
...🍀🍀🍀...
"Bram? Dimana Aileen? Aku memintamu mengajaknya kesini."
"Itu... Aileen...dia..." Bram garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Ia bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Leon bahwa Aileen pergi ke kediaman Arlando. Bisa-bisa pria itu mengamuk saat mengetahui kekasihnya pergi ke sarang ular.
"Bram!" panggil Leon kepada sahabatnya dengan nada bicara yang tegas.
"Aileen dia per--"
"Aku disini, pah."
Suara lembut itu membuat atensi Leon dan Bram tercuri pada gadis cantik di depan ambang pintu tempat kunjungan di kantor polisi itu. Aileen yang datang, bersama seorang sipir penjara.
"Sayang!" Leon langsung terperanjat dari kursinya dan menghampiri Aileen lebih dulu. Sementara Bram terkejut karena kehadiran Aileen, namun dia bersyukur karena gadis itu datang di saat yang tepat. Setelah ini Bram akan berbicara dengan Aileen dan menanyakan apa yang gadis itu lakukan di kediaman Arlando.
Aileen memeluk papanya dengan erat, dia bisa menahan tangisannya. Ia sangat cemas karena Leon ditahan.
"Sayang, papa gak apa-apa. Kamu gak usah khawatir ya, kamu jangan banyak pikiran...papa akan segera bebas dari sini." ucap Leon seraya mengurai pelukannya. Kedua tangannya membelai rambut panjang Aileen, satu tangannya lagi mengusap buliran bening yang membasahi pipi Aileen.
"Jangan nangis sayang, papa gak apa-apa kok. Bram akan mengurus segalanya, papa akan segera bebas! Selama papa gak ada, kamu harus diam di rumah ya. Jangan pergi kemana-mana, jangan pergi ke kediaman Arlando! Papa melarang itu, Ai."
Leon mengatakannya seakan tau apa yang dipikirkan oleh Aileen. Tapi satu hal yang Leon tidak tahu, Aileen memang sudah bertemu dengan kakeknya itu tanpa sepengetahuan Leon.
"Iya pa, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh." balas Aileen seraya tersenyum lalu mengecup pipi Leon.
Ya Tuhan, kumohon bebaskan papaku...kumohon selesaikan masalah ini. Aku tidak mau papa terluka, aku tidak mau pergi meninggalkan papa dan ikut dengan pak Ericko. Pinta Aileen dalam hatinya.
"Kamu nurut ya sayang, nurut sama papa sama om Bram, hmmm?"
Aileen membalasnya dengan anggukan saja.
Leon dan Aileen lega setelah melihat wajah masing-masing. Keduanya baik-baik saja, tapi tidak dengan hati mereka yang sama-sama gelisah.
****
Sudah satu Minggu lamanya, Leon berada di balik jeruji besi. Bram, Sam bahkan Sahara juga turun membantu untuk membebaskan Leon. Namun bukti terhadap Leon begitu kuat, hingga kasus itu akan dibawa ke pengadilan dalam waktu 2 hari lagi.
Selama itu pula, perusahaan Xavier group mengalami penurunan yang sangat besar. Bisa dikatakan perusahaan besar itu akan bangkrut bila pada investor dan pemegang saham menarik inves mereka pada Xavier grup.
Aileen mencoba membantu perusahaan sekuat tenaganya. Aileen menjadi pimpinan perusahaan itu dengan dibantu oleh Bram. Ia juga memakai uang warisan Mark untuk menyelamatkan perusahaan besar itu. Belum lagi membujuk para investor dari perusahaan besar untuk membantu. Beruntunglah Sam dan Sahara mau membantunya, tapi itu semua tak cukup.
Selama beberapa hari ini, Aileen stress memikirkan jalan keluar untuk Leon dan jalan keluar untuk perusahaan Xavier group yang berada di ambang kehancuran.
__ADS_1
Ditengah-tengah kegelisahannya, Ericko selalu menawarkan bantuan pada Aileen. Menawarkan membebaskan Leon dan mengembalikan kejayaan perusahaan Xavier group, tapi Aileen menolaknya mentah-mentah.
"Maafkan Aileen pa, maaf karena Aileen egois dan tidak mau melepaskan papa." gumam Aileen yang baru saja menolak tawaran dari Ericko. Tawaran yang membuatnya stress akhir-akhir ini.
Aileen duduk di ruangan Presdir sambil memegang kepalanya yang pening. Tiba-tiba saja suara pintu terbuka dengan cukup keras membuat Aileen beranjak dari tempat duduknya.
BRAK!
"Tante Agatha?" Aileen melihat seorang wanita cantik mendekat padanya.
Plakk
Plakk!
Wanita yang dipanggil Tante Agatha itu, tiba datang dan menampar wajah Aileen sebanyak dua kali. Bram ada di belakangnya, tampaknya ia berusaha untuk mencegah Agatha masuk dalam. Tapi Agatha tetap masuk ke dalam sana.
Agatha mendengus marah saat melihat Aileen, rasanya ia belum cukup menampar gadis itu. Agatha adalah adik Leon yang tinggal di luar negeri dan Leon memutuskan hubungannya dengan Agatha karena lebih memilih Aileen.
"PUAS KAMU HAH?! PUAS KAMU BUAT KAKAKKU HANCUR!" Agatha membentak Aileen dengan penuh emosi.
Agatha memang tidak suka dengan Aileen, dia merasa kalau dari dulu Leon kakak satu-satunya lebih menyayangi Aileen dibandingkan dirinya. Padahal Aileen sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengan Leon.
"Tante..." Aileen menangis, ia memegang pipinya yang memar itu.
"Diam kamu kak! Biar aku selesaikan urusanku dengan anak tidak tahu diri ini! Karena dia, kakakku hidup menderita bahkan dia melajang sampai sekarang KARENAMU! Karena janjinya pada kak Mark! Aku sungguh tidak tahan lagi, pergi kau dari hidup KAKAKKU!"
Agatha menjambak rambut panjang Aileen dengan kasar, mengoyak kepalanya. Bram berusaha menghentikan Agatha, sampai ia terkena cakaran dan pukulan beberapa kali dari Agatha.
"Hentikan Agatha! HENTIKAN!" teriak Bram yang sama sekali tidak digubris oleh Agatha. Bram sungguh kasihan dengan Aileen yang wajahnya penuh luka cakar Agatha, rambutnya berantakan. Anehnya aileen seperti pasrah diperlakukan seperti itu oleh Agatha, padahal ia bisa melawannya. tapi dia membiarkan dirinya di serang oleh Agatha.
"Wanita SIALAN! Kau sudah membuat kakakku menderita! Kak Leon dipenjara, perusahaannya hampir bangkrut dan sekarang kak Leon baru saja keluar dari rumah sakit!" Agatha menangis sejadinya.
"Ru-rumah sakit? Papa masuk rumah sakit?" Aileen terperangah mendengar kata-kata Agatha. Ia tidak tahu menahu soal Leon yang masuk rumah sakit.
Gawat! Aileen tau. Bram langsung pucat pasi saat Agatha secara tidak sengaja memberitahukan kondisi Leon. Padahal Bram sengaja menutupinya dari Aileen atas permintaan Aileen.
"Apa maksud Tante? Papa masuk rumah sakit?"
"Tidak usah pura-pura tidak tahu! Kamu senang kan karena melihat kakakku menderita, sampai tua bahkan sampai mati, dia akan menderita karena KAMU!" hardik Agatha dengan sorot mata yang nyalang.
"Papa...om Bram dimana papa? Apa papa masih ada di rumah sakit?" tanya Aileen dengan suara meninggi namun gemetar. "Om!"
"Papa kamu sudah kembali ke penjara dan keadaannya juga baik-baik saja, kamu tidak usah cemas." kata Bram seraya menenangkan Aileen.
__ADS_1
"Om Bram selalu saja menyembunyikan tentang papa dariku, om..."
Aileen tidak melanjutkan kata-katanya, ia langsung pergi dari kantornya, tak peduli dengan keadaannya. Ia pergi ke kantor polisi tempat papanya ditahan.
Padahal bukan jam besuk, tapi ia memaksa untuk melihat Leon. Akhirnya sipir mengizinkan dan mengantar Aileen ke sel tempat Leon ditahan.
Aileen menatap Leon yang tengah tertidur di lantai tanpa alas apapun, pria itu meringkuk kedinginan dan membuat Aileen meringis kesakitan. Dadanya sesak dan tak bisa menahan tangisnya lagi.
"Apa yang terjadi pada papa saya pak? Kenapa papa saya bisa babak belur begini?" tanya Aileen pada seorang sipir penjara yang berada di sana.
"Pak Leon dipukuli oleh tahanan lagi, sebenarnya keadaan pak Leon cukup parah tapi dia tidak mau di rawat." jelas sipir itu.
Lagi-lagi dadanya terasa sesak mendengarnya. Hatinya sakit melihat wajah tampan itu lebam-lebam dan babak belur.
"Tolong pak... setidaknya berikan papa saya bantal dan selimut," pinta Aileen sedih.
"Ini penjara bukan hotel!" tukas sipir itu galak.
"Waktu kamu 3 menit lagi untuk melihat pak Leon." kata sipir itu lalu melenggang pergi dari sana meninggalkan Aileen dan Leon yang kini berada di sel tersendiri karena Leon selalu di ganggu oleh tahanan lain.
Aileen duduk jongkok dan memandangi Leon dengan mata berkaca-kaca. Selain wajah, tangan dan kaki Leon juga diperban, mungkin tahanan lain juga melukai tangan dan kakinya.
Pria tampan yang semula bertubuh kekar itu kini terlihat begitu kurus dan kucel. "Jadi ini alasan papa tidak mau menemuiku selama dua hari ini?" gumam Aileen sambil menahan tangisnya.
Tiba-tiba saja Aileen kembali berdiri, dia menghapus air matanya. ""Maafkan aku pa, maafkan aku...aku melakukan semua ini demi papa. Aku tidak tega melihat papa kehilangan semuanya demi aku. Biarlah aku membalas budi baik papa selama ini yang telah membesarkanku." lirih Aileen seraya menatap pria berseragam tahanan yang kini tidur di lantai tanpa alas apapun. "Aku pulang pah..." pamit gadis itu pada Leon yang tertidur dan bahkan tidak menyadari kehadirannya disana.
Aileen keluar dari kantor polisi, dia pun merogoh ponsel yang ada di tas selempangnya. "Halo, pak Ericko....saya terima tawaran anda!"
...****...
Spoiler dikit...
"Pa, ayo kita menikah!" ajak Aileen seraya menatap Leon yang kini berada di bawah tubuhnya.
"Kapan?"
"Sekarang pa, ayo kita nikah."
...****...
Hai Readers, sambil nunggu novelku up....ayo mampir sini dulu karya SYASYI❤️❤️
__ADS_1