
...πππ...
Begitu mendengar Leon akan mengajaknya ke hotel, sontak saja wajah Aileen memerah bak kepiting rebus. Tau otaknya kemana-mana dan jadi traveling ke traveloka. Gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Apa mungkin Leon menginginkan mahkotanya malam ini? Tidak! Papanya adalah orang berprinsip dan tidak mungkin sembarangan melakukan itu sebelum menikah.
Tapi kalau Leon menginginkannya dan sudah tak sabar, Aileen dengan senang hati akan memberikannya. Terserah mau dibilang murahan atau bagaimana. Menurutnya penyatuan tubuh akan membuat hubungan semakin lengket. Ah...tapi setelah dipikir-pikir lagi, mana mungkin mereka baru jadian dan Leon langsung meminta anu.
"Ai, ayo sayang! Kita ke hotel."
Suara seksi Leon membuyarkan Aileen dari pikiran-pikiran liarnya. "Ah...iya papa ke hotel ya? Bukankah ini terlalu cepat pa?"
"Nggak Ai, ini sudah waktunya. Sebenarnya papa sudah terlalu tua untuk itu. Tapi papa harus melakukannya segera, papa tak bisa menunggu." Leon memegang tangan Aileen dengan lembut. Dia memperkirakan raut wajah tampan yang memelas namun memesona. Tak mampu ditolak lagi ke maskulinannya oleh Aileen.
Pria dengan sikap soft boy itu selalu membuat Aileen nyaman dengannya. Selain dewasa, tampan, mapan, mengayomi, dompet tebal, bisa masak, apalagi yang kurang darinya? Masalah usia? Kita pikirkan belakangan, yang penting cinta tak mengenal usia.
"Jadi--papa benar-benar akan melakukannya pa?" tanya Aileen polos.
"Iya sayang, Papa sudah tidak sabar. Ayo kita pergi dari sini, Papa gak bisa nunggu lama lagi." Leon menarik tangan Aileen.
Omigod! Papa udah gak tahan?. Aileen masih tercengang dengan ucapan Leon.
Mereka berdua pun keluar dari bioskop lebih dulu, padahal filmnya belum selesai. Terlihat Leon yang begitu menggebu-gebu mengajak Aileen pergi ke hotel. Entah mau apa pria itu mengajak Aileen ke hotel.
****
Hotel Samudra.
Malam itu, Sam terlihat sedang makan malam bersama di restoran hotel mewah tersebut bersama seorang wanita cantik. Salah satu wanita yang menjadi wanita teman ranjangnya.
"Honey, apa kamu membutuhkan kehangatanku lagi? Makanya kamu memanggilku kemari?" tanya wanita bernama Prisa itu sambil menyisir rambut panjangnya ke belakang.
Sam tidak banyak bicara, ia menyerahkan sejumlah uang kepada wanita itu di dalam amplop berwarna coklat. "Jangan pernah temui aku lagi selamanya, hapus kontakku dari ponselmu dan aku tidak mau bertemu denganmu lagi."
Prisa begitu terkejut mendengar kata-kata dari Sam, tidak biasanya pria itu seperti ini. Biasanya kalau sudah bertemu, pasti mereka akan berakhir di kamar hotel. Tapi kali ini Sam malah memintanya untuk tidak menemuinya lagi. Ada apa?
"Sam, apa aku berbuat kesalahan? Kenapa tiba-tiba saja kamu seperti ini?" tanya Prisa terheran-heran. Ya, wanita ini memang salah satu dari wanita yang pernah menjadi teman ranjangnya. Tidak memiliki kesan apapun karena prinsip Sam adalah sekali pakai.
"Aku... hanya tidak mau terbelenggu dalam masa lalu lagi. Mulai hari ini aku memutuskan untuk menjadi pria yang hanya mencintai satu wanita saja. Aku tidak mau menjadi brengsek lagi...jadi maafkan aku karena sikapku. Walau kita cuman bertemu satu kali di atas ranjang." jelas Sam dengan raut wajah yang serius dan tidak menampakan kebohongan sedikitpun di sana.
__ADS_1
Hari ini dia menemui 10 teman ranjangnya, memberikan mereka kompensasi berbentuk uang dan barang. Agar kelak di masa depan mereka tidak mengganggu kehidupan Sam lagi, dia benar-benar ingin menghilangkan jejak cassanovanya.
Prisa terhenyak kemudian dia tersenyum. "Sam, kamu tidak perlu meminta maaf padaku...bukankah pekerjaanku memang melayani seorang laki-laki? Aku juga tidak rugi apapun dan aku senang kalau kamu benar-benar mau berubah. Jadi, apakah aku boleh tahu siapa wanita yang membuatmu berhenti menjadi playboy?" tanya Prisa penasaran.
"Ada." Sam jawabnya sambil tersenyum dan membayangkan sosok Aileen. Sebenarnya Sam tidak mau seperti ayahnya yang brengsek dan dia memutuskan untuk menjadi pria sejati, pria setia dan menjalin komitmen.
"Baguslah, memang sudah waktunya untukmu bertobat. Kalau kamu sudah serius dengan satu wanita, kamu kejar saja dia."
"Aku sedang berusaha, doakan saja."
"Pasti." jawab Prisa tulus.
Setelah pertemuan itu, Sam hendak pulang ke rumahnya untuk menemani mamanya yang saat ini sedang sakit karena kelakuan Papanya.
Ketika Sam akan pergi ke luar dari hotel itu, dia melihat Leon dan Aileen masuk ke dalam gedung hotel dengan tangan yang saling bergandengan. "Aileen? Om Leon? Ngapain mereka datang ke hotel malam-malam seperti ini? Mau apa?" gumam Sam penasaran.
Akhirnya rasa penasaran memicu pria itu untuk mengikuti Aileen dan Leon. Dia melihat mereka masuk ke dalam lift dan Sam tidak keburu mengejarnya. "Mau kemana mereka? Tidak mungkin kan, kalau mereka mau menginap di salah satu kamar dalam hotel ini?" Sam mulai berpikiran negatif. Dia cemburu membayangkan hal-hal yang berkaitan dengan Aileen dan Leon.
"Malam pak Leon, anda belum pulang?" sapa Yudha, manajer hotel Samudra.
"Malam Pak Yudha. Oh ya, apa ada reservasi kamar hotel atas nama Leonardo Xavier?" tanya Sam tanpa basa-basi.
"Lalu? Reservasi apa?" tanya Sam semakin penasaran.
"Tuan Xavier mereservasi lantai paling atas gedung ini dan di sana di hias seperti pesta."
Sam terdiam dan mengerutkan keningnya, ia jadi semakin penasaran dan bertanya-tanya apa yang akan dilakukan oleh Leon di lantai atas gedung tersebut. Sam pun masuk ke lift kosong yang ada di sebelahnya dan menyusul Leon Aileen ke lantai paling atas.
Ting!
Pintu lift yang dinaiki oleh Leon dan Aileen pun terbuka. Pikiran Aileen kini mulai bertanya-tanya, jika tidak membawanya ke kamar hotel, kenapa Leon membawanya ke atas gedung itu?
Aileen semakin terheran-heran manakala dia melihat atas gedung itu tampak begitu gelap. Ia mengedarkan matanya ke sana kemari dan tidak ada siapapun di sana.
"Pa, kenapa Papa--hmph--"
Tiba-tiba saja seseorang membekap mulut gadis itu, lalu memakaikannya penutup mata. Sementara Leon berada didepannya, dia tersenyum melihat Aileen yang kebingungan dan panik.
Ting!
__ADS_1
Di lift sebelah, Sam terlihat keluar dari sana. Ia berjalan ke gedung lantai atas itu dan melihat suasana disana tampak sepi. "Dimana Aileen dan om Leon?" gumam Sam penasaran. "Kenapa juga lampunya mati?" Sam kebingungan melihat lampu di atas gedung itu yang mati.
Ketika ia berjalan ke depan, tiba-tiba saja lampu di atas gedung itu menyala. Terlihat Aileen sedang berjalan di karpet merah dan Leon berdiri didepannya tak jauh darinya.
"Papa.... apa-apaan ini?" Aileen tercengang melihat semua dekorasi di sana. Seperti dekorasi pesta dengan banyak hiasan mawar merah.
Belum lagi ketika gadis itu berjalan, akan ada kelopak mawar merah menyertai langkahnya.
"Surprise sayang, i love you...Aileen." lirih Leon sambil menyerahkan bunga mawar merah untuk Aileen dan juga boneka beruang berwarna pink.
Aileen menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia terharu dengan semua kejutan yang di persiapkan oleh Leon padanya. "Papa, aku sudah punya banyak boneka beruang."
"Yang ini berbeda, coba peganglah!" ujar Leon sambil menyodorkan boneka beruang berwarna pink dengan bentuk hati di tengahnya itu.
Aileen mengambil boneka itu lalu tak sengaja dia memijit bagian berbentuk hati ditengahnya.
πΆπΆπΆ
"I love you Aileen cantik, i love you so much..."
Wajah Aileen tersipu malu setelah mendengar suara papanya yang imut imut di dalam boneka beruangnya. "Papa!"
"Kau suka?" tanya Leon dengan satu tangan menangkup pipi Aileen.
"Suka Pa! Suara papa imut imut..." gadis itu tak henti-hentinya tersenyum bahagia.
"So, apa jawabanmu Aileen? Apa kamu menerima cinta Papa?" tanya Leon dengan ekor mata yang melihat seseorang berdiri di depan pintu gedung lantai atas itu.
"I love you papa, i want you...i accept your feel, papa." lirih Aileen menerima perasaan Leon.
Kemudian tanpa aba-aba, Leon menarik tengkuk Aileen dan mencium bibirnya. Boneka beruang dan bunga yang tadi pegang Aileen sampai terjatuh karena ciuman yang tiba-tiba itu.
Sam melihat pemandangan itu dengan miris, hatinya seperti di hantam besi berat. Tercabik-cabik perasaannya saat melihat wanita yang dia sukai tengah saling memagut bibir dengan pria lain.
"Fuckk!! Ini benar-benar gila..." Sam mengusap-usap rambutnya dengan kasar.
Leon masih memagut bibir itu, matanya bertemu dengan mata Sam. Mereka saling bertatapan dengan tajam.
Lihat ini Sam...dia milikku.
__ADS_1
...****...