Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 67. Tawaran Ericko


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Pria-pria bertubuh besar itu berdiri didepan gerbang mansion Arlando, mereka membungkukkan badan saat melihat kedatangan Aileen seperti sudah kenal dengan wanita itu.


"Selamat datang nona!"


Sam dan Aileen masuk bersamaan ke dalam mansion Arlando. Namun saat akan memasuki mansion lebih dalam, langkah Sam harus terhenti dengan paksa karena pria-pria bertubuh besar itu menghalangi jalannya, melarang Sam untuk masuk.


"Maaf tuan, tuan tidak bisa masuk!" tangan pria-pria itu menahan Sam di luar sana.


"Aku harus masuk bersamanya!" kata Sam tegas dan memaksa untuk masuk.


"Dia pergi dengan saya, biarkan dia masuk!" titah Aileen pada pria-pria itu. Namun mereka mengacuhkannya. "Hey! Kalian dengar tidak?" sungut gadis itu mulai marah karena diabaikan.


"Maaf nona, tapi tuan sesudah menunggu. Sebaiknya anda segera masuk," ucap Toni yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu rumah mewah itu. Toni menatap Aileen dengan tajam, gadis itu balas menatapnya tajam.


Dia tidak boleh takut demi Leon dan ia tak boleh selamanya menjadi anak yang manja dibelakang papa angkatnya itu.


"Ai...jangan masuk--" lirih Samuel pada Aileen, melarangnya masuk ke dalam sana.


"Kak, Kakak tunggu disini aja ya. Aku gak akan lama kok. Lagian, rumah ini adalah rumah keluargaku juga dan kakak gak usah takut." ucap Aileen seraya menenangkan Sam. Ia juga takut Sam akan terlibat jauh dengannya, atau bahkan sampai di lukai oleh belasan orang bertubuh besar, tinggi dan menyeramkan itu.


"Tapi Ai--" Sam menatap Aileen ragu.


"Tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu pada nona. Tuan tunggu disini saja," kata salah satu pengawal di mansion itu bicara dengan nada datar.


"Tidak apa kak!"


Toni memandu Aileen masuk ke dalam mansion mewah itu, dia melihat ke sekeliling mansion. Banyak sekali barang antik didalamnya, tapi Aileen akui bahwa memang kekayaan keluarga Arlando tidak bisa dianggap remeh.


Namun anehnya, Aileen merasa tidak nyaman saat masuk ke dalam sana. Aura dan suasananya membuatnya ingin pergi dari sana sekarang juga.


Papa...demi papa, aku harus berani! Batin Aileen menyemangati dirinya sendiri.


"Sudah sampai nona," kata Toni sambil membuka pintu sebuah ruangan dengan pintu berwarna hitam.


Aileen bahkan tak sadar bahwa ia sudah sampai di tempat tujuan. Tanpa bicara apapun pada Toni, Aileen masuk ke dalam ruangan itu. Dia mengedarkan pandangannya kesana kemari, mencari sosok kakek yang katanya jahat itu.

__ADS_1


"Kamu sudah datang cucuku?" sambut seorang pria tua dengan tongkat di tangannya. Aileen terperangah melihat sosok pria tua itu, terlihat tidak menyeramkan sama sekali baginya. Malah terlihat begitu biasa saja dan lemah.


Pria tua itu tersenyum padanya, menyambut Aileen dengan hangat. Bahkan tanpa terduga dia memberikan pelukan pada Aileen.


Apa dia kakakku? Papa bilang dia berbahaya, itu artinya dia berbahaya kan? Tapi kenapa dia terlihat lemah dan tidak berdaya?


"Kau sangat cantik, kau mewarisi banyak gen ayahmu. Apalagi mata biru mu itu," kata Ericko sambil mengusap wajah Aileen dengan lembut, namun gadis itu menolaknya.


Dia masih waspada dengan apa yang dilakukan oleh Ericko. Aileen masih ingat jelas bahwa Leon pernah ditembak oleh kakeknya. Tapi dia belum melihat langsung dimana kejam dan berbahayanya sosok kakeknya ini.


"Maaf pak, saya tidak akan banyak berbasa-basi. Saya kesini untuk meminta pada anda untuk mencabut tuntutan anda atas papa saya," jelas Aileen tegas dan tak mau terlihat lemah didepan Ericko.


Ericko tersenyum smirk dan membuat Aileen terkejut karena pria tua itu bisa menunjukkan raut wajah menyeramkan. Aileen meneguk salivanya sendiri, sumpah dia sangat tegang dengan tatapan Ericko padanya, bak elang yang akan menerkam mangsa.


Tatapan Ericko, menelisik Aileen dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Aileen semakin deg degan.


"Pak, saya sedang bertanya pada anda. Mohon jawab!" seru Aileen dengan suara meninggi.


"Kenapa kau begini pada kakekmu sendiri, hah? Kenapa kau sangat membela papa angkatmu itu? Dia itu jahat nak, dia sudah membunuh papa dan mamamu dan dia mengurusmu hanya untuk harta kekayaan saja!" Ericko berharap Aileen akan terpengaruh dengan ucapannya. Tapi pria tua itu salah besar.


Aileen tersenyum menyeringai. "Maaf pak, anda tidak tau apa-apa tentang papa saya. Memang benar, anda memiliki darah yang sama dengan saya, tapi saya lebih mengenal papa saya di bandingkan dengan mengenal anda. Jadi--jangan bicara apapun soal papa saya."


"Hahaha...ternyata kamu anak polos tapi tak bodoh. Kau mirip seperti ayahmu." Ericko tertawa, tawanya begitu menyeramkan untuk Aileen. "Baiklah, jadi katakan ada perlu apa cucuku datang kemari?"


"Saya mohon, cabut tuntutan anda untuk papa saya!"


"Maaf tidak bisa." jawabnya langsung mengena ke dalam hati Aileen. Penolakan itu sangat tajam, bahkan bicara tanpa dipikir dulu.


"Tapi--"


"Aku punya penawaran untukmu, kalau kamu mau membebaskan papamu itu."


Aileen tercekat karena Eriko memotong ucapannya. Dia menatap pria yang memiliki paras tak jauh beda dengan mendiang papanya.


Nah kan, pasti ini tidak gratis. Ya Tuhan, jadi benar kakekku bukan orang yang baik?


"Apa itu pak?" tanyanya.

__ADS_1


"Kemarilah cucuku, akan ku bisikkan sesuatu dan akan kutunjukkan sesuatu." kata Ericko pada cucunya itu dengan seringai di wajahnya.


Aileen mendekat dan menuruti Ericko, pria tua itu berbisik pada Aileen dan menunjukkan secarik kertas di depannya.


"APA? Aku tidak mau!"


"Semua yang terjadi pada Leonardo Xavier selanjutnya adalah salahmu, jika kau ingin dia menderita. Ya sudah, aku tidak akan memaksamu menerima tawaran dariku."


"I-itu..." Aileen menundukkan kepalanya dengan gelisah.


"Pikirkanlah baik-baik!" ujar Ericko pada Aileen. "Aku yakin kau tidak mau papa alias kekasihmu tercinta itu kehilangan segalanya, bukan? Kehilangan segalanya demi anak angkatnya." imbuh Ericko yang membuat Aileen dilema saat ini.


Dia meremass kertas yang entah apa isinya itu. Namun Ericko malah tersenyum puas melihat cucunya tertekan.


Dulu aku tidak bisa menekan papamu, sekarang aku akan menekanmu.


****


Kantor polisi daerah ibu kota.


Kini Leon berada di ruang besuk, dia bertemu dengan Bram untuk membicarakan masalah Ferdian yang menghilang tanpa jejak. Leon juga menanyakan keberadaan Aileen pada Bram.


"Tidak ada pilihan lain, kita terpaksa harus mencari pengacara yang lain, Yon." kata Bram sambil mengusap rambutnya dengan kasar. Ia kasihan pada Leon yang akan kehilangan segalanya dalam sekejap mata karena kasus ini. Bahkan perusahaan pun sudah mulai terkena dampaknya.


"Haaihhh...apakah akan sulit bagiku keluar dari sini karena bukti yang dimiliki si pak tua itu?"


"Jangan patah semangat, aku akan selalu membantumu."


"Aku percaya itu...tapi mana Aileen? Aku memintamu untuk membawanya kesini, dia pasti cemas padaku." ucap Leon, ia sudah tau pasti Aileen sangat mencemaskannya saat ini.


Pertanyaan Leon sontak saja membuat Bram menelan ludahnya dengan kasar. Leon menajamkan pandangannya pada Bram. "Bram, Aileen dimana?" tanya Leon tajam.


...****...


Spoiler 🀧🀧


"Maafkan aku pa, maafkan aku...aku melakukan semua ini demi papa. Aku tidak tega melihat papa kehilangan semuanya demi aku. Biarlah aku membalas budi baik papa selama ini yang telah membesarkanku." lirih Aileen seraya menatap pria berseragam tahanan yang kini tidur di lantai tanpa alas apapun. Wajah pria itu terlihat lebam-lebam dan memar.

__ADS_1


...****...


Hai Readers, mohon tunjukkan eksistensi kalian disini ya dengan komen 🀧 author merasa sepi nih...


__ADS_2