Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 33. Penjara atau pemakaman?


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Tangan Sam gemetar, bahkan setelah Leon melepaskan dirinya. Rasa mendominasi pria itu masih menekan dirinya. Sam tidak menyangka bahwa aura Leonardo Xavier sangatlah membuat dirinya yang seorang Samuel Rivaldo Ginting menjadi lemah.


"Cepat kamu hubungi dia dan tanyakan apa yang sudah dia lakukan pada Aileen!"


Sedari tadi Leon terus bicara dengan suara meninggi dan penuh amarah. Matanya seperti akan keluar begitu melihat keponakan dari orang yang ia cintai sekaligus orang yang mengkhianatinya.


Setelah melihat video yang berlatar di tangga darurat itu, Leon yakin bahwa Celia ada dibalik semua yang menimpa Aileen. Jika itu benar, maka tak ada ampun bagi wanita bernama Celia Moreane Sharla itu.


Sam mengambil ponselnya, lalu menekan tombol panggilan pada tantenya. Jujur, Sam merasa sangat terhina dan harga dirinya seperti hilang, didepan William, Cleo, Bram, Lusi dan Leon. Dia yang angkuh, selalu merasa bahwa dia berhasil dalam segala hal. Kini dikalahkan oleh seorang Xavier.


"Halo Tante Celia."


Loud speaker!


Gerak bibir Leon mengisyaratkan begitu pada Sam.


Pria itu menekan tombol loud speaker pada ponselnya, begitu panggilan itu terhubung pada Celia.


Rekam!


Berikutnya Leon memerintahkan kepada Sam untuk merekam pembicaraan mereka.


"Halo Sam, ada apa kamu menelpon Tante jam segini? Kamu ganggu aja deh...ahhh...uh...sayang diam dulu." suara Celia mendesah di seberang sana seperti sedang bicara dengan orang lain. Leon tersenyum menyeringai, ada rasa sakit di hatinya karena dikhianati seperti ini.


Cleo, William, Lusi dan Bram bungkam dalam keterkejutan mereka. Celia terdengar seperti sedang melakukan hubungan suami istri dengan seseorang.


"Tante...aku mau tanya sekali lagi sama Tante, apa Tante yang dorong Aileen sampai dia jatuh dari tangga?"


"Bukan Sam..."


"Jangan bohong Tan!" sergah Sam begitu dia melihat pandangan mata Leon yang tajam padanya.


"Daniel yang mendorongnya, tapi aku juga ikut andil didalamnya. Oh ya Sam, harus menolong Tante ya...kamu tau kan kalau ini juga adalah kesalahanmu? Kalau terjadi sesuatu pada anak ingusan itu, kamu juga turut andil!"


Mata Leon makin melebar menatap Sam.


"Kenapa Tante jadi bawa-bawa aku?"


"Kamu kan tau Aileen jatuh dari tangga, tapi kamu gak gerak cepat buat nolongin dia. Haha...tapi ya sudahlah, jangan bicarakan itu lagi...Tante sibuk Sam."

__ADS_1


Tut...Tut...


panggilan itu di putus oleh Celia begitu saja karena Celia sedang melakukan kegiatan sakral di ranjang panasnya bersama Daniel.


Leon menarik baju Sam, hingga tubuh tinggi Sam terangkat olehnya. Atensinya sangat tajam menusuk pada Sam, rahangnya mengeras mendengar semua percakapan itu.


"Jadi kamu juga sudah tau kalau Aileen jatuh dari tangga? Kamu-- bersekongkol dengan Tante kamu dan selingkuhannya itu?"


"Om...apa yang--"


Bugh!


Bogem mentah mendarat di pipi mulus Sam, hingga bibirnya sobek dan berdarah. "Om...Tante Celia asal bicara, saya benar-benar tidak tahu sebelum bahwa Aileen jatuh dari tangga!"


Leon menendang perut Sam, sampai pria itu terjengkang ke lantai. Bram dan William berusaha melerai Sam dan Leon. Ya, Sam memang tidak melawan. Tapi masalahnya disini adalah Leon yang berapi-api karena emosi dengan menghajar Sam habis-habisan.


"Ini rumah sakit, Yon! Tenangkan dirimu!"


"Brengsek! Kalian keponakan dan tante, sama-sama bajingan!" umpat Leon emosi.


"Maafkan saya Om, saya tidak bisa menjaga Aileen...tapi saya benar-benar tidak tahu akan terjadi hal seperti ini. Saya..."


Terlihat rasa bersalah di dalam raut wajah Sam, dia memang tidak tau apa-apa sebelumnya bahwa Celia dan Daniel akan mencelakai Aileen. Dia juga takut terjadi sesuatu pada Aileen karena ia juga sudah mulai tertarik pada gadis cantik imut itu.


CEKLET!


Pintu ruang operasi terbuka, otomatis dengan lampu operasi yang mati. Seorang dokter keluar dari sana, dia melepaskan maskernya. Bersamaan dengan itu, Luna juga keluar dengan tubuh sempoyongan. Dia langsung duduk di salah satu kursi disana.


Semua orang yang menunggu Aileen langsung beranjak dari tempat duduk mereka dan menghampiri dokter itu.


"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" tanya Leon dengan raut wajah cemas dan kening berkerut.


Dokter pria itu menghela nafas. "Operasinya berjalan lancar, namun..."


"Apa dok? Katakan yang jelas!" seru Leon tak sabar. Melihat raut wajah dokter yang terlihat kurang baik. Semua orang melihatnya dan menjadi cemas.


"Operasi berhasil dilakukan, tapi pasien mengalami koma."


Hati Leon bagaikan disambar petir, saat mendengarnya. Tubuhnya lemas, matanya menutup dan terbuka beberapa saat. "Koma? Putri saya koma, dok? Lalu kapan dia akan sadar!" teriak Leon pada dokter itu.


"Yon, tenang Yon!" Bram menepuk tangan Leon. Dia tau betapa perihnya hati Leon saat ini, sebagai sahabat tentu dia akan selalu mendukung dan menyemangati sahabatnya itu.

__ADS_1


"Saya tidak tau pak, bisa satu Minggu, satu bulan, satu tahun... atau bahkan lebih dari itu. Dan kemungkinan terburuknya adalah pasien meninggal."


"Hey! Jangan pernah katakan tentang kematian! Itu tidak akan terjadi! Tidak!" teriak Leon emosi. "Aileen akan baik-baik saja!"


Cleo menangis dipelukan William, dia juga sedih karena sahabat baiknya dinyatakan koma oleh dokter dan tidak tahu kapan akan siuman.


Aileen, maafkan aku. Sam mengusap wajahnya dengan kasar, tanpa sadar bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


Malam itu, setelah melihat Aileen di pindahkan ke ruang rawat VVIP dan tentunya dengan fasilitas terbaik di rumah sakit itu. Cleo meminta izin pada Leon, bahwa ia ingin menemani Aileen disana. Leon tidak melarangnya dan langsung menyetujuinya karena dia akan terlebih dahulu mengurus soal Celia.


Pada tengah malam itu, Leon datang ke apartemen yang ia berikan untuk Celia. Dia bisa membuka pintu dengan mudah karena dia tahu passwordnya. Celia sendiri sedang bersama dengan Daniel diatas ranjang. Mereka masih bergulat panas dan berbagi peluh.


Brak!


Pintu kamar Celia terbuka lebar, ditendang oleh Leon. Celia dan Daniel yang sedang berada dalam pergulatan panas pun akhirnya menghentikan kegiatan mereka. "Honey?" Celia langsung membungkus tubuhnya dengan selimut. Matanya melebar melihat Leon berada disana, mendobrak pintu kamar juga.


Kali ini dia sudah benar-benar tamat!


Leon menarik tubuh Daniel yang telanjang itu, dia menghajarnya tanpa ampun. Beberapa pukulan, tendangan di layangkan Leon pada tubuh Daniel. "Honey, hentikan! Honey..."


Wajah Daniel berdarah-darah, dia sudah tidak berdaya di lantai dengan kondisi memalukan. Celia segera mengambil pakaiannya dan memakainya asal. Celia berusaha menghentikan Leon menghajar Daniel.


Bisa-bisa Daniel mati disini!


"Leon hentikan! Leon!" Celia panik.


Dengan membabi buta, Leon menghajar Daniel tanpa memberikannya kesempatan untuk melawan. Leon sebenarnya ingin sekali menghajar Celia, tapi dia tidak menghajar wanita.


Kemudian Leon mengambil tas Celia dan mengacak-acak isinya. Dia mengambil ATM miliknya yang selama ini menjadi sumber cuan Celia untuk berfoya-foya. "Aku ambil ini! Dan untuk barang-barang yang aku berikan padamu, nanti aku akan suruh orang mengambilnya! Dan CELIA, kamu bisa tinggal di apartemen ini setelah aku mengajukan gugatan padaku dan selingkuhmu yang bangsat ini!" teriak Leon emosi.


"Leon...ini semua salah paham....aku..."


Gawat...Leon sudah tau.


Leon meminta Celia tutup mulut dengan gerakan tangannya. Wajahnya terlihat datar dan dingin, tidak lembut seperti biasanya pada Celia.


Tiba-tiba saja Leon mengeluarkan pistol dari balik saku jasnya dan membuat pasangan pezina itu terkejut bukan main. Leon menodongkan senjata api itu tepat di kening Daniel.


"Kau pilih mana? Penjara...atau pemakaman?"


Daniel gemetar dengan pertanyaan dari Leon padanya. Pria itu bersiap menarik pelatuknya sekarang juga.

__ADS_1


...****...


__ADS_2