Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 79. Rencana pelarian


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Ericko masuk ke dalam kamarnya dengan emosi, ia merasa bahwa akhir-akhir ini Aileen menjadi pembangkang dan itu membuat ia sulit menggunakan Aileen sebagai alat.


"Sial! Kenapa wanita itu menjadi pembangkang?!" Ericko melampiaskan emosinya dengan melempar barang-barang yang ada di dalam kamarnya. "Dia juga sudah tidak terlalu berguna! Lebih baik aku menjualnya saja pada Mr. X dan dengan begitu aku akan mendapatkan uang dan koneksi besar? Mr. X dia kan sangat tergila-gila pada Aileen. Lalu soal penerusku, Alexander cicit ku bisa menjadi penerus. Aku akan mendidik dia agar menjadi seorang ketua mafia yang hebat." gumam Eriko memikirkan masa depan kelangsungan bisnis haramnya ini.


Ya, Eriko sudah mengambil keputusan bahwa dia akan membuang Aileen dan Alea. Lalu menjadikan Alexander, cicit laki-lakinya untuk menjadi penerus usahanya tersebut.


"Toni, kemarilah!" ujar Eriko pada Toni yang selalu berada tak jauh darinya.


Toni membuka pintu kamar Eriko lalu dia berjalan masuk menghampiri tuannya itu. "Ya tuan,"


"Bilang pada asisten Mr.X, malam ini aku akan menyerahkan Aileen padanya."


Toni mengangkat kepalanya dan menatap pria tua itu, mendengar titah dari Eriko tentang Aileen membuat Toni bertanya-tanya. "Tuan, apa boleh saya tahu, apa alasan tuan menyerahkan nona padanya? Bukankah nona masih berguna untuk kita?"


Selama ini aku selalu berusaha melindungi Aileen dan si kembar. Dan selama ini tuan Ericko selalu mendengarkanku. Tapi kenapa sekarang dia ingin menjual nona Aileen pada Mr.X?


Toni terlihat bingung, ia kasih pada Aileen yang akan dijual pada Mr. X, ketua mafia yang kejam dan hypersekss. Sudah banyak wanita yang ia gagahi dan berakhir dengan mati. Mereka disiksa terlebih dahulu dan jika Mr. X menyukai gadis itu, maka akan disiksa lebih lama.


Beberapa hari yang lalu Eriko membawa Aileen ke tempat pertemuannya dengan Mr X dan disanalah pria yang salah memakai topeng itu menunjukkan ketertarikannya pada Aileen. Tak peduli dengan status Aileen yang mempunyai anak dua atau sudah menikah sekalipun, yang diinginkan Mr X adalah kepuasan dan mengoleksinya. Namun saat itu Eriko menolak untuk menyerahkan Aileen, lalu mengapa sekarang pria tua itu berubah?


"Dia sudah tidak berguna lagi! Dia sudah berubah menjadi pembangkang. Pokoknya malam ini, dia harus pergi bersama Mr.X." kata Eriko tegas dan tidak mau ada bantahan.


Toni terdiam dan hanya bisa menelan ludah, ia bingung harus bagaimana caranya menolong Aileen?


Tiba-tiba saja ketika ia merenung dan melihat-lihat ponselnya, ia melihat berita tentang Leon yang berada di Italia.


****


Kamar si kembar adalah satu-satunya ruangan yang bernuansa cerah seperti kamar umumnya. Tidak seperti kamar lainnya yang suram dan minim pencahayaan. Kamar ini di dekorasi seperti anak-anak pada umumnya. Cerah, ceria, karena Aileen tidak mau anak-anaknya menjadi suram sama seperti kakeknya.

__ADS_1


"Mommy, ini pasti cakit ya?" tanya Alea sambil mengoleskan katembat yang diolesi obat merah pada ujungnya. Alea si gadis dengan pipi gembul itu mengobati sudut bibir Aileen yang terluka.


"Mommy tidak apa-apa sayang, tidak sakit sama sekali." Aileen membelai pipi putrinya dengan lembut. Dia tersenyum, namun Alea dan Alexander tau bahwa senyum mommy-nya menyimpan banyak kepalsuan.


"Kalau mommy sakit, bilang saja sakit mommy! Jangan bohong deh, kan mommy sendiri yang bilang untuk tidak berbohong." Alexander begitu peka dengan keadaan mommynya. Instingnya tajam seperti Leon, terkadang dia dingin, tapi dia lembut seperti Leon dan dia sayang pada mommynya itu.


"Mommy gak bohong, ini sama sekali gak sakit." Aileen menggelengkan kepalanya.


Yang sakit itu hati mommy nak, hati mommy. Sakit sekali rasanya, saat melihat Daddy kalian tapi mommy tidak bisa menemui Daddy kalian sekarang.


"Kalau gitu, ayo tampar Alex mom! Tampar Alex sampai Alex jatuh ke lantai kayak mommy tadi waktu ditampar sama kakek jahat." Alex menyodorkan pipinya, ia ingin merasakan apa yang dirasakan oleh mommynya. Dia tak sabar ingin segera besar agar bisa melindungi mommynya dan membawa mommynya pergi dari mansion kejam ini.


"Iya mommy, tampar Alea juga mommy. Biar Alea ngerasain gimana rasanya ditampar. Cakit apa enggak?" kata Alex dengan wajah polosnya.


Aileen meneteskan air matanya, ia pun memeluk kedua anaknya. Ia begitu terharu dengan kasih sayang kedua anaknya itu, yang menjadi kekuatan baginya selama ini. Kalau bukan karena ancaman Eriko yang akan mencelakakan kedua anaknya, dia pasti tidak akan menuruti permintaannya. Belum lagi setiap Aileen dan anaknya akan kabur dengan bantuan Toni, mereka selalu ketahuan oleh Eriko dan anak buahnya yang lain.


Bukan hanya satu atau dua pengawal yang tinggal disana. Tapi puluhan orang dan tak mungkin mudah dilawan meski Aileen sekarang sudah bisa bela diri.


"Mommy..." lirih Alexander yang mulai terhenyak dengan mommynya yang saat ini tengah menangis.


Aileen mengurai pelukannya kemudian dia mengambil sebuah keputusan besar. "Kalian tenang saja ya, malam ini...kita akan pergi dari sini. Kita akan bertemu Daddy kalian,"


"Benaran MOM? Kita ketemu sama DAD--"


Alexander yang peka langsung menutup mulut Alea dengan tangannya. "Ssstt....Alea, kamu jangan berisik nanti Kakek bisa dengar!"


"I-iya Alex, maaf." Alea menepis tangan Alexander yang menutup mulutnya tadi.


"Mommy, mommy benaran kan bakal bawa kita pergi dari sini? Ketemu sama Daddy?" tanya Alexander yang tak sabar bertemu dengan Daddynya. Selama ini Alexander khas dan menanyakan tentang papanya, tapi mamanya selalu menolak untuk membahasnya. Kini Aileen mengatakan bahwa ia akan mempertemukan mereka dengan papa mereka.


Terlihat senyuman yang mengembang di bibir Alea dan juga bibir Alexander, mereka senang saat Aileen membahas tentang Leon. Sosok papa yang selalu diceritakan olehnya sebagai sosok yang lemah lembut, tapi mereka tak tahu wajah papa mereka.

__ADS_1


"Iya, malam ini kalian harus bersiap-siap. Kita akan pergi keluar dari sini!" seru Aileen yakin


Aileen tidak bisa terus-terusan berada di mansion itu dan nyawanya dan juga nyawa kedua anaknya akan terus berada dalam bahaya. Ia harus keluar dari sana bersama dengan dua malaikat kecilnya, malam ini juga.


****


Malam pun tiba, Aileen, Toni dan Erina sudah melakukan serangkaian rencana pelarian untuk Aileen dan twins. Semoga saja kali ini tidak gagal lagi.


Sementara itu di lobi sebuah hotel mewah. Leon, Bram dan orang-orang yang masih sibuk mencari jejak keberadaan Aileen. Terutama alamat rumahnya, tapi tidak ada satupun yang tahu di mana mansion Arlando berada.


Benar kata teman-temannya yang berbisnis di jalur hitam, Eriko bukan orang yang sembarangan dan dia adalah orang yang menyeramkan.


"Belum ada kabar juga?" tanya Leon pada Bram sambil memijit kepalanya dengan gusar.


"Belum Yon." Bram menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah lama mereka mencari informasi kesana-kemari tapi tak ada yang tahu.


Lalu tiba-tiba saja ponsel Leon berbunyi, pria itu langsung membuka pesan masuk disana. Ia begitu kaget sampai terperanjat dari tempat duduknya.


"Ayo kita pergi Bram!"


"Ada apa Yon?"


"Aku tau dimana Aileen!" seru Leon berjalan terburu-buru keluar dari hotel itu. Ia tak sabar bertemu dengan Aileen dan ya dia belum tau bahwa ia mempunyai anak.


Bram mengikuti Leon dengan buru-buru juga. Bram masuk ke dalam mobil dan tancap gas menuju ke alamat yang dituju.


Aileen, aku datang sayang...aku akan menjemputmu. Aku datang.


...****...


Spoiler...

__ADS_1


"Kalian...kalian adalah anak-anakku?" lirih Leon dengan buliran air mata yang jatuh membasahi pipinya, begitu melihat Alea dan Alexander berada didepannya.


__ADS_2