
...****...
Tanpa mempedulikan Sam yang mengikutinya dari belakang, Leon membawa Aileen ke rumah sakit terdekat disana. Tak berselang lama kemudian mereka pun sampai di sebuah rumah sakit kota Bandung.
"Dokter! Tolong lakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Aileen, saya tidak mau terjadi apa-apa pada tubuhnya!" ujar Leon kepada salah satu dokter yang menangani Aileen.
"Baik pak, saya akan menangani Putri bapak."
"Saya bukan ayahnya, saya kekasihnya!" sergah Leon, membuat Frans, Sam dan Bram yang mendengarnya disana menjadi terkejut. Pasalnya mereka tidak menyangka bahwa Leon akan mengakui anak angkatnya sebagai kekasihnya.
Leon... aku paham kalau kau mencintai Aileen, tapi mengakui hubunganmu di depan umum untuk sekarang itu sangat berbahaya.
"Yon!" seru Bram pada Leon ,tapi Leon tak peduli.
"Oh... kalau begitu saya akan menangani kekasih bapak. Kalau begitu silakan bapak mengurus administrasinya, selagi bapak menunggu pemeriksaan kekasih bapak."
"Baik dok."
Usai menyelesaikan administrasi dan juga penanganan Aileen. Kini dokter keluar dari ruangan Aileen menjelaskan keadaan gadis itu. Bahwa Aileen baik-baik saja, ada sedikit luka luar dan hanya tinggal menunggu gadis itu siuman setelah pengaruh obat biusnya habis.
Obat bius?
Leon dan Sam jadi berpikir bahwa semua ini memang direncanakan. Apa memang Aileen hanya di rampok saja? Rasanya tak mungkin!
__ADS_1
Tak banyak berpikir panjang, setelah Aileen siuman. Leon segera membawa Aileen kembali ke Jakarta, sebab Aileen memaksa.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke kota tersebut, hanya 1 jam 30 menit ditambah kemacetan. Sesampainya di rumah, Aileen masih syok dan tidak banyak bicara karena ia juga bingung dengan apa yang terjadi padanya.
Leon langsung membawanya ke kamar dan tak memaksa Aileen untuk bicara banyak.
"Pa, apa benar aku diperkosa? Soalnya bajuku robek-robek!" keluh Aileen ketakutan. Hanya karena bajunya yang sobek membuat ia berpikir macam-macam.
"Sayang, itu semua gak benar...kamu masih suci! Papa percaya..."
"Ta-tapi aku..." lirih Aileen bingung.
"Sayang, kamu gak apa-apa..percaya deh sama papa." ucap Leon seraya menenangkan Aileen. Gadis itu masih tidak tenang, selama dalam pengaruh obat bius dia sama sekali tidak ingat apa yang terjadi.
"Sayang, kamu tidur ya....papa akan--"
Grep!
Tangan Aileen menahan papanya, orang wajahnya mengatakan pada Leon agar tidak pergi dari sana. "Pa...please...temani aku pa. Aku takut sendiri."
Wajah Leon bersemi merah, melihat pada wajah cantik Aileen yang menggodanya selalu menggoda. "Ai... Papa tidak bisa."
"Pa..." rengek Aileen manja dengan suara mendayu-dayu khas dirinya.
__ADS_1
"Haaahh... Papa memang tidak bisa mengatakan tidak padamu." desahh Leon kemudian dia membaringkan tubuh yang tepat di samping Aileen.
Mereka pun berbaring diatas ranjang yang sama, Aileen memeluk Leon dan memendamkan tubuhnya pada tubuh Leon.
Astaga...dua dada ini. Kenapa dua dada ini membuatku turn on?
Leon panik, manakala dia buah kembar sintal milik Aileen menabrak dadanya yang kejar. Membuat yang dibawah menjadi sesak dan minta dikeluarkan dari sarangnya.
"Haaah...." Leon mendesah dan nafasnya membuat wajah Aileen memerah.
Aileen malah tersenyum, lalu dia mendekatkan wajahnya pada wajah Leon dan mengecup bibirnya sekilas. "Papa jangan gugup gitu dong, dulu kan aku juga sering tidur satu ranjang sama papa."
"Ai, yang ini beda."
"Bedanya gimana Pa?" jari-jari lentik Aileen menyusuri dada bidang Leon yang masih dibungkus oleh piyama tidurnya. Perlahan Aileen membuka kancing piyama sang papa dan meraba-raba dadanya.
"Ai...henti...kan..." Leon yang lebih doyan mulai naik sedang berusaha untuk menenangkannya. Dia berusaha untuk turun tapi Aileen malah semakin menaikannya.
"Pa, love you...Ai love you..." bisik Aileen lembut, yang membuat bir*hi dia itu semakin meningkat dan kesulitan untuk menahannya lagi.
"Akhhpp!!"
Aileen terkesiap manakala bibir Leon telah menyatu dengan bibirnya. Awalnya hanya pertemuan bibir, lama kelamaan kedua mulut mereka terbuka dan membiarkan semua berjalan apa adanya.
__ADS_1
...****...