Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 41. Memutuskan berpisah


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Sahara menatap Putranya dengan mata berkaca-kaca, dia pun menjatuhkan tubuhnya didalam pelukan Sam.


Sam menatap nyalang pada papanya dan tantenya itu. Menyesal, Sam pernah membantu Celia untuk mendapatkan Leon. Dia tak menyangka bahwa Celia adalah wanita jallang.


"Papa benar-benar keterlaluan! Berani papa pukul mama? Pukul cewek?" Sam mendelik sinis kemudian dia melayangkan tinju ke wajah papanya, hingga Ferdinand terjengkang jatuh ke atas ranjang bersama Celia.


"KAMU! Beraninya kamu memukul papamu! Dasar anak tidak tau diri, kurang AJAR!" Ferdinand tidak terima mendapatkan perlakuan seperti ini dari putranya. Rasanya harga diri menjadi runtuh seketika dihadapan dua wanita yang ada disana.


Ferdinand balas memukul Sam, hingga akhirnya adu bogem mentah terjadi disana antara ayah dan anak itu. "Sudah kuduga Papa memang brengsek! Bahkan adik ipar sendiri pun ditiduri, cuihhh!!"


Sam meludah dengan kasar ke lantai, ludahnya bercampur dengan darah.


"KAMU--memangnya kamu pikir kamu orang suci, hah? Kamu juga sama saja dengan Papa, yang suka main dengan wanita, jangan sok suci kamu SAM!"


Sahara syok mendengar pengakuan suaminya, bahwa dia suka bermain wanita. Padahal selama ini Sahara pikir suaminya adalah pria suci yang selalu menjadi tempatnya pulang dan bersandar. Tentunya setia! Tapi tidak dengan hari ini, image setia itu menghilang dari dirinya untuk sang suami.


Sahara menangis, dia tak menyangka.


"Aku kan meniru Papa! Papa juga suka bermain dengan wanita. Jangan lupakan alasan aku keluar dari rumah ini karena papa pernah bermain dengan salah satu wanitaku!" Sam tersenyum brengsek, namun matanya menyiratkan kesedihan dan sakit hati.


"Dasar anak sialan!" Ferdinand kembali memukuli Sam.


Sahara berusaha menahan rasa sedihnya, akhirnya dia pergi ke lantai bawah dan memanggil satpam. Satpam rumah itu pun membantu Sahara mengusir suaminya dan adiknya.


"Ma...kenapa papa diusir juga? Ini juga rumah Papa, Ma!" rengek Ferdinand pada istrinya.


"Apa papa amnesia? Perlu aku ingatkan sama kamu? Kalau rumah ini sudah atas namaku, rumahmu itu bersama wanita jallang ini." sindir Sahara sakit hati. Matanya begitu tajam menatap Celia dan suaminya.


Sedangkan Sam hanya diam, dia setuju saja papanya diusir. Memang dari dulu Sam tak suka pada papanya. Sahara awalnya tak tahu alasan Sam begitu membenci papanya. Tapi kini ia paham alasannya. Sam sering bertengkar dengan papanya karena Sam pernah melihat Ferdinand melakukan oral sexx bersama sekretarisnya di kantor. Sejak saat itu Sam tidak memiliki hubungan baik dengan papanya.


"SAHARA! Aku mohon jangan lakukan ini, aku adalah suamimu. Apa kata orang nanti kalau sampai mereka tau bahwa suami dari anggota dewan mengusir suaminya?" Ferdinand memohon pada istrinya untuk tidak mengusirnya.


"Heh! Aku tidak peduli, masalah itu jadi urusanku, kamu tidak perlu repot-repot. Pikirkan saja bagaimana urusanmu dengan Celia setelah ini! Kalian mau menikah atau bagaimana, terserah."


Ferdinand dan Celia menatap Sahara dengan kaget. Apa yang dimaksud oleh wanita itu.


"Mbak...apa maksud mbak?"


"Celia, dengar! Mulai hari ini kamu tidak punya saudara yang bernama SAHARA lagi. Sahara sudah mati, paham?" lirik Sahara berusaha menguatkan hatinya didepan Celia dan luka yang ditorehkan oleh adik kandungnya itu. "Lalu kamu Ferdinand Ginting! Setelah ini mari kita bertemu di pengadilan." ucap Sahara sinis


"Ma...apa maksud mama?"


"Kamu mencintai adikku, bukan? Jadi kita cerai saja pah karena tak mungkin aku mau berbagi cinta! Apalagi satu ranjang bersama kalian BERDUA!" emosi Sahara kembali memuncak.Rasanya berat mengatakan perpisahan pada suaminya, namun lebih berat lagi mempertahankan seseorang yang tidak akan pernah bisa setia padanya.


Berulang kali, Sahara mendengar bahwa suaminya sering jalan bersama wanita lain. Tapi Sahara menolak untuk percaya semua itu. Namun sekarang bukti sudah didepan mata.


Orang marah mungkin masih bisa kembali, tapi orang kecewa tidak akan pernah bisa kembali lagi. Mungkin pepatah itu yang cocok untuk Sahara.

__ADS_1


Setelah itu Ferdinand dan Celia pergi dari rumah itu dengan menaiki mobil Ferdinan. Celia terus gelisah dan tidak bicara sepatah katapun.


"Sayang, tenang saja...kita akan selalu bersama-sama." ucap Ferdinand pada Celia dengan lembut.


"Tapi mbak Sahara, dia tidak menganggapku sebagai adiknya lagi Mas...gimana ini?" Celia memelas, sebenarnya dia tidak masalah jika Sahara memutuskan tali persaudaraan mereka. Tapi dia takut Ferdinand tidak akan menjamin kehidupannya lagi.


"Kamu tenang saja, Sahara adalah wanita yang lembut. Nanti juga dia akan luluh, dia kan sangat sayang padamu Cel."


"Iya Mas, tapi bagaimana dengan nasibku mas? Sekarang aku tidak punya apa-apa."


"Jangan pernah mengatakan bahwa kamu tak punya apa-apa, kamu masih punya aku. Dan aku akan menanggung semua biaya hidup kamu, aku juga masih punya apartemen yang bisa kamu tinggali."


Yes! Ternyata hidupku masih bisa terjamin, kalau gitu aku harus memanfaatkan semua ini.


Celia menatap Ferdinand dengan mata berkaca-kaca. "Makasih ya Mas, aku tidak tahu akan bagaimana hidupku tanpa mas."


"Tidak apa-apa sayang, everything for you." Ferdinand tersenyum.


Ya, tersenyumlah dan aku masih akan berada disampingmu untuk saat ini. Tapi nanti, entahlah.


Diam-diam Celia tersenyum menyeringai. Ya, untuk saat ini dia masih bersama Ferdinand entahlah nanti jika pria itu sudah tak punya apa-apa. Pasti Celia akan meninggalkannya.


####


Setelah keributan yang terjadi, Sahara dan Sam masuk ke dalam rumah dengan perasaan marah, bercampur sedih dan kecewa. Sahara menjatuhkan tubuhnya diatas sofa sambil memegang dada.


"Sam...mama paham sekarang kenapa kamu selalu bersikap seperti itu pada Papa kamu. Ternyata kamu sudah tau kalau Papa mu suka main wanita?" terdengar suara Sahara yang kecewa, kecewa karena ia baru tau semuanya.


"Dasar anak bodoh! Mama malah sedih kalau kamu gak cerita. Mama jadi salah paham sama kamu karena kamu pergi dari rumah begitu saja dan mengibarkan bendera permusuhan kepada papa kamu sendiri." Sahara sekarang paham mengapa Sam suka bermain wanita, ya itu karena ia meniru papanya.


Bahkan ternyata semua wanita yang dipermainkan dan 'di pakai' oleh Sam adalah wanita bekas papanya.


Sebenarnya Sam anak baik, hanya saja dia salah jalan. Tapi Sam berjanji bahwa setelah ini dia tidak akan bermain wanita lagi.


"Ma...Sam janji, setelah ini saya tidak akan bermain-main lagi dengan wanita dan akan serius dengan satu wanita saja. Sam tidak mau seperti papa, Sam sadar Sam salah selama ini." ucap Sam pada mamanya bersungguh-sungguh. Dan saat dia memutuskan untuk tidak bermain wanita lagi, tiba-tiba saja terlintas di kepalanya bayangan Aileen.


"Iya sayang, setialah pada satu wanita dan jangan sakiti wanita." Sahara memeluk Sam penuh kasih sayang. Wanita paruh baya itu meminta agar Sam kembali tinggal di rumahnya.


Sahara juga sudah mantap berpisah dengan Ferdinand. Sahara memang tipe wanita yang lembut, namun selalu tegas tiap mengambil keputusan.


****


Keesokan harinya, Aileen bangun pagi. Dia sudah pergi ke kamar mandi dan juga bersiap memakai pakaiannya. Hari ini dia akan kembali bekerja ke kantor.


"Aku pakai baju warna apa ya? Hem...Hem..."


Aileen masih mengenakan handuk yang hanya menutupi bagian dada dan pahanya. Handuk itu panjangnya diatas lutut sedikit. Gadis itu terlihat bingung memilih pakaian apa yang akan ia pakai ke kantor. Biasanya ia tak ambil pusing dengan pakaian yang akan dipakai olehnya. Namun kali ini harus spesial, ia ingin terlihat menarik di mata papanya.


"Papa kan suka cewek yang pakai baju kalem, dulu Papa selalu memujiku saat aku memakai baju dengan warna dusty. Ah aku pakai warna ini sa---"

__ADS_1


CEKLET!


Belum sempat Aileen menyelesaikan kata-katanya, pintu kamarnya sudah terbuka.


"Ai, apa kamu sudah bang--" Leon tercengang manakala ia melihat penampilan Aileen yang hanya memakai handuk dan sudah jelas menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah.


"Ah...ma-maaf, papa tidak tahu kalau kamu Lo lagi mau pakai baju." sontak saja Leon memalingkan wajahnya, tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Dalam hati Aileen merasa bahagia karena sekarang Leon terlihat gugup saat berada di dekatnya. Padahal sebelumnya Leon terlihat biasa saja, kini pria itu telah menunjukkan sikap yang berbeda. Dan Aileen merasa bangga, telah berhasil membuat cintanya terbalas.


"Gak apa-apa Pa, ini salah Aileen... Aileen gak kunci pintu." gadis itu menarik anak rambutnya ke belakang telinga. Gerakan tubuhnya saat ini seakan sedang menggoda pria itu.


Berkali-kali Leon meneguk salivanya. Pagi-pagi dia sudah disuguhkan dengan pemandangan indah, surga duniawi melihat bidadari cantik yaitu Aileen.


Leon tak berani mendekati Aileen, dia takut jiwa muda didalam dirinya semakin menjadi-jadi saat berdekatan dengan Aileen. Takut tak bisa mengendalikan diri.


"Papa pikir kamu belum bangun, ternyata kamu sudah mandi dan ganti baju..."


Godain Papa ah. Aileen berjalan centil, mendekati Leon.


"Ka-kamu mau apa Ai?"


"Pa...tunggu sebentar."


"Papa harus...itu...memasak..."


Aduh Ai! Kenapa kamu suka banget bikin Papa turn on sih? Papa maunya udah halal sama kamu. Dan sampai ingatan kamu kembali.


Leon merasakan sesuatu di dalam celana katunnya meronta-ronta minta dikeluarkan.


"Bentar doang pa." Aileen memegang tangan papanya. Dia tersenyum tipis, lalu membantu Leon mengancingkan kancing kemejanya yang belum terpasang.


Astaga...apa yang aku pikirkan? Aileen hanya membantuku untuk mengancingkan baju.


Leon salah tingkah dan semakin dibuat berdebar oleh Aileen. "Sudah Pa."


"Ya udah papa, pergi dulu ya." ucap Leon gelagapan dengan mata memutar kesana-kemari pa.


Tangan Aileen menarik dasi Leon dan membuat pria itu kembali mendekat padanya."Tunggu Papa!"


"A-apa?"


Muach!


Aileen berjinjit lalu mencium pipi Leon dengan manisnya. "Morning Papa." ucapnya lalu tersenyum.


Gila! Manis banget, oh jantungku... Aileen kamu pandai membuatku berdebar. Dasar gadis kecil.


Tanpa bicara, Leon pun pergi dari sana dengan wajah bersemu merah. "Aku harus mandi lagi...gawat..." gumam Leon salah tingkah.

__ADS_1


Aileen terkekeh melihat papanya malu-malu karena dirinya. Jarang sekali dia melihat Leon tersipu. "Papa...papa, lihat aja...aku bakal ngerjain Papa. Aku akan balas dendam karena perasaanku yang waktu itu tak terbalas...haha." gadis itu tertawa.


...****...


__ADS_2