
...πππ...
Aileen dan Agatha membeku disana. Manakala mereka melihat Leon dan wanita hamil itu tampak begitu intim. Apalagi kata-kata bayi kita yang ada diucapkan Leon membuat hati Aileen remuk seremuk remuknya.
"Ai...kamu tenang dulu, mari kita bicara dengan kepala dingin. Pasti kak Leon punya penjelasan dari semua ini!" Agatha berusaha menenangkan Aileen walaupun ia sendiri tidak bisa tenang setelah melihat dan mendengar perselingkuhan kakaknya.
Dalam hati Agatha yakin bahwa Leon tidak bersalah. Leon yang sangat mencintai Aileen tidak mungkin melakukan perselingkuhan ini.
"Hiks...hiks...ternyata benar mas Leon selingkuh, ternyata--hiks..." Aileen tidak bisa menahan isak tangisnya.
Sesak, sungguh sesak hatinya mengetahui fakta ini. Suaminya berselingkuh di kala dirinya tengah hamil besar dan bahkan selingkuhannya sedang hamil.
Aileen berusaha menahan dirinya, ia pun memberanikan diri untuk melangkah mendekati suaminya dan wanita itu. "MAS LEON!"
Leon dan wanita itu sontak menoleh ke arah Aileen yang sudah ada di belakang mereka. Tak lupa Agatha mengikuti Aileen dibelakang.
Kedua mata Leon terbelalak melihat istri dan adiknya berada disana. Terlihat raut wajah kekecewaan,sakit hati, luka dan marah pada Aileen dan Agatha kepada Leon.
"Sayang, Agatha...kenapa kalian ada disini?" tanya Leon dengan suara gemetar.
"Mas, siapa mereka?" tanya si wanita hamil itu pada Leon seraya melihat pada Aileen dan Agatha.
Tanpa mempedulikan pertanyaan si wanita itu, Aileen mendekati suaminya dengan air mata yang berusaha dia tahan. Aileen memejamkan matanya lalu membukanya dan menatap lekat pada kedua bola mata suaminya itu.
"Mas, kamu tau kan apa yang tidak bisa aku maafkan. Kebohongan...kenapa aku tidak bisa memaafkan kebohongan? Kebohongan akan mengarah pada pengkhianatan dan perselingkuhan! Aku sudah pernah menegaskan sama kamu kalau aku tidak akan pernah memaafkan apa yang namanya PERSELINGKUHAN!" teriak Aileen emosi.
Ya Tuhan... Aileen salah paham padaku. Seharusnya aku menjelaskan tentang wanita ini dari awal.
"Sayang, aku bisa jelaskan...tapi tidak disini! Mari kita bicara di tempat lain sayang--" Leon memegang tangan Aileen tapi dengan cepat wanita itu menepisnya. Leon benar-benar merasa sedih melihat istrinya menangis seperti ini.
"Jelaskan disini MAS! Siapa wanita ini dan apa hubungannya denganmu? Lalu bayi siapa yang berada didalam kandungannya?" tanya Aileen dengan nada bicara yang rendah namun menusuk.
"Ini bayiku dan mas Leon. Kami sudah menikah 7 bulan yang lalu." jawab si wanita itu dengan percaya diri. Dia menatap Aileen dengan tajam.
Sakit, sungguh sakit saat Aileen mendengar ucapan si wanita itu. Dia melirik suaminya dengan tajam, walaupun ia ingin selalu menjambak wanita itu. Tapi dia menahannya sebab wanita itu sedang hamil juga.
"Apa itu benar Mas?!" sentak Aileen dengan suara yang meninggi.
"Bukan Ai, istriku hanya kamu!" Leon menatap istrinya dengan kesungguhan, ia takut untuk menjelaskan semuanya dengan panjang lebar.
"Mas! Apa yang kamu katakan? Kita sudah menikah 7 bulan yang lalu dan kamu bilang dia istri kamu?" wanita berambut pendek itu memegang tangan Leon dengan erat.
Entah kenapa Leon terlihat serba salah, entah dia jujur atau tidak. Leon terlihat plin-plan di mata istri dan adiknya itu.
Bahkan kamu tidak melepaskan pegangan tangannya darimu mas.
Aileen pun memutuskan pergi dari sana dengan hati yang terasa sakit. Ia berlari dengan perut besarnya.
"Kak, aku sangat kecewa sama kakak! Sungguh aku tidak menyangka bahwa Kakak setega ini pada istri kakak yang tengah hamil besar?!" hardik Agatha tidak tahan. "Kakak mau kejar dia atau diam saja disini, HAH?!"
Agatha pergi dan menyusul Aileen yang ternya bukan pergi ke mobil melainkan ke jalan raya. Leon hendak menyusul Aileen namun ditahan oleh wanita yang bernama Tiara itu.
__ADS_1
"Mas kamu mau kemana hah?!"
"Cukup! Aku lelah dengan semua ini! Aku akan memberitahukan semua kebenarannya pada kamu dan istriku!" Leon berteriak sambil mengusap kasar rambutnya dengan kasar.
"Kebenaran apa sih mas? Kamu itu kan suamiku mas," ucap Tiara sambil menangis.
Terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu. Ia keluar begitu mendengar keributan yang terjadi disana.
"Ada apa ini Leon?"
"Maafkan saya Bu, saya akan membongkar semuanya! Tiara kamu bukan istri saya, kamu adalah istri dari seseorang yang saya tabrak dan saya terpaksa berpura-pura menjadi suami kamu karena kamu mengalami GANGGUAN MENTAL!"
"A-apa?!" Tiara kaget mendengarnya, ia memegangi perutnya lalu tubuhnya ambruk begitu saja disana.
"Leon! Kamu--" wanita paruh baya itu memeluk Tiara yang tak sadarkan diri. Ia menatap Leon dengan tajam.
"Maaf!"
Setelah mengucapkan kata maaf itu Leon segera berlari untuk menyusul istrinya dan juga Agatha. Leon akan menjelaskan semuanya dan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
****
Disisi lain, Aileen tengah berlari tidak tau mau kemana. Ia menangis, pandangannya berkabut karena air mata. "Tolong...ya tuhan...tolong ini sakit sekali....hiks..."
"Tega kamu Mas...tega KAMU MENGKHIANATI AKU! TEGA KAMU MENGKHIANATI CINTA KITA HANYA KARENA AKU TIDAK BISA MEMBERIKANMU KEPUASAN BATIN! KATANYA KAMU MENCINTAIKU, TAPI MANA?! PEMBOHONG!!"
Aileen tidak memperhatikan jalanan sekitar, ia berjalan dengan langkah gontai. Hingga tanpa ia sadari sebuah mobil berkecepatan tinggi tengah melaju ke arahnya.
Saat Aileen akan menyebrang jalan, mobil itu menabraknya dan tubuh si wanita hamil itu terkapar di jalanan.
Pengemudi mobil itu pun pergi melarikan diri bersama dengan mobilnya.
"AILEEN! TIDAK!! AILEEN!!" teriak Agatha dan Leon histeris melihat Aileen tak berdaya dengan pangkal paha dan kepala yang berdarah. Aileen tergeletak di atas aspal.
Kakak beradik itu menghampiri Aileen, Leon yang sampai lebih dulu disana. Ia memangku kepala sang istri yang bercucuran darah.
"Ja...hat...." Aileen menatap Leon dengan penuh kebencian. Ingin rasanya Aileen mendorong tubuh yang membuatnya sakit hati itu, tapi apa daya ia tak punya tenaga. Seluruh tubuhnya sakit.
"Maafkan aku Ai, aku...aku..." Tangan Leon gemetar saat memegang tubuh istrinya. Leon menjatuhkan air matanya. Sungguh ia telah salah pada istrinya
"Kak... Agatha...to--long selamat--kan bayiku... to--long...sakit kak..." Aileen menggenggam tangan Agatha dengan erat seolah mentransfer rasa sakitnya pada adik iparnya itu.
"Kamu dan bayi kamu akan baik-baik saja...kamu bertahan ya!!" seru Agatha menguatkan.
"Anak...ini...harus selamat kak...meski nanti...aku pergi..." lirih Aileen dengan suara yang terbata-bata.
Leon dan Agatha terkejut mendengar kata-kata Aileen. "Itu tidak akan terjadi, kamu dan anak kita akan selamat!"
Agatha menatap Leon dengan penuh kebencian. Namun ia mengesampingkan dulu kemarahannya, sekarang nyawa Aileen dan bayinya yang terpenting.
****,
__ADS_1
Wanita hamil itu dinaikkan ke atas brangkar dan dibawa ke ruang UGD oleh beberapa petugas medis di salah satu rumah sakit Bogor.
"Pak, Bu, mohon tunggu disini!" ujar salah seorang suster pada Leon dan Agatha yang akan masuk ke dalam ruang UGD.
Akhirnya Kakak beradik itu berada didepan ruang UGD dan hanya bisa menunggu dengan gelisah. Kini Agatha tak tahan lagi dan menumpahkan semua kekesalan pada kakaknya itu.
"Kak! Sebenernya apa yang terjadi? Kenapa Kakak tega sama Aileen kak! Aku saja...aku saja yang orang lain melihat dan mendengar semua itu sangat sakit kak! Jika aku sakit, apalagi Aileen yang mendengarnya dia pasti HANCUR!"
"Kalian semua salah paham, aku tidak berselingkuh dan wanita itu bukan istriku, dia juga tidak mengandung anakku!" ucap pria itu sambil mengusap wajahnya yang sedari tadi basah karena air mata.
"Lalu jelaskan semuanya kak! Kenapa bisa begini? Kenapa kamu dan kak Bram membohongi Aileen? KENAPA?!"
Leon pun menjelaskan semuanya pada Agatha, tentang kejadian 4 bulan yang lalu. Saat ia dan Bram dalam perjalanan pulang dari Bogor. Leon yang kala itu menggantikan Bram menyetir tak sengaja menabrak sebuah mobil hingga mobil itu jatuh ke jurang.
Pengemudi mobil itu tewas seketika dan meninggalkan seorang wanita hamil muda yang baru berusia 1 bulan. Wanita hamil itu adalah Tiara dan ia mengalami stress setelah kematian suaminya yang kebetulan namanya sama dengan Leon. Tiara mengira Leon adalah suaminya.
Demi mengeluarkan Tiara dari rumah sakit jiwa, ibu Tiara yakni Bu Minah meminta pada Leon untuk bertanggung jawab terhadap Tiara setidaknya sampai mentalnya sembuh. Leon juga merasa bersalah karena telah menghilangkan nyawa suami Tiara, apalagi Minah tidak memperkarakan masalah ini ke jalur hukum. Tapi dia meminta agar Leon berpura-pura menjadi suami Tiara sampai wanita itu sembuh.
Dan semua itu terjadi selama 4 bulan, Leon berpura-pura menjadi suami Tiara secara diam-diam di belakang Aileen dan hanya Bram yang tau tentang ini. Selama menjadi suami pura-pura Tiara, Leon tidak pernah berbuat macam-macam. Ia hanya memberikan uang, berkirim pesan dan menemui Tiara seminggu sekali untuk memberikan makanan. Lalu ia kembali lagi ke Jakarta.
Ya, Leon tetap salah dan dapat dikategorikan sebagai selingkuh karena tidak memberitahukan hal sebesar ini pada Aileen dengan alasan tidak mau membebaninya. Sekarang apa yang terjadi? Aileen malah terluka karenanya dan dia celaka.
Setelah mendengarkan penjelasan Leon, Agatha tetap tidak menerimanya. Agatha tetap menyalahkan Leon, harusnya Leon tidak menutupi hal seperti ini dari Aileen.
"Ya...kakak tau Kakak salah...hiks...kakak bodoh..." Leon memukul-mukul kepalanya sendiri. Ia menyesal karena Aileen kecelakaan dalam keadaan sakit hati karena dirinya.
"Kakak sudah berselingkuh, kalau begini caranya kakak sama saja dengan berselingkuh kak! Kakak tega sama Aileen...kakak tega sama bayinya, lalu si kembar? Bagaimana perasaan mereka kalau sampai tau tentang semua ini?! Berdoalah semoga Aileen dan anak kakak baik-baik saja! Kalau tidak, aku akan memenjarakan kakak dan aku tak takut!" kata Agatha dengan emosi yang meluap-luap.
Setelah menunggu selama kurang lebih 3 jam, terdengar suara tangisan bayi di dalam ruangan itu.
Owe...owe...
Leon dan Agatha terperanjat saat melihat seorang petugas medis datang dan membawa seorang bayi didalam gendongannya. "Selamat pak, Bu, bayinya laki-laki sehat dan selamat."
"Ya Tuhan...anakku.." Leon mengendong bayi itu lebih dulu, dia menangisinya. "Lalu bagaimana keadaan istri saya dok?"
Wajah dokter itu berubah saat mendengar pertanyaan Leon dan membuat kakak beradik itu khawatir. "Dok, istri saya baik-baik saja kan?"
"Maaf pak, anak bapak sehat dan selamat...namun kami mohon maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi--"
Leon dan Agatha menatap wajah dokter itu dengan tegang.
...*****...
Hai Readers, jangan khawatir π€§π€§ novel ini tetap happy ending, terus ikuti kelanjutannya ya π€§π€§
Jangan kasih rating 1 awas lohπ kasih rating 5 ya.
Sambil nunggu up lagi, Yuk.mampir sini guys ππ
__ADS_1