Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 78. 5 tahun kemudian


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Ericko terkejut mengetahui cucunya tengah berbadan dua. Entah dia harus senang atau bagaimana setelah mengetahui semua ini.


Setelah dokter itu meresepkan obat dan vitamin untuk Aileen. Dokter bernama Maysa itu berpamitan pergi pada Ericko. Dia juga berpesan agar Aileen menjaga kesehatannya dengan baik dan tidak boleh stress.


Tak berselang lama, Aileen membuka matanya. Ia melihat sosok yang memuakkan baginya, yaitu Ericko.


"Tenanglah, kata dokter kau tidak boleh stress. Akan berdampak buruk pada bayimu bila kau stress."


Aileen tercekat dan mendongakkan kepalanya pada Eriko. Bayimu? Apa maksud dari kata itu?


"Bayi? Apa maksud anda tuan Ericko?" tanya Aileen sambil memegang tangannya yang masih terasa sakit bekas tembakan tadi. Wajahnya terlihat pucat pasi.


"Kau hamil, ada bayi di perutmu. Apa dia adalah anak dari papa angkatmu itu?" tanya Ericko seraya menatap perut Aileen yang masih datar itu. Tersungging senyum misterius di bibirnya. Sekilas, Aileen merasakan bahwa pria tua Bangka itu senang dengan kehamilannya tapi disisi lain, mungkin pria tua itu tengah merencanakan sesuatu yang jahat.


Aileen tau benar bahwa Ericko adalah pria tua penuh tipu muslihat. Bisa-bisa ia mencoba mencelakainya dan anaknya.


"Kau tenang saja, aku tidak melakukan apapun pada calon pewarisku! Lebih baik jaga dirimu dan juga bayi dalam kandunganmu, kau tidak boleh ikut operasi untuk sementara waktu," tutur Ericko seraya tersenyum tipis, lalu ia pergi keluar dari kamar Aileen.


Siapa tau anaknya laki-laki dan nanti dia bisa menjadi penerus ku. Sepertinya aku harus memperhatikannya mulai sekarang.


Terlihat seorang wanita berpakaian pelayan di depan pintu kamar, ia menundukkan kepalanya penuh hormat didepan Ericko. "Mulai saat ini kau yang bertanggungjawab atas kesehatannya, Erina." kata Ericko yang seperti titah untuk Erina. Pelayan yang paling dekat dengan Aileen selama ia tinggal di mansion itu.


"Baik mister." jawab Erina seraya menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Setelah Ericko menjauh, barulah Erina masuk ke dalam kamar Aileen. Erina merasa kasihan saat melihat Aileen menangis, dia selalu tertekan selama berada di mansion itu. Dalam sebuah sangkar emas,tanpa alat komunikasi dan lain sebagainya karena Ericko tidak mengizinkannya untuk menggunakan alat komunikasi.


"Nona..." Erina, gadis yang seumuran dengan Aileen itu mengambil tempat duduk di atas ranjang.


"Kenapa Erina? Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Aku hanya ingin bersama dengan orang yang aku cintai dan hidup bahagia, kenapa Tuhan memberikanku ujian sesulit ini? Kenapa Tuhan kejam padaku Erina? Hiks...aku rindu suamiku, aku ingin memberitahukan padanya bahwa kami akan segera menjadi orang tua. Aku ingin bersama dengannya."


Hanya didepan Erina, Aileen baru bisa menunjukkan sisi dirinya yang sebenarnya. Dia tidak berpura-pura kuat. "Nona... percayalah bahwa suatu hari nona akan segera bertemu dengan suami nona. Begitu pula dengan anak yang ada didalam kandungan nona. Nona harus kuat! Untuk sementara ini saya yakin, mister tidak akan menyakiti nona." ucap Erina menguatkan Aileen.


"Terima kasih Erina...karena kau selalu berada disampingku, mohon bantu dan kuatkan aku!" kata Aileen seraya tersenyum.


****


5 tahun 8 bulan telah berlalu...


Aileen dan Leon sama-sama menjalani hidup mereka dalam kesendirian dan kesepian. Aileen masih terkurung didalam mansion Ericko bersama kedua anaknya. Selama itu Aileen hidup demi anak-anaknya dan demi bertemu dengan Leon. Mempertemukan Leon dengan kedua anaknya adalah tujuan utamanya.


Aileen berubah menjadi wanita tangguh dan tak takut apapun, selama tinggal disana. Ia pikir waktu 5 tahun sudah cukup bagi pria tua itu untuk mengurungnya disana. Ia tengah menyusun rencana untuk pergi dari sana.


DOR!


DOR!


DOR!


Terdengar suara tembakan di sebuah taman hiburan, seorang wanita dengan memakai jaket kulit hitam dan celana jeans pendek. Ia adalah pelaku penembakan disana.


"Kau sangat hot dan seksi nona, kenapa kau begitu galak??!" kata seorang pria paruh baya seraya tersenyum padanya. Di belakang pria itu terlihat 3 pria kesakitan akibat tembakan yang dilancarkan oleh si wanita.


Cih! Awalnya aku meremehkan Ericko karena dia mengirim perempuan manis dan terlihat lemah kemari. Tapi nyatanya dia bisa menghajar semua anak buahku.


Semua tembakan itu mengenai kakinya dan membuat mereka lumpuh.


"Serahkan surat perjanjiannya! Maka peluru ini tidak akan bersarang di tubuhmu," ujar Aileen dengan suara dingin dan tegasnya.


"Sayang...jangan galak-galak begitu." kata pria paruh baya itu yang hendak memegang Aileen, namun Aileen keburu menepis tangannya.


"Jangan main-main denganku!" seru Aileen.


"Tapi aku mau main-main denganmu, sayang." pria itu terlihat bernafsu ingin menyentuh Aileen dan menyampingkan masalah surat perjanjian kerjasamanya dengan Ericko.


DOR!


Gadis itu menarik pelatuk pistolnya dan mengenai kaki si pria genit.


"How dare you?!" pekik si pria itu sambil memegang kakinya.


"Saya kan sudah bilang kalau saya tidak suka main-main. Cepat serahkan surat perjanjian itu atau kau akan mati karena kehabisan darah atau bisa jadi kau lumpuh seumur hidul. Sebab peluru itu mengenai urat tubuhmu! Harus segera ditangani dalam waktu lima menit." jelas Aileen lalu tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"SIALAN!" dengus pria itu marah.


"Maka dari itu cepatlah!" ujar Aileen dengan suara meninggi.


"Baiklah!" pria itu mendesah lalu dengan susah payah dia mengambil surat perjanjian yang dimaksud lalu menyerahkannya pada Aileen.


"Kalau begini dari tadi, semua jadi enak kan?" sindir Aileen lalu pergi dari sana dan menyimpan surat perjanjian di dalam amplop itu ke saku jaket kulit hitamnya.


Wanita itu kemudian berjalan keluar dari salah satu ruangan di club' itu, terdengar suara ketipak sepatu boots hitam miliknya di lorong itu.


Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat ia melihat sosok tidak asing baginya tengah berjalan ke arahnya. Matanya melebar menatap orang itu, sendu, rindu dan cinta ada didalam sorot matanya.


Mas Leon? Dia ada disini? Di Itali?


Aileen bersembunyi di balik tembok, ia melihat Leon dan Bram secara diam-diam. Dia sangat merindukan pria itu, suaminya yang sudah lama tidak bertemu dengannya.


"Tidak! Aku tidak bisa bertemu dengannya seperti ini, aku harus pergi sekarang." ucap Aileen sambil menahan tangisnya. Ia tidak mau Leon bertemu dengannya dalam keadaan begini. Aileen ingin terlihat cantik dan sempurna di mata Leon, bukan wanita yang beringas seperti sekarang dan terlalu beresiko bila mereka bertemu disini. Aileen takut Eriko akan mencelakai Leon lagi.


Namun satu hal yang tidak Aileen tau, bahwa Leon sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya. Hanya saja Ericko cerdik dalam menyembunyikan Aileen.


Ketika Aileen akan pergi, ia tak sengaja menabrak seorang pelayan yang akan mengantarkan minuman ke sebuah ruangan. Gelas minuman itu terjatuh bersama dengan minumannya ke bawah lantai.


Prang!


"Mi scusi (maaf)!" ucap Aileen pada pelayan itu.


Jantungnya berdegup seketika ia bertemu pandang dengan Bram dan Leon yang baru saja akan masuk ke dalam salah satu ruangan VVIP disana.


"M-mas Leon?" gumam Aileen pelan yang masih bisa terdengar oleh Leon.


Deg!


Seketika Leon mematung disana, atensinya tak pernah lepas dari gadis cantik yang memakai boots hitam dan setelan jeans, jaket kulit hitam. Penampilannya bak agen rahasia.


"Aileen..." lirih Leon sambil membuka matanya lebar-lebar, ia menatap sepasang mata berwarna biru itu dengan rindu.


"Aileen?" Bram terperangah melihat sosok Aileen dengan tampilan rambut panjang diikat satu. "Astaga!"


Wanita itu berlari dengan cepat, Leon juga mengejarnya. Ia tak bisa kehilangan wanita yang ia cintai lagi.Tidak bisa!


Sayangnya, Aileen sigap bersembunyi dan ia juga sudah melarikan diri. Leon, Bram dan beberapa orang-orangnya terlihat berada didepan club.


"Bram, aku tidak salah lihat kan? Yang barusan itu adalah--"


"Ya, dia Aileen. Aku juga melihatnya Yon." jawab Bram membenarkan ucapan Leon.


"Aileen...selama ini ternyata." Leon memegang dadanya yang terasa sesak dan perasaan tak karuan. "Bram, undur keberangkatanku ke Indonesia! Dan suruh orang-orang kita untuk mencari tau keberadaan Aileen!"


"Baik pak," jawab Bram patuh.


Aileen, aku akhirnya menemukanmu sayang.


Leon memegang dadanya yang terasa sesak karena tersiksa rindu. Ia dan Bram pun mencari-cari jejak dimana Aileen tinggal. Pasti cukup mudah pikir mereka, sebab mereka sudah tau Aileen berada di negara itu.


Dengan kekuasaannya, Leon berhasil berbicara dengan salah seorang pria pemilik klub itu. Ya, pria pemilik klub malam itu ternyata adalah pria yang tadi dilukai oleh Aileen.


"Jadi kau mencari wanita jalangg itu?" tanya si pria setelah melihat foto yang dipegang oleh Leon, fotonya Aileen.


Leon langsung menarik baju pria itu dengan kasar. Matanya menyorotkan kemarahan, ia tak terima istrinya disebut jalangg. "Jaga bicaramu! Dia adalah istriku!"


"Ma-maaf Mr. Xavier." pria yang sering disebut dengan Mr. Ethan itu terlihat ketakutan pada Leon walau hanya dengan tatapan matanya saja.


Suami-istri sama-sama menyeramkan.


"Sekarang katakan padaku, dimana tempat tinggal istriku? Kau pasti tau kan karena tadi kau bilang kalau dia dan Ericko sering datang kemari?!" tanya Leon dengan suara membentak.


"Dia adalah istrimu, kenapa kau menanyakan tentangnya padaku?"


BUGH!


Leon memberikan bogem mentahnya pada wajah Ethan hingga membuat pria itu jatuh terhuyung dari kursi.


"Yon! Sabar, Yon." Bram memegang tangan Leon yang niatnya ingin meninju lagi si Ethan.

__ADS_1


"Dia gak bisa diajak bicara baik-baik Bram!" serka Leon dengan raut wajah marah.


"Ma-maafkan saya pak!"


"Katakan! Dimana alamat rumahnya?" Leon menarik baju Ethan, hingga si pria paruh baya itu terangkat keatas.


*****


Mansion Ericko.


Aileen terlihat keluar dari mobil sendirian, kebetulan pada hari ini ia memutuskan untuk menjalankan misi sendirian saja karena tugas dari Ericko hanya untuk mengambil surat dari Ethan. Tapi siapa yang menyangka bahwa dia akan menembak orang.


Terlihat dua orang anak kecil berusia sekitar 5 tahunan sedang bermain dihalaman depan rumah bersama Erina. Satu perempuan dan satu laki-laki. Disana juga ada Ericko yang tengah duduk di kursi goyang sambil menikmati cerutunya.


"Alea lihat itu mommy sudah pulang!" kata seorang anak laki-laki dengan paras tampan dan mata berwarna abu-abu persis seperti Leon. Dia adalah Alexander, saudara kembar Alea. Aileen melahirkan anak kembar yang diberi mama Aleana dan Alexander.


"Ayo kita sambut mommy, Alex." sahut Alea pada kakaknya.


"Hey, kamu harusnya panggil aku kakak! Aku lebih tua darimu." kata Alex tak terima hanya dipanggil nama saja bukan dengan kata kakak.


"Kita hanya beda 15 menit dan lahir di hari yang sama, apa bedanya?" Alea menjulurkan lidahnya seraya mengejek kakaknya itu.


"Ish.. Alea kamu nyebelin banget ya!" Alexander tak mau kalah dengan adiknya itu.


Mereka berdua hendak menghampiri Aileen yang terlihat sedih. Namun langkah mereka terhenti saat Ericko menampar Aileen hingga wanita itu jatuh ke lantai.


Erina yang paham akan terjadi pertengkaran disana, segera membawa si kembar masuk. Aileen selalu meminta Erina untuk membawa si kembar bila terjadi pertengkaran diantara dirinya dan juga Ericko. Aileen tidak mau kedua anaknya melihat adegan kekerasan, meski tak jarang mereka melihat Ericko bermain pistol, memanah bahkan membunuh orang didepan mereka.


"Erina, kami mau melihat mommy!"


"Pasti mommy mau di pukul lagi oleh grandpa." celetuk Alea tak terima.


"Kalian ikut aku saja ya, ayo." ajak Erina pada si kembar, namun si kembar tidak mau ikut dengan Erina dan memilih disana.


Sumpah demi apapun didunia ini, Aileen sudah lelah dan dia ingin keluar menjalani kehidupan yang normal. Tapi apa ini? Ia tak mau anaknya teracuni oleh Ericko lebih lama lagi.


Plakkk!!


"Ada apa lagi ini pak tua? Kenapa kau memukulku?" tanya Aileen dengan santainya dia berdiri, meski saat ini sudut bibirnya terluka karena Eriko.


"Beraninya kau menembak tuan Ethan dan anak buahnya?! Aku menyuruhmu untuk membawa surat perjanjian bukannya mencelakai mereka!" hardik Ericko emosi dengan dada yang naik turun.


"Yang penting aku sudah mendapatkannya untukmu, kau mau apa lagi?!" sentak Aileen marah.


"Aku ingin kau juga melayaninya! Dia rekan bisnis ku, akan lebih baik kalau kau gunakan cara baik-baik."


"Ck! Cara baik-baik seperti jalangg, maksudmu?" tanya Aileen sambil berdecih kesal. Menahan air matanya yang mengembun.


"AILEEN!"


Ericko berteriak pada Aileen dan hendak melayangkan pukulan lagi pada Aileen. Namun kehadiran Axel dan Alea yang berdiri ditengah-tengah Aileen dan Ericko.


"Jangan pukul mommy lagi! Kakek jahat, kakek gak boleh pukul mommy!" Alea merentangkan kedua tangan kecilnya, berusaha melindungi ibunya. Aileen terharu karena dia mempunyai dua malaikat kecil yang menguatkannya.


"Mommy, mommy tenang aja. Alex akan melindungi mommy!"


Ericko berdecak kesal, lalu dia pergi begitu saja. Ia tak mau cucunya melihat lebih jauh sisi jeleknya pada Aileen.


Ya Tuhan, terimakasih karena kau telah memberkatiku dengan dua Malaikat kecil ini.


"Mommy, mommy gak apa-apa? Mommy berdaalah!" celetuk Alea yang masih belum lancar bicara, berbeda dengan kakaknya. Tapi Alea cerdas dan imut seperti Aileen waktu kecil.


"Mom, kenapa kita berada disini terus? Kenapa kita tidak boleh pergi ke dunia luar? Kenapa kakek melarang kita pergi dan kenapa kakek memukuli mommy?" Alex mencecar Aileen dengan beragam pertanyaan yang sulit dijawabnya.


"Kita masuk ke dalam ya sayang, mommy mau istirahat." Aileen mengalihkan pembicaraan dan mengajak kedua anaknya masuk ke dalam rumah. Ia melihat ke arah Erina yang merasa bersalah.


"Maaf nona, saya tidak bisa menjaga si kembar."


"Tidak apa-apa, ini bukan salahmu Erina."


Aileen tersenyum lalu membawa dua malaikat kecilnya masuk ke dalam rumah. Alexander dan Alea menatap mommy mereka dengan cemas.


...****...

__ADS_1


Hai Readers, sambil nunggu up novelku...coba mampir sini dulu ya karya WENY HIDA keren banget....



__ADS_2