Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 71. Pernikahan (POV Aileen)


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Setelah mengambil keputusan untuk menyelamatkan papa, perusahaan dan juga mengembalikan keadaan semua seperti semula. Aku dan kakekku Ericko membuat sebuah kesepakatan.


Jujur, sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Meninggalkan papa selamanya, sama saja dengan neraka untukku. Aku mencintai papa, aku menyayangi pria yang selama ini memberikanku banyak kasih sayang. Papa yang menjadi sosok ayah dan sekaligus ibu untukku.


Tapi Tuhan...


Aku tidak bisa melihat papa menderita karena keegoisanku.


Beberapa hari yang lalu saat papa masih berada dibalik jeruji besi, saat aku ingin mengunjunginya, dia menolak kunjunganku. Ketika itu aku merasa hal aneh, aku bertanya pada om Bram apa yang terjadi. Namun seperti biasa, aku hanya dianggap anak kecil dan tidak boleh tau apa-apa. Hingga kedatangan Tante Agatha membuatku tau segalanya, betapa menderitanya papa di balik jeruji besi selama kurang lebih 10 hari itu. Dia di pukuli oleh tahanan lain dan aku tau wajah dari salah satu tahanan itu, mereka adalah anak buah kakekku.


Dan aku sadar bahwa semua yang terjadi pada papa adalah salahku. Tuhan....apa yang lebih menyakitkan daripada rasa bersalah? Apa yang lebih menyakitkan dari melihat seseorang yang kita cintai menderita? Seseorang yang memberikan kita hidup kedua. Tidak! Aku tidak boleh egois, aku harus menyelamatkan papa dan aku sudah membuat keputusan final. Keputusan yang mungkin akan membuatku menyesalinya nanti. Tapi tidak apa, yang penting papa selamat dan baik-baik saja.


Tibalah saatnya aku menikah dengan papa, terbilang grasak-grusuk karena aku memintanya mendadak. Aku tak minta pesta yang mewah, aku hanya ingin khidmat supaya aku dan papa sah secara hukum dan agama.


Biarlah pernikahan impianku tak terjadi, yang penting aku dan papa resmi jadi suami istri. Pagi itu seorang mua bernama Mamat, alias Mance mendandaniku. Dia memuji kecantikanku dan kulitku yang bersih tanpa noda. Tapi aku lebih takjub saat aku mengenakan gaun putih, gaun yang melambangkan kesucian cinta. Mimpi apa aku? Aku akan segera jadi istri Leonardo Xavier, tapi aku akan segera meninggalkannya. Sungguh sesak hatiku ini, tapi aku mencoba untuk menikmati kebahagiaan yang hanya sesaat ini.


Kudengar suara ketukan keras di ambang pintu kamarku. Lalu kulihat disana ada bi Ratna, bi Lina dan Bi Mila. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama bekerja di rumah ini dan sudah seperti keluargaku sendiri. Apalagi bi Ratna, dia yang mengasuhku sejak kecil dan aku sayang padanya.


"Non!" kulihat bi Ratna menangis, lalu dia menghampiriku dan memelukku.


"Nona Aileen!" Bi Lina dan Bi Mila ikut-ikutan Bi Ratna memeluk dan menangisiku.


"Kenapa kalian malah nangis? Ayo senyum, ini kan hari bahagiaku!" kataku sembari mengurai pelukan dari mereka bertiga. Aku mencoba tersenyum meski jujur, hatiku sedang menangis saat ini.


"Non...bibi doakan semua non bahagia ya." ucap Bi Ratna sambil menyerahkan sebuah kantong kertas padaku, kulihat di kantong itu ada logo dari brand ternama.


"Bi..." lirihku pelan. Padahal bi Ratna tak perlu repot-repot sampai memberiku hadiah begini, ucapan doa darinya sudah cukup untukku.


"Ini juga dari bibi sama bi Mila non, kami patungan non, hehe." Bi Lina terkekeh sambil menyerahkan kotak besar dengan pita berwarna merah kepadaku.


Sudut mataku mulai memanas, oh tidak! Aku pasti akan menangis. Tidak, aku harus tahan. Ini hari bahagiaku, aku harus tersenyum dan bahagia.

__ADS_1


Ku peluk tiga wanita itu dengan erat, guna meredakan tangisanku. Ku ucapkan terima kasih karena mereka telah ada bersamaku selama kurang lebih 20 tahun lamanya karena kata papa, mereka bekerja sejak pertama kali aku dibawa ke rumah ini.


"Terima kasih bi Ratna, bi Lina, bi Mila, aku sayang kalian...kalian harus jaga diri kalian baik-baik ya. Kalian sehat selalu ya? Jangan lupain Aileen..." ucap ku seolah ini adalah perpisahan.


"Non...non ngomong apa sih? Non kan gak kemana-mana, non akan tetap disini sama kita." ucap Bi Lina padaku.


Tidak bi, aku tidak akan tetap disini. Aku akan pergi dan mungkin tidak akan kembali. Sayangnya hal ini ku pendam saja dalam hati.


Bi Ratna masih memelukku dengan erat seolah aku adalah putrinya, aku sangat menyukai pelukan hangat ini. Dia mengelus kepalaku dan mengatakan padaku untuk selalu bahagia bersama papa Leon.


Ya, ku harap kami memang jodoh bi. Tapi aku bisa apa bila takdir sepertinya tidak berpihak pada kami?


Kini sudah tiba waktunya pernikahan ku dan papa. Om Bram, Tante Lusi dan Raisa yang membawaku ke gereja tempatku mengadakan upacara pernikahan. Om Bram menjadi waliku, dia akan mengiringiku saat pernikahanku. Beberapa menit kemudian, kami sampai di gereja yang tak jauh dari rumah.


Tak banyak yang menghadiri pernikahanku, hanya keluarga dekat saja. Itu adalah permintaanku, bahkan kak Sam dan Tante Sahara saja tidak ku undang. Cleo dan William juga tak ku beritahu karena mereka ada di pulau Jeju sedang liburan alias honeymoon.


Aku memasuki area gereja dengan menggamit tangan om Bram. Netraku dan om Bram sempat bertemu beberapa saat. Langkah kami berhenti di ambang pintu.


Aku tersenyum getir, berusaha keras untuk menahan air mataku agar tidak keluar. "Pasti Om!"


"HARUS! Dan satu lagi, jangan panggil Leon dengan sebutan papa lagi. Sebenarnya ini rahasia, tapi kalian mau menikah...jadi om akan kasih tau kamu."


"Apa om?" sahutku penasaran.


"Papa kamu pengen dipanggil Mas," jawab om Bram sambil tersenyum dan aku pun tersenyum.


"Om... terimakasih selama ini om sudah jadi om yang baik untuk aku! Om juga sayang padaku tanpa pamrih, aku sayang sama om dan aku minta maaf kalau selama ini aku membuat om kesal."


Ku berikan pelukan pada pria yang sama posisinya seperti papaku sendiri. Semoga nanti ketika aku pergi, om Bram tidak terlalu sedih. Dan aku lega karena telah mengungkapkan rasa terimakasih dan maafku pada om Bram.


"Udah deh kayak mau kemana aja! Ayo ah, papa kamu udah gak sabar tuh kayaknya." bisik om Bram padaku.


Aku pun tersenyum dan melihat dari kejauhan, pria tampan memakai setelan jas putih tengah berdiri didepan altar. Papa Leon terlihat tegang, kulihat sesekali dia merapikan baju dan menyugar rambutnya. Sungguh, papa sangat tampan dengan setelan begitu. Bak pangeran tampan berkuda putih di negeri dongeng dan pria itu akan menjadi suamiku dalam beberapa saat lagi.

__ADS_1


Om Bram dan aku berjalan menghampiri papa dan seorang pendeta disana yang akan meresmikan pernikahan kami. Kulihat tatapan Tante Agatha begitu tajam padamu, tapi ku balas dengan senyuman. Tante Agatha tidak sendirian, dia bersama Sherly putrinya yang baru berusia 13 tahun.


Ku tau Tante tak suka padaku bersama papa, tapi Tante tenang saja. Aku akan segera pergi setelah memberikan papa kebahagiaan.


Tak terasa, aku pun sampai dan kini berdiri berdampingan dengan papaku. Hatiku sangat berdebar, aku pikir dia juga merasakan hal yang sama.


Pendeta membacakan ceramah dan doa sebelum memulai prosesi pernikahan. Cukup lama dan aku tak mau menyia-nyiakan waktu lagi, aku pun berkata. "Pak, bisa tolong langsung ke intinya saja!"


Sontak saja papa dan semua orang di ruangan itu menoleh ke arahku. Aku tau, pasti dalam pikiran mereka aku di cap sebagai pengantin tak sabaran.


"Ehem, baiklah."


"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya, Leonardo Xavier maukah saudara menikah dengan Aileen Sheravina Arlando yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?"


"Ya, saya bersedia." jawab papa dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun. "Saya mengambil engkau menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita dan inilah janji setiaku yang tulus.”


Hatiku bergetar mendengar janji papa padaku, sumpah demi Tuhan aku ingin menangis. Tapi ku tahan!


"Aileen Sheravina Arlando , maukah saudara menikah dengan Leonardo Xavier yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?" tanya si pendeta itu padaku.


"Ya saya bersedia, saya mengambil engkau menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan dan inilah janji setiaku yang tulus.” ucapku tanpa keraguan sedikitpun.


Setelah itu kami sah menjadi suami istri dan melakukan prosesi tukar cincin. Papa menyematkan cincin berlian berwarna merah muda pada jari manisku yang polos. Cincin yang mungkin akan menjadi kenang-kenangan ketika aku pergi. Kulihat semua orang kecuali Tante Agatha, melihat kami dengan tatapan haru dan bahagia.


"Sekarang dipersilahkan untuk..."


Belum sempat pendeta itu menyelesaikan kata-katanya, papa membuka veil yang menutupi wajahku. Dia mendekatkan wajahnya padaku dan melumatt bibirku dengan kuat. Aku menikmatinya dan memegang kedua lengan papa untuk berpegangan.


"Oh rupanya pengantin pria sudah tak sabar," celetuk pendeta itu sambil tersenyum.


Tak lupa om Bram dan seorang fotografer mengabadikan momen itu dengan kamera. Mereka juga mengucapkan selamat padaku dan papa atas pernikahan kami.


...****...

__ADS_1


__ADS_2