Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 80. Tolong mommyku, tuan!


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Malam itu di mansion Arlando, Italia. Mansion yang jauh dari keramaian kota. Tempatnya sangat terpencil dan Eriko sengaja memilih tempat itu sebagai tempat untuk menyembunyikan Aileen dan juga kedua cicitnya.


Lampu rumah itu padam kala malam, memang selalu di matikan. Kesempatan ini Aileen gunakan untuk membawa kedua anaknya kabur, tanpa membawa apapun selain tubuh mereka dan baju yang mereka kenakan. Jika mereka membawa barang untuk kabur dari sana, hanya akan memperberat langkah saja.


"Mommy," bisik Alea saat menyadari bahwa Aileen sudah ada disampingnya. Alea sendiri sudah bersiap-siap untuk pergi dari sana. Disamping Aileen juga ada Erina yang ikut terlibat dalam proses pelarian itu. Erina kasihan pada Aileen dan juga kedua anaknya.


"Mommy, apa kita akan pergi sekarang?" tanya Alexander pada mommy-nya tak sabar.


"Iya sayang, kalian ikut aunty Erina dulu ya. Nanti mommy nyusul." kata Aileen pada kedua anaknya, ia harap bahwa pelariannya kali ini akan berhasil dan tidak gagal seperti sebelumnya.


"Mommy benelan nyusul kan? Mommy gak akan ninggalin kita?" tanya Alea seraya memegang tangan Aileen. Entah kenapa Alea ragu bahwa mommynya akan menyusul. "Mommy, Alea takut mommy di pukul kakek." cicitnya pelan.


"Gak akan! Mommy gak akan di pukul kakek, mommy kan mau pergi sama kalian."


"Promise?" tanya Alexander seraya menunjukkan jari kelingkingnya pada Aileen. Aileen tersenyum kemudian menautkan jari kelingkingnya pada jari kecil itu.


"Promise!"


"Janji, harus ditepati mom...mommy selalu bilang seperti itu padaku." kata Alexander tajam.


"Kau sungguh mirip daddymu," gumam Aileen seraya menatap putranya yang peka dan tajam itu.


"Mommy harus selamat, mommy harus menyusul, aku akan menjaga Alea." ucap Alexander dengan gayanya yang seperti orang dewasa. Ia menenteng tas gendong yang entah apa isinya.


"Iya sayang, sekarang pergilah bersama aunty Erina." Aileen memeluk kedua anaknya. Lalu ia melirik ke arah Erina. "Erina aku titip Alex dan Alea, ingatlah plan b bila plan a tidak berjalan baik."


Aku tidak masalah bila harus tertangkap, tapi kedua anakku tidak boleh terus-terusan berada di sini dan berada dalam bahaya. Aku harus mempertemukan mereka dengan mas Leon. Daddy mereka, yang selalu mereka rindukan selama ini.


Erina paham apa yang dimaksud oleh Aileen, ia pun pergi membawa si kembar. Sementara Aileen dan Toni masih disana untuk memastikan segalanya masih aman.


Alea membawa boneka beruang berwarna pink milik Aileen, boneka yang ada suara Leon disana. Boneka yang juga menjadi kesayangan Alea dan suara dari boneka itu selalu membuat Alea tenang.


Erina berhasil membawa Alea dan Alexander melalui jalan rahasia dengan merangkak. Para penjaga disana yang biasanya selalu terjaga, kini terlihat tidur pulas. Ya, itu karena Erina yang membubuhkan obat tidur pada para penjaga.


"Ayo tuan muda, nona muda...saya akan bantu turun!" Erina merentangkan kedua tangannya untuk membantu si kembar turun dari atas lubang rahasia.


"Aku bisa sendiri, aunty." kata Alexander jaim.


Sementara Erina membatu si kecil Alea dari atas sana. Erina pun menuntun mereka untuk pergi dari sana.


Mobil yang tak jauh dari sana sudah disiapkan untuk pelarian mereka, oleh Toni dan Aileen juga sudah menunggu disana.


"Nona, nona sudah berhasil keluar?" tanya Erina lega.


"Iya, ayo masuk! Cepat!" seru Aileen pada si kembar dan Erina. Namun ketika si kembar akan masuk ke dalam mobil, suara peluru yang kencang mengarah pada mobil itu membuat mereka semua terkejut.


DOR!


Sret!


Peluru itu menyabet tangan Aileen. "MOMMY!" teriak Alexander dan Alea terkejut melihat bahu Aileen yang terluka.


"Mommy tidak apa-apa, cepat masuk ke dalam mobil. Tuan Toni, Erina, tolong bawa mereka!" titah Aileen pada mereka semua.


Sudah kuduga ini terlalu mudah.


Alea, Alexander, Toni dan Erina terkejut manakala mereka semuanya terkepung oleh anak buah Ericko yang jumlahnya puluhan orang itu. Mereka mulai panik, kali ini rencananya gagal lagi.


"Beraninya kau berusaha kabur dariku anak bodoh? Apa kau pikir aku tolol?" tanya Ericko yang berjalan mendekati Aileen.


"Cukup! Aku mohon sudahi semua ini tuan Ericko yang terhormat! Lepaskan aku dan anak ANAKKU!" Aileen memudalkan kemarahannya pada Eriko.


"Kau sangat tidak tahu diri Aileen. Kau pikir kenapa aku mengurungmu disini? Kau sama seperti ayahmu yang bodoh itu?!" hardik Eriko seraya mengisyaratkan mata pada anak buahnya.


Masing-masing dari mereka menangkap, Toni, si kembar dan Erina. Menodongkan pistol pada mereka.


"Mommy!" teriak Alea ketakutan.


"Mommy kami tidak apa-apa mommy," kata Alexander yang berusaha menenangkan Aileen yang saat ini resah dan ketakutan.


Seandainya aku sudah besar, aku pasti bisa melindungi mommy.


"Lepaskan mereka, biarkan mereka pergi!" pinta Aileen dengan tubuh gemetar karena ketakutan akan terjadi apa-apa pada kedua anaknya dan juga Toni-Erina yang membantunya.

__ADS_1


DOR!


Timah panas menembus kaki Toni, hingga membuat pria paruh baya itu meringis kesakitan.


"ACK!" pekik Toni kesakitan.


"Uncle Toni!"


"Tuan Toni!"


"HENTIKAN ini Eriko! Dia adalah orang yang sudah bersamamu setelah sekian lama, kenapa kau tega melukainya?" Aileen tidak percaya bahwa Eriko akan melukai Toni, orang yang selama bertahun-tahun ini mengabdikan hidup padanya.


"Dia hanya seorang anj*ng yang tidak setia! Untuk apa aku membiarkannya hidup, bukan?" Ericko mengarahkan lagi pistolnya pada Toni.


Aileen tau ini adalah peringatan dari Eriko. Maka Aileen mengambil keputusan besar. "Rencana b." bibir Aileen bergerak menyuarakan kata itu pada Erina dan Toni.


Wanita itu mendekat ke arah Eriko yang sudah menunggunya. Dia menyerahkan dirinya, asalkan kedua anaknya bisa pergi dari neraka ini.


"Lakukan apa yang mau mau tapi jangan sakiti mereka!" seru Aileen menyerah dan membuat Eriko tersenyum menyeringai.


"Baik, aku akan menghukummu didepan anak-anakmu!" serka Eriko.


Kemudian pria tua itu memukuli Aileen dengan brutal sebagai hukuman karena wanita itu sudah membantahnya.


"Mommy! Tidak jangan sakiti Mommy, jangan..."


"MOMMY!"


Si kembar menangis dan meronta-ronta ingin mendekati mommy mereka, namun pria berbadan besar menahan mereka. Si kembar tak tega melihat mommy mereka terluka, begitu pula dengan Toni dan Erina, mereka tak berdaya untuk menolong Aileen di tengah kepungan orang-orang di sana. Mereka kalah jumlah.


Wajah Aileen berdarah-darah dan lebam. Ia menatap si kembar yang menangis, ia merasa bersalah karena sudah membuat mereka berdua menangis. Aileen tersenyum seraya menenangkan Alea dan Alexander, tapi mereka sama sekali tidak tenang karena senyum itu bohong.


"Mommy....hiks..mommy..." Alea menangis kencang, ya dia memang cengeng beda dengan kakaknya Alexander.


Tapi kali ini Alexander tidak bisa berpura-pura kuat, ia menangis melihat mommynya disakiti seperti itu. Alexander sungguh benci pada kakeknya.


"Kumohon, Jangan melakukan aku seperti ini di depan anak-anakku!" kata Aileen pada Eriko. Ia takut kekerasan yang dialaminya bisa membuat mental si kembar terganggu.


"DIAM!"


Eriko tidak punya hati, ia menendang dada Aileen sampai membuat wanita itu memuntahkan darah. "Uhuk...uhuk..."


"MOMMY!"


"Nona Aileen!" Toni dan Erina tidak berdaya, mereka ingin menolong Aileen tapi tak bisa.


Aileen terkapar diatas tanah dengan kedua mata yang masih terbuka. Ia pun mengisyaratkan pada Toni dan Erina untuk pergi dari sana bersama si kembar.


Tiba-tiba saja Aileen berdiri dan melepaskan pelatuknya pada beberapa anak buah Eriko, tentunya dengan tenaga yang tersisa.


DOR!


DOR!


DOR!


Erina dan Toni memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur bersama si kembar. Toni berjalan tergopoh-gopoh menuju ke jalan raya yang jaraknya lumayan jauh dari sana. Mereka berharap agar ada sebuah keajaiban mungkin seorang penolong untuk mereka.


Suara tembakan masih terdengar bersahutan di mansion Arlando. Pasti Aileen sedang berjuang di sana.


"Mommy...Alea mau sama mommy...hiks..." Alea terus menangis sampai sembuhkan dan memegang boneka beruang yang terciprat darah Toni tadi saat pria itu dtembak.


"Alea jangan nangis, mommy pasti nyusul kita! Mommy udah janji!" Alexander bersikap tidak seperti biasanya pada Alea. Biasanya Alexander selalu marah-marah bilang lihat adiknya menangis, tapi kali ini dia menenangkan adiknya itu.


"Benarkah Alex? Mommy bakal nyusulin kita? Mommy gak akan mati kan? Mommy pasti sama-sama kita kan?"


"Kamu jangan bicara sembarangan, Alea! Mommy sudah janji, pasti mommy akan menepati janjinya!" seru Alexander sambil menggenggam tangan Alea. Disamping mereka ada Toni dan juga Erina..


"Ya, mommy kalian pasti baik-baik saja." ucap Toni pada Alea walau ia sendiri tak yakin.


"Mommy harus kembali...mommy..." gumam Alea terisak.


Saat mereka sampai di jalanan yang luas, tiba-tiba saja sebuah timah panas mengarah tepat di punggung Toni dan membuat pria itu langsung terkapar.


"Tuan Toni!"

__ADS_1


"Uncle..." Alea dan Alexander menghentikan langkahnya saat melihat Toni terbaring lemah.


"Pergi...Erina...bawa mereka pergi! Cepat! Jangan biarkan pengorbanan nona menjadi sia-sia."


"Ta-tapi..."


"Cepat!" seru Toni dengan suara parau dan lemah.


"Uncle, uncle tidak boleh mati!" kata Alea yang sangat dekat dengan Toni selama di mansion itu.


"Saya tidak janji nona muda," jawab Toni sambil tersenyum.


Suara langkah kaki semakin mendekat ke arah mereka, Erina segera membawa si kembar berlari meski mereka sudah terlihat lelah. Tapi mereka memaksakan diri, mereka berharap mommynya dan Toni akan menyusulnya.


Saat berada ditengah jalan, ada sebuah mobil menunduk mereka. Mobil yang datang entah dari mana, ada 10 mobil disana dan semuanya warna hitam, kecuali mobil yang menabrak mereka bertiga. Warnanya merah.


Orang itu keluar dari mobil dan melihat seorang wanita juga dua anak disampingnya.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Leon pada kedua anak itu dan juga Erina.


"Tolong mommyku, tuan! Tolong mommy dan uncle Toni!" Alea memegang tangan Leon dengan cemas.


Bram dan Leon terkejut melihat kedua anak itu yang satu mirip Aileen dan satunya mirip dengan Leon. Walaupun dalam suasana gelap malam, tapi mereka bisa melihat kemiripan itu.


Apalagi Leon memiliki perasaan aneh ketika melihat kedua anak ini.


"Ka-kalian..." Leon menatap boneka beruang yang ada di tangan Alea, mengingatkannya pada kenangan masa lalu.


#Flashback


Beberapa tahun yang lalu...


Atas gedung hotel Samudra.


"Papa.... apa-apaan ini?" Aileen tercengang melihat semua dekorasi di sana. Seperti dekorasi pesta dengan banyak hiasan mawar merah.


Belum lagi ketika gadis itu berjalan, akan ada kelopak mawar merah menyertai langkahnya.


"Surprise sayang, i love you...Aileen." lirih Leon sambil menyerahkan bunga mawar merah untuk Aileen dan juga boneka beruang berwarna pink.


Aileen menggigit bibir bawahnya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia terharu dengan semua kejutan yang di persiapkan oleh Leon padanya. "Papa, aku sudah punya banyak boneka beruang."


"Yang ini berbeda, coba peganglah!" ujar Leon sambil menyodorkan boneka beruang berwarna pink dengan bentuk hati di tengahnya itu.


Aileen mengambil boneka itu lalu tak sengaja dia memijit bagian berbentuk hati ditengahnya.


🎢🎢🎢


"I love you Aileen cantik, i love you so much..."


Wajah Aileen tersipu malu setelah mendengar suara papanya yang imut imut di dalam boneka beruangnya. "Papa!"


"Kau suka?" tanya Leon dengan satu tangan menangkup pipi Aileen.


"Suka Pa! Suara papa imut imut..." gadis itu tak henti-hentinya tersenyum bahagia.


"So, apa jawabanmu Aileen? Apa kamu menerima cinta Papa?" tanya Leon dengan ekor mata yang melihat seseorang berdiri di depan pintu gedung lantai atas itu.


"I love you papa, i want you...i accept your feel, papa." lirih Aileen menerima perasaan Leon.


Kemudian tanpa aba-aba, Leon menarik tengkuk Aileen dan mencium bibirnya. Boneka beruang dan bunga yang tadi pegang Aileen sampai terjatuh karena ciuman yang tiba-tiba itu.


#End flashback


"Kalian...kalian adalah anak-anakku?" lirih Leon dengan buliran air mata yang jatuh membasahi pipinya, begitu melihat Alea dan Alexander berada didepannya. Leon yakin seratus persen mereka berdua adalah buah cintanya dan Aileen.


"Tolong selamatkan mommy!" kata Alexander dan Alea pada Leon.


...****...


Spoiler...


"Ai, ini aku sayang! Bertahanlah!"


"Kenapa aku harus bertemu denganmu dalam keadaan kacau begini, mas?"

__ADS_1


***


__ADS_2