Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 18. Apa aku harus berhenti?


__ADS_3

Kepercayaan diri Leon, sikap tegasnya dan tidak ragu-ragu yang selalu dia tunjukkan mendadak hilang ketika Aileen menanyakan pertanyaan yang membuatnya bungkam.


Pria itu diam seribu bahasa, terlebih lagi saya melihat tatapan Aileen padanya saat ini. Tatapan yang begitu dalam, retoris dan anehnya membuat Leon berdebar.


Apa yang terjadi? Mengapa aku berdebar seperti ini? Cemburu? Aku cemburu?


"Pa...ayolah jujur, Papa cemburu kan aku dekat dengan kak Sam?" tanya Aileen lagi dengan percaya diri bahwa kali ini Leon akan menjawab ya.


"Ya, Papa cemburu."


Seketika mata Aileen tercekat mendengar kata ya yang selama ini dia tunggu-tunggu. Apakah ini adalah jawaban dari perasaan cintanya pada sang papa angkat?


Aileen tersenyum lalu dia berkata. "Akhirnya Papa mengakuinya juga kalau Papa cemburu, aku tau kalau Papa juga mencintaiku!" gadis itu memeluk Leon dengan bahagia.


Namun kebahagiaan itu kembali lenyap manakala Leon mendorong Aileen sampai pelukan itu terlepas. "Kamu sepertinya salah paham. Cemburu tidak selalu identik dengan rasa cinta seperti itu, sayang. Papa cemburu bukan karena cinta seperti apa yang kamu maksud, tapi karena kamu tidak meluangkan waktu untuk Papa lagi sejak kamu bersama pria itu."

__ADS_1


Bahagia itu kembali luruh, wajah Aileen kembali suram. Bahkan sampai akhir pun Leon tak mau mengakui perasaannya, atau memang Leon tak ada rasanya padanya. Aileen kecewa, sedih dan marah.


"Papa kan sudah bilang kalau papa tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu sama kamu Ai. Papa sudah tegaskan sama kamu, kalau wanita yang Papa cintai hanya Celia...oke memang Papa juga sayang sama kamu, tapi bukan sayang seperti itu. Paham?"


Perlahan-lahan Aileen menjauh dari Leon, matanya berkaca-kaca. Lagi-lagi Leon menyakiti hatinya menepis semua harapan itu. "Papa ini... memang suka membuat aku melayang tinggi lalu menghempaskanku sampai ke dasar," gumam Aileen kecewa.


"Ai...tolong pahami Papa, Papa marah seperti ini karena Papa tidak mau kamu terjerumus hal yang tidak tidak! Sam, mungkin bukan pria yang cocok untukmu." Leon memegang tangan Aileen dengan lembut.


"Apa yang cocok untukku tidak bisa Papa putuskan, ini hidupku Pa! Jadi Papa jangan peduli... pedulikan saja tunangan papa itu." kata Aileen ketus, lalu menepis tangan Leon dengan kasar.


"Ai... Papa sayang padamu, Papa tidak hanya menyayangi Celia saja! Kamu anak Papa, kamu juga penting untuk Papa!" seru Leon.


Aileen tidak bicara, gadis itu pergi meninggalkan Leon disana dan menangis sedih. Dia tidak peduli pada Leon yang memanggilnya.


Apa memang aku harus berhenti mengejar Papa? Apa papa memang tidak ada rasa padaku? Pa...hatiku sakit...sakit sekali... Papa menolakku lagi dan lagi. Aileen memegang dadanya yang terasa sesak dan hati yang berkecamuk.

__ADS_1


"Ai! Papa belum selesai bicara! Aileen! Kenapa kamu jadi pembangkang seperti ini? Ah...f*ck!" Leon yang emosi, langsung membanting barang-barang di atas meja dengan kasar.


Prang!


Vas bunga yang berada di atas meja itu pun pecah karena emosinya. Aileen yang mendengar itu cuek saja dan masuk ke dalam kamarnya. Belum pernah Aileen mendengar papanya semarah ini, Papanya yang selalu lemah lembut kini menunjukkan sisi lain dari dirinya.


"Sial! Sial!" tak hentinya pria itu mengumpat karena emosi dengan sikap Aileen akhir-akhir ini yang selalu membangkang. Di kepalanya terngiang-ngiang adegan Aileen dan Sam yang berpelukan dan berciuman didepan rumah. "AILEEN! Aku bisa gila...GILA!"


Tatapan Leon masih begitu marah, dia pun mengambil kunci mobil diatas meja. Dia memutuskan untuk keluar dari rumahnya dan entah mau kemana.


Aileen melihat dari jendela kamarnya di lantai atas bahwa mobil papanya keluar dari rumah itu. "Hiks...Papa...papa jahat..."


...****...


...****...

__ADS_1


__ADS_2