
...πππ...
Matanya bergetar melihat foto seorang gadis berambut coklat, dengan wajah yang mirip dengan Nabila dan Mark. Campuran antara keduanya ada pada diri Aileen Sheravina Xavier.
"Toni! Cari tau siapa gadis yang bersama Leonardo Xavier, kalau perlu kau juga gali sedalam-dalamnya tentang gadis ini dan Leonardo Xavier!" titah Eric pada bawahannya itu.
"Baik tuan, akan saya dapatkan segera informasinya." Toni menganggukan kepalanya, lalu pergi entah kemana dan meninggalkan Eric sendirian disana.
Atensi Eric tertuju pada foto Aileen yang diketahui sebagai putri dari Leonardo Xavier. Dadanya bergemuruh, melihat foto gadis itu.
"Kenapa kau begitu mirip dengan Mark dan wanita sialan itu?" gerutu Eric bingung.
Kemudian terlintas di kepalanya, kejadian beberapa tahun yang lalu saat Mark meninggalkan mansion mewahnya demi putri seorang pelayan.
#Flashback
23 tahun yang lalu, di mansion Arlando.
Dua insan muda berjalan sambil berpegangan tangan memasuki mansion Arlando. Si perempuan tampak resah dan ketakutan, namun si pria tersenyum dan berusaha untuk menenangkannya.
"Kau tenang saja Nabila, apapun yang terjadi...kita akan selalu bersama." ucap Mark seraya tersenyum dan memegang tangan Nabila, wanita cantik dengan rambut panjang dan manik mata berwarna coklat, pakaiannya terlihat sederhana namun menawan.
"Baiklah Mark." Nabila menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua pun masuk ke sebuah ruangan tertutup, ruangan itu adalah ruangan kerja dari Eric. Ayah dari Mark Arlando yang dikenal sebagai pimpinan gangster sekaligus pemimpin sebuah perasaan bernama Arlando grup.
Mark adalah anak laki-laki satu-satunya dari Eric, artinya dia adalah pewaris yang akan meneruskan usahanya kelak. Namun Mark menolak usaha haram papanya sebagai gangster di dunia hitam, dia hanya menerima tugas sebagai pimpinan perusahaan. Mark tidak seperti ayahnya yang beringas, dia memiliki sifat baik seperti mamanya.
"Kau sudah datang Mark?" sambut Eric sambil mengepulkan asap dari cerutu mahalnya. Tatapan matanya begitu tajam pada Mark, apalagi pada Nabila. Putri pelayan di rumahnya yang sudah Eric pecat berbagai hari yang lalu.
"Iya pa, aku pulang." jawab Mark sambil memberanikan diri menatap papanya yang terlihat menyeramkan itu. Bahkan Mark masih ingat betapa seringnya pria itu menyiksa dirinya ketika dia masih kecil sampai sekarang.
Ayahnya adalah orang yang kuat dan sulit ditentang.Siapapun yang bersalah dia harus mendapatkan hukuman tanpa pandang bulu.
"Kenapa kau pulang bersama wanita ini, hah?" tanya Eric dengan atensi yang begitu tajam pada Nabila. Satu bulan berlalu sejak Mark meninggalkan rumah mewahnya dan ini dia kembali bersama Nabila.
__ADS_1
"Mulai sekarang aku dan Nabila akan selalu bersama-sama." ucap Mark.
"Apa maksudmu Mark?" tanya Eric dengan tajamnya.
"Aku dan Nabila, kami sudah menikah Pah!" kata pria itu tegas sambil menggenggam tangan wanita yang sudah resmi menjadi istrinya tepat 1 bulan yang lalu.
"Apa kau bilang? Kau sudah menikah dengan wanita JALANGG ini?" suara Eric begitu meninggi, manakala dia melihat sosok wanita yang telah diakui oleh putranya sebagai istri. Dan wanita itu tak lain adalah menantunya.
Eric meludah ke lantai, dia tidak sudi memiliki menantu Putri seorang pelayan rendahan. Dia jelas menentang pernikahan putranya dengan wanita bernama Nabila itu.
"Cih! Jangan bercanda kau Mark, papa tidak pernah sudi memiliki menantu seperti dia! Papa sudah pernah mengatakan padamu bukan? Kalau kau harus menikah dengan putri dari Armand!"
"Pa, aku dan Nabila sudah menikah...tanpa restu dari papa. Dan papa harus menerima fakta bahwa penentu papa adalah Nabila."
"Anak sialan! Beraninya kau menentang perintah papa! Cepat ceraikan wanita jallang ini dan menikahlah dengan Sahara!" teriak Eric dengan tegas.
Ya, cinta mereka memang tidak direstui karena perbedaan status sosial yang sangat besar. Mark ibaratkan pangeran dan Nabila ibaratkan seorang dengan status rendah. Eric yang selalu mementingkan nama baik keluarga, tentunya dia tidak sudi memiliki menantu seperti Nabila.
"Tidak Pah! Kalau Papa ingin aku kembali tinggal di rumah ini, maka Papa harus menerima Nabila sebagai menantu keluarga ini! Kalau papa, tidak mau menerima Nabila...maka aku tidak akan menjadi pewaris perusahaan papa!" kata Mark tegas.
Satu bulan tinggal di mansion mewah Arlando dikelilingi oleh banyak penjaga dan juga pelayan. Nyatanya tidak membuat Nabila hidup bahagia, selagi suaminya tak ada di rumah dia diperlakukan sebagai pembantu dan ketika suaminya ada di rumah semua orang berpura-pura baik kepadanya, seolah-olah tak ada apapun yang terjadi. Pada suatu hari, perlakuan semua orang dimension itu terhadap Nabila terbongkar oleh Mark sepulang dari perjalanan bisnisnya.
Mark sangat murka karena istrinya diperlakukan seperti pembantu, bahkan lebih buruk dari itu. Akhirnya Mark memutuskan membawa Nabila yang saat itu sedang hamil, pergi dari mansion Arlando.
Dengan susah payah, Mark dan istrinya pergi meninggalkan mansion itu. Mereka kabur ke luar negeri untuk memulai hidup baru. Walaupun cinta mereka tidak direstui oleh Eric.
Mereka hidup dengan nama dan identitas baru di sebuah rumah sederhana yang jauh dari kota. Mark dan Nabila sangat bahagia, apalagi dengan kehadiran Putri kecil mereka yaitu Aileen.
Namun sebuah keadaan mengharuskan Mark dan Nabila untuk pulang ke negara Indonesia. Mereka berdua bersama dengan Aileen pergi naik pesawat.
Disanalah mereka bertemu dengan Leon dan Giselle tunangannya. Lalu terjadilah kecelakaan pesawat yang menewaskan Mark, Nabila dan Giselle.
Setelah itu Eric menerima berita bahwa Mark, Nabila dan anaknya tewas dalam kecelakaan pesawat. Padahal Aileen anaknya masih hidup dalam asuhan Leon, sahabat sekaligus juniornya di sekolah dulu.
#End Flashback
__ADS_1
"Jika benar anak Mark dan Nabila masih hidup dan dia adalah anak ini, sudah dipastikan dia adalah---"
Ketika Eric sedang sendirian, tiba-tiba saja Toni masuk ke dalam ruangan itu dan membawa dokumen tentang Leon dan juga Putrinya dengan lengkap.
Eric lihat dokumen itu dan berulang kali mengerutkan keningnya. "Aileen adalah anak dari Giselle dan Leonard Xavier? Apakah ini benar? Mengapa aku tidak yakin? Apa mereka memasukkan identitas mereka untuk menutupi identitas cucuku?" gumam Eric bingung.
Setelah membaca dokumen yang diberikan oleh Toni, Eric memerintahkan ajudannya itu untuk mengawasi Aileen dan Leon. Walaupun agak sulit karena Leon dan Aileen juga memiliki banyak bodyguard.
"Awasi saja dari jauh... kalau bisa dapatkan sesuatu dari tubuh gadis itu, aku ingin menguji tes DNA padanya." jelas Eric paga anak buahnya.
"Baiklah tuan, akan saya perintahkan orang-orang kita untuk mengawasi gadis itu dan mendapatkan rambutnya walau hanya sehelai." ucap Toni.
*****
Sore itu, di ruang tengah mansion Xavier. Aileen dan Leon baru saja pulang dari kantor. Keduanya masih tampak lelah, melihat Aileen lelah. Leon mengatakan pada Aileen untuk membatalkan acara mereka pergi keluar.
"Sayang, apa kamu lelah?" tanya Leon sambil mengusap anak rambut Aileen.
"Dikit pah."
"Kalau kamu lelah, kita tunda saja jalan-jalan keluarnya ya."
"Ah! Tidak pa! Kita kan tetap jalan-jalan pa, aku tidak lelah." Aileen menggeleng-gelengkan kepalanya, bibirnya mengerucut.
Melihat wajah gadis itu, Leon jadi tak tega. "Beneran kamu gak capek?" tanyanya lagi.
Aileen mengangguk-anggukan kepalanya. "Enggak pah, aku gak cape. Ayo kita jalan-jalan pa... setelah aku keluar dari rumah sakit aku hanya terkurung di rumah. Aku kan bosan, pah." gerutu gadis itu dengan bibir yang mengerucut.
"Iya baiklah, Papa mandi dulu dan siap-siap. Kamu juga istirahat dulu sebentar dan siap-siap ya." Leon mengelus kepala Aileen dengan lembut.
Gadis itu tersenyum lalu dengan semangat dia berjalan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua ke kamarnya. Leon melihat kepergian gadis itu dengan senang.
Kemudian dia menelpon seseorang. "Halo.....apa semuanya sudah siap?........Yaa saya Leonardo Xavier........ benar jam 8 malam. Saya tidak mau ada kesalahan!........oke."
Usai bicara dengan seseorang di telepon, Leon tersenyum. Kemudian dia naik ke lantai dua untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk acara date nya.
__ADS_1
...*****...