Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 23. Nine Fox rubah ekor sembilan


__ADS_3

Setelah memastikan Leon tidur dengan nyaman, Aileen mendengus kesal sebab dia tidak merekam pembicaraannya dan Celia tadi agar papanya bisa tau bahwa Celia tidak murni mencintainya.


"Euh...dasar si nenek sihir itu, kenapa aku bisa lupa untuk merekamnya? Ah...dasar Aileen bodoh!" Aileen mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri, merutuki kebodohannya untuk merekam semua ucapan Celia. "Tapi papah tenang aja, aku pasti akan membongkar kedok nenek sihir rubah ekor sembilan itu. Aku tidak akan biarkan papah bersama wanita jahat itu, meski papah tidak bersamaku." gumam Aileen seraya menatap papanya dengan tatapan sendu.


Ada rasa sakit melihat Leon sedekat ini, pria yang hidup bersamanya sedari kecil dan sekaligus pria yang ia cintai. "Pah... Aileen pergi dulu ya, papa jaga diri baik-baik. Aku harus menjauh dari papa agar mental dan hatiku sehat." gumam gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Dia pun beranjak dari ranjang itu, ia berencana untuk kembali ke kamarnya saja dan tidur di rumahnya untuk malam ini. Dia takut Celia akan datang lagi dan melakukan hal yang tidak-tidak pada papanya.


Ketika Aileen beranjak dari tempat tidur Leon, sepasang tangan menarik dan menggenggam tangan Aileen. "Papa...papa bangun?" tanya Aileen seraya menatap papanya dengan bingung. Kemudian detik berikutnya, Aileen sudah berada di atas tubuh kekar Leon. Tangan Leon memeluk erat Aileen. "Papah..."


Nyaman, hangat, itulah yang dirasakan Aileen dari pelukan papanya itu.


"Jangan... jangan...pergi...."


"Iya Pah, aku tidak akan pergi sebelum papah lepas dari si nine fox itu!" kata Aileen bicara pada Leon yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri itu.


"Celia...Celia..." racau Leon.


Mendengar nama si nine fox membuat kedua mata Aileen membulat dan hatinya kembali tercubit. Dia pun beranjak dari tubuh Leon, ia menatap si pria mabuk itu dengan marah. "Ternyata lagi mabuk aja papa masih memikirkan dia!" tukas Aileen marah dan sakit hati.


Ia pun pergi dari kamar papanya dengan perasaan kesal. Dan saat itu Leon masih meracau. "Celia....maaf...aku sepertinya... mencintai putriku juga."


Ketika Aileen akan pergi ke kamarnya ia berpapasan dengan Bram yang ternyata masih ada disana dan baru saja numpang dari kamar mandi.


"Aileen? Kamu udah pulang? Tuh urusin papa kamu yang mabuk, dari tadi dia terus--"


Aileen langsung memangkas ucapan Bram. "Apa? Papa nanyain aku? Bullshitt!" ketus gadis itu menumpahkan kekesalannya pada Bram. "Om Bram ternyata tukang bohong ya!" ucapnya lagi sebelum membanting pintu kamar dengan keras.


BRAK!


"Eh? Aku salah apa?" gumam Bram sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dengan bingung. Ia tak tahu apa yang terjadi sebelumnya diantara Aileen, Leon dan Celia. Ia juga sepertinya tak tahu dengan kedatangan Celia kesana.


****


Di dalam perjalanan pulang, Celia mendengus kesal sambil menyetir mobilnya. Tak hentinya dia memaki Aileen, memanggilnya sebagai anak murahan dan sialan. Dia benar-benar kesal dengan anak dari sumber cuannya.

__ADS_1


"Sial! Anak itu benar-benar penghalangku untuk mendapatkan Leon! Aku pikir dia hanya kucing kecil ternyata dia ular! Heh! Haus ku apakan dia ya? Oh ya...Sam...bukankah dia berpacaran dengan si anak tengil itu sekarang?"


Celia merogoh ponsel didalam tas selempangnya itu, lalu dia menyalakan ponselnya dan menghubungi keponakannya.


Terdengar suara nada sambung, setelah 3 kali terdengar suara nada sambung. Sam mengangkat telponnya. "Halo Tan." jawab Sam lesu.


"Halo Sam, kamu dimana? Apa kamu lagi di diskotik?" tebak Celia pada keponakannya itu. Dia memang sudah tau bahwa keponakannya itu adalah pecandu seksss dan bisa berhubungan dengan siapa saja. Hidup di luar negeri, tidak menjaga menjaga pergaulan, akhirnya dia bebas bahkan sampai sekarang.


"Kok Tante nuduhnya gitu sih!" desis Sam kesal sambil mengacak-acak rambutnya. Dia sudah tidak pernah ke diskotik lagi mencari wanita sejak Aileen memutuskan untuk berpacaran dengannya. Entah kenapa dia jadi menuruti wanita itu, wanita yang hanya memanfaatkannya.


"Kenapa kamu jadi marah-marah sama Tante, Sam?" tanya Celia dengan suara meninggi, dia paling tidak suka di marahi atau jadi pelampiasan kemarahan orang lain. Ya, siapa juga yang mau diperlukan seperti itu.


Sial! Aku marah pada Aileen dan jadi melampiaskannya pada Tante Celia.


"Maaf Tante, maaf... haahh..." Sam mendesah berusaha menahan marahnya. Sebenarnya saat ini ia memiliki beragam spekulasi tentang hubungan Aileen dan Leon yang tidak biasa. Bahwa ayah dan anak tidak mungkin seperti itu. Sam cukup peka, ia merasa Aileen terkesan memanfaatkan dirinya agar Leon cemburu. Benarkah begitu?


Kalau iya, benar-benar gila Aileen karena mencintai Papanya sendiri, sungguh terkutuk! Pikir Sam dalam hatinya.


"Kamu kenapa Sam? Sepertinya kamu sedang kesal."


"Ada apa dengan dia? Ah... bagaimana kalau sekarang kita bicara Sam? Tante..mau bicara sama kamu soal Aileen juga."


"Aku di apartemen, Tan."


"Oke, Tante kesana."


Setelah menutup panggilannya, Celia tancap gas menuju ke apartemen keponakannya yang memang cukup jauh jaraknya dari sana. Hampir setengah jam Celia sampai di apartemen itu dan begitu sampai disana, ia disuguhkan dengan pemandangan Sam sedang mabuk, dia terlihat begitu frustasi.


"Kamu kenapa Sam?" tanya Celia lalu mengambil tempat duduk tepat di depan Sam yang sedang selonjoran di sofa. Wajah Sam terlihat merah, ya karena alkohol.


"Aileen...Tante...aku merasakan hal yang aneh tentangnya dan juga om Leon."


"Ternyata kamu sudah menyadarinya, Sam." kata Celia seraya tersenyum tipis. Ia senang karena Sam juga sudah menyadarinya, jadi ia tak perlu repot-repot untuk menjelaskannya pada Sam.

__ADS_1


Sam langsung duduk tegak dan melihat ke arah tantenya saat ini juga terlihat marah sama seperti dirinya. "Apa maksud Tante?"


"Aileen itu menyukai papanya, apa kamu tau? Itu kan sudah jelas! Dari awal tante merasa ada yang tidak beres dengan Aileen." Celia menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia masih teringat jelas dengan ucapan anak bau kencur itu kepadanya.


"Jadi...apa yang aku rasakan ini benar? Aileen mencintai Papanya? Fuckk!" Sam memukul pinggiran sofa itu dengan kesal. "Ini benar-benar menjijikan Tante! Bagaimana bisa ada seorang anak yang menyukai Papanya?"


"Menjijikan bukan? Dan sekarang Tante tau kenapa dia mau berkencan denganmu, dia ingin memanfaatkanmu untuk membuat Leon cemburu...hah dasar anak bau kencur!" dengus Celia marah.


Aku panas panasi saja Sam, sebelum dia tau bahwa Aileen dan Leon hanyalah ayah dan anak angkat. Biar dia yang menjadi tanganku untuk membalas anak sialan itu.


"Haahh..." Sam mengusap wajahnya dengan kasar, dia tersenyum sinis mengingat perlakuan dingin dan manis Aileen selama mereka berkencan selama beberapa hari ini.


Bahkan tadi saat Aileen minta Sam untuk menghapus lipstik di bibirnya dan memeluknya dengan alasan ingin membuat papanya menyetujui hubungan mereka. Rupanya itu semua bohong, Sam merasa di manfaatkan olehnya.


"Sam, apa kamu suka sama Aileen?" tanya Celia.


"Suka? Apa maksud Tante suka tubuhnya?" tanya Sam dengan senyum smirk terpatri dibibirnya. Matanya menyorotkan kemarahan pada Aileen.


"Terserahlah kamu mau bilang suka dia tubuhnya atau apanya. Yang jelas kamu harus bantu Tante untuk menjauhkan Leon dari Aileen. Kamu mau kan Sam? Tante tidak mau pernikahan Tante hancur karena dia."


"Oh tenang saja Tante, aku akan bantu Tante...sekalian aku bermain-main dengannya juga." kata Sam sambil tersenyum pada tantenya.


Celia tersenyum menyeringai, ia senang karena Sam termakan provokasinya untuk membenci Aileen. Kini ia punya kaki tangan untuk menjauhkan Aileen dari Leon.


****


Keesokan harinya, rumah besar Xavier. Leon terbangun dengan kondisi kepala cenat cenut dan perut yang bergejolak. Mengapa ia begitu? Ya tentu saja karena alkohol yang di konsumsinya semalam.


"Ah... kepalaku..." Leon meringis merasakan kepalanya sakit. Kemudian matanya melihat sepatu yang sudah terlepas di atas lantai. "Siapa yang melepas sepatuku? Apa Aileen? Aileen...disini?"


Buru-buru Leon bangkit dari tempat tidurnya, dia berjalan menuju ke kamar Aileen. Kamar itu kosong dalam keadaan bersih. "Ai... Aileen gak ada disini? Apa semalam aku halusinasi ya? Semalam aku melihat Aileen ada disini."


"Papah cari aku?"

__ADS_1


...****...


__ADS_2