
...πππ...
Tanpa mempedulikan Bram, Leon layaknya bayi besar yang manja pada Aileen. Meski begitu, Aileen senang karena Leon manja padanya. Biasanya dia yang manja pada Leon, sekarang gantian.
Dasar si bujang tua, ketemu pawangnya langsung semriwing. Gumam Bram dalam hatinya. Ia melihat pasangan kekasih itu berada di belakangnya dan terlihat mesra.
Leon enggan melepaskan pegangan tangannya dari kekasihnya itu. Leon sudah tak sabar ingin memiliki Aileen seutuhnya, menyatu dengannya dalam ikatan pernikahan yang sah.
"Oh ya Bram." tiba-tiba saja Leon memanggil Bram yang sedang duduk di kursi kemudi.
"Ada apa? Kamu baru ingat aku sekarang?" sindir Bram ketus.
"Bram!"
"Ah ya...baiklah, ada apa bosku?" sahut Bram seraya tersenyum dan senyumannya terlihat di kaca mobil.
"Apa masalah kartu sudah kau urus?" tanya Leon pada Bram.
"Sedang dalam proses, bos."
"Berapa lama lagi?" tanya Leon pada sekretarisnya itu.
"Mungkin sekitar satu Minggu lagi, tidak mudah memproses pengeluaran seseorang dari kar--"
"Hentikan Bram! Pinggirkan mobilnya karena kita sudah sampai." Presdir dari Xavier grup itu langsung memotong ucapan Bram.
"Pa, kartu apa sih maksudnya?" tanya Aileen terheran-heran.
"Tidak apa-apa sayang, ayo kita turun."
Begitu mobil berhenti tepat di depan gedung perusahaan Xavier group, Leon membukakan pintu mobil untuk Aileen dan dia pun menggandeng tangan gadis itu lalu berjalan masuk ke dalam kantor bersama-sama.
Ketika Leon dan Aileen berjalan masuk bersama-sama diiringi oleh Bram yang berada di belakang mereka, terlihat para karyawan yang menatap mereka dengan tatapan berbeda dari biasanya.
Mereka menyapa Leon, namun tatapan mereka begitu tajam padanya. Leon, Bram dan Aileen juga merasakan ada yang aneh dengan para karyawan itu.
Ting!
Kini Aileen, Bram dan Leon telah menaiki lift menuju ke lantai paling atas gedung tersebut. Disanalah Aileen mulai buka suara, ia mengatakan apa yang dari tadi dia pendam.
"Pa, apa Papa merasakan tatapan karyawan-karyawan tadi? Kenapa ya mereka menatap kita seperti itu?" tanya gadis itu dengan wajah polosnya yang tidak tahu apa-apa. Jujur saja, tatapan karyawan di lantai bawah tadi sangat mengganggunya.
"Tatapan seperti apa, baby?" tanya Leon seraya menoleh ke arah putri angkatnya.
"Tatapan tajam pa, mereka seperti mencurigai sesuatu."
"Sayang, kamu terlalu berlebihan. Lebih baik kamu berikan Papa vitamin C seperti biasanya." goda Leon seraya meraih dagu Aileen dan menatapnya genit.
Sontak saja, semburat merah terlihat di wajah cantik Aileen. Kulitnya yang putih bersih itu kini berubah menjadi merah karena malu.
"Papa, papa bener-bener genit deh!"
__ADS_1
"Genit apa sih sayang, orang papa cuma minta vitamin C kok." kata Leon dengan santainya, namun kekasihnya terlihat tersipu malu. Mengingat vitamin C seketika membuat badan yang menjadi panas dan hatinya berdebar.
"Ehem! Aku masih ada disini, aku masih ada disini." Bram langsung berdehem untuk menunjukkan keberadaannya di sana. Bisa-bisa dia jadi kambing congek terus-terusan berada di sekitar pasangan yang sedang bucin-bucinnya itu.
Aileen terdiam, sementara Leon santai saja dan merasa tidak berdosa sama sekali. Dia malah sengaja memanasi Bram dengan merangkul gadis itu di dalam perjalanan menuju ke kantornya.
Semua berjalan seperti biasa, hanya saja yang berbeda adalah hubungan antara Leon dan juga Putri angkatnya. Ya, kini mereka telah menjadi sepasang kekasih dan Leon berniat untuk segera mempersunting kekasihnya itu.
Diam-diam Leon selalu curi-curi pandang ketika melihat putrinya tengah sibuk dengan komputer. Aileen sangatlah cantik dan dia juga cerdas, lulusan luar negeri dengan beasiswa full, tentu kemampuannya dalam akademi tidak bisa diragukan lagi.
"Pak, ini kopinya buat bapak." ucap Aileen dengan sopan, ia meletakkan secangkir kopi ke atas meja Leon. Kemudian dia pun membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi dari sana, namun Leon tiba-tiba memanggilnya kembali.
"Ai..."
"Iya pak?" sahut Aileen seraya menoleh pada Papanya.
"Sini, kamu!"
Raut wajah Leon tampak dingin dan menyeramkan, membuat Aileen kebingungan dan bertanya-tanya ada apa dengan Leon.
"Ya pak? Ada apa?"
Gadis itu kini telah berada di depan meja kerja Leon. Leon menatapnya dengan tajam, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk cangkir berisi kopi yang baru saja diseduh oleh gadis itu.
"Kamu gimana sih Ai, ini kurang manis!" protesnya sambil melihat raut wajah Aileen yang tegang.
"Takarannya kayak biasa kok, pa. Tiga sendok gula." jelas Aileen yakin, bahwa dengan 3 sendok gula itu sudah sesuai dengan seleranya.
"Ckck...ini beda Ai, gak manis..." Leon tunjukkan raut wajah yang tidak puas, ia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kurang, Ai."
"Udah pah, ini udah manis," ujar Aileen tegas.
"Kurang,"
"Terus aku harus gimana? Aku tambahin gulanya deh," Aileen hendak mengambil cangkir di atas meja, namun Leon menahan tangannya. "Apa sih pah?"
"Gak usah pakai gula," tiba-tiba terlihat seringai di wajahnya. Seringai yang genit.
"Huh?"
"Sini papa tunjukkin biar kopinya tambah manis," ucapnya genit.
Leon menarik tubuh gadis itu hingga jatuh ke pangkuannya. Kemudian mencuri kecupan di bibir dengan singkat. Kontan, membuat kedua mata Aileen membulat. "Ish...papa ngerjain aku ya?"
"Hehe...enggak kok. Papa cuma mau menunjukkan sama kamu, biar kopinya tambah manis. Nih...pakai bibir kamu." Leon mengusap noda kopi yang menempel dibibir Aileen dengan jari jempolnya. "Hum...ada rasa stroberinya juga ya," lanjutnya sambil tersenyum.
"Oh my God, papa...kenapa papa jadi gombal gini sih? Geli tau ih pah."
"Geli tapi kamu suka kan?"
__ADS_1
"Ckckck...dasar orang tua!" desis Aileen sebal.
"Tua-tua gini, tapi kamu suka kan?" tanya Leon seraya mengapit dua pipi Aileen yang gemoy itu.
"Iywa, akwu SWUKA!" jawabnya tanpa mengelak.
"Gemesin sih banget sih kamu Ai, manis juga kayak le mineral...hehe."
"Ish papa!" Aileen tersenyum kemudian tertawa mendengar gombalan dari Leon. Mereka berdua sedang panas-panasnya, baru menjalin hubungan selama beberapa bulan. Tidak ada masalah berat yang terjadi di antara mereka, hanya pertengkaran-pertengkaran ringan saja.
Tidak sulit bagi mereka untuk menjalin hubungan bersama, sebab mereka sudah lama mengenal dan dekat. Mereka juga sudah tahu satu sama lain. Entah itu kebiasaan, hobi, makanan kesukaan dan lains sebagainya.
"Pa, udah ya. Nanti papa ada rapat. Aku juga ada kerjaan dari om Bram nyalin file." ucap Aileen lalu beranjak dari pangkuan Leon.
"Kerjaannya banyak gak sayang?"
Aileen tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Gak kok pah, aku suka pekerjaan ini karena aku bisa dekat sama papa."
"Baguslah...tapi Ai, tentang kamu dan Cleo yang mau ke Paris, itu--" ucapan Leon menggantung disana, dia terlihat ragu untuk mengatakannya.
"Oh, soal itu aku--"
Tiba-tiba saja pintu ruangan Leon terbuka bahkan tanpa diketuk terlebih dahulu. Terlihat beberapa orang berseragam polisi masuk ke dalam ruangan itu.
Bram berusaha untuk menghentikannya, namun mereka menerobos masuk ke dalam sana. "Maaf pak, bapak tidak bisa seenaknya masuk ke ruangan Presdir!" seru Bram tegas.
Aileen dan Leon tercekat melihat kedatangan polisi itu, mau apa mereka datang kesana?
"Apa benar Anda yang bernama Leonardo Xavier?" tanya salah seorang polisi dengan tatapan tajam pada Leon.
"Benar, itu saya." jawab Leon santai.
"Kami mendapatkan surat perintah dari kejaksaan untuk menahan anda!" seru polisi itu sambil menunjukkan surat penangkapan dari kejaksaan untuk Leon. CEO dari Xavier grup itu melihat isi surat sekilas, dia menghela nafas dengan kasar.
Pasti pria tua itu. batin Leon.
Seorang polisi lainnya, langsung mengunci Leon dengan borgol di tangannya. Leon membiarkan dirinya dibawa oleh para polisi itu, sementara Bram dan Aileen terlihat panik.
"Pak! Kenapa bapak membawa Papa saya? Apa salah Papa saya sehingga Papa saya harus ditahan?!" hardik Aileen tak terima, Leon dibawa oleh mereka.
Sebelum polisi menjawab pertanyaan gadis itu, Leon lebih dulu menjawab pertanyaannya. "Tenang saja Ai, papa gak apa-apa." Leon menatap Aileen yang matanya mulai berkaca-kaca dan tubuhnya gemetar.
Walaupun Leon mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tapi Aileen tetap tidak tenang. Masalah apa yang membuat pria itu harus ditahan?
"Bram, hubungi Ferdian!" titah Leon pada Bram.
"Baik pak."
Percayalah, walaupun Bram tampak tenang diluar. Dia juga merasa panik didalam hatinya.
Leon pun dibawa pergi dari sana dengan borgol di tangannya oleh polisi. Semua orang melihat CEO mereka dibawa dengan tidak hormat oleh petugas keamanan.
__ADS_1
"Papa...."
...****...