
...πππ...
Setelah selesai dengan ritual mandinya untuk kedua kali pada pagi itu karena bermain solo, Leon segera memakai baju kerjanya kembali. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Pasti Aileen sudah berada di meja makan pada jam seperti ini. Pikir Leon dalam hatinya. Pria maskulin berlabel hot Daddy itu segara turun dari lantai atas menuju ke lantai bawah. Ia melihat dari kejauhan, putrinya sudah duduk di kursi meja makan.
"Morning Papa." sapa Aileen dengan senyuman manis khas miliknya. Senyuman yang menunjukkan dua lesung pipi tercetak di pipinya.
Aileen bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, setelah berhasil membuat Leon turn on dan hard on. Padahal pria itu sudah mandi dua kali karena Aileen menggodanya.
Apakah ini karena usianya sudah mulai menua? Makanya dia mudah sekali turn on. Ah! sepertinya Leon harus benar-benar memikirkan untuk cepat menikah. Hasratnya sebagai seorang pria dewasa yang selama ini tertahan, harus segera tersalurkan dengan adanya pasangan hidup.
Tentu saja Leon sudah memikirkan masak-masak, bahwa pasangan hidupnya adalah Putri angkatnya sendiri. Namun, mengingat gadis itu masih hilang ingatan. Leon belum bisa menyatakan cintanya dengan benar dan memilih untuk bersabar.
"Kamu sudah sarapan baby?" tanya Leon dengan nada bicara yang lembut pada Aileen.
"Baru mau, kan nunggu Papa dulu." balas Aileen tersenyum.
Nada lembut dan manis, yang selalu rindukan oleh gadis itu. Namun sejak kedatangan Celia, perlahan-lahan sikap Leon berubah padanya dan menjadi dingin. Tapi lihatlah sekarang? Pria itu telah kembali baik padanya. Mungkin pikirannya telah terserah kan dari kotoran yang bernama Celia dan Aileen sangat merasa bersyukur akan hal itu.
Papa, aku jadi membayangkan bagaimana masa depan kita nanti. Aku ingin sekali bertanya pada papa, apakah aku berarti di dalam hidup papa dan apakah papa akan bersamaku selamanya?
Dengan perhatian, Leon mengoleskan selai
coklat pada roti panggang yang sudah tersedia disana untuk Aileen. "Ini baby." ucap Leon saya memberikan roti dengan selai coklat tersebut kepada putrinya.
"Makasih Papa sayang." balas Aileen sambil memakan roti coklat tersebut. Dia menatap papanya dengan nanar.
"Ohok... ohok..."
Tiba-tiba saja Leon batuk-batuk entah kenapa. Dia tersedak apa, yang jelas dia belum makan ataupun minum apapun. "Omg papa, minum dulu pah!" Aileen buru-buru menyadarkan segelas air minum pada Leon.
Leon pun meneguk air minum itu dan berusaha untuk menenangkan jantungnya yang berdetak begitu kencang.
Sayang.
Satu kata dari Aileen itu mampu membuatnya terbawa perasaan dan dia terkejut. Wajahnya langsung bersemu merah begitu mendengar kata sayang tersebut.
Ini gawat, kenapa di bilang sayang saja hatiku sudah berdebar seperti ini?. Leon terlihat salah tingkah.
"Papa kenapa sih? Apa aku ada salah bicara sama papa?" tanya Aileen dengan polos seperti biasanya.
Rasain pa... Papa pasti baper kan karena aku mengatakan sayang.
"Ah...nggak kok Ai, Papa gak apa-apa. Ehm...kamu yakin mau kembali ke kantor? Apa keadaanmu sudah lebih baik?" tanya Leon berusaha mengalihkan perhatian.
"Iya Pa, hari ini aku ingin kembali bekerja! Terus kan besok ada acara di hotel Samudra." ucap Aileen sambil tersenyum. Beberapa hari yang lalu saat Aileen masih hilang ingatan, dia melihat ada undangan dari Sam untuknya.
Mendengar nama hotel Samudra disebut, tiba-tiba saja perasaan Leon menjadi tidak nyaman. Hotel Samudra berkaitan dengan Samuel Rivaldo Ginting, pria yang menjadi rivalnya untuk mendapatkan Aileen. Salah, mungkin bukan rival. Lebih tepatnya dia hanya seorang pengganggu bagi Leon karena sudah jelas hati Aileen hanya untuk papanya seorang dan Leon sangat percaya diri.
"Itu...itu hanya acara biasa, kamu tidak wajib untuk menghadirinya bila kamu tidak mau." kata Leon dengan dalih seperti itu, agar Aileen tidak menerima undangan dari Sam untuk pergi ke resortnya.
Ya, undangan itu adalah undangan peresmian resort milik Sam yang berlokasi di daerah Bogor. Aileen mendapatkan undangan tersebut.
"Kata siapa aku tidak mau. Aku mau kok pergi ke sana, sekalian jalan-jalan." celetuk Aileen sambil meneguk susu di dalam gelasnya. Namun matanya terus memperhatikan gerak-gerik Leon dan saat ini Leon terlihat panik.
"Ya udah, kalau begitu papa juga akan ikut."
"Loh? Katanya Papa tidak mau ikut, kenapa jadi mau ikut?" tanya Aileen dengan senyuman dibibirnya dan kening berkerut.
"Setelah papa pikir-pikir, Papa memang harus pergi ke sana karena papa kan rekan bisnisnya juga. Tidak enak kalau Papa tidak memenuhi undangan itu." alibi Leon menjelaskan dengan panjang lebar dan masuk akal. Memang perusahaan Xavier sedang membangun kerjasama dengan Hotel Samudra, jadi sudah seharusnya Leon pergi ke acara peresmian resort itu.
Dalam hati , Aileen merasa bahagia karena ya tahu alasan sebenarnya pergi ke sana karena dirinya. Kenapa Aileen begitu percaya diri? Ya, itu karena Aileen mendengar pernyataan cinta dari Leon semalam, walau tidak secara langsung.
"Ya udah deh, tapi pa besok aku perginya sama--"
"Pergi sama Papa! Papa tidak mau kamu jauh-jauh dari Papa." Leon langsung memotong ucapan Aileen yang belum selesai.
"Kenapa pa? Kenapa aku tidak boleh jauh-jauh dari papa? Aku kan sudah sehat, Pa."
Ya pa, aku sangat sehat sampai-sampai aku ingin menganggu Papa.
"Kamu... Papa...itu karena Papa takut terjadi sesuatu sama kamu. Pokoknya besok kamu pergi sama papa, titik tidak ada bantahan!" seru Leon tegas sambil menghabiskan roti panggang yang hanya sisa sedikit lagi.
__ADS_1
Aileen senang karena Leon sudah mulai menunjukkan perasaan cintanya terang-terangan dengan posesif. Aileen akan menunggu saat yang tepat sampai dia mengatakan bahwa ingatannya telah kembali.
*****
Kantor Xavier grup.
Aileen kembali memulai aktivitasnya sebagai asisten sekretaris dan dia bertemu kembali dengan Bram. "Pagi om Bram!" sapa Aileen lalu dia pun duduk di kursi tempatnya biasa duduk.
Bram terkejut melihat keberadaan gadis itu sampai dia mengerjapkan matanya beberapa kali. "Aileen? Kamu sudah sehat? Kenapa kamu sudah bekerja di kantor?"
"Dia bosan di rumah dan keadaannya sudah lebih baik. Tapi--tolong kamu jangan kasih pekerjaan yang berat untuknya ya." ucap Leon lalu dia melanggar pergi masuk ke dalam ruangannya setelah mengingatkan Bram untuk tidak menyusahkan Aileen.
"Hehe...om, omongan Papa jangan didengerin ya...gak apa-apa om. Om bebas menyuruhku untuk melakukan apapun, itu sudah jadi tugasku!" kata Aileen sambil tersenyum ceria.
Bram balas tersenyum, meski ada kekhawatiran di wajahnya. Setelah beberapa hari yang lalu dia melihat gadis itu terbaring, tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Hatinya cemas dan was-was, bagaimana pun juga Bram yang sudah tau Aileen dari kecil. Sangat menyayangi gadis itu sama seperti Leon menyayanginya.
Pria itu mengelus lembut kepala Aileen. "Kalau kamu lelah bilang sama om ya,"
"Iya om, ah biasanya juga kalau sudah kerja pasti Om selalu bilang profesionalitas dan etos kerja!" celetukan gadis itu sontak saja membuat Bram terperangah dengan kening yang berkerut.
Astaga...aku lupa, aku kan masih pura-pura hilang ingatan.
"Aileen...kamu..."
Gadis itu langsung buru-buru mengalihkan perhatiannya. "Hahaha...om, mana dokumen yang harus aku fotocopy? Di meja ya, aku bakal segara copy!" kata Aileen lalu menyambar beberapa file di atas meja kerjanya.
Gadis itu pun lari terbirit-birit menuju ke ruangan fotocopy didekat pantry. Bram garuk-garuk kepala melihat tingkah Aileen apalagi kata-kata yang tadi diucapkannya. Bram jadi berpikir, apakah ingatan Aileen telah kembali?
Aneh!
Kemudian Bram masuk ke ruangan Leon untuk memberitahunya jadwal Leon pada hari ini seperti biasanya. "Jadi hari ini sorenya, aku free?"tanya Leon kepada Bram yang baru saja mengatakan tentang jadwalnya.
"Benar, apakah bapak ada acara?" tanya Bram dengan sopan karena di kantor.
"Ada, main di rumah bersama Aileen."
"Main?Apa maksudnya main?" Bram mengerutkan keningnya.
"Ya, aku akan melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang pacaran. Seperti apa yang disukai anak muda." gumam Leon memikirkan hal apa yang akan dilakukan olehnya dan Aileen nanti di rumah.
"Yon, apa kamu yakin akan menjalin hubungan dengan Aileen?" kali ini Bram berbicara santai karena temanya bukan pekerjaan kantor.
"Iya tentu saja, aku juga berniat menikahinya." jawabnya mantap.
"Kamu yakin dia akan menerimamu?" tanya Bram yang sedikit membuat Leon tercekat.
"Kenapa kamu bertanya begitu Bram?" Leon balik bertanya.
"Karena aku pikir kamu terlalu percaya diri, hehe."
"Apa maksudmu?"
"Hey Yon! Ingat umur, kau sudah mau kepala empat dan Aileen baru berusia 21 tahun. Apakah dia mau dengan daun tua sepertimu? Haha.." ejek
Leon menatap kesal pada Bram. "Ku potong gajimu baru tau rasa!" ancamnya.
"Hahaha...ampun Yon, ampun. Tapi benaran kau serius dengannya?" tanya Bram lagi, kali ini dengan wajah serius.
"Ya, tentu saja. Seperti yang kau bilang, aku sudah tua dan Aileen masih muda...aku harus gerak cepat, bukankah begitu?" Sepenuhnya Leon menyadari perbedaan usia diantara dirinya dan Aileen. 19 tahun bukanlah jarak yang sedikit. Tapi apa mau dikata? Cinta tetaplah cinta yang tak memandang usia ataupun status seseorang.
"Ya, kau harus cepat-cepat sebelum Aileen ada yang mengambil. Aku dukung kau!" kata Bram menyemangati.
Walau hubungan Aileen dan Leon akan menjadi kontroversi nantinya, Leon akan tetap berjuang untuk cintanya. Toh mereka tak sedarah!
*****
Sore itu, Aileen masuk ke ruangan kerja Leon atas perintah Bram. Aileen bertanya pada Leon dengan formal.
"Ada apa ya bapak memanggil saya?" tanya Aileen bingung.
"Tidak usah panggil bapak, panggil saja papa seperti biasa Ai." Leon melambaikan tangannya, mengisyaratkan agar Aileen mendekat padanya.
Aileen berjalan mendekati papanya, lalu Leon mendudukkannya di sofa. Leon juga duduk di sofa tepat di seberangnya. "Rentangkan kakimu, naikan ke atas meja." titah Leon pada Aileen yang membuat gadis itu tertegun.
__ADS_1
"Pa..papa mau apa?"
"Naikan saja, Ai." kata Leon seraya tersenyum.
Dengan hati bertanya-tanya, Aileen menurut saja pada papanya. Dia mengangkat kedua kakinya yang jenjang dan mulus itu ke atas meja didepannya.
Kemudian Leon membuka heels hitam yang dipakai oleh Aileen. Dia melihat pergelangan kaki Aileen yang sedikit merah. "Besok besok kamu jangan pakai heels lagi ya." ucap Leon sembari mengolesi kaki Aileen yang merah dan membuat Aileen terbawa perasaan saat melihat perhatian Leon padanya.
"Loh? Kenapa Pa?"
"Lihat kaki kamu sampai merah-merah gini, Papa gak mau kamu lecet." fokus Leon masih pada kaki Aileen dan mengusap-usap pelan kaki gadis itu
Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? Aku senang sekali, papa sekarang perhatian padaku setelah lepas dari rubah Celia.
"Ai...kamu dengar papa kan?" Leon pun mendongakkan kepalanya dan melihat Aileen. Wajahnya terlihat terkejut, manakala ia melihat air mata jatuh di pipi Aileen. "Sayang, kamu kenapa nangis? Apa sakit? Mana yang sakit? Kepala kamu sakit lagi ya?" Leon mencecar Aileen dengan beragam pertanyaan berbentuk perhatian dari dalam hatinya.
"Aku gak nangis Pa." Aileen menyeka air matanya.
Duh Aileen kenapa malah nangis sih?
Leon berpindah tempat, kini dia duduk di samping Aileen. Matanya menatap gadis itu dengan cemas. Tangannya menangkup pipi Aileen, dengan netra yang tak pernah lepas darinya. "Sayang, kamu kenapa nangis? Apa ada yang menyakitimu? Tell me!" ujar Leon dengan suara bariton rendah khasnya yang selalu membuat Aileen terpesona.
"Ai...jawab Papa sayang? Hmm...?" tanyanya lagi lembut.
Aileen hanya menggeleng, dia masih terus menangis. Bukan karena sedih, tapi karena haru.
"Sayang..."
"Apa aku boleh peluk Papa?" tanya Aileen dengan suara seraknya.
"Tentu saja sayang." jawab Leon yang jelas mempersilahkan Aileen berbuat apa saja. Bahkan jika meminta yang lain, Leon pasti akan mengabulkannya.
Kedua tangan Aileen memeluk tubuh Leon dengan erat dan lembut. Leon balas memeluknya, pelukan yang selalu hangat untuk Aileen dari sejak Aileen masih kecil sampai sekarang.
"Pa...."
"Sayang, ada apa?"
"Papa tau? Aku sayang Papa." ucapnya seraya memeluk sang papa.
"Papa tau...dan apakah kamu tau? Kalau papa juga sayang sama kamu." kata Leon sambil tersenyum.
"Benarkah papa sayang padaku?" tanya Aileen lalu mengurai pelukannya lebih dulu.
"Of course, bukankah itu jelas sayang?" Leon terheran-heran mengapa Aileen mempertanyakan kasih sayangnya.
"Kalau papa sayang padaku, sore ini aku mau pergi bersama Cleo. Boleh kan?"
"Tapi Ai, Papa mau ajak kamu keluar sore ini...apa ketemu Cleonya bisa nanti saja?" ucap Leon sembari menyingkap anak rambut Aileen ke belakang telinganya.
"Papa mau ajak aku kemana?" Aileen terdengar tertarik mendengar ajakan Leon.
"Rahasia dong! Kalau kamu mau tau, kamu harus ikut papa sore ini." kata Leon sambil tersenyum.
"Ya udah, aku akan batalkan janjiku pada Cleo hari ini. Aku akan ikut Papa...hehe."
"Anak baik." puji Leon pada putrinya.
Perhatian demi perhatian yang ambigu dan berlebih, Leon tunjukkan pada Aileen. Tanpa ragu dan takut apapun. Terserah mau orang berkata apa, ia mencintai Aileen dan itu faktanya.
Malam ini, akan menjadi kencan pertama mereka. Anggaplah begitu!
Leon dan Aileen sama-sama menantikan.
*****
Disebuah mansion mewah, terlihat seorang pria tua duduk di kursi goyang. Walau sudah tua, badannya tinggi dan wajahnya masih tampan. Dia tengah melihat sebuah dokumen yang ada di tangannya. Disampingnya ada seorang pria berkacamata hitam dengan tubuh tegap.
"Jadi...Luna sering bertemu dengan pria bernama Leonardo Xavier ini? Hah...apa mereka menjalin hubungan?" gumam pria tua itu sambil membuka isi amplop tersebut.
"Saya tidak tahu pastinya, bisa tuan besar lihat sendiri disana." kata pria berkacamata hitam itu pada pria tua itu
Pria tua itu bernama Eric Arlando. Eric membuka isi di dalam dokumen itu yang memperlihatkan foto-foto Luna dan Leon, juga ada Bram disana. Kemudian Eric melihat profil Leonardo Xavier dan terkejut begitu melihat foto seorang wanita muda disampingnya.
__ADS_1
"Astaga...gadis ini begitu mirip dengan wanita jallang itu dan Mark!"
...****...