
...πππ...
"Kamu kan selalu bilang padaku, kalau cinta itu tak memandang kepada siapa kita akan jatuh cinta. Seperti apa dia, usianya berapa, atau jatuh cinta pada orang seperti apa."
"Ya itu benar, Ai." sahut Cleo membenarkan ucapannya sendiri tempo hari pada Aileen tentang cinta. Meski ia sendiri tak yakin ia mencintai kekasihnya.
"Lalu apa cintaku pada Papa ini salah, Cleo?" tanya Aileen seraya menatap pada Cleo dengan sendu.
"Tidak! Cinta tidak pernah salah dan cinta pernah tau kemana hati kita akan akan berlabuh. Maafkan aku Ai, tadi sempat marah padamu...aku hanya syok dan tidak menyangka saja bahwa kamu akan jatuh cinta pada Papamu." tutur Cleo menjelaskan tentang sikapnya yang tadi sempat emosi pada Aileen.
"Ya, tidak apa-apa...aku paham, hanya saja...hiks... Papa selalu menolakku, papa sangat mencintai nenek sihir itu." Aileen memeluk Cleo seolah pelukan itu adalah pelukan ibunya. Cleo menepuk-nepuk punggung Aileen dan berusaha menenangkannya. "So, kamu mau gimana? Beneran mau balik ke Singapore?"
"Iya, setelah magangku selesai di kantor papa. Mungkin Minggu ini, aku bakal balik ke Singapore dan kerja disana, mungkin aku akan menetap disana." ucap Aileen yakin dengan keputusannya.
__ADS_1
Saat sedang menenangkan dirinya, tiba-tiba saja terdengar ponsel Aileen berdering. Dia pikir Leon yang menghubunginya tapi dugaannya salah. "Om Bram?"
Aileen langsung mengangkat telpon dari orang kepercayaan ayahnya itu. "Halo om,"
"Halo Aileen, kamu ada dimana sih?" tanya Bram terburu-buru.
"Aku nginep di rumah teman om, emangnya kenapa?" tanya Aileen heran, tak biasanya Bram menelpon dirinya.
"Papa kamu nanyain kamu, dia mabuk berat...tolong kamu kesini ya. Kalau kamu gak kesini mungkin Papa kamu bakalan nyakitin dirinya sendiri." jelas Bram dari balik sambungan telepon.
"Iya Ai, om udah suruh Frans jemput kamu ke apartemen Cleo. Kamu siap-siap pulang ya, cuma kamu yang bisa menenangkan papa kamu yang keras kepala ini!" kata Bram seperti risih dengan sesuatu. Ya, dia risih dengan Leon yang terus meracau dan mengacak acak barang di rumahnya.
Tanpa persetujuan kedua belah pihak, Aileen mematikan sambungan teleponnya lebih dulu. Kemudian dia memakai jaket sweaternya dan bersiap untuk pergi keluar dari apartemen Cleo. "Kamu yakin mau pergi? Bukannya kamu bilang kamu mau nyerah?" tanya Cleo cemas.
__ADS_1
"Nyerah bukan berarti gak peduli...aku tetap peduli sama Papa, terlepas dari rasa cintaku padanya. Papa adalah orang yang mengurusku sejak kecil, Cle."
"Oke baiklah, hati-hati.Ai." Cleo tak bisa berbuat apapun selain mendukung Aileen. Tapi dia juga tau konsekuensi apabila sahabatnya itu bernama dengan Papanya. Akan banyak kontroversi dan pendapat orang juga di pertanyakan nantinya.
Aileen pun kembali pulang bersama Frans, gadis itu sangat mencemaskan keadaan Leon. Tak pernah Leon mabuk seperti ini, ia takut Alkohol akan menganggap kesehatan Leon. Bahkan ia meminta Frans untuk ngebut ke rumah agar cepat sampai.
Beberapa menit kemudian, Aileen sampai di rumahnya dan melihat ada mobil berwarna merah muda terparkir disana. Dia sempat meliriknya dan berfikir mobil siapa itu. Namun ia tak mengindahkannya, lebih penting papanya dulu untuk sekarang.
Aileen berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar papanya. Dia melihat pintu kamar Papanya yang terbuka lebar. Dengan hati cemas dan berdebar, dia melangkah masuk ke dalam kamar itu. Akan tetapi langkahnya terhenti saat melihat dan mendengar hal yang tak seharusnya ia dengar.
"Akhh...Honey hentikan, kau mabuk honey... Aakhh..." suara dessahan seorang wanita begitu menyakiti hati Aileen.
Air matanya pun luruh saat melihat Celia berada di atas tubuh papanya dan Leon dengan posisi baju Celia yang sudah melorot memperlihatkan aset kembarnya.
__ADS_1
...****...