
...πππ...
"Papa cari aku?" tanya Aileen yang sudah berdiri tepat dibelakang Leon yang tengah berdiri di ambang pintu kamarnya.
Leon menoleh ke arah Aileen, dia memandangi penampilan Aileen yang terlihat begitu rapi dan elegan. "Aku pikir papa sudah bersiap. Bukankah hari ini Papa ada rapat penting?" tanya Aileen dengan suara datar, tidak ramah seperti sebelumnya. Matanya menganalisa penampilan Leon yang masih sama seperti semalam.
"Ai... Papa mau bicara, nak." lirih sekali suara Leon saat bicara dengan Aileen.
"Mandi dulu pah, lalu ganti baju, nanti kita sarapan bersama." kata gadis itu datar.
"Lalu kita bicara ya, nak?" tawar Leon seraya memohon memelas pada Aileen. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Aileen yang membuatnya resah dan dia akan mengakhiri semua perasaan aneh ini.
"Ya."
Dingin.
Itulah sikap Aileen saat ini pada Leon, ya mungkin itu karena kejadian semalam yang membuat Aileen marah. Leon menghela nafas berat, lalu dia masuk kembali ke kamarnya dan membersihkan diri. Setelah 15 menit mandi dan berganti pakaian dengan pakaian formal untuk bekerja, Leon keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga menuju ke ruang makan.
Ia melihat Ratna dan seorang pelayan lain sedang menata makanan di atas meja makan. Tidak banyak yang dimakan saat sarapan, hanya roti, susu, atau kadang nasi goreng, atau juga bubur.
Namun kali ini Leon melihat menu sup ayam di atas meja dan juga jus buah. Hidangan yang tidak biasa untuk sarapan.
Leon pun bertanya pada Ratna untuk memastikannya. "Bik Ratna."
"Iya tuan,"
"Kenapa ada sup ayam sama jus buah juga? Ini masih pagi loh, apa bibi gak salah menu?" tanya Leon dengan kening berkerut, sungguh ia sangat heran dengan menu sarapan ini.
"Oh...ini non Aileen yang buat katanya tuan semalam pusing dan pengar. Jadi bibik merekomendasikan sup ayam sama jus buah, biar pengarnya tuan hilang." tutur Ratna menjelaskan. Bahwa makanan itu dibuat oleh Aileen untuk papanya.
"Aileen--yang buat bik?" rasanya Leon tidak percaya menatap sup ayam didepannya yang tampan menggoda itu adalah buatan Aileen.
"Iya Tuan, tadi non Aileen minta diajarin saya. Cobain aja tuan, rasanya enak banget!" kata Ratna seraya menunjukkan jari jempolnya dan bibirnya tersenyum. Tadi dia sempat mencicipi masakan Aileen dan untuk pertama kali memasak kemampuan gadis itu cukup baik.
Aileen memasak?
Leon menatap sejenak pada sup ayam itu, tiba-tiba saja dia teringat dengan masa lalu.
#Flashback
3 tahun yang lalu...
Kediaman Xavier, seorang gadis tengah berlari dengan bahagia sambil memegang piala besar dan juga medali yang dikalungkannya di leher. Dia tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia. Dibelakangnya ada seorang pria dengan pakaian serba hitam, bertubuh tegap, dia adalah bodyguard yang selalu mengikuti Aileen kemana-mana. Tentu saja atas perintah Leon, si papah yang protektif itu.
"Bik, apa papa udah pulang?" tanya Aileen pada Ratna yang sedang berjalan menuju ke lantai atas.
"Tuan ada di dapur non," jawab Ratna seraya tersenyum ramah pada Aileen.
Aileen bergegas pergi ke dapur, dia tak sabar ingin menunjukkan piala dan juga medali penghargaan yang dia dapatkan dari olimpiade matematika dan juga gelar juara kelas lagi untuk ke sekian kalinya. Ya, Aileen memang anak yang cerdas,imut dan cantik. Mirip dengan mendiang ibunya, Nabila.
Begitu Aileen sampai di dapur, ia melihat punggung seorang pria sedang sibuk berkutat di meja dapur dengan spatula ditangan yang memperlihatkan otot-ototnya.
Papa lagi ngapain tuh? Kagetin Ah!. Senyum Aileen menyeringai, dia penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Papanya di dapur.
__ADS_1
Kemudian Aileen melangkah dengan hati-hati menghampiri Leon, dia berencana untuk mengagetkan Leon. Namun baru saja beberapa langkah akan mendekati pria itu, Leon membalikkan tubuhnya. "Aileen Sheravina Xavier!"
"Yah...papah, apaan sih pah? Baru saja aku mau mengagetkan papa dan papa udah tau aja, ah gak seru." gadis itu mencebikkan bibirnya, lalu memeluk papanya dengan manja.
Leon mengusap rambut Aileen penuh rasa sayang. "Sayang, jangan coba-coba kau menjahili papa...karena papa tau kedatanganmu bahkan sebelum kamu ke dapur."
"Gimana papa bisa tau?" tanya Aileen yang masih memeluk Leon, namun kepalanya mendongak melihat Papanya.
"Dari baumu, sayang."
"Ish...papa! Masa iya papa bisa cium dari bauku, emang papa vampir? Manusia serigala?" cerocos gadis itu yang membuat Leon semakin gemas. Buktinya Leon mencubit gemas pipinya dan menguyel pipi chubby itu.
"Uh... Papa,"
"Sayang, kamu memang lagi?" tanya Leon begitu menyadari ada medali di leher Aileen yang bertuliskan juara olimpiade matematika.
"Iya Pa!"
"Anak kebanggaan Papa memang hebat! Udah cantik, pintar, imut..." Leon memuji Aileen sampai gadis itu merasa terbang di awang-awang. "Kamu duduk dulu ya sayang, Papa lagi masak makanan favorit kamu!"
Aileen mengurai pelukannya dari Leon, dia melihat tampilan hot Daddy dengan setelan celemek berwarna biru melekat di tubuhnya. Ya, pria itu sedang memasak salah satu makanan favorit Aileen selain makanan Prancis, yaitu sup tulang iga sapi.
Tercium aroma wangi dari daging sapi tersebut dan menggugah selera Aileen. "Hem... Papa, apa Aileen boleh bantu?" tawar Aileen yang melihat papanya sibuk masak sendiri.
"No."
"Why Papa?" tanya gadis itu terheran-heran, karena papanya selalu saja menolak bila dia ingin memasak.
"Memasak tidak baik untukmu, kamu tidak boleh memasak!" Leon menggelengkan kepalanya sambil menyicipi sup tulang iga sapi dengan sendok kecilnya. "Hem enak." gumamnya pelan setelah mencicipi sup itu.
"Nanti tangan kamu terluka sayang, Papa gak mau tangan kamu luka,papa juga tidak mau kamu capek."
"Aku tidak akan terluka Pa, kalau aku belajar memasaknya dengan benar. Teman-teman ku juga belajar memasak Pa, aku ingin seperti mereka." kata Aileen dengan polosnya.
"Kenapa teman-temanmu belajar memasak?" tanya Leon penasaran dengan cerita Aileen tentang temannya.
"Ya, mereka bilang kalau kelak jika mereka sudah punya suami...mereka harus memasak untuk suami mereka, mengerjakan pekerjaan rumah,"
"Kamu tak perlu melakukan itu sayang," Leon tersenyum manis, lalu dia memindahkan sup dari panci ke dalam mangkuk kosong disana.
Kening Aileen berkerut. "Eh? Kenapa pah? Bukannya biasanya seorang suami itu suka dengan istrinya yang suka memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah."
"Tidak semua! Kalau kamu tak suka memasak jangan memasak, kalau kamu tak suka mengerjakan pekerjaan rumah, kamu tak usah kerjakan. Tugas wanita hanya mempercantik diri untuk suaminya dan juga melahirkan anak." pendapat Leon tentang tugas seorang wanita, baginya.
"Hehe...aku tak tahu Papa memiliki pemikiran seperti itu, pah. Tapi kalau nanti suamiku menuntutku untuk memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah, bagaimana?" tanya Aileen mulai berandai-andai.
"Papa tidak akan mengizinkan dia untuk menikahimu. Putri papa harus diperlakukan seperti ratu dan tidak boleh dituntut melalui apapun, malah dia sebagai suami yang harus bisa segala hal, sebagai kepala rumah tangga." kata Leon tegas. "Ah ya...dan calon suamimu nanti, harus orang yang sangat mencintaimu. Dia juga harus kaya dan dewasa titik!" timpalnya lagi.
"Wah...kalau gitu aku nikahnya sama Papa aja deh." canda Aileen sambil terkekeh, pandangannya tak lepas dari Leon.
"Loh? Kenapa sama Papa?"
"Karena Papa yang paling mencintaiku di dunia ini,hehe."
__ADS_1
Leon mendaratkan cubitan gemas di pipi Aileen hingga gadis itu merengek. "A-aduh papa sakit pa."
"Rasain! Makanya kalau ngomong jangan sembarangan,"
"Ih aku serius Pah," Aileen mengerucutkan bibirnya, ia menepis tangan Leon yang mencubit pipinya.
"Papa kan udah good looking, good cooking, good shopping, cocok buat jadi calon suamiku nanti! Tidak ada yang melebihi Papa di dunia ini, cowok lain kalah sama pesona Papaku! Jadi aku menikah dengan Papa saja ya?" tawar Aileen sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Ya, selain tampan. Leon kaya, bisa memasak, serba bisa dan siapa yang akan menolak pesonanya.
"Ayo makan! Jangan bercanda terus!" Leon duduk di depan Aileen dan menyajikan sup tulang iga sapi itu untuk putrinya. Dalam rangka menyambut keberhasilan Aileen.
#EndFlashback
Ya Tuhan kenapa aku teringat candaan Aileen yang mengajakku menikah?
Mengapa hatiku berdebar begini?
"Pa, PAPA!"
"Eh...ya?" Leon tersadar dari lamunannya begitu Aileen memanggilnya dengan keras.
"Ayo dimakan Pa, nanti sup nya keburu dingin." kata Aileen dengan suara datar, Leon melihatnya sudah duduk di kursi sebrang.
"Iya Ai," jawab Leon gugup, entah mengapa dia berdebar saat melihat putrinya itu. Berdebar tidak karuan. Dia mengambil sendok lalu menyicipi kuah di sup ayamnya. Raut wajahnya membaik setelah mencicipi sup itu. "Ini enak sekali Ai, kamu pintar memasak."
"....."
Hening, Aileen cuek saja memakan rotinya tanpa peduli pujian dari Leon yang biasanya selalu membuat dia melayang.
"Ai...lain kali Papa boleh kan cicipi masakan kamu lagi?" tanya Leon seraya menatap putrinya yang tampak begitu dingin kepadanya.
"Maaf Pah, tidak bisa." Aileen langsung menolak tanpa basa-basi.
Leon tercekat dan langsung menatap Aileen. "Ke-kenapa?"
"Papa minta aja masakin sama si nine--tante Celia, aku hanya memasak untuk calon suamiku kelak. Yang ini anggap saja bonus buat Papa," cetus gadis itu dengan sarkas dan membuat Leon menelan ludah karena tidak nyaman dengan ucapan Aileen.
"Ai... Papa mau minta maaf kalau perkataan Papa semalam sudah menyakiti kamu. Papa sudah dengar dari Bram, katanya semalam kamu pergi dari rumah. Jangan pergi ya sayang? Dan maafkan Papa." kata Leon dengan begitu lembutnya memohon maaf pada Aileen.
Maaf? Selalu saja begitu...tapi maaf Pa, kali ini aku tidak bisa memaafkan Papa begitu saja. Papa harus mendapatkan apa yang namanya hukuman dan Papa harus sadar kalau Celia si nine fox itu bukan wanita baik.
"Aku tidak bisa Pah," balas Aileen lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja dari sana. Leon yang belum selesai makan, menyusul Aileen ke depan rumah.
"Ai... Papa belum selesai bicara! Aileen!"
Panggilan itu tak dihiraukan Aileen, dia malah melambaikan tangan pada seorang pria yang tengah berjalan ke arahnya.
Cih! Dia lagi? Kenapa dia datang kesini lagi?. Leon keki melihat kehadiran Sam disana.
Aileen diam-diam tersenyum smirk begitu melihat Leon yang mendengus marah.
Hukuman dimulai Pah!
__ADS_1
...****...
Hai Readers, author mau up lagi πππ jangan lupa komennya dong