotisme mereka di atas sana.


"Happy birthday mas..."


...****...

__ADS_1


__ADS_2