
...πππ...
Aileen baru saja siuman, dia mendengar ada suara keributan di luar kamarnya. Aileen berjalan dan melihat Sam juga Leon ada disana. "Aku harus memberitahu papa tentang kejahatan si nine fox dan kak Daniel," gumam Aileen yang sudah kembali ingatannya.
Aileen mengintip dari balik pintu dan mendengarkan percakapan Sam dan Leon yang terlihat serius.
"Kenapa om...kenapa tidak ada kata anak saya disana? Kenapa saya merasa sikap om berubah? Apa saya salah? Apa mungkin om--juga memiliki perasaan itu?"
"Ya...kamu benar, saya mencintai Aileen." akui Leon dari dalam lubuk hatinya. Ia tidak peduli mau dipandang seperti apa oleh orang-orang di sekitarnya. Yang jelas dia mencintai putrinya dan itu fakta yang tak terbantahkan lagi.
Papa mencintaiku? Apa ini benar?. Aileen menutup mulutnya yang menganga dengan satu tangannya.
Sam terperangah mendengar pengakuan Leon bahwa dirinya memang mencintai Putri angkatnya itu. Pria itu berdecih, seakan tidak terima dengan pengakuan Leon. "Om... ini tidak masuk akal. Bagaimana bisa om mencintai seorang wanita yang dibesarkan oleh om seperti anak sendiri? Ya, walaupun Aileen bukan Putri kandung om.Tapi bagaimana bisa om memiliki perasaan seperti itu? Ini sangat tidak etis karena kalian adalah ayah dan anak."
"Katakanlah memang tidak etis, tapi...kami kan tidak memiliki hubungan darah. Sah sah saja bila kami memiliki hubungan," kata Leon menegaskan perasaannya pada Aileen.
Sam tersenyum sinis lalu dia tertawa. "Haha...om tolong bicara yang masuk akal sedikit. Apa om tidak peduli apa kata orang nantinya kalau om dan Aileen bersama? Dan...apakah perasaan om pada Aileen serius?"
"Aku pikir itu bukan urusanmu, anak ingusan!" sinis Leon.
"Ini menjadi urusanku Om, karena aku mencintai Aileen! Aku serius padanya, kalau om ingin tau." ucap Sam serius penuh kesungguhan dan tidak ada kebohongan di matanya. Leon bisa melihatnya, tapi dia tak menyukai itu.
Leon mengepalkan tangannya dengan kesal, mendengar pengakuan Sam membuat hatinya geram. Tentu, sebagai seorang pria dia tidak mau ada seseorang yang menyukai gadis yang dia cintai.
Tangan Leon mencengkram kuat kerah baju Sam dengan kasar. "Apa om?"
"Hentikan perasaanmu itu, Sam! Daripada kamu memikirkan Aileen, lebih baik kamu memikirkan ibumu. Kurasa dia lebih membutuhkanmu saat ini." sarkas Leon.
Presdir hotel Samudra itu menatap Leon dengan bingung dan keningnya berkerut. Kenapa pria itu tiba-tiba membahas soal ibunya?
"Mama? Ada apa dengan--" Sam bingung.
"Celia sudah bebas dari penjara dan dia tinggal di rumahmu bukan?" tanya Leon pada Sam yang membuat pria itu tercengang.
"A-aku tidak tahu..." gumam Sam pelan. "Tapi bagaimana om bisa tau?" Sam bertanya balik dengan terheran-heran mengapa pria itu seperti cenayang saja yang tahu semuanya.
"Heh! Apa kamu tidak tahu siapa aku? Mulai sekarang aku adalah Leonardo Xavier, pria yang sangat mencintai Aileen Sheravina Xavier dan Aku akan melakukan apa saja untuk melindungi wanita yang kucintai itu. Termasuk dari tantemu yang jallang itu!" ucap Leon, lalu dia melepaskan cengkramannya dan mendorong Sam.
Gadis itu meneteskan air mata begitu mendengar ucapan Leon yang membuatnya sangat terharu. Ia tak percaya bahwa ternyata cintanya pada sang papa terbalas.
Papa... ternyata papa sudah mencintaiku. Ini sungguhan! Apa yang aku dengan ini bukanlah mimpi kan?
"A-apa maksud om?"
__ADS_1
"Sedang kamu pulang saja ke rumahmu dan tanyakan pada Papamu, apa yang terjadi pada papa dan mamamu juga pada tantemu yang jallang itu." Leon tersenyum menyeringai. Dia memang menyelidiki Celia dan Daniel semenjak insiden Aileen jatuh dari tangga. Tak akan dia biarkan sekecil apapun bahaya bisa mengancam Aileen.
Dan belum lama ini dia mengetahui dari detektif sewaannya bahwa Celia dibebaskan oleh Ferdinan, kakak iparnya. Ya, Celia memang tidak bersalah karena yang mendorong Aileen adalah Daniel. Tapi tetap saja dia salah di mata Leon dan pria itu yang dulu sangat mencintainya, kini berbalik membencinya.
"Kamu sayang mamamu kan? Sebelum terlambat lebih baik kamu urus mamamu!"
Deg!
Jantung Sam berdegup sangat kencang, entah kenapa mendengar ucapan Leon membuat Sam tidak nyaman. Dia tidak pernah pulang ke rumah lagi sejak bertengkar dengan papanya dan dia jarang berkomunikasi dengan Sahara, mamanya.
"Sa-saya akan pulang om, kalau Aileen sudah siuman tolong beritahu saya." ucap Sam pada Leon berpamitan.
Rupanya ucapan Leon membuat pengaruh kuat pada Sam, terutama tentang mamanya. Sam melenggang pergi dari sana dengan hati gelisah menuju ke rumahnya. Tak lupa sebelum itu dia menitipkan bunga untuk Aileen pada Ratna.
Aileen yang mendengar semua itu, merasa tidak menyangka bahwa Leon mengungkapkan cinta padanya. Aileen pun kembali tidur di atas ranjang, begitu dia melihat Leon berjalan masuk ke kamarnya.
Leon melihat Aileen masih berbaring di atas ranjang, Aileen pura-pura tidur tapi Leon tak tau.
"Istirahatlah baby." lirih Leon lalu mengecup kening Aileen penuh kasih sayang.
Ini kecupan penuh cinta! Aku tidak akan cuci muka satu minggu, ciuman dari papa ini.
Aileen berbunga-bunga dalam hatinya. Pertama, dia tau Leon menyatakan cinta padanya, kedua kecupan Leon yang penuh kasih padanya. Setelah Leon pergi meninggalkan Aileen seorang diri di kamar, Aileen langsung tercekat dan memegang kedua pipinya. "Oh my God! Papa...papa mencintaiaku? Papa mencintai Aileen Sheravina Xavier sebagai seorang wanita? Ah! Aku tidak menyangka! Aku tak percaya semua ini... papa." gumam Aileen sambil menahan jeritannya. "Ah ya, ceritanya aku kan masih hilang ingatan. Maka aku akan berpura-pura hilang ingatan saja, untuk melihat apakah papa benar-benar mencintaiku atau tidak." tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepalanya dan akan dia lakukan esok pagi.
Di rumah keluarga Ferdinand Ginting.
Kamar tidur Ferdinand dan Sahara, terdengar suara erangan dan desahhan di kamar itu. Suara erotis menggema di ruangan kamar yang mewah itu. Dua insan manusia tengah memadu kasih dengan gaya doggy-stylle, tidak perlu dijelaskan lebih detail bagaimana nikmatnya pergulatan ranjang itu. Keduanya mendesah, membuktikan bahwa mereka berdua menikmatinya.
"Fuckk! Kamu benar-benar luar biasa Celia, aku keluar berkali-kali karenamu." kata Ferdinan dengan gerakan yang terus menghujam lubang kebahagiaan milik Celia.
"Aku senang kamu puas denganku, Mas." Celia tersenyum manis, ia senang dapat memuaskan kakak iparnya itu.
Maafkan aku kak Sahara, aku tidak bisa menahan diri dari suamimu ini. Selain good looking, dia juga good shopping dan bisa memenuhi kebutuhanku.
"Ini sangat gila! Milikku terasa penuh dalam milikmu, Celia..." desahh Ferdinan begitu menikmati permainan dengan adik iparnya. Padahal nikmat ini adalah sebuah dosa dan tak seharusnya mereka melakukannya.
Sahara juga jarang pulang karena pekerjaannya sebagai anggota dewan setelah dia vakum dari dunia permodelan. Dan ini menjadikan kesempatan untuk Ferdinand berselingkuh. Selama ini Ferdinand terlihat seperti pria yang setia di mata masyarakat, tapi di mata Sam. Papanya tak lebih dari seorang yang buruk.
Malam itu Sahara pulang ke rumahnya, dia baru saja pulang dari acara amal di panti asuhan. Seperti biasa rumahnya hening, namun saat Sahara menginjakkan kakinya di lantai dua. Dia mendengar suara desahhan dan erangan di kamarnya.
"Suara apa itu?" gumam Sahara curiga, hatinya bergemuruh mendengar suara itu.
Sahara berjalan cepat menuju ke kamarnya dan dia membuka kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
BRAK!
Mata Sahara membulat dan berair melihat suaminya tengah memadu kasih bersama adiknya sendiri. "Papa!" teriak Sahara pada suaminya.
"Ma...mama?" Ferdinan langsung menghentikan kegiatannya dan beranjak dari tempat tidur dengan kondisi yang memalukan tanpa busana.
"Mbak Celia..."
Celia juga sama kagetnya dengan Ferdinand, ia buru-buru menyelimuti tubuhnya yang berkeringat dan tanpa sehelai benang sebelumnya. "Tega....tega kamu Pa! Tega kamu bermain dengan adikku sendiri, Mas!" teriak Sahara penuh amarah. Lalu dia mendekati Celia dan menjambak rambutnya.
"Ahhh...sakit mbak! Sakit..." Celia meringis kesakitan ketika Sahara menjambak rambut Celia dengan kencang.
"Kamu benar-benar tak tau diri Celia! Aku sudah baik hati menampung di rumah ini, tapi kamu malah berselingkuh dengan suamiku! Jahat kamu Cel! JAHAT kamu sama mbak mu sendiri?" bentak Sahara, dengan mata yang menatap begitu tajam kepada adiknya. Dipenuhi oleh kilat kemarahan.
Plak!!
Plakk!
Sahara menampar pipi Celia kiri dan kanan dengan amarah yang membara. Ia tak menyangka bahwa suaminya yang dikenal baik itu ternyata tega berselingkuh dengan adiknya sendiri.
"Sahara hentikan!" seru Ferdinand yang berusaha untuk menghentikan istrinya menjambak rambut Celia. Tak hanya itu, Sahara juga memukul wajah cantik Celia tanpa ampun.
Ya, ini namanya hajar pelakor!
"Sahara!" bentak Ferdinand pada istrinya.
"Kurang ajar kamu CELIA! Kamu lupa siapa yang memenuhi kebutuhanmu selama ini? Menyekolahkanmu sampai ke perguruan tinggi, kalau bukan mbak! Mbak yang selalu berjuang untuk kebahagiaan kamu Celia! Mbak...!! Tapi kamu tega begini pada mbak? Kamu tega pada orang yang membesarkan kamu dan mengurusmu selama ini!" Tangis dan kemarahan Sahara tumpah pada adiknya sendiri.
Dia tidak percaya bahwa Celia akan menusuknya begitu dalam, yaitu menjalin hubungan dengan suaminya yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri.
Ferdinand pun memegang tangan Sahara dan berusaha untuk menghentikan istrinya menyerang Celia. "Hentikan Sahara! Ini bukan kesalahan adik kamu tapi memang aku yang mencintainya!" bentak Ferdinand pada istrinya yang membuat Sahara semakin marah dan tangisnya semakin pecah.
"Apa kamu bilang? Kamu mencintai Celia? Kamu... mencintai adikku?! Jalaang! Kalian benar-benar pasangan JALANGG sangat serasi!" Sahara tertawa getir, di tengah air mata yang terus membasahi pipinya.
"CUKUP SAHARA!"
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat dari tangan suaminya tepat ke pipi kanan Sahara dan membuat wanita itu terhuyung ke belakang. Dia hampir saja jatuh ke lantai kalau bukan karena ada seseorang yang menangkap tubuhnya.
"Sam? Kamu pulang, nak?" sambut Sahara seraya menatap Sam penuh kerinduan. Sudah lama anaknya tidak pulang ke rumah.
Sam memegang tubuh mamanya dan menatap wajah memar mamanya dengan sendu. Lalu kemudian dia menatap Ferdinand dan Celia dengan nyalang.
__ADS_1
...****...