Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 26. Bikin turn on


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


"Aku memanfaatkan Kak Sam untuk membuat Papa cemburu." jawabnya sambil menghela nafas.


"A-apa?"


Walaupun Sam sudah tahu perasaan gadis itu kepada Papanya, dia berpura-pura tidak tahu dan terkejut seolah-olah baru mengetahuinya. Dalam hati Sam bertanya-tanya ada apa dengan Aileen.


"Memanfaatkanku untuk membuat om Leon cemburu? Apa maksudmu?" Sam memasang atensi tajam pada wanita yang duduk di sebelahnya itu.


Apa dia mau mengakui perasaannya yang menjijikan itu? Pikir Leon dalam hatinya.


"Aku mencintai Papaku sendiri."


Sam pura-pura tersentak kaget, dia menaikkan alisnya, berakting dengan totalitas. "Kamu jangan bercanda padaku, Ai!" desis pria itu sambil mengusap rambut cepaknya.


"Iya, aku menyukai papa dan aku menerima ajakan kencan kakak karena aku ingin membuat Papa cemburu. Tapi aku sadar kalau perasaanku ini salah, aku harus melupakan Papa. Dan aku minta maaf kak Sam, sekali lagi aku minta maaf untuk beberapa hari ini." Aileen mengatupkan kedua tangannya seraya memohon maaf pada Sam karena sudah memanfaatkan pria itu.


Apa ini? Masa iya semua sandiwara ini harus berakhir? Padahal aku belum mengerjai dia dan dia sudah mengaku saja. Haaihhh...


Bimbang.


Itulah Sam saat ini saat mendengar pengakuan Aileen, jujur saja dia masih dendam dan kesal. Tapi Aileen mengaku semudah ini. Dan Sam juga syok mengapa Aileen dengan berani mengatakan bahwa dia mencintai Leon padanya. Apa dia tidak jijik mencintai Papanya sendiri? Mendengar dari mulut Aileen sendiri membuat Sam jijik.


"Ai, aku tidak merasa kalau kamu memanfaatkanku...aku juga tidak apa-apa meskipun di manfaatkan. Tentang perasaanmu pada Papamu, aku yakin bahwa kamu salah paham. Aku dengar dari Tante Celia kalau kamu selalu bersama Papamu dan juga papamu selalu protektif...makanya kamu jadi berpikir perasaan ini cinta, padahal bukan." tutur Sam pada Aileen berusaha menepis perasaan gadis itu pada papanya.


"Ya...apapun itu, aku salah telah memanfaatkan kakak. Aku minta maaf kak dan kita berakhir sampai disini ya kak," Aileen menundukkan kepalanya, ia tersenyum lalu keluar dari mobil Sam.


Alasan Aileen meminta maaf adalah karena Cleo menasehatinya untuk tidak menyakiti hati pria baik-baik seperti Sam. Padahal mereka tidak tahu saja Sam itu bukan pria baik-baik.


Sam tidak tinggal diam, dia tidak bisa membiarkan Aileen pergi seperti ini begitu saja. Dia harus mendapatkan gadis itu, merayu adalah ahlinya. "Ai! Tunggu Ai!"


"Aileen..." Sam mengejar Aileen yang berjalan untuk mencari taksi. Beberapa detik kemudian, Sam berhasil menghadang Aileen.


"Ai...tunggu!"


"Ada apa kak?"


"Mana bisa kamu pergi begitu saja setelah memanfaatkan aku. Apa dengan kata maaf semuanya bisa selesai?" tanya Sam dengan kening berkerut.


"Lalu kakak mau apa? Aku harus melakukan apa untuk meminta maaf kepada kakak?" tanya Aileen merasa bersalah.


"Kalau kamu ingin di maafkan, lakukan sesuatu untukku!" seru Sam pada Aileen.


"Apa?"

__ADS_1


"Aku mau kamu menemaniku ke party malam ini! Sebagai pacarku, untuk yang terakhir kalinya." ucap Sam memohon.


"Party?"


"Iyah, ada party di perusahaanku! Kamu harus datang ya sebagai pasanganku."


"Hem...baiklah kak."


"Makasih Ai...makasih banyak." Sam tersenyum lebar, ia terlihat senang dengan persetujuan Aileen.


Gadis bodoh! Lihat apa yang akan aku lakukan nanti di pesta itu.


"Sekarang--aku anter ke kantor kamu ya?"


"A-aku bisa sendiri kak."


"Come on Ai, aku sudah berjanji pada papamu untuk menjagamu kan." rayu Sam pada gadis itu.


Aileen pun menganggukan kepala lalu mengikuti Sam kembali ke mobil mewahnya. Mereka pun pergi ke kantor Xavier grup.


Suasana terasa dingin antara Leon dan Aileen, gadis itu fokus pada pekerjaannya dengan profesional. Dia mencoba mengabaikan Celia yang berada di ruangan Leon sampai sore hari.


Bram dapat melihat hubungan ayah dan anak itu semakin renggang. Sikap dingin Aileen dan diamnya Leon, memperburuk keadaan.


Oh my God! Apa yang terjadi dengan kedua orang ini?


"Ya om, eh pak!" sahut Aileen yang langsung menoleh ke arah Bram.


"Tolong buatkan kopi dan antarkan ke ruangan pak presdir!" titah Bram pada Aileen yang mendapat respon bibir yang mengerucut itu.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya Bram lagi.


"Bisa gak om Bram aja yang antarin kopinya?" tawar Aileen yang secara tak langsung menolak perintah Bram.


"Ini tugas kamu sebagai asisten sekretaris, ingat...disini saya atasan kamu dan ini perintah!" kata Bram tak mau dibantah, dia menatap tajam pada gadis itu.


"Yah... si om. Bukannya aku sudah kayak anak om sendiri?" rengek Aileen pada Bram, matanya memicing seperti puppy. Menunjukkan keimutannya sebagai anak manis.


"Maaf Aileen, tapi harus kamu yang mengantarkannya." pria itu menggelengkan kepalanya, menolak rengekan imut gadis itu. "Ingat! Professional di tempat kerja, you know that."


"Ah...om Bram jahat!" gerutu Aileen.


"Ya udah cepet kamu buat kopinya terus antar ke ruangan Papa kamu. Kamu tau kan kopi kesukaannya?" tanya Bram pada Aileen yang mendapat anggukan dari gadis berusia 20 tahun itu.


Dengan langkah malas, Aileen berjalan menuju ke pantry untuk membuat kopi. Dia tau benar kopi kesukaan Papanya. Tapi saat ini dia sangat tidak mau bertemu dengan Leon.

__ADS_1


Usai membuat kopi, gadis cantik itu berjalan menuju ke ruangan papanya dengan membawa nampan berisi segelas kopi pahit kesukaan Leon.


Sebelum membuka pintu, langkah Aileen tiba-tiba saja terhenti saat mendengar suara Leon yang sedang berbicara dengan seseorang ditelepon. "Tetap awasi Celia! Jangan sampai leng--"


Leon bergerak menyamping dan matanya tak sengaja melihat Aileen disana. "Kita bicara lagi nanti, pokoknya ingat apa yang ku katakan!" tegas Leon pada seseorang yang ada di telepon itu. Lalu dia menutup teleponnya dan memandang Aileen tengah berjalan ke arahnya.


Papa meminta seseorang untuk mengawasi si nine fox? Kenapa ya?


"Ini kopinya Pak."


Gadis itu meletakkan kopinya ke atas meja, kemudian dia membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi. Namun Leon memegang tangan Aileen dan menariknya. "Pak pres--"


Kyaakk!


Karena tarikan Leon yang cukup keras dan tiba-tiba itu membuat tubuh Aileen terjatuh tepat dipangkuan papanya. Tangan Leon memegang pinggul Aileen dengan sigap, menahannya agar tak jatuh.


"Ah...pak Presdir, ada apa pak?" tanya Aileen gugup, dia menelan salivanya kuat-kuat saat wajahnya berdekatan dengan wajah tampan Leon.


"Ai...kenapa panggilnya bapak?"


"I-ini kan di kantor..." gadis itu salah tingkah dan memalingkan wajahnya dari Leon.


Aduh Papa! Kenapa papa membuatku berdebar lagi sih?


"Ai...."


"Pak...lepasin saya." pinta Aileen dengan tangan yang berusaha menyingkirkan tangan Leon.


"Kenapa sih kamu jadi seperti orang asing begini sayang?" Leon masih memegang tubuh mungil nan semok Aileen dengan kedua tangannya. Meski sedari tadi Aileen bergerak tak mau diam.


Leon sudah bertekad bahwa dia harus bicara dengan Aileen dan menyelesaikan perang dingin ini secepatnya. "Ai...kamu diem dulu! Papa mau ngomong sama kamu,"


Aileen terus bergerak-gerak di atas pangkuan Leon, hingga membuat Leon tersentak kaget.


Astaga! Kenapa bisa turn on lagi?


"Akh....papah, apa yang--"


Aileen merasakan benda keras menyentuh bagian belakang tubuhnya dan sedikit menusuk. "Pah..." lirih Aileen kebingungan saat melihat Leon menatapnya dengan nanar.


Wajah Leon memerah, jakunnya naik turun dia menelan salivanya dengan kuat dan susah payah. Lagi-lagi dia berada dalam mode turn on ketika didekat Aileen.


Astaga...ya Tuhan. Kenapa aku bisa memiliki perasaan seperti ini kepada Putriku sendiri?


Kedua netra mereka bertemu, hingga Leon mendekatkan wajahnya pada wajah baby face plus beautiful Aileen.

__ADS_1


...****...


__ADS_2