
...πππ...
Sinar mentari pagi mulai menyinari bumi di negeri Prancis yang dikenal dengan keajaiban dunianya yaitu menara Eiffel. Membangunkan dua insan yang masih berada di salah satu rumah sakit disana.
Sambutan hangat dari pria tampan bak dewa Yunani itu membuat senyuman mengembang di bibir si cantik di wajah pucatnya.
"Aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu," ucap Leon beranjak dari tempat duduknya. Namun Aileen menahan tangannya dan membuat Leon terdiam.
"Ada apa?"
"Aku lebih membutuhkanmu daripada Dokter," lirih Aileen pelan.
Leon tersenyum lebar, jujur ia senang dengan sikap manja dan genit Aileen yang khusus untuknya itu. Tapi saat ini dia harus menundanya dulu, karena dokter harus memeriksa kondisi luka tembaknya dulu.
"Ai, kita bicara lagi nanti. Sekarang kau harus diperiksa dokter dulu," ujar Leon seraya melepaskan pegangan tangan Aileen darinya. Akhirnya Aileen hanya bisa pasrah ketika pria itu pergi keluar dari ruang rawatnya untuk memanggil dokter.
"Aaaahhhh.... bagaimana keadaan Toni, Erina, Alea dan Alexander ya? Apa mereka baik-baik saja? Aku harus bertanya pada mas Leon," desahh Aileen sembari memikirkan keselamatan empat orang terdekatnya itu. Dan dua diantaranya adalah orang tersayangnya.
Tak lama kemudian, Leon datang bersama seorang dokter wanita. Dokter tersebut memeriksa kondisi luka tembak di punggung Aileen. Dalam bahasa Prancis, wanita berjas putih itu menjelaskan bahwa luka Aileen akan membaik sekitar satu Minggu asalkan wanita itu banyak istirahat dan tidak banyak bergerak agar mempercepat proses penyembuhannya.
Usai diperiksa, Leon menyuapi Aileen dengan bubur. Mereka makan semangkuk bubur berdua karena Aileen tidak banyak makan dan ingin makan berdua dengan Leon. Sudah lama sekali mereka tidak melakukan sesuatu bersama.
Mereka belum sempat melakukan banyak hal berdua sebab Aileen langsung pergi setelah malam pertama pertama. Malam pertama yang langsung membuat benih Leon tumbuh di dalam rahim gadis itu dan akhirnya telah menjadi dua anak yang lucu dan imut.
"Kau terlihat kurus, mas." komentar Aileen melihat tubuh Leon tidak sekekar dulu.
"Memangnya kau tidak?" balas Leon seraya melihat tubuh Aileen yang juga kurus.
"Aku tidak kurus, ini namanya ideal. Perempuan kalau gemuk itu jelek mas,"
"Ets...kata siapa? Kamu gak boleh body shaming, yang gemuk, gembul itu cantik dan imut. Kamu inget gak dulu kalau kamu gembul kayak Alea?" goda Leon pada istrinya.
"Hah?" Aileen tersenyum mendengarnya.
"Iya, Alea mirip kamu waktu kecil, Ai. Gembul, imut, manis dan bikin orang pengen nyubit." kekeh Leon.
"Iya dan mas tau? Alexander mirip banget sama mas, sifatnya yang jaim tapi lembut. Itu kamu banget mas." celetuk Aileen sembari tersenyum.
Kini mereka berdua bisa bicara dan bercanda meski hanya candaan kecil, namun bisa membuat tersenyum dan tertawa. Tiba-tiba saja Leon memegang tangan istrinya, ia melihat cincin pernikahan mereka masih tersemat di jari manis Aileen begitu pula sebaliknya. Leon juga masih memakai cincin itu di jarinya. Membuktikan bahwa mereka sama-sama masih setia dan menjaga hubungan mereka.
"Aileen maafkan aku," ucap Leon sambil mendesah.
"Maaf untuk apa Mas?" tanya Aileen.
"Aku tidak bisa melindungimu saat itu, hingga kamu bertindak sendiri dan mengambil keputusan berat sendirian. Harusnya aku lebih peka terhadap keanehan kamu saat itu, tiba-tiba saja aku keluar dari penjara, perusahaan jadi stabil dan yang paling kentara adalah saat kamu meminta kita menikah secepatnya. Maaf Ai, maaf aku tidak peka, membuat kamu dan anak-anak menderita selama ini. Maafkan aku Aileen....aku tidak cukup kuat untuk menjadi tempatmu bergantung saat itu. Tapi sekarang aku janji, aku lebih kuat dari dulu dan aku akan melindungi kalian!"
Aileen menangis, ia mengusap air mata Leon. "Tidak mas! Ini bukan salahmu, aku yang salah karena seenaknya memutuskan semua ini seorang diri. Aku yang salah karena egois dan tidak bicara dulu dengan kamu."
"Nggak Ai! Jangan minta maaf, karena aku kahan posisimu saat itu. Aku paham kamu dilema dan kamu sedih melihatku, aku paham...aku yang salah sayang, aku salah karena tidak kuat melindungimu!"
__ADS_1
Keduanya saling menyalahkan satu sama lain, lalu saling meminta maaf dan pada akhirnya berpelukan sebagai tanda perdamaian. "Udah ya, nangis-nangisnya. Ayo kita bahagia sekarang sayang. Bersama anak-anak kita."
Aileen menganggukkan kepalanya, dia memeluk suaminya dengan pelan sebab luka di punggungnya masih terasa sakit.
"Terima kasih sayang, terimakasih karena kamu masih masih tetap bertahan sampai saat ini." kata Leon sambil mencium kening Aileen penuh kasih sayang.
Setelah bermaaf-maafan, Aileen pun menanyakan tentang si kembar, Erina dan Toni. Ia sudah tak sabar ingin segera keluar dari rumah sakit, tapi dokter bilang tunggu sampai sore nanti.
"Erina dan anak kita baik-baik saja...tapi pak Toni..." ucap Leon menggantung disana.
"Apa yang terjadi pada pak Tony, Mas? Dia baik-baik saja kan?" tanya Aileen seraya memegang tangan suaminya. Dia melihat raut wajah suaminya yang tegang dan gelisah, membuatnya berpikir yang bukan-bukan tentang Toni.
"Mas, JAWAB AKU!" sentak Aileen yang semakin erat memegang tangan suaminya. Dia ingin tau kabar pria yang selama ini sudah seperti ayah untuknya dan juga kakek untuk si kembar.
"Pak Tony, dia tidak selamat!" jelas Leon yang membuat Aileen sesak.
Deg!
Aileen memegang dadanya yang terasa sesak, air matanya luruh begitu saja. Ia tidak menyangka bahwa pria yang sudah seperti papanya sendiri dan selalu melindunginya dan si kembar dari Eriko selama ini ternyata sudah tiada. Aileen menangis sambil memukuli dadanya sendiri. Teringat kebaikan hati Tony padanya dan twins.
"Tidak...mas...ini tidak mungkin....pak Tony, dia....hiks..."
Leon memeluk istrinya, dia mencoba menghibur Aileen yang sedih karena kehilangan Tony. Aileen sendiri juga memikirkan bagaimana anak-anak jika tau tentang hal ini, mereka pasti sedih. Terutama Alea yang paling dekat dengan Toni dan selalu bermanja-manja dengannya.
****
Sore itu di apartemen Leon.
"Om Bram, mana sih mommy sama uncle Toni? Kenapa gak datang-datang juga?" kata Alea sambil menghentakkan kakinya ke lantai, kedua tangannya menyilang dada.
Gadis kecil itu berdecak kesal, sembari menunggu kedatangan Aileen dan Tony. Dia bahkan sampai lupa pada sosok Leon.
"Sebentar lagi datang kok, tunggu ya!" kata Bram seraya menepuk pundak Alea dengan lembut.
"Aku udah mandi dan dandan cantik nih, buat mommy sama uncle Tony." kata Alea kesal.
Tapi kenapa aku sama Alex disuruh pakai baju hitam-hitam ya?
Alea keheranan kenapa semua orang disana berpakaian hitam-hitam seperti sedang berkabung saja.
"Diem! Kamu cerewet banget ya Alea," ketus Alexander pada saudarinya itu.
"Kamu yang diem, Alex...kamu nyebelin!" seru Alea kesal.
Tak berselang lama, terdengar suara bel berbunyi. Alea langsung tak sabar ingin melihat siapa yang datang. Alexander juga sebenarnya tak sabar, tapi dia tetap stay calm seperti biasa.
Bram sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, anak Leon yang satu ini sangat jaim dan tidak terlalu mengekspresikan dirinya.
"Om ayo buka pintunya! Itu pasti mommy sama uncle Tony!"
__ADS_1
"Iya, om buka pintunya ya sayang." ucap Bram lembut lalu membuka pintu apartemen itu.
Terlihat Aileen dan Leon berdiri disana dengan memakai pakaian serba hitam. Wajah mereka juga terlihat tidak baik.
"Mommy!" Alea berlari lebih dulu dan memeluk Aileen. Disusul oleh Alexander di belakangnya.
"Mommy, mommy gak apa-apa?" tanya Alexander seraya menatap Aileen cemas.
"Mommy tidak apa-apa nak, Mommy baik-baik saja. Apa kalian terluka? Apa ada yang sakit?" Aileen menelisik penampilan dan tubuh si kembar dengan seksama. Memperhatikan apa ada luka di tubuh mereka.
"Aku sama Alex gak apa-apa mom, tapi...kemana uncle Tony?" Alea celingukan mencari sosok Toni.
Aileen dan Leon saling menatap satu sama lain sebelum mereka memberitahu tentang Toni. Tanpa bicara apa-apa, Aileen dan Leon juga beberapa anak buah mereka membawa Alea, Erina dan Alexander pergi ke sebuah pemakaman besar di Italia.
Terlihat beberapa orang pelayat disana, ada foto Toni juga terpajang disana. Alea dan Alexander terkejut melihat foto itu.
"Mom, itu foto uncle Tony...kenapa..."
"Alea, Alex sayang...uncle Tony, sudah tiada." ucap Aileen sambil terisak.
"A-apa?!" sentak si kembar tercengang mendengar kata-kata Aileen tentang Toni.
"Kita kesini untuk melihat prosesi pemakaman uncle Tony." kata Aileen sedih.
Kedua anak kembar itu menangis menyaksikan pemakaman Toni. Dimana jenazah pria itu berada didalam peti dan petinya dimasukan ke dalam liat lahat. Toni meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.
Mereka terlihat menangisi kepergian Toni. Memang Toni bukan orang Indonesia asli, keluarganya juga tinggal di Italia.
Leon berjanji akan bertanggungjawab untuk membiayai kedua anak mendiang Toni karena Toni sudah berjasa banyak membantu istri dan anak-anaknya.
Setelah kepergian Toni, si kembar terlihat murung. Wajar saja mereka sedih, mereka seperti kehilangan sosok kakek dan mereka sayang pada Toni. Namun Aileen dan Leon berusaha membuat twins tersenyum. Untuk sementara ini mereka masih tinggal di Italia, sebab Leon ingin Aileen benar-benar sembuh sebelum pulang ke tanah air mereka.
Lalu Eriko? Bagaimana dia? Dia masih ditahan oleh Leon dan belum sempat Leon berikan pelajaran secara langsung.
****
Malam itu, Aileen Leon berada di dalam kamar mereka. Leon membantu istrinya untuk menggantikan perban di punggungnya.
"Aku merindukanmu sayang," Leon mencium tengkuk Aileen dengan penuh gairah, ia sudah tak sabar ingin menyatu lagi bersama istrinya setelah 5 tahun terpisah.
"Mas...bukanya ganti perban tapi kamu malah modus."
"Udah kok sayang," ucap Leon yang baru saja selesai mengganti perban di punggung Aileen.
"Oke, ini hadiahmu." ucap Aileen lalu mencium bibir suaminya.
"Ai, jangan mancing-mancing...kamu masih terluka." Leon mulai terpancing gairah setelah mendapat kiss dari Aileen.
Aileen tersenyum lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Leon. "Bukannya kamu yang duluan mancing-mancing? Barusan ngapain cium cium aku, Hem?"
__ADS_1
Keduanya saling menatap dengan penuh kabur gairah, tak lama kemudian. Bibir mereka sudah menempel.
...***...