
...🍁🍁🍁...
Pagi-pagi sekali Aileen sudah berada di kamar papanya, dia berniat membangunkan papanya yang masih tidur dalam keadaan tengkurap dan memakai sepatu. Kebiasaan Leon memang seperti itu, kalau sudah lelah pasti dia tidur tanpa melepas sepatu.
"Huh….pasti papa kecapekan karena semalam habis ehem ehem sama si Tante menor itu. Kenapa sih papa menyakiti Aileen seperti ini?" Gumam gadis itu dengan tatapan sendunya melihat Leon yang masih dengan pulasnya.
Dengan perhatian membuka sepatu papanya, juga kaus kaki kecil disana. Dia mengusap pelan kaki papanya dengan handuk yang diolesi air hangat agar Leon merasa lebih baik.
Merasakan ada gerakan di kakinya, membuat Leon terbangun dan melihat Aileen ada disana. Wajahnya menghangat menyambut Aileen seperti biasa. "Ai? Kenapa kau ada disini sayang?"
Tubuh Leon yang tadinya tengkurap, kini menjadi telentang dan membuat matanya bisa melihat Aillen dengan kelas.
"Aku sedang membersihkan kaki papa, bau terasi pa! Papa ini kebiasaan deh kalau kecapekan lupa buka sepatu, hehe." Gadis itu terkekeh sambil tersenyum dan tangannya memijat kaki sang papa.
"Sudah sayang, kau tidak usah memijat kaki papa lagi." Leon beranjak duduk dan tubuhnya bersandar di headboard ranjang itu.
"Tidak apa-apa pa, aku senang bisa memijat papa. Bukankah sudah lama aku tidak melakukan ini pa? Papa ingat tidak, sewaktu kecil setiap papa pulang kerja...aku selalu memijat kaki papa." Beo Aileen dengan tangan yang semakin meraba-raba ke atas paha Leon.
"Eungh–baby sudah!" Erang Leon, seketika tubuhnya menegang merasakan sentuhan dari Aileen, tubuhnya panas dan sensasi panas ia rasakan seperti saat bersama dengan Celia.
"Tapi pa, papa kelihatan masih lelah. Aku udah bangunin papa dari tadi, tapi papa susah bangun." Kata Aileen dengan tangan yang masih memijat kaki Leon dengan gaya sensualnya.
'Aku tidak akan melepaskan papa, aku akan buat papa terjerat dengan pesonaku sama seperti aku yang terjerat dengan pesona papa'
Rupanya Aileen memang punya motif tersembunyi mengapa dia memijat mijat papanya, menyentuh bagian sensitif tubuh pria itu. Niatnya agar pertahanan Leon menjadi runtuh, menyadari bahwa ia adalah seorang wanita bukan anak-anak lagi.
"Sudah sayang, cukup ya…" lirih Leon dengan nafas yang mulai memburu tak karuan.
'Astaga! Kenapa tubuhku jadi aneh begini? Apalagi saat melihat Aileen memakai pakaian tidur tipis seperti itu. Oh, astaga!'
Tapi Aileen tidak mendengarkan papanya, malah tangannya sudah menjelajah pada tangan Leon. "Ai! Sudah!" Seru Leon lalu mendorong Aileen menjauh. Tanpa sengaja dorongannya itu terlalu keras, hingga membuat tubuh Aileen oleng ke belakang.
"Akh! Papa!" Pekik Aileen terkejut.
Dengan sigap tangan Leon menarik Aileen agar tidak jatuh. Namun kini Aileen malah terjatuh diatas tubuhnya dengan posisi duduk menindih di bawah perut Leon.
Seketika tubuh Leon kembali menegang. Aileen seperti sengaja mempertontonkan lekuk tubuhnya yang indah didepan papa angkatnya itu. Leon kesulitan menelan salivanya sendiri saat melihat kecantikan Aileen.
"Aileen…bangunlah, cepat bangun Ai." Pinta Leon sambil menutup wajahnya dengan satu tangan.
'Astaga kenapa yang di bawah sini bisa bangun karena Aileen?'
__ADS_1
"Pa…papa kenapa pa? Apa papa sakit?" Tanya Aileen dengan wajah polosnya, namun ekor matanya menatap tanda cinta di sekitaran dada Leon. Melihat itu Aileen kesal, tapi dia tetap berpura-pura polos di depan Leon.
"Ai…papa mohon turun ya, ahh.. " erang Leon yang terlihat tidak berdaya dengan gadis itu yang masih duduk di atas tubuhnya. Tepat di bawah senjata tegap tak bertulang miliknya.
"Baiklah pa, aku akan turun." Aileen tersenyum manis, kemudian dia bergerak-gerak diatas tubuh Leon dan membuat pria itu semakin mengerang.
"Aileen diam jangan bergerak!" Seru Leon lalu memegang kedua tangan Aileen.
'Aku bisa gila kalau begini caranya'
"Kenapa jangan bergerak pa? Bukannya papa yang menyuruhku untuk turun? Aku mau turun pa…" lirih gadis itu seraya menyunggingkan senyuman polosnya.
"Biar papa yang bantu kamu turun!" Seru Leon lalu beranjak duduk, berusaha menekan dirinya dalam ketidakberdayaan menahan hasrat yang tidak boleh dia miliki dan seharusnya tidak boleh dia rasakan pada anaknya.
Saat tubuh keduanya berdekatan karena Leon dan Aileen telah sama-sama duduk, dengan percaya diri Aileen bertanya pada papanya, apa dia cantik?
"Pa, apa aku cantik?"
Leon tersenyum lalu berkata. "Kau akan menjadi selalu menjadi gadis yang paling cantik di dalam hidup papa, karena kau adalah putri Leonardo Xavier."
Aileen langsung beranjak dari tubuh Leon, wajahnya terlihat sangat pucat. Lagi-lagi Aileen menelan pahitnya ucapan Leon padanya, sudah menyatakan cinta masih saja dianggap bercanda oleh Leon.
Setelah itu Leon meminta Aileen pergi dari kamarnya karena ia akan membersihkan dirinya dan Aileen berkata akan menyiapkan sarapan untuk Leon.
Leon pun turun ke lantai bawah untuk sarapan pagi bersama Aileen. Dia melihat Aileen sudah duduk menunggunya disana.
"Pa! Ayo duduk pa, aku sudah siapkan sarapan sama bi Ratna juga." Sambut gadis itu sambil menaruh roti yang sudah diolesi selai coklat ke atas piring yang ada di depan Leon.
"Makasih sayangnya papa." Tersungging senyum manis dibibir Leon mendapatkan pelayanan dari putrinya yang manja. Leon cukup senang karena tinggal di luar negeri bisa membuat Aileen menjadi lebih mandiri walau sedikit.
"Hehe iya pa. Oh ya pa, apa hari ini papa mau keluar rumah? Papa ada kegiatan di luarkah?" Tanya Aileen sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan tempat duduk Leon. Dan mengingat ini hari Minggu, maka dari itu Aileen menanyakan kegiatan sang papa.
"Tidak ada," jawab Leon dengan mulut yang sibuk mengunyah roti panggang berbalut selai coklat itu.
'Bagus! Ini adalah kesempatan agar aku bisa semakin dekat dengan papa'
Gadis itu tersenyum ketika mendengar jawaban Leon, ia akan memanfaatkan keberadaan Leon di rumah untuk menggodanya habis-habisan.
"Kenapa memangnya Ai?"
"Aku mau ajak papa nonton film, tapi aku takut menonton film-nya kalau sendirian." Rengek Aileen dengan wajah memelas dan dia akan memastikan jawaban ya dari papanya. "Pokoknya hari ini papa harus menemaniku, sudah lama kita tidak menonton film bersama pa!" Imbuhnya lagi seraya merayu.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita nonton bersama ya." Leon setuju dengan ajakan Aileen.
Aileen tersenyum lebar, dia mengucapkan banyak terima kasih kepada papanya. Segera setelah sarapan bersama, seperti biasa Leon berolahraga terlebih dahulu untuk membentuk otot-otot di tubuhnya. Sedangkan untuk acara nonton film akan dilakukan nanti siang.
Terlihat Leon sedang berlari-lari di treadmill, perut kotak-kotaknya begitu indah dipandang mata. Disertai bulu-bulu halus disana. Wajah berkeringat Leon, malah semakin memanjakan mata yang melihatnya. Aileen semakin terpesona melihat papanya dan mengintip kegiatan Leon di ruang fitnes dalam rumah mewah tersebut.
"Ai, apa kau mau olahraga juga?" Tawar Leon pada seseorang yang berdiri di balik ambang pintu itu.
"Yah…kok papa bisa tau sih kalau aku berada disini." Aileen tersenyum lebar dan menunjukkan dirinya di depan sang papa.
"Papa bisa tau hanya dengan mencium baumu. Kau itu kan selalu memakai parfum itu itu saja, ah papa tidak tahu apa namanya." Kata pria itu seraya tersenyum dan satu tangannya mengusap keringat di wajah.
Aileen mendekat pada papanya lalu mengusap keringat di wajah Leon dengan handuk kering yang dia bawa. "Biar Aileen bersihkan pa!"
"Makasih sayang."
Senyuman di bibir Leon menghilang, manakala ia menyadari pakaian yang dipakai Aileen saat ini. Celana hot pants diatas paha, baju kaos tipis dengan bahan yang menonjolkan tangan indah dan perut mulus Aileen. "Ai…kenapa kau memakai pakaian seperti ini?"
"Apa salahnya pa? Bukankah pakaian seperti ini cocok dipakai untuk berolahraga? Aku mau ikut olahraga dengan papa." Kata gadis itu sambil mencebikkan bibirnya dengan manja.
"Ta-tapi kau kan bisa memakai pakaian yang lebih sopan sayang!" Seru Leon menegur Aileen agar gadis itu memakai pakaian yang lebih sopan untuk berolahraga, bukannya pakaian yang terbuka seperti ini dan mempertontonkan lekuk tubuhnya yang indah.
'Dari tadi kenapa semua tingkah Aileen seperti ingin menggodaku? Menguji imanku?'
Gadis itu tersenyum mendengar teguran dari papanya, dia berusaha ngeles lagi. "Tapi pa, nanti aku gerah kalau memakai pakaian yang ketat dan panjang. Soalnya nanti pasti tubuhku akan berkeringat, pa."
Sungguh Aileen sangat bahagia dan puas melihat raut wajah papanya yang bertemu merah saat ini, menandakan bahwa upayanya untuk menggoda pria berusia sekitar 40 tahunan itu sedikit berhasil.
Akhirnya Aileen olahraga bersama dengan Leon di ruang fitness. Aileen yang tidak terbiasa berolahraga, diajari oleh papanya untuk menggunakan alat-alat olahraga itu. Tentunya dengan sedikit modus dari Aileen, modus dan usaha untuk menggoda papanya.
Jantung Leon dibuat loncat-loncat karena tingkah polos dan godaan dari Aileen.
Tak terasa waktu pun berlalu, satu jam sudah Aileen dan Leon berolahraga. Kini tubuh mereka sudah bermandikan keringat.
Usai membersihkan diri di kamar mandi masing-masing, Aileen keluar dari kamarnya dengan pakaian yang masih menantang. "Papa…aku akan buat papa menyadari keberadaanku! Seharian ini kita akan bersama-sama."
Ting tong!
Mendengar suara bel, Aileen bergegas turun dari lantai dua untuk melihat siapa yang datang pada hari minggu ini. Saat itulah ia melihat Ratna sedang bersama wanita yang sangat tidak disukainya. Bisa dipastikan kalau hari-harinya bersama Leon akan kacau karena kehadiran wanita tersebut.
"Hai Aileen!"
__ADS_1
...****...