Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 70. Menuju wedding


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Leon tersentak kaget dengan apa yang dikatakan oleh Aileen. Gadis itu ingin pernikahan mereka dipercepat, kalau bisa sekarang juga.


"Sayang, tidak bisa sekarang--"


"Papa gak mau nikah sama aku?" Aileen memangkas ucapan Leon dan menatap pria itu dengan dalam.


"Bukannya gitu sayang. Pernikahan itu harus ada persiapan yang matang dan Papa mau kalau pernikahan kita dirayakan dengan meriah seperti apa yang kamu mau!"


Benar, Aileen memang pernah mengatakan kepada Leon bahwa dia memiliki pernikahan impiannya. Pernikahan yang diadakan di pantai Maldives dengan tema outdoor, dia juga ingin semua teman-teman yang menghadiri pernikahannya tersebut dan memberikan Restu.


Leon tidak masalah jika mereka harus menikah sekarang juga karena Aileen juga telah keluar dari kartu keluarga dan dia bukan anak angkat Leon lagi. Tapi bagaimana dengan pernikahan impian Aileen?


"Kita ingin menikah di Maldives bukan?" ucap Leon seraya mengusap lembut punggung Aileen. "Papa akan suruh Bram untuk menyiapkan tiket pesawat ke Maldives dan juga pernikahan kita!"


"Tidak perlu pak! Aku tidak ingin menikah mewah-mewah, cukup khidmat saja...dihadiri orang-orang terdekat. Yang penting aku dan papa bahagia,"


Tidak pah! Kalau kita menyiapkan semua itu, waktuku tidak akan cukup.


"Baby, ada apa denganmu sayang? Kenapa kamu tiba-tiba begini?"


"Aku hanya tidak mau kehilangan papa. Selama lebih dari 10 hari ini, aku takut pa...aku selalu bermimpi buruk kalau papa akan pergi meninggalkan aku." dusta Aileen sembari memeluk Leon. Padahal dia yang mau pergi meninggalkan Aileen, tapi dia mengatakan seolah Leon yang akan pergi meninggalkannya.


"Sayang, papa tidak akan kemana-mana." kata Leon menenangkan. "Maafkan papa karena selama beberapa hari ini papa telah membuatmu cemas, baby. Papa janji, Papa tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, kita akan selalu bersama selamanya."


Mendengar kata-kata Leon, Aileen semakin menyembunyikan wajahnya dalam dekapan pria itu. Lebih tepatnya menyembunyikan tangisannya. "Sayang, kamu nangis?' kata Leon saat merasakan ada buliran hangat yang menyentuh kulit dadanya, sampai menembus kaos yang dipakainya.


Sumpah demi apapun, Aileen tidak dapat membayangkan dalam waktu 76 jam lagi. Saat ia akan pergi meninggalkan Leon. Apa jadinya bila dia hidup tanpa Leon? Apa jadinya bila Leon kehilangan Aileen? Apa dia juga akan sedih sama seperti ini?


"Pa...kita nikah sekarang ya? Please..." rengek Aileen dengan gaya manjanya seperti biasa.


"Kita menikah besok saja ya sayang, ini sudah malam." bujuk Leon lembut.


"Iya pa, besok pagi kita nikah ya!" kata Aileen semangat, matanya kembali berbinar. Sementara tangan Leon mengusap air mata Aileen.


Leon menatap Aileen dengan bingung, ia merasa ada yang salah dengan sikap Aileen. Ia merasakan kesedihan didalam mata gadis itu, meski ia sudah bebas dari penjara dan masalah telah usai. Tapi kenapa Aileen sedih?


Mereka pun tidur bersama saling berpelukan dalam satu selimut hangat. Hingga keesokan harinya, Leon terbangun dan melihat gadis yang semalam berada di dalam pelukannya itu menghilang.


"Aileen? Sayang?"

__ADS_1


Leon yang masih mengenakan piyama tidur itu, langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia mencari Aileen di kamar mandi dan tidak menemukannya di sana. Sampai Leon mendengar suara keributan dari luar kamarnya.


Leon membuka pintu kamarnya dan melihat apa yang terjadi. Ia melihat Agatha menampar Aileen.


"Agatha! Apa yang kamu lakukan?" Leon menatap nyalang pada Agatha yang sudah berani menampar Aileen. Tatapan Leon beralih pada Aileen yang diam saja dan tidak melawan.


"Kak...tolong Kakak jangan membelanya lagi, lagian anak tidak tahu diri ini bukan anak angkatmu lagi kan?" Agatha menatap Aileen penuh kebencian.


"Kak! Anak kurang ajar ini mengatakan bahwa dia akan menikah dengan kakak hari ini, dia sudah GILA." hardik Agatha pada Aileen. Ia tak terima bila anak ingusan itu menjadi kakak iparnya. Dan itu tidak mungkin, membayangkannya saja membuat Agatha jijik.


"Dia memang bukan anak Angkatku lagi, tapi dia calon istriku. Hari ini, sebentar lagi jam 9 pagi...kami akan menikah dan melakukan pemberkatan." kata Leon tegas.


"A-APA?" Agatha terbelalak mendengar jawaban dari kakaknya. Ia telah kalah telak dari Aileen. Dulu ia bertengkar habis-habisan dengan kakaknya demi Aileen dan Leon lebih memilih Aileen. "Kamu...kamu pasti udah tidur sama kakakku kan? Atau kamu udah hamil, hah?" tuduh Agatha.


Tangan Leon melayang di udara, bersiap untuk melayangkan pukulan pada adiknya. Ia tidak tahan mendengar Aileen di hina seperti itu. "Pa! Udah, aku baik-baik saja." kata Aileen sambil menahan tangan Leon.


"Kenapa? Kakak mau tampar aku? Tampar sini!" Agatha menyodorkan wajahnya untuk ditampar oleh Leon.


"AGATHA!"


"Kakak lihat saja, kakak akan disakiti oleh wanita ini! Kakak tidak akan pernah bahagia dengannya!" seru Agatha sakit hati karena Leon lebih memilih Aileen daripada dirinya.


"Tante Agatha, aku..."


Agatha berlari pergi dari sana dengan marah, Aileen hendak mengejarnya. Namun Leon melarangnya. "Sudahlah jangan pedulikan dia!"


"Tapi Pa."


"Lebih baik kamu bersiap-siap, sebentar lagi make over terbaik yang sudah Bram hubungi, akan segera sampai." ucap Leon seraya mengecup kening calon istrinya.


Degg!


Benar juga, Aileen sempat lupa bahwa dia mengatakan ingin menikah hari ini dengan Leon. Hatinya kembali berdebar, meski pernikahan mereka akan diadakan sederhana, tapi yang namanya pernikahan tentunya membuat deg degan.


Aileen tidak langsung kembali ke kamar, di pergi menemui Agatha untuk meminta maaf. Seperti biasa Agatha selalu memakinya


"Tante... Aileen minta maaf ya karena selama ini Aileen membuat hubungan Tante dan papa tidak baik."


"Itu kamu sadar! Terus kenapa kamu gak pergi hah?" hardik Agatha tanpa mau menoleh sedikitpun pada Aileen.


"Tante, Aileen mohon izinkan Aileen menikah dengan papa dan setelah ini Aileen akan pergi,"

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Aileen janji, dalam waktu 70 jam lagi... Aileen akan pergi dari kehidupan Papa selamanya." ucap Aileen serius.


"Ngaco kamu! Kamu mau nikah sama kakakku, terus kamu bilang mau pergi selamanya? Apa kamu halu?" Agatha tak paham kemana arah pembicaraan Aileen yang tidak jelas.


"Tante bisa pegang ucapanku, aku akan pergi dalam waktu kurang lebih 70 jam lagi."


Agatha kini menoleh ke arah Aileen dengan tajam. "Baiklah." Agatha menganggap ucapan Aileen hanya bualan saja agar diizinkan menikah olehnya.


"Setelah aku pergi, aku harap Tante bisa menjaga papa dengan baik."


"Tentu saja! Dia akan lebih bahagia tanpamu." ketus wanita itu pada Aileen. Tanpa menyadari bahwa air mata gadis itu telah luruh.


Tiba-tiba saja Aileen memeluk Agatha dengan erat. Agatha mencoba melepaskannya, namun Aileen malah memeluknya semakin erat. "Apa-apaan sih kamu?!" sentak Agatha marah.


"Aku sayang sama Tante Agatha...aku sayang. Tante jaga diri baik-baik ya, jaga kesehatan, jangan lupa makan." ucap Aileen lembut.


Ada apa dengan anak ini? Kenapa dia bicara seolah-olah akan pergi selamanya?


Agatha tidak membalas dan tidak pula mendorong tubuh Aileen yang memeluknya, ia hanya diam dengan kening berkerut dan bingung.


****


Setelah mandi dan sarapan. Aileen didandani oleh MUA yang di maksud oleh papanya. MUA terbaik, katanya.


Aileen didandani oleh seorang pria yang tangannya melambai-lambai manja. Namanya Mamat, tapi di panggil Mance.


"Woaw.. fantastis! You sangat beautiful sekali, pantes aja calon suami yey tergila-gila...gak dandan aja udah syantik, udah dandan tambah syantik...jadi model juga yey cocok kayaknya." Mance mengagumi kecantikan Aileen, bahkan ia tak mendandaninya dengan riasan tebal, sebab Aileen sudah cantik tanpa riasan itu.


Kini Aileen telah mengenakan gaun putih yang indah, melambangkan kesucian pernikahan. Rambutnya di Gelung dan memakai mahkota. Aileen sungguh sangat cantik menawan.


"Hehe makasih pak Mamat."


"Apa yey bilang? Mamat? Who is Mamat? Eike Mance okay?"


"Oke." Aileen mengangguk.


Tok,tok,tok!


Suara pintu itu diketuk oleh seseorang, terlihat Ratna dan dua pelayan rumah itu berada diambang pintu. Aileen tersenyum saat melihat mereka.

__ADS_1


...****...


__ADS_2