
...🍀🍀🍀...
Niatnya menghabiskan waktu berdua bersama Leon, menjadi kacau karena kedatangan Celia ke rumah itu. Raut wajah Aileen menunjukkan ketidaksukaannya pada kekasih Leon itu.
"Cih! Kenapa wanita itu ada disini? Apa dia mau mengganggu waktuku dan papa?" Gumam gadis itu sambil meremaas tangannya dengan kuat.
Celia tersenyum meski raut wajah Aileen tidak ramah padanya, dia berjalan melenggang masuk ke dalam rumah itu begitu saja bahkan sebelum Ratna mempersilahkannya untuk masuk. Lalu dia mendekati Aileen yang baru saja turun dari tangga.
"Hai Aileen selamat pagi," sapa Celia ramah, tak lupa senyuman manis merekah di bibirnya. Jangan lupakan penampilan Celia yang tampak menarik, tak heran karena dia adalah seorang model dan artis.
"Ini bukan pagi Tante, tapi ini udah siang." Jawab Aileen ketus, seraya menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.00 siang.
"Haha, iya ya ini sudah siang? Kebetulan dong kalau gitu, karena udah siang…Tante bisa masakin makanan buat papa kamu." Celia tertawa.
"Hem." Tidak banyak respon dari Aileen saat Celia bicara padanya. Malah gadis itu terkesan dingin dan tidak peduli dengan kehadiran Celia.
Dari gerak-geriknya Celia sedang mencoba mengambil hati putri angkat kekasihnya dengan lebih gencar dari biasanya dan Aileen tau itu.
"Cih dasar wanita tak tahu malu! Berani sekali Tante duduk di sofa itu padahal belum mendapatkan izin dari tuan rumahnya, tidak tau sopan santun." Celetuk Aileen kesal begitu melihat Celia duduk di sofa ruang tengah rumah mewah itu.
Tak lama kemudian, Leon datang menghampiri dua wanita tersayangnya yang tengah duduk di sofa yang saling berseberangan.
"Aileen, jaga kata-katamu sayang!" Tegur Leon yang tak sengaja mendengar kata-kata ketus Aileen pada kekasihnya. Leon melihat wajah sinis Aileen dan semrawutnya, bisa ditebak kalau wajahnya sudah seperti itu. Tandanya Aileen tidak suka dengan kehadiran Celia. Sejak awal yang membuat ia bertengkar dengan Putri angkatnya itu karena sikap Aileen pada Celia.
"Tidak apa-apa honey, ini memang salahku. Seharusnya aku berdiri dulu tadi, sebelum Aileen mengizinkanku untuk duduk," ucap Celia dengan wajah yang memelas dan kepala tertunduk di depan Leon.
Sementara Aileen memanyunkan bibirnya melihat gerak gerik dan lenggak-lenggok wanita itu. Dia semakin tidak senang dengan Celia. 'Cuih! Dia pasti pura-pura biar dapat perhatian dari papa. Dasar rubah' tentu saja hal ini dikatakan Aileen dalam hatinya. Sebesar apapun rasa tak sukanya pada Celia, ia tak mungkin menunjukkannya sangat kentara apalagi di depan Leon.
"Aileen, ayo minta maaf sama Tante Celia. Kau sudah bersikap tak sopan padanya!" Titah Leon pada Aileen untuk meminta maaf pada tunangannya.
"Aku tidak mau, pa."
Leon menoleh ke arah Aileen dan menatap gadis kecilnya itu dengan tajam. "Ail–"
Celia memegang tangan Leon dengan erat. "Honey, sudahlah…Jangan bertengkar lagi dengan putrimu karena aku."
"Tapi Aileen–"
Belum sempat Leon menyelesaikan kata-katanya, wanita yang memiliki tubuh seksi itu mendekat ke arah Leon dan membisikkan sesuatu ke telinganya. "Sudahlah honey, tidak apa-apa. Kau tenang saja, aku akan mencoba menaklukan putrimu."
"Aileen itu keras kepala sayang,"
__ADS_1
"Ya dia sama denganmu, keras kepala. Aku saja bisa membuat pria keras kepala sepertimu takluk kepadaku, maka aku juga pasti bisa membuat Aileen takluk padaku." Kata Celia dengan senyuman penuh percaya diri. Saat pertama bertemu dengan Leon, Celia juga merasa bahwa pria itu sangatlah keras kepala dan sulit untuk ditaklukan. Namun dengan sikap lembutnya, Leon yang pada akhirnya mengejar cintanya
"Baiklah, aku percaya padamu sayang." Pria itu hanya bisa setuju dan percaya dengan apa yang dikatakan oleh Celia.
Setelah itu Celia dan Leon masak bersama, makanan kesukaan Aileen di dapur. Mereka sibuk berdua di dapur dan membuat Aileen sangat kesal karena rencananya untuk berduaan bersama Leon menjadi gagal total.
Terdengar suara tawa bahagia Leon dan Celia di dapur, sungguh sebenarnya Aileen tak ingin tau apa yang terjadi. Tapi gadis itu penasaran Apa yang membuat layangan tertawa begitu lepas bersama Celia.
"Hahaha…sayang kau sangat lucu,"
"Geli hon…geli sekali."
Suara-suara itu begitu mengganggu Aileen yang sedang asyik menonton televisi. Televisi itu memang menyala tapi fokus Aileen bukan pada film tersebut, tapi pada dua orang yang tertawa di dapur. Sungguh hatinya sangat panas.
"Huh! Padahal biasanya papa tertawa hanya karena aku, sekarang papa juga tertawa karena wanita menor itu. Dia benar-benar menyebalkan," gerutu Aileen kesal. Akhirnya dia pun beranjak dari tempat duduk dan pergi ke dapur untuk melihat papanya bersama wanita menyebalkan menurut versinya itu.
Hatinya bergemuruh dengan rasa amarah, matanya melebar melihat pemandangan yang menyakitkan. Leon dan Celia sedang memasak sambil berpelukan mesra, ditambah dengan terdengarnya tawa bahagia dari mereka berdua.
"Beraninya dia cium-cium papa!" Aileen gemas melihat Celia yang main sosor pada papanya saat sedang memasak.
Tiba-tiba saja Aileen tersenyum, sebuah ide muncul di kepalanya. Aileen berjalan mendekati lemari es, lalu membukanya.
"Tidak apa-apa Tante, aku cuma mau ambil air minum." Jawab Aileen sambil mengambil sebotol air minum dingin didalam kulkas.
Leon mendekati Aileen lalu berbisik padanya. "Ai, kau harus baik sama calon mamamu ya. Lihatlah mama Celia, dia cantik baik dan perhatian padamu."
Aileen mengepalkan tangannya, namun bibir gadis cantik itu tersenyum."Iya papa, kalau begitu apakah boleh aku membantu mama Celia memasak?"
'Iuh…mama Celia'
Leon tersenyum mendengar perkataan putrinya, ia merasa bahwa Aileen mungkin sudah mulai membuka hatinya untuk Celia. Calon mamanya.
Bukannya membantu memasak, Aileen dengan jahil mengerjai Celia dengan mencampurkan air ke dalam minyak panas dan membuat tangan Celia terkena minyak panas itu.
"Aah!!" Celia merintih kesakitan sambil memegang tangannya yang terkena minyak panas.
"Ma-maaf Tante…aku gak sengaja!" Pekik Aileen pura-pura terkejut melihat Celia kesakitan.
"Aileen!" Suara Leon terdengar meninggi, dia langsung menghampiri Celia dan memegang tangan tunangannya itu.
"Pa…barusan Tante–kena minyak panas– tangannya–"
__ADS_1
"Tidak usah kamu menjelaskan semuanya pada papa, Karena papa sudah tahu kalau kamu yang melakukannya dengan sengaja."
"Papa nuduh aku?" Mata Aileen terbelalak, manakala mendengar ucapan Leon yang menuduhnya mencelakai Celia. Meski itu memang benar, tapi kenapa Aileen harus diperlakukan seperti ini di depan orang asing baginya.
"Papa bukan nuduh, tapi papa melihat semuanya!" Serka Leon dengan wajah yang marah.
"Honey…tanganku sakit sekali, bagaimana jika tanganku memiliki bekas luka? Bagaimana aku akan melakukan pemotretan nantinya?" Celia meringis kesakitan, ia begitu memikirkan tangannya yang terkena minyak panas itu. Bagi seorang model seperti Celia, tubuh adalah aset terpenting untuk mendapatkan pundi cuan.
"Kau tenanglah sayang, aku akan membawa ke rumah sakit sekarang juga!" Ucap Leon seraya menenangkan Celia, kemudian kedua tangan besarnya itu menggendong Celia ala bridal style. Dia sangat mencemaskan keadaan Celia dan begitu amat mencintainya. "Dan kau Aileen! Jangan pergi kemana-mana, papa akan bicara dengan kamu setelah ini! Kalau terjadi sesuatu pada Celia, papa tidak akan tinggal diam! Papa tidak akan memaafkanmu apalagi peduli lagi kepadamu, paham?" Tegas Leon dengan atensi tajam pada Aileen, tak lupa satu jarinya menunjuk pada wajah gadis itu.
Sakit hati gadis itu, bagai kan ada godam yang menghantam dadanya. Sesak, terluka, kecewa dan sedih. Akhirnya air mata pun mengalir deras dari matanya dan membasahi wajah cantiknya. Apalagi saat melihat Leon pergi sambil menggendong wanita itu masuk ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Wanita yang katanya akan menjadi calon mamanya itu.
"Oh…jadi maunya papa gitu ya? Baik, kalau papa tidak mau memaafkanku atau peduli lagi padaku, untuk apa aku berada di rumah ini lagi?" Gadis itu tampak marah, lalu dia berlari ke lantai atas dan mengambil salah satu kunci yang ada di nakas kamar Leon.
Aileen hendak pergi dari rumah, dia naik ke salah satu mobil yang terparkir di garasi rumah mewah tersebut. Beberapa pengawal melihat Aileen yang masuk tergesa-gesa ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya.
"Non…non Aileen mau kemana?" Tanya salah satu bodyguard yang diperintahkan Leon untuk menjaga Aileen.
"Jangan IKUTI AKU, kalau tidak aku akan meminta Leonardo Xavier untuk memecatmu!" Ancam Aileen emosi.
"Ta-tapi non! Tuan memerintahkan kami–"
Belum sempat bodyguard itu menyelesaikan ucapannya, mobil Aileen sudah melaju kencang keluar dari mansion mewah tersebut.
Ketiga bodyguard itu panik dengan cara Aileen mengemudi seperti orang gila.
"Tuan bagaimana ini?"
"Kita tetap ikuti nona muda, sudah tugas kita untuk menjaga keselamatan nona muda! Ayo!" Seru kepala bodyguard pada dua anak buahnya yang berbadan besar itu.
Mereka bertiga pun mengikuti mobil Aileen dari belakang dengan mengendarai mobil sedan hitam. Mereka menjalankan tugas dengan profesional sebagai bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga nona muda keluarga Xavier.
Gadis itu membawa mobil dengan ugal ugalan, padahal dia belum lancar menyetir dan tepat saat itu ponselnya berbunyi. Aileen mengangkatnya dengan cepat.
"Halo…."
"Tunggu aku disana, on the way."
Lalu Aileen memutuskan panggilannya dengan cepat, matanya berapi-api menatap jalanan. Hatinya masih bergemuruh hebat oleh api kemarahan.
...****...
__ADS_1