Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 76. Ada apa dengan tubuhku?


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Leon seperti orang kehilangan akal, dia melempar bahkan menghancurkan semua barang-barang dirumahnya dengan brutal. Para pelayan dan pekerja di rumah itu ngeri melihat kaki dan tangan Leon yang berdarah-darah karena ulahnya sendiri.


Agatha dan Sherly putrinya tak kuasa menahan tangis ketika melihat Leon terluka. Pria itu terus mengamuk dan meneriakkan nama Aileen meminta gadis itu untuk kembali padanya.


"Aileen...aku mohon kembalilah, aku mohon...aku mohon...hiks..." tubuh Leon jatuh terduduk, ia memegang dadanya yang sesak. Pria itu terisak dan memukul-mukul dadanya.


Siapa yang tidak akan sakit hati bila ditinggal saat sayang-sayangnya. Disaat hubungannya begitu panas dengan Leon, tapi dengan mudahnya Aileen pergi begitu saja meninggalkannya. Di hari bahagia, dihari ulang tahun dan pernikahan mereka. Tega sekali!


Agatha menutup mulutnya yang menganga, bulir air mata jatuh membasahi pipinya. Ia tak menyangka bahwa pengaruh Aileen sangat besar untuk Leon. Hingga membuat kakaknya menggila seperti ini, padahal belum sehari Aileen menghilang tapi Leon sudah kalap.


Kak, ternyata kamu sangat mencintai Aileen. Aku tidak menyangka bahwa pengaruh Aileen sebesar ini padamu kak. Jika aku tau kalau perkataannya kemarin tentang pergi selamanya itu bukanlah lelucon, pasti kamu bisa mencegahnya pergi kak. Maafkan aku kak Leon.


Terbesit rasa bersalah di hati Agatha karena menganggap ucapan Aileen hanyalah angin lalu dan bualan semata. Jika saja ia sadar bahwa perkataan itu serius dan akan membuat dampak seperti ini pada Leon. Mungkin Agatha akan melunakkan sedikit hatinya untuk Aileen.


"Ma, om Leon...dia kenapa ma?" Sherly memeluk mamanya dan terlihat ketakutan juga kasihan pada omnya itu.


"Sherly, kamu pergi dulu ke kamar ya nak? Mama akan bujuk om kamu," ucap Agatha pada putrinya yang berusia 13 tahun itu.


Sherly pun pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas bersama Lina. Sementara Mila, Ratna, Frans dan dua anak buahnya masih berada disana melihat kondisi Leon. Bagus kalau mereka bisa menenangkannya.


"Kak...kakak tenangkan diri kakak ya? Aileen pasti belum jauh kak," ucap Agatha mencoba bicara pada Leon.


"Pria tua itu pasti sudah menyembunyikannya di suatu tempat, dia menghilang tanpa kabar...bahkan aku tak tahu jejaknya! Kenapa dia melakukan ini padaku Agatha? Kenapa?!" hardik Leon sambil memegang dadanya, air mata masih membasahi wajah tampan pria itu. Ia tampak kacau dan hancur.


Luna yang menjadi sandera Leon dan kini berada di dalam gudang, ia mendengar keributan di luar. Ia tak menyangka bahwa Leon akan sehancur itu ditinggalkan Aileen.


Usaha Agatha untuk menenangkan kakaknya dengan kata-kata ternyata sia-sia saja, nyatanya Leon harus dipaksa dan diseret oleh Frans dan juga kedua anak buahnya untuk bisa berhenti menyakiti dirinya sendiri.


Sungguh setiap malam setelah kepergian istrinya, Leon selalu tampak suram. Dia tak pernah lelah mencari keberadaan istrinya, sekecil apapun kemungkinan itu dia tetap mengerahkan orang-orangnya untuk mencari.


Agatha yang tadinya sangat membenci Aileen, kini dia mendukung kakaknya untuk mencari istrinya itu. Agatha sadar walau mungkin sudah terlambat, ia sadar bahwa Aileen adalah wanita yang terbaik untuk kakaknya dan dia sangat mencintai Leon. Hingga Leon bisa kembali bangkit, keluar dari penjara dan terbebas dari semua masalahnya karena pengorbanan Aileen.


Jika Aileen kembali, maka Agatha akan menerima gadis itu sebagai kakak iparnya. Dia tidak akan melarang hubungan kakaknya dengan wanita itu. Agatha tidak mau melihat kakaknya hancur lebih dalam lagi. Sungguh, hatinya seperti teriris pisau tajam melihat kakaknya setiap hari mabuk-mabukan dan kehilangan gairah untuk hidup.


"Kak...ini sudah 3 Minggu Aileen menghilang, apa Kakak akan terus seperti ini? Jika Aileen sampai melihat Kakak seperti ini dia pasti tidak akan senang. Dia meninggalkan kakak bukan untuk melihat Kakak hancur, dia ingin kakak bangkit!" Agatha mengingatkan kakaknya untuk kembali ke jalan yang benar. Dia tidak ingin hidup Leon hancur karena mabuk-mabukan dan kurang makan.


Lihat saja kantung matanya yang begitu hitam itu menandakan bahwa Leon sudah tidak sehat secara fisik maupun mental. Terkadang Agatha dan beberapa pekerja di rumah itu melihat Leon berada di kamar Aileen sambil menangis terisak memandangi foto-foto gadis itu. Ia juga terkadang memeluk boneka beruang kesayangan Aileen yang pernah diberikannya pada hari ulang tahun gadis itu.


"Kau tidak tahu apa-apa Agatha, jadi diam saja." ucap Leon sambil meneguk kembali minuman haram itu. Matanya memerah, tubuhnya tergeletak di lantai.


"Kak...maafkan aku, maafkan aku kak. Jika saja aku tau kalau saat itu dia benar-benar serius dengan ucapannya, aku pasti bisa mencegah kepergiannya...tapi sekarang semuanya sudah terlambat."


"Ini bukan salahmu Agatha, ini salahku... salahku yang tidak bisa membuat dia percaya bahwa aku bisa melindunginya. Ya, memang benar aku lemah dan tidak bisa melindunginya dari kekuatan keluarganya sendiri. Aku yang salah," desahh Leon sambil menangis tanpa suara dan itu sangat menyakitkannya.


"Kak..."

__ADS_1


"Kenapa aku begitu lemah? Kenapa aku tidak bisa melindungi wanita yang aku cintai? Kenapa Agatha?"


Agatha mendekati kakaknya, ia memberikan dukungan pada Leon dengan pelukan hangat. "Kak, aku mohon jangan begini. Kita harus tetap berusaha untuk mencari Aileen, jangan lemah...aku yakin dia baik-baik saja, jadi jangan menyalahkan dirimu lagi Kak." hibur Agatha pada kakaknya.


"Aku takut, aku takut Aileen berubah...aku juga takut kalau Ericko berbuat sesuatu padanya. Aku sangat takut...sungguh." kata Leon sambi membalas pelukan dari adiknya itu.


Agatha juga ikut menangis melihat Leon sakit-sakitan seperti ini. Sakit batin yang membuat tubuhnya juga sakit. Bahkan sisi emosional dalam dirinya terkadang tak terkendali dan dia jadi meminum obat penenang. Usaha Leon untuk memancing Eriko dengan Luna juga tak berhasil karena pria tua bajingan itu sama sekali tidak peduli pada anak haramnya.


Aileen dimana kamu? Semoga kamu baik-baik saja...kasihan suamimu, kasihan kakakku! Dia tidak bisa hidup tanpa kamu.


****


Italia, sebuah mansion mewah yang dihuni oleh beberapa orang bertubuh besar dan memiliki raut wajah datar. Mereka adalah bawahan Eriko, yang bekerja di dalam bisnis dunia hitam. Semacam narkoba, senjata dan lain sebagainya.


Black dragon adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh kakek Ericko dan turun menurun pada anak dan cucu mereka. Fokus bisnis black dragon ini adalah pada senjata api yang di jual secara ilegal dan selalu membahayakan nyawa.


Selama dua Minggu itu, Ericko mengajarkan Aileen untuk menjadi pewarisnya. Ia mengajarkan Aileen bela diri, menembak, berlari dengan cepat dan hal-hal membahayakan lainnya. Tak jarang Ericko dan Toni membawa Aileen secara langsung ke dalam pertarungan yang berbahaya. Pertarungan yang penuh dengan darah.


DORR!


DORR!


Terlihat seorang pria tergeletak dengan kondisi kepala yang berlubang penuh darah di depan Aileen.


Aileen bergetar melihat sosok pria itu, entah sudah berapa kali dia melihat mayat bersimbah darah. Tetap saja ia tidak terbiasa, hatinya masih lemah.


Sudah tua saja dia masih memiliki stamina untuk membunuh orang. Apalagi saat dia masih muda. Batin Aileen ketakutan, tubuhnya gemetar saat ini. Kini ia paham kenapa mendiang ayahnya berpesan pada Leon untuk menjauhkannya dari Ericko.


"Ini baru 2 Minggu tuan, saya yakin dalam beberapa bulan ke depan. Nona bisa melawan rasa takutnya dan bisa lebih hebat dari tuan," kata Toni seraya melirik ke arah Aileen.


"Haaihhh...baiklah, aku percaya pada penilaianmu Toni. Sekarang sebaiknya kau bawa dia pada Mr. Anderson."


"Kenapa nona dibawa kesana tuan?" Toni terperangah mendengar titah dari Ericko. Membawa Aileen pada musuh Ericko, apa tidak membahayakan nyawa Aileen?


"Dia hanya sebagai umpan saja, sementara dia menemani si Anderson, kita kabur."


"A-apa yang akan kakek lakukan padaku?!" hardik Aileen tak terima, dia sudah bisa menebak bahwa akan ada bahaya terjadi padanya.


"Tenang saja, aku bekali kau dengan dua benda ini. Berusahalah kabur sendiri!" seru Ericko lalu menyerahkan sebuah belati dan sebuah pistol pada Aileen.


Ini gila! Aileen bahkan tidak bisa menggunakan keduanya dengan benar. Tangannya saja gemetar melihat dua benda berbahaya itu.


"Cepat kau bawa dia TONI!" teriak Ericko memberikan perintah.


"Ta-tapi tuan."


Toni terlihat ragu dan kasihan pada Aileen yang belum berpengalaman itu. Dia enggan meninggalkan Aileen disana seorang diri.

__ADS_1


Ericko mengarahkan senjata apinya pada kepala Toni, matanya tajam seperti ingin membunuh orang. "Apa kau mau mati, Toni? Ah...atau mau mau anak dan istrimu yang menanggungnya?"


Suara yang rendah, namun mengancam dan menusuk. Toni menjadi lemah bila menyangkut anak dan istrinya. Dia tidak mau keluarganya terseret dalam masalah ini.


"Tuan..."


"Pengalaman akan membuatnya belajar, Toni! Bawa dia pada pria tua itu, dia sangat menyukai wanita cantik!" tukas Ericko tanpa merasa salah.


"Kakek sangat jahat! Aku ini cucumu sendiri, apa kau lupa?!" hardik Aileen yang tidak tahan dengan sikap kejam Ericko.


"Semoga kau bisa selamat, Toni bawa dia!"


"Tidak! Aku tidak mau!" teriak Aileen menolak dan mencoba kabur, namun sayang Toni sudah membopongnya seperti karung beras.


"Aku percaya kau masih punya hati, pak Toni!" Aileen yakin masih ada orang baik dan Toni adalah salah satu diantaranya. Ia ingat bahwa tangan kanan kakeknya ini pernah menolong dirinya dari amukan ERICKO.


"Maafkan saya nona," ucap Toni lalu membawa Aileen pergi dari tempat persembunyian itu. Aileen meronta-ronta tapi sayangnya dia tidak bisa.


Aileen dilemparkan ke lorong dengan wallpaper warna merah. Pakaian Aileen terlihat sensual malam itu karena Ericko memaksanya memakai pakaian tersebut, jika tidak maka ia akan meminta anak buahnya untuk memperkosa Aileen dan dia tidak pernah main-main dengan ancamannya.


"Nona, saya harap saya masih bisa melihat anda. Pintu warna kuning," ucap Toni berbisik pada Aileen kemudian pria itu pergi begitu saja.


Pintu warna kuning? Apa maksudnya.


Aileen mencoba berdiri, entah kenapa tiba-tiba saja ia merasakan mual dan pusing. Mungkinkah karena beberapa hari ini dia sering melihat darah dan adegan pembunuhan?


Ada apa dengan tubuhnya?


"Ughh... uwekk..." Aileen semakin mual-mual manakala ia merasakan wewangian yang menyeruak tak jauh darinya.


Kini terlihat seorang pria tengah berdiri didepannya. Aileen menoleh ke arah pria itu, seorang pria dengan tubuh tegap dan berwajah bule itu menatap Aileen dengan nanar.


"Ciao dolce signora? Ti sei perso?" tanya pria itu seraya meraih dagu Aileen, melihat wajah cantiknya membuat pria itu terpana.


Pria itu menggunakan bahasa Italia dan bertanya pada Aileen apakah gadis manis itu tersesat?


"Lasciami andare!" teriak Aileen seraya menepis tangan pria itu yang memegang dagunya.


"PORTALO!" titah pria itu pada anak buahnya untuk membawa Aileen.


Pria-pria itu membawa Aileen pergi dari sana dengan paksa. Aileen kalah jumlah dan tubuhnya juga lemah saat ini.


"Mas...Leon...tolong aku!"


Aileen mengiris meminta tolong pada Leon yang sekarang berada jauh darinya. Dia berharap akan ada orang yang menolongnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2