
...πππ...
Malam itu Aileen ketiduran sambil menonton di sofa empuk apartemen Cleo. Dia memakai celana hot pants dan juga atasan kemeja piyama panjang yang ia pinjam dari Cleo. Gadis itu tertidur pulas dengan rambut menutupi wajah dan juga dalam posisi terlentang bebas.
"Yeh...ini anak malah tidur? Dia mau pulang apa enggak sih?" gumam Cleo sambil memandang temannya yang masih tidur itu.
Ting tong!
Suara bel membuat Cleo segera beringsut dari sofa itu, lalu dia melangkahkan kakinya ke arah pintu apartemen. "Siapa yang datang malam-malam gini?"
CEKLET!
Cleo membuka pintu apartemennya dan dia terkejut melihat sosok pria bertubuh tinggi dengan kumis tipis dan cambang di dagunya. Atensinya begitu tajam pada Cleo dan membuat Cleo menelan ludah kasarnya kehadiran melihat pria itu.
Pria yang bisa menekan seseorang hanya dengan tatapannya. Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Cleo, jika saja usia mereka tak terpaut jauh mungkin Leon bagus juga untuk menjadi kekasihnya. Tampan, kaya, mapan, bukankah itu semua kriteria Cleo. Namun usia hampir kepala empat mungkin terlalu dewasa untuknya.
Jika saja pria didepannya ini bukan Papa sahabatnya, mungkin sudah dia embat. Itulah pikiran gilanya.
"O-om Leon?" Cleo mengusap anak rambutnya ke belakang telinga.
"Mana Aileen?" tanya Leon tanpa basa-basi dengan wajah datarnya.
"Aileen tidur, om." jawabnya dengan suara sedikit gemetar.
"Tunjukkan dimana dia tidur!" ujarnya pada Leon. Pria itu sangat mengutamakan kesopanan ketika bertamu ke rumah orang, tidak langsung masuk ketika belum dipersilahkan masuk oleh tuan rumah.
"Silahkan masuk om, akan saya tunjukkan." Cleo memberikan jalan pada Leon untuk masuk ke dalam apartemennya.
__ADS_1
Cleo memandu Leon sampai ruang tengah, dimana Aileen tengah tertidur pulas di atas sofa dengan posisi tubuh terlentang bebas. Leon menggeleng-gelengkan kepalanya melihat posisi tidur putrinya yang tidak pernah berubah dari dulu.
Cleo melihat pria itu menggendong sahabatnya dengan hati-hati. Keningnya berkerut dan bertanya-tanya mau dibawa ke mana Aileen. "Om, Aileen-nya mau dibawa kemana?"
"Pulang." jawab Leon dingin.
"Oh gitu ya om," sahut Cleo yang tidak bisa lagi menjawab ataupun bertanya kepada Leon, sungguh dia mati kutu bicara dengan pria dingin itu. Seakan topik yang sudah dia susun di kepalanya menghilang seketika.
Jirr... Aileen Papamu sangat menyeramkan.
Tanpa banyak bicara lagi, Leon menggendong putrinya lalu dia membawa tas ransel yang selalu dibawa oleh Aileen dari atas sofa apartemen Cleo. Kemudian dia membawa Aileen pergi dari sana.
Aileen benar-benar masih tidur bahkan sudah sampai di atas ranjang kamarnya pun dia masih pulas dan tak sadar digendong oleh Leon. "Astaga...anak ini... bagaimana bisa dia berani tidur di rumah orang lain padahal dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri? Tidur saja seperti orang pingsan begini."
"Eungh--" lenguh Aileen disela-sela tidur pulasnya itu.
Leon duduk disamping gadis yang sedang tertidur itu, lalu dia merapikan rambut yang menutupi wajah cantik Aileen dengan lembut.
Tiba-tiba saja terlintas di dalam ingatan Leon, bagaimana dia mengurus Aileen dari kecil hingga anak itu sudah sebesar ini. Tumbuh menjadi gadis yang cantik dan smart, tapi tetap manja padanya. "Papa sayang kamu Ai, tapi bukan cinta sayang. Kamu harus memahami bedanya sayang dan cinta, Papa harap kamu bisa menemukan orang yang kamu cintai agar kamu bisa mengetahui perbedaan cinta kekasih dan rasa sayang dalam artian keluarga."
"Tapi kita bukan keluarga Pah, kita tidak sedarah. Aku hanya anak angkat Papa," sahut Aileen dengan suara serak khas bangun tidur.
Leon terbelalak melihat Aileen tiba-tiba saja membuka matanya dan beranjak duduk, tak hanya itu Aileen juga memegang tangan papanya.
"Ai..."
"Kalau Papa memang tidak bisa membalas pernyataan cintaku, izinkan aku melakukan ini untuk yang terakhir kalinya Pa," tangan Aileen meraba-raba dada bidang Leon dengan lembut.
__ADS_1
"Ai...jangan macam-macam sayang," lirih Leon yang merasakan tatapan aneh Aileen padanya dan debaran di jantungnya ketika merasakan sentuhan Aileen. Dia merasakan suhu tubuhnya naik secara tiba-tiba.
"Pah, jangan menolaknya! Karena ini mungkin yang terakhir sebelum aku melupakan Papa,"
Tangan Aileen membelai lembut pipi Leon, lalu ditatapnya wajah tampan itu dengan penuh kasih. Tanpa basa-basi dia mempraktekkan apa yang dia tonton di film blue yang pernah ia tonton bersama Cleo. Bibirnya kini sudah terbenam pada bibir sensual Leon. Pria itu tidak mendorong Aileen seperti yang terakhir kali, bahkan kini Aileen telah naik ke atas pangkuannya.
Papa tidak menolakku?
Aileen meneruskan keterampilan ciuman yang masih newbie, sesekali dia menggigit bibir Leon agar pria itu membuka bibirnya. Akan tetapi Leon tetap bungkam, hingga senjata Laras panjang miliknya menegang manakala Aileen duduk naik turun dipangkuannya.
Huh! Papa bilang aku bukan wanita, kan? Tapi tubuh Papa berkata lain.
Gadis itu puas melihat Leon yang mulai menikmati permainannya. Bahkan Leon kini mulai membalas ciuman Aileen, mengobrak-abrik rongga mulut dan saling bertukar Saliva. Sampai terdengar suara lenguhan nikmat dari keduanya.
"Eungh--Papa..."
Tubuh tidak berbohong, Leon memang merasakan sensasi yang berbeda saat mencium Aileen. Dia tau ini gila, tapi dia tak sadar. Bahkan bibirnya mulai menyusuri ceruk leher Aileen setelah puas bermain dengan bibir cantiknya.
Ketika tangan Leon mulai menyentuh bagian sensitif tubuh Aileen yang seperti squishy itu, barulah disana Leon menyadari kesalahannya. "Maafkan Papa Ai, Papa..."
Astaga Leonardo Xavier!
"Pa... Aileen tanya untuk yang terakhir kalinya kepada papa. Apa papa menganggap Aileen sebagai wanita atau anak?" tanya Aileen tegas seraya menatap Leon dengan tatapan serius.
Ini kesempatan terakhir untuk hubungan kita Pa.
"Papa mencintai Celia dan Papa tidak pernah menganggap kamu sebagai wanita, apa yang baru Papa lakukan adalah sebuah khilaf....jadi papa mohon maaf, Ai." ucap Leon menyesal pada putrinya.
__ADS_1
Aileen menahan salivanya, matanya mulai berembun mendengar jawaban yang lagi-lagi membuangnya kecewa. "Baik Pa, aku akan melupakan Papa."
...*****...