
...πππ...
Usai tiup lilin dan make a wish, Aileen menyimpan kue itu ke atas nakas karena tangannya sudah pegal. Ia mengambil pisau untuk memotong kue itu dan menawarkannya pada Leon.
"Mas, mas mau kue?" tanya Aileen dengan suara imut. "Mas pasti lapar karena tadi--hmphh--"
Bibir Leon membungkam Aileen dengan ciuman dibibir hingga wanita itu bungkam.
Prak!
Aileen terbuai dalam ciuman itu, sampai ia tak sadar telah menjatuhkan pisau ditangannya. Tangan Leon yang menjelajahi tubuhnya membuat gairah Aileen kembali memuncak.
Entah bagaimana ceritanya, Aileen sudah berada di atas ranjang dengan posisi tubuh di bawah Kungkungan sang hot Daddy. Leon menarik lingeriee hitam itu dan melepasnya dalam sekali tarikan.
"Mas... hadiahnya belum dibuka!" protes Aileen seraya memutar matanya melihat ke arah kotak berwarna gold di atas meja. Di dalamnya ada hadiah ulang tahun dari Aileen yang telah disiapkannya dari jauh-jauh hari.
__ADS_1
"Aku mau buka hadiah yang ini dulu, baby." ucap Leon sambil tersenyum dan menatap tubuh istrinya dengan nanar.
"As you wish!" kata Aileen seraya tersenyum dan menanggapi apa mau Leon. Aileen tau kalau Leon mau ronde kedua dan wanita itu akan siap membahagiakan suaminya malam ini.
Maafkan aku...maafkan aku mas, tolong jangan benci aku.
Di sela-sela kegiatan penyatuan mereka, Aileen menangis. Bukan karena sakit tubuhnya, tapi sakit hatinya.
"Ai, kenapa? A-apa sangat sakit?" tanya Leon pada istrinya, dia menghentikan kegiatan penyatuan itu.
Aileen menggelengkan kepalanya, air matanya masih luruh. "Tidak...aku menangis karena aku bahagia, aku bahagia karena kita telah menjadi suami istri dan--dan--"
Melihat Leon yang lembut dan sangat mencintainya, ia jadi tidak rela meninggalkannya besok. Ah bagaimana ini? Haruskah ia tidak pergi saja? Tidak, ia sudah janji.
"Iya mas mari kita bahagia." Aileen memeluk suaminya, menyembunyikan air mata dan wajah sedihnya di balik ceruk leher Leon.
__ADS_1
Mereka pun melakukan aktivitas panas mereka hingga dini hari. Didalam kolam renang pun mereka coba, tidak lama karena takut Aileen masuk angin. Yang penting beragam gaya telah dicoba dan Leon puas telah menuntaskan hasratnya melajang. Apalagi si piton dibawah sana sangat puas.
Pasangan suami istri itu pun tertidur pulas di balik selimut hangat di atas ranjang. Aileen hanya tidur sebentar, sebab dia harus segera pergi dari sana. Aileen menyempatkan dirinya untuk mandi terlebih dahulu.
Pagi-pagi buta, Aileen sudah berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi. Ia meninggalkan amplop berisi surat yang ia tulis di atas kotak kado untuk Leon.
"Ini sudah waktunya...haahhh." Aileen mendesah panjang, sungguh rasanya ia tak rela meninggalkan Leon. Padahal mereka baru menikah dan pasti akan membuat Leon sangat terluka. "Percayalah, aku tak ingin menyakitimu. Ini semua kulakukan demi dirimu, mas...aku sayang kamu. Bahagialah..." lirih Aileen lalu mengecup kening Leon penuh kasih.
Pria itu sama sekali tidak tergerak karena dia tertidur begitu pulas. "Jika kita berjodoh, tuhan pasti akan kembali mempertemukan kita!"
Aileen menangis melihat pria yang masih tertidur pulas itu. Dia pergi menarik kopernya meninggalkan kamar itu dengan hati yang berat.
Sementara itu di atas gedung, Ericko dan anak buahnya sudah menunggu Aileen dengan helikopter disana agar tidak ada yang tau Aileen pergi kemana, mereka memakai helikopter.
...****...
__ADS_1
Spoiler dikit...
"Kakak tenang kak!" Agatha panik melihat Leon yang menghancurkan semua benda-benda di rumahnya. Leon seperti orang gila.