Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 31. Butuh donor darah


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Di apartemen Cleo.


Cleo baru saja keluar dari kamar mandi, setelah dia berbagi peluh dengan kekasihnya diatas ranjang. Ia memakai pakaian tidurnya, lingeriee berwarna hitam adalah pilihannya.


Dia melihat William masih tertidur lelap diatas ranjangnya dengan tubuh penuh keringat. Cleo tersenyum melihat kekasihnya itu, ya dia sedang bahagia saat ini. Karena William baru saja melamarnya dan berjanji akan meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang serius. Selama ini Will dan Cleo menjalin hubungan tapi tidak serius. Pasalnya mereka selalu bergonta-ganti pasangan, meski katanya mereka pacaran. Namun Will dan Cleo memutuskan untuk menjalin hubungan serius karena mereka ternyata saling mencintai dan mereka baru sadar itu.


"Makasih sayang, aku janji akan selalu setia sama kamu. Love you.." Cleo menempelkan bibirnya pada pipi William. Kemudian dia pun pergi ke meja rias, bermaksud untuk memakai pelembab sebelum tidur. Sesekali ia melihat cincin yang kini tersemat di jarinya, dengan wajah berseri-seri.


Saat sedang menyisir rambutnya, tiba-tiba saja terdengar suara getaran dari ponsel Cleo.


"Aileen?"


Cleo melihat nama Aileen yang tertera di sana. Dia mengambil ponsel itu dan membuka pesan yang dikirimkan oleh Aileen. Gadis itu mengirimkan sebuah video dan Cleo memutarnya.


Mulutnya menganga melihat adegan mesra antara Celia dan Daniel, teman kekasihnya. "Astaga...kenapa dia mengirimkan video ini padaku? Wah...om Leon benar-benar ditipu."


Cleo memutuskan untuk menelpon Aileen, namun sayangnya ponsel sahabatnya itu tak aktif.


...🍁🍁🍁...


Leon resah melihat ke ruang UGD itu, tempat dimana Aileen berada. Pria itu jalan mondar-mandir kesana kemari tak karuan, Bram juga sama cemasnya dengan Leon tapi dia berusaha menenangkan Leon.


"Yon, kamu tenang ya... Aileen pasti baik-baik saja."


"Gimana aku bisa tenang Yon! Aileen...dia terluka, aku tidak bisa menjaganya...aku...aku...aku tidak tenang. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Bagaimana bisa aku tenang?!" ucap Leon setengah berteriak dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Bekas darah dari kepala Aileen masih ada ditangannya.


"Yon, Aileen juga sama seperti anakku sendiri. Aku juga sama cemasnya denganmu, tapi... kamu harus tenang dan berpikir positif. Aileen akan baik-baik saja!" seru Bram seraya menepuk bahu Leon, untuk menenangkannya.


"Bram...kamu sudah panggil polisi?"


"Iya aku sudah panggil dan sekarang polisi sedang menyelidikinya. Kamu tenanglah," ucap Bram pada Leon.


Tak lama kemudian, Sam dan Celia datang ke rumah sakit. Celia langsung menghampiri Leon dan menggamit tangan kekasihnya itu. "Sayang, bagaimana keadaan Aileen? Apa dia baik-baik saja?"


Mata Leon begitu tajam melihat Celia, dia menepis tangannya. "Kamu bisa diam tidak?"


Suara Leon yang datar dan dingin itu membuat Celia kesal, tapi dia berusaha menahan kesal dengan tersenyum. Dia menunjukkan simpatinya perihal Aileen yang terjatuh.


Segitunya kamu memperhatikan Aileen, padahal dia hanya anak angkat kamu. Apa dugaanku benar kalau kamu juga mencintai Aileen?


"Pak Bram, bagaimana keadaan Aileen?" tanya Celia pada Bram karena Leon hanya diam saja mondar-mandir seperti setrikaan.

__ADS_1


"Saya tidak tahu Bu, dokter masih berada di dalam." jawab Bram datar.


Sam tidak bicara apa-apa setelah dia mendengar jawaban Bram. Itu artinya Aileen masih berada di ruang UGD dan dalam penanganan dokter. Hingga beberapa menit kemudian, pintu ruang UGD pun terbuka dan seorang perawat membawa Aileen di atas ranjang beroda. Selang oksigen terpasang di tubuhnya.


Leon, Sam, Bram tercekat melihat Aileen dibawa ke ruangan lain yaitu ruang operasi. "Dokter, kenapa anak saya di bawa ke ruang operasi?" tanya Leon pada dokter yang menangani Aileen.


"Maaf pak, setelah saya memeriksa kondisi Putri bapak... keadaannya sangat tidak baik, putri bapak mengalami pendarahan di kepalanya dan harus segera di operasi."


"Kalau begitu lakukan segera Operasi itu dok! Tolong!" pinta Leon sambil memegang tangan sang dokter itu.


"Kami akan segera melakukan operasi, namun sebelum itu kami harus meminta persetujuan keluarga pasien terlebih dahulu. Lalu, karena pasien kehilangan banyak darah...maka harus pasien harus segera mendapatkan donor darah dalam jumlah yang banyak."


"Do..nor darah?"


Leon begitu terkejut saat dokter mengatakan tentang donor darah. Pasalnya ia tau bahwa golongan darah Aileen tergolong langka. Golongan darah Ab-, jika mengacu pada sistem golongan darah ABO, golongan darah AB- bisa dibilang yang paling langka. Ini karena jenis golongan darah ini hanya dimiliki oleh 0,36 persen orang di seluruh dunia. Dalam hal transfusi, golongan darah AB- dapat memberi ke AB- dan AB+, serta menerima transfusi dari AB-, A-, B-, dan O-.


"Astaga....golongan darah Aileen kan sangatlah langka," gumam Bram pelan. Ia yang sudah bersama Leon sejak Aileen berusia 5 tahun, sudah tau garis besar seluk beluk Aileen.


"Golongan darah pasien AB-, namun sayangnya Rumah sakit kami sedang kehabisan stok darah dengan golongan darah tersebut. Jika ada keluarga pasien yang darahnya cocok, mungkin bisa membantu mendonorkan. Kami tidak punya banyak waktu, pak." jelas dokter itu lagi seraya menatap Leon.


Leon berada dalam dilema, dia resah gelisah dan tertekan. Haruskah ia meminta bantuan keluarga Arlando? Keluarga Aileen dari pihak papanya? Bagaimana bila identitas Aileen ketahuan dan gadis itu berada dalam bahaya seperti kata Mark?


"Yon, kita gak punya pilihan lain lagi. Kita harus menemui keluarga Aileen yang sebenarnya." Bujuk Bram pada Leon.


"Jangan paksa aku Bram! Kamu tau sendiri kan apa kata Mark?" Leon menolak saran dari Bram.


Bram berbisik ditelinga Leon agar Celia dan Sam tak mendengarnya. "Tapi ini menyangkut nyawa Aileen! Bilang saja kalau kau membutuhkan bantuan donor darah untuk putrimu, jangan katakan pada mereka bahwa Aileen adalah putri Mark. Aku akan membantumu, ini demi Aileen... Yon."


"Memangnya kau tega melihat Aileen seperti itu? Bagaimana bila terjadi sesuatu pada Aileen? Kau tidak mau kehilangan dirinya, bukan?" imbuhnya lagi.


Leon terdiam sejenak, dia memegang kepalanya yang penat. Baginya sangat berat karena ia tak mau melanggar amanat dari Mark yang melarang Aileen maupun Leon untuk berhubungan dengan keluarga Arlando. Maka dari itu Leon memberikan nama belakangnya kepada Aileen untuk melindunginya.


"Aku tidak mau kehilangan Aileen..."


"Baiklah, aku anggap kamu setuju. Yon, Aku akan pergi kepada keluarganya." jawab Bram sambil tersenyum.


"Om, saya juga akan membantu untuk mencarikan donor darah." kata Sam peduli.


"Terserah." Leon menjawab dengan ketus.


Dokter kembali ke ruangan operasi untuk mengecek kondisi Aileen. Operasi belum bisa dilakukan sebab belum ada donor darah yang cocok untuk Aileen.


Kini gadis itu terbaring lemah tak berdaya diatas ranjang rumah sakit. Selama ini Leon tak pernah melihat Aileen sakit sampai masuk rumah sakit, paling hanya sakit demam dan flu biasa. Aileen jarang sakit tapi sekarang lihatlah anak itu, dia terbaring tak berdaya dengan taruhan nyawa.

__ADS_1


"Sayang, kamu belum makan malam. Kita makan malam dulu yuk sama aku." Celia duduk disamping Leon dan dia membawa dua makanan yang dia pesan dari restoran mahal.


"Mending kamu pulang SAJA!" bentak Leon marah.


"Honey, kenapa sih kamu malah marah-marah sama aku?" gerutu Celia yang sedari tadi di marahi, padahal dia peduli pada Leon.


"Kamu bisa pergi gak dari sini? Aku lagi ingin sendiri, Cel." lirihnya memohon pada Celia, dia pusing dengan kondisi Aileen dan tambah pusing mendengar Celia terus mengoceh.


"Ya sudah, aku pulang dulu...nanti aku kesini lagi. Kamu jangan lupa makan, aku udah belikan kamu seafood kesukaan kamu." wajah Celia terlihat kecewa.


Huh! Siapa juga yang mau disini. Aku lebih baik bersenang-senang saja dengan Daniel.


"Ya udah, kamu pulang sendiri bisa kan?" tanya Leon malas. Sejak tau Celia menghabiskan uangnya untuk membeli barang-barang pria yang entah untuk siapa, Leon mulai curiga dan menjaga jarak.


"Iya, aku bawa mobil kok." Celia beranjak dari tempat duduknya. Lalu dia mengecup pipi Leon dan tersenyum. "Kalau ada apa-apa kamu telepon aku ya sayang, aku pasti langsung kesini."


"Ya."


Celia pun pergi dari sana, tak sedikitpun Leon menoleh padanya dan hanya fokus pada Aileen. "Ai, kamu harus baik-baik saja...kalau gak ada kamu gimana sama Papa? Papa tidak bisa hidup tanpa kamu, sayang..." Leon memegang tangan Aileen yang halus dan putih itu. Buliran air mata jatuh membasahi wajahnya, dia berharap akan ada kabar baik dari Bram tentang keluarga Aileen yang mau mendonorkan darahnya untuk Aileen.


Sakit hati Leon melihat Aileen tidak berdaya saat ini, apalagi akhir-akhir ini hubungannya dan Aileen kurang baik dan mereka sering bertengkar. "Sayang, Papa minta maaf sayang...papa janji, papa akan lakukan apa saja asalkan kamu bangun. Papa gak kuat sayang...papa gak kuat." lirih pria itu terisak sambil memegang dadanya yang sesak.


Tangan Leon mengusap lembut rambut Aileen, kemudian beralih ke pipinya. Tak lama kemudian, seseorang menepuk pundak Leon.


Leon segera mengusap air matanya, dia menoleh pada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang itu. Terlihat Bram bersama seorang wanita cantik dan tampak dewasa, dia adalah istri Bram, yaitu Lusi.


"Bram? Lusi?"


"Yon, aku punya dua berita untukmu...yang satu dari kepolisian dan satunya dari keluarga Arlando. Kamu mau dengar yang mana dulu?" tanya Bram tanpa basa-basi.


Leon menatap sahabatnya dengan lekat dan terlihat berpikir.


"Biar aku yang menjaga Aileen, kalian bicaralah di luar." ucap Lusi pada kedua pria itu.


"Makasih Lus," kata Leon sambil melenggang pergi bersama Bram keluar dari ruangan Aileen.


Bram mengatakan pada Leon bahwa pihak kepolisian memiliki praduga unsur kesengajaan dalam insiden jatuhnya Aileen dari tangga, tapi mereka tak memiliki bukti kuat, karena tidak ada rekaman cctv. CCtv di tangga darurat hotel Samudra itu tidak berfungsi.


"Sial! Bagaimana bisa? Apa seseorang telah merencanakan ini? Bagaimana bisa Aileen memiliki musuh? Siapa yang ingin mencelakai Aileen? Bram....aku tak mau tau, tetap minta polisi selidiki hal ini! Aku tidak akan melepaskan orang itu!"


"Iya Yon, polisi masih menyelidikinya.Tapi jika Aileen siuman, mungkin dia bisa mengatakan siapa yang melakukan ini." Bram menghembuskan nafas dengan kasar.


Membicarakan Aileen, membuat Leon kembali bersedih. Akhirnya Bram mengalihkan pembicaraan. "Ah ya...masalah keluarga Arlando...itu..."

__ADS_1


Leon menatap tajam pada sahabatnya. "Bagaimana, Bram?"


...****...


__ADS_2