
Mengandung anu βοΈ
...πππ...
Seolah tersihir, terhipnotis, Leon menatap gadis yang selama ini berstatus sebagai putrinya itu. Atensi Leon tercuri manakala ia melihat bibir Aileen yang berwarna merah muda itu. Jakunnya naik turun dan jangan ditanyakan lagi bagaimana bagian sensitif tubuhnya saat ini. Si 'Dia' bereaksi saat bersama Aileen.
"Pa...pah..." lirih Aileen yang menyadari tatapan Leon yang aneh padanya.
Desiran aneh muncul didalam tubuh Leon dan itu bernama hasrat dan gairah. Desiran aneh yang seharusnya tak muncul ketika bersama Aileen.
Terlebih lagi kini Leon merasakan miliknya turn on dibawah sana, menjadi hard on. Padahal saat bersama dengan Celia, tidak sampai seperti ini. Dia masih bisa menahan hasratnya, bersama Aileen imannya seketika runtuh.
"Papah gak tahan lagi Ai." Leon menatap nanar pada Aileen.
"Pah...papah mau apa?" tanya Aileen dengan mata melebar. Alangkah terkejutnya gadis itu saat dia merasakan tangan Leon meremass gundukan sintal miliknya dibalik kemeja putih miliknya.
Leon melepas blazer hitam milik Aileen dan melemparnya ke sembarang tempat. "Pa...papa..."
Pria itu menggendong Aileen ala bridal, dia membawa Aileen ke ruang istirahatnya. Dimana ada sebuah kamar dengan ranjang berukuran king, yang selalu menjadi tempat istirahat Leon di kala dia lelah.
"Pa...papah mau apa?" tanya Aileen dengan suara lembut dan tatapan mata polos yang mampu memabukkan pria bernama Leonardo Xavier itu.
Diturunkannya tubuh Aileen diatas ranjang itu dengan hati-hati. Netra mereka masih saling bertemu pandang. Membangkitkan gairah dan hasrat terlarang membara antara ayah dan anak, kalau di mata khalayak umum bisa disebut begitu.
"Pa-pa---eumph--"
Kata-kata Aileen terhenti manakala Leon telah menyatukan bibirnya dengan bibir ranum itu. Awalnya Leon hanya menempelkan bibir saja, lama kelamaan bibir Leon mulai bergerak untuk mengigit, menyesap, pada akhirnya ia mengajak Aileen bertukar saliva. Namun Aileen belum memberikan akses itu.
"Eungh--" satu lenguhan lolos dari bibir sensual Aileen.
Leon semakin gencar, ingin membuka bibir itu dan mengajak bertukar Saliva. Terpaksa, Leon mengigit pelan bibir putrinya dengan agak kasar. Hingga Aileen membuka mulutnya, memberikan jalan untuk lidah Leon mengajaknya bertukar Saliva, saling menyesap satu sama lain. Suara decapan, erangan, lenguhan, saling bersahutan di dalam kamar kedap suara itu.
Tangan Leon tak diam saja dan mulai meracau kemana-mana. Menjelajahi dua gunung kembar, meremassnya bak squishy. "Ah...Pa...pa...pa...." desahh Aileen meluncur dari bibirnya.
Panas.
__ADS_1
Itulah yang kini mereka berdua rasakan sekarang. Meski AC menyala di ruangan itu, tapi tetap tak menutupi rasa panas ditubuh mereka karena gairah.
Cup! Cup! Cup!
Bibir Leon menghujani wajah Aileen dengan kecupan manis namun panas. Sementara tangan Leon mulai membuka satu persatu kancing kemeja gadis yang selisih usia 19 tahun lebih muda darinya.
Setelah kancing kemeja itu berhasil dibuka, terlihatlah dua gunung yang di tutupi penyangga berwarna merah berenda. Tampak indah dan menyembul. "Ai...kamu cantik sekali...."
"Pah, aku cinta papa."
"Hmph--"
Leon kembali mencium bibir Aileen dengan rakus, tangannya melepas rok span milik Aileen kemudian jari-jarinya naik keatas paha mulus Aileen lalu menyusuri lembah surgawi yang bisa menembus nirwana.
"Akh!!"
Leon menggesek-gesekan jarinya pada bagian sensitif tubuh itu dan membuat Aileen mendesah, menggelinjang. "Ukhhh... Papa!"
"Iya baby, ini Papa..." suara bariton rendah berkharisma itu kini mendesah. Merasakan sensasi jari-jari yang menyentuh. Leon menikmatinya karena ini pertama kalinya dia menyentuh milik wanita.
"Ah...akh...Papa!"
"Papa..." Aileen menatap Leon dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak melawan ketika Leon menyentuhnya, malah ia menginginkan ini.
"Ai...karena papa tidak bisa menepati janji papa pada orang tuamu. Maafkan papa karena papa mencintaimu sebagai wanita."
Terlihat senyuman bahagia di bibir Aileen saat mendengar kata cinta yang akhirnya lolos dari bibir Leon. Kata yang selama ini ia nantikan. "Pa...aku juga mencintai Papa." lirih Aileen dengan suara lembut nan manja itu.
"Panggil aku Leon, baby..." pinta Leon seraya tersenyum menatap wajah Aileen yang berada di bawah kungkungannya.
"Leon...aku mencintaimu..."
Dengan cepat, Leon menanggalkan pakaiannya dan pakaian Aileen dan membuatnya tanpa sehelai benang. Mereka pun akan memulai kegiatan sakral untuk penyatuan, namun....
Plakk!
__ADS_1
"Auw!" pekik Leon sambil memegang tangannya yang dipukul oleh Aileen.
"Pah, papa kenapa? Lepaskan aku pah!"
Seketika dia tersadar dan melepaskan pelukannya dari Aileen. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, ia terlihat bingung dengan adegan-adegan yang tadi ada didalam pikirannya.
Wajah Leon berkeringat tanpa ia sadari.
Astaga! Jadi yang barusan adalah fantasi liar ku? Ya Tuhan, mengapa aku memiliki perasaan selaknat ini pada putriku sendiri? benar-benar gila!
Leon menyadari bahwa dia telah berfantasi liar terhadap Aileen. Fantasi yang bahkan tak pernah ia bayangkan bersama kekasihnya sendiri. Suara dessahan Aileen, erangannya membuat Leon semakin hard on.
"Pergi kamu dari sini!" usir Leon pada putrinya.
"Bukannya barusan papa bilang mau bicara padaku?" tanya Aileen yang sudah berdiri di depannya.
"Pergi! Sekarang juga!"
Pergi, atau kamu akan berada dalam bahaya Aileen sayang.
"Hish..." dengus Aileen kesal, ia pun membalikkan badannya. "Dasar pria tua! Bujangan lapuk.. ckckck." gumam Aileen dengan suara pelan namun masih terdengar oleh Leon.
"Apa kamu bilang?" tanya Leon dengan suara meninggi.
"Tidak apa-apa pak! Saya keluar dulu!" Aileen buru-buru keluar dari ruangan itu karena takut kena semprot papanya.
Sesampainya di luar ruangan, Aileen terlihat panik dan nafasnya terengah-engah. Gadis itu menggelengkan kepalanya, berdekatan dengan Leon membuat dia kelabakan.
"Astaga! Aileen...tenangkan dirimu, atau jantungmu akan berhenti berdetak saking kagetnya....huahhh...pesona hot daddy memang selalu meresahkan." gumam Aileen sambil memegang dadanya. "Eh tapi... ngomong-ngomong yang keras tadi apa ya?" Aileen menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Memikirkan benda keras apa yang tadi menusuk pantatnya.
"Yang keras apaan?" tanya Bram yang membuat Aileen terkejut.
"Eh om Bram--eh bapak Bram! Gak ada apa-apa kok." Aileen kembali ke meja tempatnya bekerja dan dia berusaha menetralkan pikirannya dari kejadian barusan saat duduk dipangkuan Leon.
Bram sesekali melirik Aileen dengan terheran-heran, kira-kira apa yang tadi terjadi pada Aileen dan Leon didalam sana?
__ADS_1
Sementara itu Leon sedang bermain solo di dalam kamar mandi kamar peristirahatannya."Sial! Kenapa harus sampai seperti ini? Apa aku memang mencintai Aileen? Arggggh...tidak! Aku punya CELIA! Laknat kamu Leon! Pikiranmu benar-benar laknat!" Leon merutuki dirinya sendiri atas pikiran liar yang baru saja terlintas.
...****...