
...πππ...
Tangan Leon sudah bersiap mengeksekusi Daniel dengan menarik pelatuk di pistolnya. Leon tidak main-main dengan ancamannya. "Apa salah saya?" tanya Daniel dengan suara yang gemetar.
"Salahmu adalah karena kamu menyakiti orang yang aku cintai!" Leon hendak menarik pelatuknya. Namun seseorang dengan cepat merebut pistol itu dari tangan Leon.
"Kau sudah gila, Yon!" sergah Bram langsung membantu Leon menyembunyikan pistol itu. Dia mencegah Leon untuk menjadi seorang pembunuh.
Tak lama kemudian, beberapa orang polisi datang ke apartemen itu. Mereka menangkap Celia dan juga Daniel. Polisi itu menertawakan Daniel karena dia masih telanjang bulat. Akhirnya karena tak tega, polisi itu mengizinkan Daniel memakai pakaiannya terlebih dahulu sebelum dibawa polisi.
"Honey...tolong aku! Kenapa aku ditangkap juga? Apa salahku honey?" tanya Celia memelas, kedua tangannya sudah diborgol oleh polisi.
"Salahmu? Apa harus aku sebutkan? Aku rasa biar polisi yang uang menjelaskannya padamu!" Serka Leon dengan wajah murkanya.
Celia dan Daniel pergi di seret oleh polisi dengan posisi memalukan. Beberapa orang di apartemen itu bahkan keluar dari apartemen mereka dan mulai berbisik-bisik tentang Celia dan Daniel.
Sementara itu Leon dan Bram baru saja akan keluar dari apartemen itu. Leon langsung mengunci apartemen rapat-rapat, Leon akan menjual apartemen menjijikkan yang telah menjadi saksi perselingkuhan Celia dan Daniel juga kenangan antara dirinya dan Celia.
"Kenapa kamu menghentikanku Bram?"
"Karena aku mencegahmu untuk menjadi pembunuh, seharusnya kamu berterima kasih padaku." ucap Bram pada Leon.
"Dia sudah membuat Aileen koma, aku tidak bisa membiarkannya hidup!" geram Leon dengan wajah menunduk dan mata penuh air mata namun air matanya belum jatuh.
"Kalau kamu di penjara karena membunuh orang, siapa yang akan mengurus Aileen? Jangan bodoh, Aileen tak punya siapapun lagi selain dirimu." Bram mengingatkan Leon untuk berpikir panjang sebelum bertingkah dan bersikap.
"Kau benar juga, Bram." Leon tersenyum kecut, lalu dia mengusap air di pipinya. "Aku harus pergi ke rumah sakit, Aileen pasti menungguku."
"Ya, benar. Tapi sebelum itu kamu harus makan dulu, kamu belum makan apapun dari tadi malam." kata Bram perhatian.
"Iya, aku harus sehat demi Aileen."
*****
3 hari berlalu...
__ADS_1
Aileen masih terbaring koma di rumah sakit, belum ada tanda-tanda gadis itu akan sadar. Setiap hari Cleo, Sam dan William selalu menjenguknya. Dan selama itu pula, Celia dan Daniel berada di balik jeruji besi. Namun mereka belum dijatuhi hukuman karena Aileen saksi kunci dan korbannya belum bangun dari komanya.
"Leon, biarkan aku yang menjaga Aileen. Kamu pulanglah dulu, setidaknya pergi mandi sana!" ujar Bram pada sahabatnya itu.
"Aku tidak akan membiarkan pria lain menjaga Aileen, termasuk dirimu." katanya posesif sambil mengusap lembut wajah Aileen dengan handuk basah. Setiap melihat wajah Aileen yang terbaring lemah, Leon selalu menahan tangisnya. Dia tidak sanggup bila Aileen terus seperti ini, dia merindukan Aileen. Gadis kecilnya yang selalu tersenyum dan menceritakan cerita padanya. Gadis yang selalu membuatnya bahagia.
Ditengah badai menerpa hatinya karena kehilangan sahabat dan kekasihnya 20 tahun lalu dalam sebuah kecelakaan pesawat. Leon merasa bahwa hidupnya akan suram setelah itu, namun kehadiran Aileen membuat hari-hari Leon menjadi berwarna.
"Ai...papa mohon kembalilah pada Papa. Apa artinya bila Papa hidup tanpamu? Selama ini Papa bertahan karena dirimu.... kembalilah sayang. Kembalilah secepatnya, Papa merindukanmu. Sudah cukup kamu menghukum Papa, sudah cukup! Papa ingin mengatakan banyak hal padamu, jadi cepatlah sadar sayang." lirih Leon seraya membelai rambut panjang Aileen yang tergerai.
Beberapa hari ini Leon seperti mayat hidup, bagai tubuh tanpa jiwa. Ia bahkan kita fokus dalam mengerjakan pekerjaan di kantornya dan akhirnya dia pun mengerjakan pekerjaan di rumah sakit sambil menemani Aileen. Tak jarang dia melewatkan waktu makan bila tidak diingatkan oleh sahabatnya itu.
Bram menghela nafas melihat temannya begitu, lalu ia menyuruh Leon untuk pergi dan pulang dulu ke rumah. Dia dan Lusi akan menjaga Aileen di rumah sakit. Dengan terpaksa dan berat hati, Leon meninggalkan rumah sakit.
"Aku titip Aileen ya, Bram... Lusi."
"Kamu tenang aja Yon." sahut Bram dan Lusi pada Leon. Mereka merasa kasihan pada Leon yang setiap malam begadang, menunggu Aileen sadar.
Cup!
Pria itu pun pergi meninggalkan ruang rawat Aileen, saat berjalan di lorong dia berpapasan dengan Luna yang berjalan sambil menenteng tas tangannya.
Luna tersenyum manis dan menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, seolah sedang tebar pesona. Jangan lupakan pakaiannya yang terbuka saat ini, menunjukkan bahwa dirinya ingin menggoda seseorang.
Kenapa akhir-akhir ini dia sering datang ke rumah sakit? Bukankah perjanjian diantara kita sudah selesai?
Leon mengerutkan keningnya begitu menyadari bahwa Luna menuju ke kamar Aileen. "Selamat sore pak Leon."
"Sore, maaf nona Luna...apa anda mau menjenguk Aileen lagi?" tebak Leon dengan datarnya. Selama tiga hari ini Luna selalu muncul di rumah sakit dengan alasan menjenguk Aileen.
"Iya, saya ingin melihat kondisinya..."
"Saya rasa itu tidak perlu dan anda tak perlu datang lagi kesini. Anda tidak mempunyai kepentingan lagi di sini,"
"Tapi saya hanya berniat baik." ucap Luna memelas.
__ADS_1
"Niat baik anda tidak diterima, nona Luna." kata Leon sinis, mengusir Luna.
"Tapi..."
"Pergi!" usir Leon tegas.
Luna geram karena Leon mengusirnya, padahal dia ingin melakukan pendekatan dengan pria itu karena ia tahu bahwa Leon tak ada yang memiliki. Ia juga datang dan mendekati Aileen untuk meraih hati Leon, tapi pria itu begitu dingin padanya.
Ah sial!
Leon dan Luna pun pergi bersama ke depan rumah sakit. Luna meminta Leon untuk mengantarkannya pulang, namun Leon menolak mentah-mentah dan meminta Luna untuk pulang sendiri. Luna semakin kesal karena ulahnya.
Sore itu, Leon pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah besar itu, Leon langsung masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan diri. Beberapa menit berada di dalam kamar mandi, Leon mengganti bajunya dan bersiap untuk makan.
Ketika ia turun ke lantai bawah, ia melihat Ratna sedang menangis sambil melihat foto Aileen yang berusia sekitar 5 tahunan, foto itu terpajang di nakas meja ruang tengah.
"Non...bibi kangen sama non, non cepet sembuh ya...nanti bibi buatin makanan enak buat non, makanan kesukaan non." gumam Ratna sedih, bagaimanapun juga dia telah mengasuh Aileen sedari kecil dan Aileen sudah seperti putrinya sendiri.
Bahkan bi Ratna juga merindukanmu sayang. Cepatlah kembali. Leon menatap Ratna dengan sedih, kesedihan Ratna sama dengan kesedihannya saat ini.
"Bik...." panggil Leon seraya tersenyum lembut pada Ratna.
"Eh...tuan besar?" Ratna buru-buru menyeka air matanya. "Tuan mau makan ya? Saya siapkan dulu ya tuan." ucap Ratna terisak.
"Makasih ya bi, bibi gak usah cemas... Aileen pasti akan segera siuman bi."
"Iya tuan, saya harap begitu." Ratna tersenyum, lalu dia pergi ke dapur dan mengambilkan makanan untuk Leon.
Suasana rumah itu hening karena Aileen di rumah sakit. Leon makan sendirian disana, walau tak nafsu makan, dia tetap memaksakan senyumannya.
Sementara itu di rumah sakit...
Cleo dan Lusi sedang menjaga Aileen, tanpa sengaja atensi Cleo tercuri manakala melihat jari-jari Aileen bergerak. "Tante Lusi! Tangan Aileen...bergerak."
"Apa? Tante akan panggil dokter!" ucap Lusi lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu untuk memanggil dokter.
__ADS_1
...****...