
...πππ...
"Salah satu keluarga Arlando ada yang mau mendonorkan darahnya untuk Aileen dan aku telah mengkonfirmasi bahwa darahnya cocok, tapi--"
"Tapi apa?" tanya Leon.
"Dia ingin 10 persen saham Xavier grup." jawab Bram.
"Berikan saja." sahut Leon tak masalah, seolah sepuluh persen saham itu adalah hal yang mudah.
Bram tercengang mendengar dua kata yang keluar dari bibir Leon. Seolah sepuluh persen saham itu tak masalah tanpa pikir panjang.
"Leon! Apa kamu serius? 10 persen saham itu tidak sedikit!"
"Apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan Aileen. Kamu dengar kan apa kata dokter? Kalau dalam waktu dekat Aileen belum di operasi dan tidak mendapatkan donor darah, dia akan mati. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Meski aku kehilangan semua hartaku, aku rela Bram."
Pria berstatus sebagai sekretaris sekaligus sahabat Leon itu menghela nafas. "Aku sudah tau akan begini dan aku harap kamu menyadari perasaanmu sendiri Leon."
"Perasaan apa?"
"Perasaanmu pada Aileen, sudah berubah."
"Bram, jangan bicara sembarangan!" sergah Leon tegas. Dia tau apa maksud ucapan Bram mengarah kemana, tapi ia berusaha menepisnya.
"Kamu tau arah pembicaraanku kemana dan kamu tau hatimu bagaimana. Aku hanya orang luar yang menilai dirimu dari matamu," kata Bram puitis.
"Jangan sok bijak! Cepat bawa aku temui salah satu anggota keluarga Arlando itu," serka Leon mengalihkan pembicaraan tentang perasaannya. Dia memegang dadanya yang terasa aneh.
Aku juga tak tahu ini cinta atau bukan, yang jelas aku tak mau kehilangan.
Lusi dan beberapa pengawal disana yang bertugas menjaga Aileen, selagi Leon pergi menemui salah satu anggota keluarga Arlando yang akan menjadi pendonor untuk Aileen.
πππ
Malam semakin dingin dan menusuk, saat itu menunjukkan pukul 9 malam...
Dan disinilah sekarang Leon, di sebuah restoran mewah yang tak jauh dari rumah sakit, Bram dan wanita itu berada. Dia terlihat cantik dan masih muda, bahkan memakai pakaian yang kurang bahan. Dengan genitnya, wanita itu melambai-lambai pada Leon dan Bram dari kejauhan.
"Apa dia orangnya?"
"Iya."
"Dia terlihat cukup mirip dengan Aileen, dia siapanya?" tanya Leon.
"Dia adalah adik Mark."
"Mark itu tidak punya adik, Bram!" sergah Leon yang yakin kalau Mark tak punya adik. Ya, Mark itu anak bungsu dan dia hanya punya kakak. "Kita tau itu!" imbuhnya lagi.
"Dia adik Mark dari ibu yang berbeda, setelah Mark pergi...wanita itu tinggal di rumah keluarga Arlando. Itulah yang aku dapat dari informan kita." jelas Bram, selalu detail bila disuruh melakukan apa-apa.
"Astaga..."
Leon dan Bram mendekat gadis yang usianya mungkin sekitar 25 tahunan itu. Dia tersenyum manja pada dua pria itu, menatap mereka dengan tatapan nanar.
Wow! Kabarnya CEO Xavier grup itu sudah tua. Tapi dia terlihat seperti baru 20 tahunan.
Tatapan kagum wanita itu terus tertuju pada Leon dan Bram.Kedua pria itu memang tampan walau usia mereka sudah lewat 30 Han. Malah Leon hampir 40 tahun pada tahun depan.
"Selamat malam Bu Luna," sapa Bram yang lebih dulu telah bertemu Luna dan bertegur sapa dengannya.
__ADS_1
"Selamat malam pak Bram," balas Luna seraya tersenyum manis pada kedua pria itu.
Bram dan Leon duduk berhadapan dengan Luna, tak lupa Bram membawa dokumen ditangannya. Alias perjanjian hitam di atas putih karena perjanjian pengalihan saham 10 persen itu bukanlah hal yang main-main, apalagi berkaitan dengan nyawa Aileen.
"Pak Leon, perkenalkan...dia adalah Luna Arlando. Orang yang akan mendonorkan darahnya untuk putri anda." jelas Bram formal. Kedua pria itu masih menutupi identitas Aileen sebagai anggota keluarga Arlando,. sesuai dengan amanat terakhir Mark.
"Saya Luna." gadis itu mengulurkan tangannya pada Leon, mengajaknya berjabat tangan.
"Leon." balas Leon singkat tanpa membalas uluran tangan dari Luna.
Luna tersenyum sinis menanggapi sikap cuek pria didepannya ini. "Pak Leon, sepertinya anda harus bersikap sopan kepada orang yang akan menolong Putri anda." kata Luna penuh penegasan.
Pria ini tampan, berkuasa, bahkan aku rela bila di jadikan sugar babynya. Tapi...dia sangat sombong dan jual mahal.
"Baiklah nona Luna, saya minta maaf. Kita langsung to the poin saja, anda mau sepuluh persen saham Xavier grup bukan?" tanya Leon tanpa basa-basi.
"Iya Pak, apa anda bersedia memberikannya kepada saya?" tanya Luna sambil tersenyum menyeringai. Dia merasa diatas awan karena hanya dia yang bisa menolong Aileen.
"Iya, atau kamu mau minta yang lain?" tawar Leon dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Tidak Pak! Saya ingin saham itu, tapi entah kenapa saya ragu bahwa bapak akan menyerahkan saham itu kepada saya jika saya menolong Putri bapak, saya takut ditipu." ungkap Luna blakblakan.
Tanpa banyak bicara, Bram langsung menunjukkan beberapa surat perjanjian di atas meja. Mata Luna melebar melihat itu semua, dia sadar bahwa pria itu sangat menyayangi putrinya sambil menyerahkan saham yang jumlahnya milyaran itu pada orang asing seperti dirinya.
"Kita tanda tangani dulu persetujuan ini dan donorkan dulu darah anda untuk putri saya, setelah itu baru surat pengalihan saham akan saya berikan! Saya juga tidak bisa percaya pada anda begitu saja, siapa tau anda menipu saya." kata Leon tegas dengan atensi yang begitu tajam pada Luna.
Luna tertekan mendapatkan tatapan mengintimidasi seperti itu. "Iya baiklah pak, saya akan menolong anak bapak! Saya akan tandatangani dulu yang satu ini," Luna mengambil bolpoin dan menandatangani surat perjanjian pertama yang mengatakan bahwa dia akan menolong Aileen dan Leon tidak akan ingkar janji dengan pengalihan 10 persen saham itu.
Leon juga menandatangani surat itu sambil memikirkan Aileen. Bram merapikan dokumen itu dan memasukkannya ke dalam amplop coklat.
Dreett..
Ponsel Bram berbunyi, ia pun melihat ponselnya. Tertera nama sayangku disana, yang artinya dari Lusi. "Siapa Bram?"
"Istriku, Yon." jawab Bram singkat, lalu mengangkat telpon dari istrinya itu. Disisi lain Luna sedang melihat Bram dan Leon. Sesekali dia tersenyum ala Pepsodent pada Leon dan membuat pria itu berdecih kesal.
"Iya sayang, ada apa?"
"Sayang, Aileen.... keadaannya memburuk, dia kejang-kejang. Cepat kamu kesini! Kasih tau Leon juga." suara Lusi terdengar panik diseberang sana.
"Aileen kejang? Baiklah, aku dan Leon akan segera kesana."
Mata Leon melebar dan rahangnya mengeras, mendengar kata-kata Bram pada istrinya di telepon. Aileen kejang?
"Bram!"
"Kita harus segera pergi ke rumah sakit, Aileen kejang kejang!"
"Iya...nona Luna, anda ikut juga." kata Leon tegas.
"Tentu saja pak, ini sudah tugas saya dan karena itulah saya bertemu dengan kalian."
Ya aku butuh saham untuk mendapatkan kekuasaan dan pengakuan dari pria tua itu.
*****
Rumah sakit.
Di depan ruang operasi, Lusi, Sam, Cleo dan Will berada di sana juga. Mereka terlihat resah melihat beberapa dokter dan perawat bolak-balik dari ruangan itu.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya Lusi?"
"Aileen tadi kejang-kejang, dokter berhasil menyelamatkannya dengan defribilator, tapi Aileen harus segera di operasi." tutur
"Hey! Kamu cepatlah masuk ke ruang operasi, Bram bawa dia!" ujar Leon pada Luna dan Bram.
Tanpa banyak bicara, Bram membawa Luna masuk ke dalam ruang operasi Aileen dan bergabung dengan para dokter juga perawat disana.
Luna dibaringkan di samping Aileen, seorang perawat mengambil darahnya dan menyalurkannya pada kantong darah. "Golongan darah nona dan pasien sangat langka, beruntunglah pak Leon menemukan pendonor tepat waktu." jelas seorang perawat pada Luna.
Oh ya, aku baru ingat kalau golongan darahku ini langka dan hanya nol koma berapa di dunia..Tapi kenapa orang itu langsung tau bahwa aku memiliki darah yang sama dengan gadis ini? Siapa gadis yang kutolong ini?
Luna jadi penasaran dengan siapa gadis yang dia tolong dan memiliki golongan darah sama dengannya. Lalu kenapa Leon dan Bram langsung tau bahwa dirinya memiliki golongan darah yang sama dengannya? Bukankah ini aneh.
Tit...tit...tit..
Terdengar suara mesin medis berbunyi menggema di ruangan itu. Aileen masih terbaring dalam wajah pucatnya. Para dokter berusaha untuk menyelamatkan nyawanya.
Mereka mengoperasi bagian kepala Aileen yang mengalami cedera cukup parah. Semoga saja cedera ini tidak berdampak pada bagian syaraf dan yang lainnya. Semoga Aileen selamat.
1 jam berlalu...
Leon dan yang lainnya masih berada di depan ruangan operasi itu. Leon berjalan mondar-mandir, gelisah mendera di hatinya.
"Sayang, bukannya kamu mau mengatakan tentang video itu? Ayo katakan saja!" bisik William pada kekasihnya.
Cleo menelan ludahnya kasar, dia terlihat memegang ponselnya dan hendak menunjukkan sesuatu pada Leon. Cleo pun mendekati Leon dan menepuk pundaknya.
"Om..."
Tatapan Leon begitu tajam pada Cleo, menyiratkan rasa tidak sukanya pada gadis yang pernah membawa Aileen ke club' malam sampai mabuk. Leon ingat benar itu dan jadi tak suka pada Cleo.
Hiiy... Aileen, bagaimana bisa kamu mencintai si es batu ini.
"Om, saya ingin menunjukkan sesuatu pada om. Aileen tadi mengirimkan saya sebuah video,"
"Video? Apa?" Leon mengernyitkan keningnya.
"Ini om..." Cleo membuka ponselnya, menunjukkan pesan dari Aileen beberapa jam sebelum insiden jatuh dari tangga.
Seketika air muka pria itu berubah menjadi memerah, matanya terlihat penuh kilatan amarah. "Celia.... ternyata kamu ada hubungannya dengan ini?" geram Leon pelan.
Sam mendengar nama Tantenya disebut dan entah kenapa wajahnya berubah menjadi menegang.
Kenapa nama Tante Celia disebut-sebut? Lalu video apa yang ditunjukkan wanita itu pada om Leon?
Leon tiba-tiba saja menarik kerah baju Sam dengan kasar. "O-om... apa-apaan ini?"
"Sekarang kamu telpon Tantemu! Tanyakan padanya beberapa pertanyaan yang akan aku tanyakan padanya! CEPAT!"
Bram dan Lusi terheran-heran ada apa dengan kemarahan Leon pada Sam. Celia dan William juga melihat kemarahan Leon. Dari sana Celia bisa merasakan bahwa Leon juga sayang pada Aileen.
"CEPAT!" teriak Leon emosi.
"Ba-baik om." sahut Sam lalu mengambil ponsel di saku jasnya.
Pasti Tante Celia udah ketahuan.
...****...
__ADS_1
insya Allah besok author Crazy up ππjangan lupa vote, gift nya ya...ini hari senin loh ππ