Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 39. Saya mencintai Aileen


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Kedua insan manusia yang berbeda jenis kelamin itu, kini berada di dalam kolam renang. Dengan tubuh yang saling berdekatan dan kedua netra yang saling bertemu. Sama-sama menatap dengan dalam, hingga akhirnya Aileen menundukkan kepalanya. Gadis itu menjadi gagap, manakala jari-jari tangan besar mengelus lembut tangannya.


"Pa...pah..." dessah Aileen saat merasakan jari jemari Leon membelai rambut dan tengkuknya. Titik sensitif ditubuhnya yang mampu membuat gadis itu gemetar.


"Kamu sangat cantik sayang." rayu Leon seraya menggoda gadis itu untuk menatapnya.


"Papa...jangan macam-macam padaku," kata Aileen sambil memejamkan matanya, dia tak sanggup tersihir oleh pesona sang hot Daddy. Papanya sendiri dan saat ini ia belum tau bahwa Leon adalah papa angkatnya. Ingatannya masih belum pulih.


"Macam-macam gimana Ai? Papa hanya membelai wajah Putri Papa," Leon gemas melihat Aileen yang masih memejamkan matanya.


"Tapi ini berbeda pa." ucap Aileen dengan bibir gemetar.


"Berbeda gimana? Apa yang kamu rasakan baby?" ucapnya lembut, dengan tangan yang mulai menyingsingkan rambut basah yang menghalangi dirinya untuk melihat wajah cantik Aileen. Dia menyingkirkan rambut itu kebelakang. "Katakan pada papa, apa yang kamu rasakan...hmm..?" tanyanya lagi.


Kedua mata Leon berwarna abu-abu itu menatap lekat Aileen penuh kasih. Bukan kasih seorang Papa, tapi seperti pasangan kekasih.


"Aku...aku merasa..."


Aku merasa berdebar! Ini tidak bisa...ini tidak boleh... Papa adalah papaku.


"Apa baby?" pancing Leon pada Aileen. Gadis itu memang hilang ingatan, tapi rasa di hatinya tetap sama dan Leon percaya hal itu.


Leon...calm down, aku harus pelan-pelan.


Tiba-tiba saja cipratan air mengenai wajah Aileen dan membuat matanya yang tadi terpejam jadi terbuka. "Jangan melamun saja! Ayo berenang baby."


"Papa! Papa sangat jahil!" cebik Aileen lalu balas mencipratkan air ke wajah papanya.


"Naughty girl! Awas kamu ya." Leon tersenyum, mendapatkan cipratan air itu di wajahnya.


"Papa yang duluan...bwe..." Aileen menjulurkan lidahnya mengejek papanya.


Mereka pun bermain air dan berenang bersama sampai pukul setengah 5 sore. Akhirnya Leon mengajak Aileen untuk berhenti berenang karena sudah terlalu lama di air. Leon tak mau Aileen sakit lagi karena gadis itu sedang berada dalam keadaan tidak fit.


Apapun yang dilakukan Aileen selalu dalam pemantauan Leon, ia bahkan tak boleh lelah barang sedikitpun.


"Baby, ayo cepat naik! Sudah 1 jam kamu berada di air." tegur Leon cemas.


"Bentar lagi ya pa, masih asyik main nih." tolak Aileen seraya tersenyum dan berada di dalam air.


"Kamu membuat papa gak punya pilihan." Leon kembali masuk ke dalam kolam renang, dia menggendong paksa Aileen ala bridal.


"Kyaakk! Papa!" jerit Aileen terkejut dengan gerakan Leon yang tiba-tiba saja menggendong dirinya.


"Kamu sih bandel! Papa udah bilang berapa kali hah?" satu tangan Leon menyentil hidung Aileen.


"Ih... Papa, aku masih asyik main air pa!" seru Aileen kesal.


"Udah... nurut sama papa, kalau kamu gak nurut sama papa, nanti papa--"


"Nanti apa pa?"

__ADS_1


Cup!


Leon mengecup pipi Aileen dengan gemas dan membuat Aileen tercengang.


"Pa...papa..."


Badannya yang dingin jadi memanas karena sentuhan bibir Leon yang merah itu. Tubuhnya masih berada di gendongan Leon. Melihat Aileen yang malu-malu, akhirnya Leon menurunkan Aileen didepan kamar.


"Mandi dulu ya sayang, nanti papa buatkan coklat hangat." ucapnya manis.


Cup!


Lagi-lagi wajah Aileen terkena ciuman, tapi kali ini di kening. Setelah Leon pergi, Aileen langsung menutup pintu kamarnya.


Gadis itu memegang dadanya dan mengatur nafasnya yang bergemuruh hebat. "Haaahh... Aileen...tenangkan dirimu, Aileen...no...no...he's my Daddy!"


Ia pun pergi ke kamar mandi dengan langkah yang bingung dan berdebar. Kemudian Aileen melakukan ritual mandinya selama kurang lebih 20 menit.


****


Matahari mulai tenggelam, mengganti cahaya menjadi gelap di langit. Angin semilir dingin mulai terasa. Ya, hari itu sudah malam dan akan memasuki musim hujan.


Di depan hotel Samudra, Sam baru saja menyelesaikan rapat bersama para staf hotel untuk meningkatkan kinerja Hotel Samudra menjadi lebih baik lagi.


Pria tampan itu tengah melamun di depan mobilnya. Seperti banyak pikiran atau ada yang mengganjal di hatinya. Entahlah dia memikirkan apa, yang jelas hatinya gundah gulana tak karuan. Sam jadi sering melamun sejak Aileen jatuh dari tangga, berkali-kali dia mencoba untuk menemui Aileen hanya untuk melihat keadaannya. Namun anak buah Leon selalu menghalanginya mengunjungi Aileen.


Entah mengapa bayangan gadis itu selalu muncul di dalam benaknya. Padahal dia hanya berniat untuk menggagahinya dan belum sempat melakukan itu. Akan tetapi, dia sudah merasa bersalah duluan karena Aileen jatuh dari tangga. Meski itu adalah salah Daniel dan Celia.


"Sam...pak Sam..." lirih seorang wanita sambil meraba-raba bagian dada sixpack Sam dengan wajah menggoda.


Mata itu menatap Sam dengan marah, dia kembali berdiri didepan Sam. "Pak Sam kenapa sih? Aku kan cuma mau kasih kenikmatan sama pak Sam malam ini, apa pak Sam gak kangen sama goyanganku?" tawar wanita itu dengan lenggak-lenggok yang bisa membuat kaum Adam tergoda dengan tubuhnya.


Memang tubuh wanita itu sangat seksi, bahkan bodinya menggiurkan. Dia adalah salah satu teman ranjang Sam yang bahkan ia tak ingat namanya.


"Minggir kau!" sergah Sam mengusir wanita itu.


Lalu Sam naik ke mobilnya, dia tancap gas menuju ke sebuah toko bunga dan makanan ringan. Dia membulatkan tekadnya untuk menemui Aileen.


Namun seperti pucuk dicinta ulam pun tiba, Sam tak sengaja bertemu dengan Aileen di supermarket dekat rumahnya. Dia sedang bersama dengan Frans dan berbelanja.


"Aileen?" gumam Sam dengan mata memicing menatap Aileen yang sedang mengambil Snack di salah satu rak disana.


Sam mendekati Aileen dan tak sengaja menabraknya. Kemudian tas Aileen jatuh ke lantai dan Sam mengambilkannya.


"Makasih pak." kata Aileen lalu berlalu pergi dari sana. Sam tercekat bingung melihat sikap Aileen yang acuh padanya.


Saat akan membayar belanjaannya, Sam memegang tangan Aileen dan menahan kepergian gadis itu. "Maaf pak, ada apa ya?"


"Ai... bisa kita bicara sebentar?" ajak Sam yang masih memegang tangan Aileen. Gadis itu pun menepisnya dan menatapnya dengan kening berkerut.


Kenapa Aileen seperti tidak mengenaliku?


"Maaf pak, tapi anda siapa mengajak saya bicara? Saya bahkan tidak kenal dengan anda." ucap Aileen dingin. Dia memang tidak ramah pada orang yang tidak dikenalnya.

__ADS_1


"Ai...ini aku Sam, aku pacar kamu." jawab Sam sambil menepuk nepuk dadanya.


"Pacar? Saya gak punya pacar, pak." kata Aileen lalu menyimpan belanjaannya di meja kasir. Nona di kasir itu langsung menghitung belanjaan Aileen dengan mesin hitung.


"Aileen, kamu jangan bercanda! Aku Samuel, Sam...pacar kamu. Masa kamu tidak kenal aku?" tanya Sam setengah berteriak dan membuat Aileen tidak nyaman.


"Saya kan sudah bilang, kalau saya tidak kenal anda. Dan...tolong kecilkan suara anda, ini ditempat umum." tegur Aileen tegas dan nada suaranya ketus.


Persis saat pertama kali bertemu dengan Sam, gadis itu cuek saja. Setelah selesai membayar belanjaan, Aileen langsung pergi keluar dari supermarket itu. Kemudian Sam menyusul Aileen dan tidak jadi berbelanja.


Saat Aileen akan masuk ke dalam mobil, Sam mencekal tangannya. Frans langsung menepis tangan Sam dan mendorongnya. Aileen dan Frans langsung menatap tajam pada Sam, menunjukkan rasa tidak suka mereka pada pria itu.


"Maaf...aku cuma mau bicara dengan Aileen. Ai...ayo kita bicara sebentar. Aku tau kamu masih marah sama aku, makanya kamu bersikap seperti ini...tapi aku akan jelaskan semuanya...jadi ayo kita bicara dulu ya? Juga tentang Tante Celia dan Daniel...Tante Celia...dia---"


"Cel...lia?" Aileen memangkas ucapan Sam, tiba-tiba saja pandangannya jadi kabur. Ia memegang kepalanya. "Celia... Daniel...ugh..."


Bayang-bayang ketika dirinya jatuh dari tangga, terngiang di kepalanya. Ia melihat ada sepasang kekasih yang bercumbu disana.


"Nona...nona kenapa?" tanya Frans mulai cemas melihat raut wajah dan gerak-gerik Aileen yang tidak biasa.


"Aileen! Kamu kenapa?" kini giliran Sam yang bertanya.


"Uhh...." Mata Aileen pun terpejam, lalu tubuhnya oleng dan dia tidak sadarkan diri di dalam dekapan Sam.


"Aileen!" Sam panik dan langsung menggendong Aileen.


"Nona Aileen!"


Aduh... bisa-bisa aku dimarahin tuan.


Sam yang akan membawa Aileen ke rumah sakit, akhirnya dia dicegah oleh Frans dan menyarankan agar Aileen dibawa ke rumah saja.


Mereka pun sampai di depan rumah Aileen dengan Sam yang menggendong tubuh gadis itu. Leon yang baru pulang dari kantor untuk mengambil berkas. Terkejut melihat Aileen dibawa oleh Sam dalam keadaan pingsan. Tapi Leon menekan emosinya lebih dulu kepada pria itu dan memilih untuk bungkam.


Revan kembali dipanggil untuk memeriksa kondisi Aileen. Tidak ada hal yang serius, Aileen hanya syok saja mendengar nama Celia dan Daniel.


Sam terkejut saat ia baru mengetahui bahwa Aileen mengalami hilang ingatan.


"Kamu kenapa mengungkit tentang mereka didepan Aileen?!" bentak Leon pada Sam begitu kedua pria itu meninggalkan Aileen sendiri di kamarnya.


"Maaf Om, saya tidak tahu kalau Aileen akan seperti ini...saya kan pacarnya om, tapi saya gak tau apa-apa soal Aileen."


Leon mengangkat bahunya, menaikan alisnya, menatap dengan atensi tajam kepada Sam. "Heh! Pacar, kamu bilang? Siapa yang kamu bilang pacar? Jangan kira kamu pikir saya bodoh dan saya tak tahu kelakuan kamu yang suka main wanita di luar sana!"


Deg!


Sam tertohok mendengar ucapan Leon, pria itu terlihat diam tapi tau semuanya. Termasuk Sam yang selalu main dengan wanita, ternyata Leon memang bukan orang sembarangan. Padahal Sam sudah tau itu tapi tetap saja dia meremehkan seorang Leonardo Xavier.


"Jangan pernah mengatakan kamu memacari Aileen, kalau kamu sendiri punya banyak wanita lain di luar sana! Jauhi Aileen!" seru pria itu seraya menunjuk ke arah wajah Sam.


Sam tercekat karena tidak ada kata anak saya dalam ucapan Leon. Melainkan nama Aileen saja.


"Kenapa om...kenapa tidak ada kata anak saya disana? Kenapa saya merasa sikap om berubah? Apa saya salah? Apa mungkin om--juga memiliki perasaan itu?"

__ADS_1


"Ya...kamu benar, saya mencintai Aileen."


...****...


__ADS_2