
...πππ...
Setelah semalam ayah dan anak angkat itu hampir bercinta di kamar Aileen. Paginya Aileen telah bersiap-siap dengan baju setelan ke kantornya. Gadis itu terlihat cantik dengan riasan tipis di wajahnya, pelembab, lip tint dibibirnya, sedikit shadow di wajahnya. Aileen terlihat sangat cantik dan imut.
Aileen tidak banyak berdandan menor, berbeda dengan sahabatnya Cleo yang kemana-mana harus selalu membawa make up dan wajahnya harus selalu di polesi make up. Aileen sederhana, kulitnya putih dan bersih mungkin membuatnya percaya diri tanpa memakai make up sekalipun. Tapi kebutuhan akan lip tint, tak pernah lepas darinya.
"Apa papa udah bangun ya? Pasti jam segini, udah bangun kan?" gumam Aileen sambil menyisir rambutnya, lalu mengikat rambut dengan kuncir kuda.
Mata Aileen melihat-lihat beberapa tanda cinta yang Leon ciptakan di tubuhnya semalam. Walaupun hanya bercumbu dan tidak sampai melakukan hal itu, Aileen merasa bahagia karena ia merasakan apa yang di sebut pelepasan.
"Semalam sungguh luar biasa dan aku tidak akan menutupi tanda cinta ini. Akan aku pamerkan bahwa papa sangat mencintaiku." ucap gadis itu bangga.
Dia sengaja menguncir rambutnya dan ingin memamerkan tanda merah itu, terutama pada Cleo dan Sam. Aileen tau bahwa Sam masih mengharapkannya, saat di pesta resort semalam Sam dan Aileen sempat bertatapan mata. Tatapan mata Sam begitu dalam padanya dan Aileen merasa bahwa ia harus menunjukkan pada Sam kepada siapa hatinya sudah berlabuh.
"Maaf kak Sam, tapi hatiku selamanya hanya milik papa." gumam Aileen merasa bersalah pada Sam.
Setelah selesai berdandan simple, memakai kardigan hitam dengan rok diatas lutut. Aileen berjalan menuju ke kamar papanya yang berada di ujung balkon itu. Pintunya tak terkunci dan Aileen langsung masuk ke dalam sana.
Ia melihat dokter Levin berada disana juga. Levin tengah mengobati luka di tubuh Leon, di bagian perutnya diperban.
"Pa! Papa kenapa?" Aileen langsung berlari menghampiri papanya.
Buru-buru Leon memakai pakaiannya kembali dan Levin juga membereskan alat-alatnya ke kotak obat. Levin memanfaatkan situasi dengan menatap putri dari Leonardo Xavier itu.
Aileen tidak boleh tau kalau aku terluka.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Leon tersenyum menyambut kedatangan putrinya ke dalam kamar.
"Pa...papa kenapa? Papa kenapa bisa luka?" cecar Aileen sambil membuka kemeja putih papanya. Ia melihat ada perban di perut Leon sebelah kiri. "Pa...papa kenapa? Jawab aku pa! Jangan buat aku cemas begini."
"Papa gak apa-apa sayang."
"Nona Aileen, tenang saja...luka tembaknya sudah diobati dan--"
Leon terbelalak dan melotot ke arah si dokter muda itu. Sialnya dia lupa untuk memberitahu Levin agar tidak membocorkan ini kepada Aileen. Tapi semuanya sudah terlambat. Levin langsung terdiam, saat melihat raut wajah Leon yang tidak baik. Ia pun pamit pergi dari sana untuk menghindari masalah. Tatapan si hot Daddy yang bernama Leon itu seperti singa yang akan menerkam mangsanya.
"Pa...papa ditembak? Atau ketembak? Kok bisa pa? Kapan? Ya Tuhan...papa..." Aileen segera memposisikan dirinya untuk duduk di samping Leon, matanya menatap Leon dengan berkaca-kaca. Tersirat kekhawatiran kepada papa angkatnya sekaligus kekasihnya itu.
"Gak sayang, papa gak apa-apa...papa nggak tertembak ataupun ditembak. Dokter Levin cuma asal bicara saja."
"Papa jangan bohong! Aku bukan anak kecil lagi Pa, telingaku juga tidak tuli...aku tau jelas dokter Levin bilang kalau luka itu luka tembak. Apa sih yang terjadi Pa? Kok bisa papa tertembak? Apa ada orang yang jahatin papa?" Aileen membrodol Leon dengan banyak pertanyaan. Bahkan kini satu lengannya menyentuh perban itu sambil meringis seolah merasakan kesakitannya.
"Sayang, papa gak apa-apa... sungguh! Ayo kita sarapan bersama Ai, bi Ratna sudah menyiapkan sarapan untuk kita." Leon berusaha bersikap biasa saja dan mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau orang yang dia cintai mengetahui bisnis haramnya. Selain bekerja sebagai seorang CEO, Leon juga memiliki pekerjaan lain di dunia hitam.
"Pa, jangan mengalihkan pembicaraan! Papa jawab aku dulu, kenapa bisa ada luka tembak di tubuh papa?" Aileen memegang tangan Leon, tanpa terasa bulir air mata pun jatuh membasahi pipinya bahkan sampai basah ke punggung tangan Leon.
"Sayang....papa gak apa-apa, jangan nangis ya." tangan kekar Leon mengusap pipi Aileen yang basah.
"Pa...aku mohon jujur sama aku pa," rengek gadis itu sambil memegang tangan Leon.
"Baby, papa--"
Tring... Tring...
__ADS_1
πΆπΆπΆ
Suara dering telepon membuat percakapan Leon dan Aileen terputus. "Pa..."
Aileen melihat Papanya mengambil ponsel di atas nakas dan melihat siapa yang menelponnya sepagi ini.
Bimo? batin Leon itu melihat siapa yang menelponnya. Bimo adalah salah satu bawahan Leon di dalam bisnis hitamnya.
"Maaf sayang, papa angkat telpon dulu! Kamu pergilah ke bawah ya sayang, sarapan duluan."
"Tapi Pa..."
Muach!
Leon memberikan kecupan hangat di kening Aileen, guna menenangkan gadis itu. "Siapkan papa roti dengan telur dan keju ya sayang, papa suka itu."
"Ta-tapi pa..."
Leon menggandeng tangan Aileen dan mendorongnya pelan-pelan ke depan pintu kamarnya. Leon menutup pintu itu ketika Aileen sudah berada di luar kamarnya.
Aileen terdiam sejenak memandangi pintu yang tertutup tepat di depan matanya itu. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Papanya. "Om Bram...pasti dia tau apa yang disembunyikan oleh papa! Ya, aku harus tanya om Bram nanti." gumamnya pelan, lalu ia berjalan menuju ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan yang diinginkan oleh Papanya.
Hatinya gundah gulana dan bertanya-tanya, apa yang disembunyikan oleh Leon darinya.
****
Di dalam kamar, Leon menerima telepon dari Bimo salah satu anak buahnya. Bimo mengabarkan bahwa Ericko Arlando dengan melakukan perjalanan ke Jepang untuk melakukan transaksi senjata ilegal.
"Kamu awasi dia! Jangan sampai lepas! Aku ingin semua gerak-gerik pria itu terpantau! Paham kamu, Bimo?"
Leon mendatangi Eriko Arlando, untuk menanyakan kenapa pria itu mengganggu Aileen. Dan seperti yang Leon duga, keluarga kandung Aileen ini terlihat sangat mencurigakan dan menyeramkan.
"Selamat datang tuan Leonardo Xavier." ucap Ericko menyambut Leon dengan tatapan yang begitu tajam dan senyum yang sinis.
"Saya tidak akan berbasa-basi lagi. Apa tujuan Anda mengganggu putri saya? Perasaan, saya tidak memiliki masalah dengan anda." jelas Leon kenapa banyak basa-basi.
"Saya memegangi putri anda? Apa tidak salah?" tanya Ericko. "Kenapa saya harus mengganggu Putri Anda sedangkan saya sendiri tidak kenal dengan Anda?"
"Tuan Eriko yang terhormat, jangan ada pikir kalau saya adalah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Saya tau, tadi malam anda menculik putri saya!"
"Hahahaa....benarkah dia putrimu, tuan Leonardo?" pria tua itu malah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Leon, seolah ucapannya hanyalah candaan.
"Saya tidak sedang bercanda!" tukas Leon sinis.
Ericko tiba-tiba saja membuka sebuah amplop coklat dan menunjukkan sesuatu kepada Leon.Ia meletakkan foto-foto di atas mejanya dan Leon melihat itu semua. Leon terkejut mana kalau dia melihat semua foto itu berisi fotonya yang terlihat mesra dengan Aileen.
Bahkan fotonya yang terbaru saat berciuman di atas gedung Hotel Samudra, juga ada di sana. Leon menahan amarah karena pria itu ternyata sudah memata-matainya mungkin sejak lama.
"Tuan Ericko, saya sama sekali tidak pernah mengusik anda! Jadi tolong jangan mengusik saya dan keluarga saya terutama putri saya!" tegas Leon yang masih bersikap sopan dan lembut kepada pria itu.
"Apakah Anda benar ayah dari Aileen Sheravina Xavier? Saya meragukan hal itu, karena tidak mungkin seorang papa akan bermesraan dengan putrinya sendiri." sindir Ericko begitu sarkas kepada Leon.
Leon bungkam, dia tidak bisa mengatakan identitas Aileen kepada siapapun juga. Tapi sepertinya Ericko sudah curiga tentang identitas gadis itu yang sebenarnya.
__ADS_1
Terjadilah adu mulut antara Leon dan Ericko pada subuh yang menjelang pagi itu. Hingga akhirnya tak sengaja salah satu bawahan Eriko yang bernama Toni, menembak perut Leon. Beruntung, Leon segera diselamatkan oleh anak buahnya yang juga ikut ke sana.
Leon bersumpah, jika pria tua itu berani mengganggu gadisnya. Ia tidak akan tinggal diam. Tapi Ericko mengancam balik Leon, dengan menyebarkan foto-foto itu kepada publik supaya orang-orang mengutuk hubungan Aileen dan Leon.
****
Kini Leon dan Aileen sudah sarapan bersama di meja makan. Aileen melihat raut wajah papanya yang muram, memang benar sepertinya ada yang disembunyikan oleh pria itu. Tapi Leon hanya bungkam.
"Pa...papa gak akan bicara sama aku? Kenapa papa bisa--"
"Ai! Cukup! Kamu jangan banyak tanya! Habiskan makanannya lalu kita berangkat!" bentak pria itu yang membuat Aileen menundukkan kepalanya dengan sedih.
Aileen tak suka dibentak begitu, apalagi oleh Leon yang mana hubungan mereka sedang hangat-hangatnya.
Bi Ratna mendengar dan melihat semua itu, dia merasa kasihan pada Aileen yang raut wajahnya begitu muram.
Leon bahkan meninggalkannya lebih dulu ke luar rumah sebelum Aileen selesai makan. Demi tuhan, Aileen sakit hati dengan sikap Leon.
"Non, non jangan sedih ya. Mungkin tuan sedang berada dalam masalah, makanya tuan bersikap begitu." ucap Ratna menghibur Aileen yang akan menangis.
"Tapi gak seharusnya papa jadi marahin aku bi! Aku gak suka dibentak, bibi juga tau kan?" gerutu Aileen kesal.
"Tenang ya non...tuan mungkin lagi banyak pikiran." hibur BI Ratna lagi pada Aileen.
Usai sarapan, Aileen pergi keluar rumahnya dan bersiap untuk pergi bekerja. Ia melihat Leon sedang adu mulut dengan Sam. Sam terlihat membawa buket bunga mawar, ya untuk siapa lagi kalau bukan untuk wanita pujaan hatinya, yaitu Aileen Sheravina Xavier.
"Ngapain kamu kesini? Pergi!" usir Leon pada Sam yang tetap kekeh berada disana.
"Om saya ingin bertemu Aileen, sekalian saya ingin bicara dengannya." pinta Sam dengan sopan meskipun dia sebenarnya tak suka pada Leon.
"Ayo kak kita berangkat! Bukannya ada yang mau kita bicarakan." ucap Aileen tiba-tiba seraya mendekati Sam dan membuat CEO dari samudra hotel itu tercenung sejenak.
Leon terperangah dengan sikap Aileen yang berjalan mengabaikan dirinya. "Kamu mau pergi sama dia Ai?"
"Ayo kak, nanti aku bisa telat ke kantor." kata Aileen pada Sam dan mengabaikan keberadaan Leon disana. Aileen masuk ke dalam mobil Sam duluan.
"Aileen!" teriak Leon emosi.
Sam tersenyum menang, lalu dia masuk ke dalam mobil. Lalu pergi dari kediaman Xavier.
"Sial!" Leon gusar. "Frans, ikuti Aileen seperti biasa."
"Baik tuan!" jawab Frans patuh lalu dia melaksanakan tugasnya menjaga Aileen.
...****...
(spoiler)
"Pak, berita dan foto tentang bapak dan putri bapak yang tersebar...membuat semua investor terbesar di perusahaan kita menarik sahamnya!"
"APA?"
"Bisa-bisa perusahaan ini bangkrut pak." kata seorang pria panik.
__ADS_1
...****...