
...πππ...
Tindakan Leon terbilang cukup berani dan tidak tahu malu bagi Aileen. Bagaimana bisa orang yang mengaku sebagai papanya, mencium bibirnya dan bersikap ambigu kepadanya.
Aileen tidak terima ini, antara terkejut dan marah, dia pun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan pesta penyambutan kecil-kecilan itu. "Papa keterlaluan!" hardik Aileen lalu berjalan pergi menuju ke lantai atas. Wajahnya seperti akan menangis.
Semua orang melihatnya naik ke lantai atas, termasuk Leon. Cleo dan Lusi masih terlihat syok melihat pemandangan itu. Jelas dari sikap Leon pada Aileen itu tidak normal sebagai ayah dan anak.
"Leon, kamu benar-benar nekat..."
"Aku sudah putuskan untuk berjuang kali ini dan aku tak akan mundur." ucapnya dengan mata penuh tekad yang kuat. Jika dulu Aileen yang mengejarnya, kini giliran Leon yang mengejarnya dan berjuang.
"Aku paham, tapi apa kamu harus membuatnya takut?" kata Bram pada Leon. Dia khawatir melihat raut wajah yang ditunjukkan oleh Aileen barusan. "Dia masih bingung dan kamu membuatnya makin bingung." ucapnya lagi pada Leon.
Leon pun menyusul Aileen pergi ke lantai atas dan meninggalkan semua orang disana.
"Pa, kenapa Leon bersikap seperti itu pada Aileen? Mama merasa sikapnya itu ambigu." Lusi memang belum tau apa-apa tentang perasaan Leon pada Aileen, melihat sikap Leon barusan membuatnya tercengang. "Aku paham kalau Leon sangat menyayangi Aileen, tapi tindakannya barusan itu lebih dari batas kewajaran dan ambigu, pah."
"Kamu benar ma, memang tindakan Leon di luar batas. Itu karena Leon mencintainya."
Lusi terperangah, bahkan mulutnya sampai menganga dan ia tak menyangka bahwa Leon memiliki perasaan seperti itu pada Aileen. Apa katanya? Cinta?
"A-Apa? Gimana mungkin?"
"Ya, bisa kamu lihat sendiri." jawab Bram sambil menghela nafas. "Sudah, lebih baik kita nikmati saja pestanya. Biarkan saja mereka menyelesaikan urusan mereka. Ayo Cleo, Will." kata Bram berusaha mencairkan suasana disana yang menegang karena tingkah Leon
Cleo dan Will menganggukkan kepala mereka dan melanjutkan sesi makan-makan tanpa Aileen dan Leon. Cleo sendiri masih tidak menyangka bahwa Leon akan seberani itu, di jadi berandai-andai. Jika Aileen tak hilang ingatan, mungkin gadis itu akan senang karena cintanya terbalas dan terbayar mahal lebih dari yang ia perkirakan.
Ai...buruan sembuh hilang ingatannya, jangan lama-lama...kamu pasti bahagia dengan sikap om Leon saat ini yang mulai bucin sama kamu.
"Cleo sayang, kamu mau bakso?" tawar Will seraya menyuapi kekasihnya dengan bakso goreng disana.
"Iya sayang, boleh!" sahut Cleo sambil mengunyah bakso goreng tersebut.
Sementara itu di dalam kamar, Aileen sedang menangis dan menangkupkan wajahnya di bantal. Dia syok dengan sikap agresif Leon yang main sosor saja.
Tok,tok,tok!
Pintu kamar Aileen di ketuk seseorang, ya orang itu adalah Leon. Aileen semakin meringkuk di dalam bantal dan selimut itu. "Ah...aku lupa kunci pintu." gumamnya pelan.
"Ai, papa boleh masuk?" tanyanya sopan.
Tidak ada jawaban dari gadis itu, hanya hening karena suara isak tangis Aileen teredam oleh bantal. Tanpa persetujuan dan jawaban dari Aileen, Leon berjalan masuk ke dalam kamar itu dan mendekati Aileen. Ia duduk diatas ranjang empuknya.
"Sayang..."
"Jangan panggil aku sayang! Aku gak mau!" serkanya tegas, dengan tubuh yang masih memunggungi Papanya Itu. Aileen bingung, sangat bingung kenapa orang yang mengaku Papanya bersikap seperti kekasih.
"Maafkan Papa sayang,"
Aileen membalikkan tubuhnya, dia duduk diatas ranjang dengan mata yang berwarna merah. "Sebenarnya aku tidak paham, mengapa Papa harus minta maaf? Mengapa Papa bersikap padaku seperti ini? Semua tindakan Papa bukanlah seperti seorang Papa!"
"Papa kan sudah mengatakan padamu sebelumnya, bahwa Papa mencintaimu."
"Tapi aku kan Aileen Sheravina Xavier! Aku anak Papa, bagaimana bisa papa mencintaiku? Ini benar-benar tidak etis, pah!" seru Aileen sedih.
Tangan Leon membelai pipi Aileen dengan lembut, mengusap air matanya. "Papa tau mungkin perasaan papa padamu bisa dikatakan tidak etis. Tapi kamu duluan yang menyatakan cinta pada papa, kamu yang--"
Aileen tercengang lalu menatap tajam pada papanya dan memangkas ucapan Leon. "Aku? Kapan? Aku menyatakan cinta?"
"Iya, sepulang dari Singapore...tak lama setelah itu kamu mengatakan cinta pada Papa. Saat itu papa tidak menyadari perasaan Papa padamu, papa juga tidak percaya padamu tentang Celia...papa.."
Kata-kata Leon tergantung disana, manakala ia melihat raut wajah Aileen yang syok. Tangannya memegang kepala dan gadis itu mengeluh kesakitan. "AKHHH!! Sakit....sakit...Celia...jahat...dia jahat...Papa...dia jahat...." Aileen berteriak histeris.
__ADS_1
"Ai...kamu kenapa sayang? Aileen!"
Gadis itu jatuh tidak sadarkan diri di dalam dekapan Leon. "Aileen!" pria itu panik dan segera memanggil dokter keluarganya yaitu dokter Revan.
Tak lama kemudian, dokter Revan sampai dan memeriksa kondisi Aileen. Revan mengatakan pada Leon, untuk tidak memaksakan ingatan Aileen. Setelah Revan mendengarkan penjelasan Leon tentang apa yang membuat Aileen jatuh pingsan.
"Kamu dengar apa kata dokter Revan? Jangan terlalu memaksakan kehendakmu hanya karena tak sabar," nasehat Bram pada sahabatnya itu.
"Lalu sampai kapan aku harus menunggu?"
"Tunggulah sampai ingatannya kembali, lalu nyatakanlah cintamu padanya dengan benar. Dan ini juga salah bukan karena baru menyadarinya sekarang?" saran Bram pada Leon yang tidak sabaran itu.
"Ah....atau kamu takut dengan umur? Benar juga, usiamu tahun depan sudah 40 tahun!" kata Bram seraya mengejek temannya itu.
"Sialan kau!" dengus Leon kesal.
"Baiklah, kalau ingatan Aileen sudah kembali. Segeralah kamu lamar dia, biar gak kelamaan." goda Bram pada sahabatnya Leon. "Intinya sabar! Tenang saja karena Aileen pasti akan ingat." sambungnya lagi.
Setelah itu Lusi, Bram, Cleo dan William pamit pergi dari rumah Leon karena Aileen harus beristirahat. Leon mengelus lembut rambut putrinya yang tengah tertidur itu. "Maafkan papa sayang, mungkin Papa memang terlalu terburu-buru. Ya baiklah, Papa akan pelan-pelan saja mulai sekarang."
Leon bertekad akan membuktikan cintanya secara pelan-pelan pada Aileen dan berharap agar gadis itu segera kembali mengingat dirinya.
*****
Di depan kantor polisi, Celia sedang bersama dengan seorang pria yang diketahui sebagai ayah Sam, yaitu Ferdinan Ginting. Dia membebaskan Celia dari penjara dengan jaminan.
"Makasih ya Mas, mas udah bebaskan aku dari penjara."
"Tidak masalah Cel, kamu sudah seperti adik mas sendiri." ucap Ferdinan seraya tersenyum.
"Mas..."
"Iya Cel?"
"Kamu ikut aja pulang ke rumah Mas." ajak Ferdinan merasa tak tega karena Celia sudah tidak punya apapun. Semua harta yang berasal dari Leon diambil kembali olehnya.
"Tapi Mas...aku gak enak sama mbak Sahara." ucap Celia sedih.
"Masalah kakak kamu biar Mas yang atur. Dia pasti tidak akan keberatan kalau adiknya tinggal bersama dengannya." Ferdinan tersenyum pada Celia seraya menghiburnya.
"Makasih Mas," Celia tersenyum, dia mengusap rambutnya kebelakang.
Mas Ferdinand baik juga ya, apa dia akan menjadi pundi cuan ku selanjutnya?
"Ayo ikut pulang sama Mas, kamu pasti capek dan pengen istirahat." Ferdinan mengajak Celia untuk pulang ke rumahnya.
Diam-diam Celia tersenyum manis lalu menggandeng tangan kakak iparnya. "Maaf Mas, tapi aku masih takut... boleh kan aku pegang tangan mas?"
"Iya gak apa-apa, mas paham kok. Ayo, kita pulang ya!" kata Ferdinan lembut dan membiarkan tangan wanita itu untuk menggandengnya.
*****
3 hari kemudian, setelah sakit kepala yang dialami oleh gadis itu. Kini keadaan Aileen sudah lebih baik dari sebelumnya. Tangannya juga sudah tidak di perban lagi.
Selama tiga hari itu, Leon selalu perhatian pada Aileen dan menyediakan semua kebutuhan Aileen. Selama itu pula Aileen berada di rumah dan tidak diperbolehkan untuk kemana-mana.
Kini gadis itu merasa bosan, Leon juga belum pulang padahal hari sudah sore. "Papa kemana ya? Kenapa Papa belum pulang? Biasanya jam 3 sore, papa udah pulang." gumam Aileen sambil duduk di sofa dekat kolam renang.
"Non...non lagi apa disini? Nungguin tuan ya?" tangan Ratna sembari menyimpan gelas berisi jus jeruk ke atas meja kecil disana.
"Iya bik, biasanya jam segini Papa udah pulang kan?"
"Sebenarnya tuan tidak biasa pulang jam segini, maksimal pulang jam 5 sore."
__ADS_1
"Oh gitu ya? Maaf bi, Aileen lupa."
Jadi selama ini, Papa pulang lebih awal karena apa-apa ingin menemaniku di rumah?
"Hehe gak apa-apa non, semoga non lekas sembuh ya." doa Ratna untuk Aileen.
"Makasih ya bi. Oh ya bi, aku mau berenang dulu ya bi!"
"Berenang jam segini non? Apa gak dingin?"
"Ini baru jam 3 bi, lagian aku bosan cuma di dalam kamar terus. Kalau ada Papa di rumah, pasti dia suruh aku di kamar terus."
"Ya udah deh non, tapi jangan lama-lama ya. Bibi ada di belakang, mau lihat pak Anwar bersihin taman." Ratna tersenyum lalu berpamitan pada Aileen.
Gadis itu bukan kepalanya dan tersenyum. Selagi Ratna pergi ke taman belakang, Aileen sudah siap memulai ritual renangnya. Dia memakai tank top dan celana pendek, menampilkan tubuhnya yang molek dan kulit putih yang bersinar.
Rambutnya dibiarkan tergerai, dia melakukan pemanasan terlebih dahulu.
"Haaahh...pasti menyegarkan!" Aileen menatap air di kolam renang itu dengan tak sabar.
Byurr!!
Gadis itu menceburkan dirinya ke kolam renang dan bergerak kesana-kemari menikmati kegiatan berenangnya. Sekujur tubuhnya telah basah.
Ketika Aileen sedang beristirahat dan menepi, ia melihat seseorang berdiri didepannya. Gadis itu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang didepannya. "Papa? Papa sudah pulang?" tanyanya dengan mata yang berbinar.
Leon jongkok dan melihat wajah Aileen yang imut itu. "Iya Ai, maaf papa telat 10 menit...tadi ada meeting yang tak bisa Papa tinggal."
"Eh... Kenapa Papa minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf Pa, gara-gara aku papa jadi harus selalu pulang lebih awal. Mulai besok, Papa tidak perlu melakukan itu lagi. Because i'm fine, dad." kata Aileen seraya tersenyum.
Leon menerbitkan senyuman indah dibibirnya, tatapan matanya begitu nanar melihat tampilan Aileen yang basah dan tampak seksi.
"Pa... Papa kenapa Papa menatapku seperti itu?" tanya Aileen heran.
Oh my God...kenapa setiap Papa melihatku seperti ini, hatiku bergetar.
"Kamu masih mau berenang kan?"
"Iya lah pah, aku kan baru mulai!"
"Okay, tunggu disini ya sayang." lirihnya lembut.
Leon pun berjalan pergi meninggalkan Aileen disana, beberapa menit kemudian Leon kembali ke kolam renang dengan memakai bathrobe putih.
"Pa? Papa ngapain?"
Pria itu melepas bathrobenya kemudian memperlihatkan tubuhnya yang hanya memakai celana boxer pendek, kemudian otot-otot dadanya yang sixpack itu. Mata Aileen terpana melihat sosok hot Daddy tersebut. Percaya atau tidak, usia Leon sudah akan menginjak 40 tapi dia masih terlihat muda.
Papa ganteng banget... Aileen memuji papanya di dalam hati. Matanya bahkan tak bisa berhenti berkedip saat menatap keindahan tubuh papanya.
Sekarang giliran Papa yang menggodamu Aileen.
"Papa...ma-mau ngapain gak pakai baju, pa?" tanya Aileen gagap, sambil menelan salivanya kuat-kuat.
Jangan ditanyakan lagi bagaimana keadaan jantungnya saat Leon mendekat ke arahnya dan turun ke air. "Papa...uh..."
"Kita renang bersama ya sayang?" goda Leon seraya menyisir rambut panjang Aileen yang basah.
Aileen gugup dan gelisah dengan sentuhan dari Leon.
...****...
Papa Leon mau ngapain ya di kolam renang?
__ADS_1
Jangan dulu traveling ya guys π bab berikutnya nyusul, jangan lupa komen..