Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 77. Benih cinta


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Aileen dibawa oleh orang-orang itu ke sebuah kamar bernuansa merah dengan cahaya yang redup remang-remang. Ketika tangannya akan diborgol oleh orang-orang itu. Aileen merasa tidak akan ada orang yang bisa menolongnya selain orang-orang itu.


Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu kecuali dirimu sendiri, Aileen. Kamu harus hidup demi suamimu.


Akhirnya ia berusaha menolong dirinya sendiri, ia pun mengambil pistol yang ada di kain tepat pahanya. Kain seperti kantong yang memang di khususkan untuk penyimpanan pistol.


Dengan mengumpulkan nyali dan keberanian, Aileen mengambil pistol itu dan langsung menembak salah seorang di sana. Tepat dibagian kaki.


DORR!


DORR!


Dua kali Aileen menembakkan pelatuknya pada betis dua orang pria itu hingga mereka ambruk dan lumpuh. Aileen menganga tak percaya bahwa ia bisa menembak. Ternyata latihan tembaknya selama ini bersama kakek laknatnya itu cukup bermanfaat.


Jantung Aileen berdegup begitu kencang, ia baru saja menembak dua orang. Ini pertama kalinya ia menembak.


God! Beri aku kekuatan, kumohon!


"Ahh! Sialan kau!" seru pria itu kesakitan, dalam bahasa Prancis.


Ketika menyadari bahwa kedua pria itu lumpuh, Aileen memanfaatkan kesempatan ini untuk melarikan diri. Walau kakinya lemas dan perutnya mual-mual.


5 orang pria disana mengejar Aileen, gadis itu berusaha melarikan diri dan terus berlari. Dalam hati ia menyuarakan nama Leon berkali-kali. Ia berharap nama itu akan memberikannya kekuatan.


Mas Leon...mas...tolong beri aku kekuatan. Aku masih ingin bertemu denganmu.


DOR!!


DOR!!


Mr. Anderson menembak Aileen beberapa kali, namun wanita itu cukup gesit. Tak sia-sia ia belajar bela diri selama tiga Minggu ini.


Tapi Aileen masih belum tenang karena ia masih kejar-kejaran dengan Anderson dan orang-orangnya. Ia juga tengah mencari pintu kuning yang dimaksud oleh Toni.


****


Disebuah tempat gelap dan terang, Leon terlihat berjalan di tempat terang. Ia melihat Aileen berjalan ditengah-tengahnya menuju ke tempat gelap.


"Sayang, kamu mau kemana? Sayang ini mas...ayo ikut mas..."


Aileen menoleh ke arah suaminya dan tersenyum tipis, ia meneteskan air mata sambil menggelengkan kepalanya.


"Ai...ayo kembali Ai, mas rindu kamu. Aku mohon, aku tidak membencimu Ai." bujuk Leon seraya tersenyum pada Aileen dan merentangkan kedua tangannya guna menyambut gadis itu.


Aileen berjalan mendekat ke arah Leon menuju cahaya itu. Namun tiba-tiba saja ada dua sosok berjubah hitam muncul di hadapannya.

__ADS_1


"Mas!" pekik Aileen memanggil nama Leon.


Tangan Aileen dipegang oleh dua pria jubah hitam itu dan diseret pergi menuju kegelapan. Aileen sangat ketakutan, ia meronta-ronta minta di lepaskan.


"Lepaskan dia! Jangan bawa dia!"


Leon ingin mengejar Aileen, namun anehnya kakinya tak bisa bergerak. "Aileen..."


"Mas, tolong selamatkan kami." lirih Aileen sambil memegang perutnya yang datar.


Leon melihat Aileen dibawa oleh dua orang itu dan mereka menghilang dalam kegelapan.


####


Di kamar Leon, pria itu tiba-tiba saja terbangun karena mendengar suara Aileen memanggil namanya.


"AILEEN!!"


Wajah tampannya berkeringat, kini Leon terlihat lebih kurus. Entah apa yang akan Aileen katakan nanti bila nanti melihat sosok penampilan dan keadaan Leon saat ini.


"Aileen...." tubuh Leon gemetar, ia melihat dalam mimpinya bahwa Aileen tengah dibawa orang-orang aneh. "Apa maksudnya selamatkan kami? Bukankah hanya Aileen saja yang berada disana?" gumam Leon gelisah.


Hampir setiap malam Leon kesulitan tidur tanpa obat tidur, kali ini ia bisa tidur karena meminum obat itu. Tidak lewat sedikitpun waktu untuk tidak memikirkan Aileen.


Tok,tok, tok!


Seseorang mengetuk pintu kamar Leon dengan tergesa-gesa. "Kak, kakak!"


"Kak, kami mendengar kakak berteriak. Kakak gak apa-apa kan? Apa kakak baik-baik saja?" tanya Agatha cemas.


"Aku cuma mimpi buruk. Kalian pergilah, aku tidak apa-apa." Leon melihat kepada semua orang yang ada di sana dan menyuruhnya untuk pergi. Sungguh, dia baik-baik saja saat ini dan tidak mencoba menyakiti dirinya lagi seperti sebelumnya.


Setelah semua orang pergi, tinggal Agatha dan Leon yang berada di kamar itu. Agatha memberikan kakaknya air minum dan berusaha untuk menenangkan Leon.


"Kak, sebenarnya kakak bermimpi apa sampai Kakak berteriak seperti itu? Kakak meneriakkan nama Aileen." ucap Agatha sembari duduk di samping Leon.


Leon tak ragu untuk menceritakan mimpinya kepada Agatha, apalagi tentang Aileen yang meminta pada Leon untuk menyelamatkan kami sambil memegang perutnya.


"Kakak serius mimpi kayak gitu?" Agatha terperangah.


Pria itu menganggukkan kepalanya sembari mengatur nafas yang masih naik turun.


"Aku...aku juga tidak yakin dengan apa yang akan aku ucapkan saat ini. Tapi aku rasa mimpi kakak tentangnya adalah sebuah firasat." Agatha menatap Leon dengan dalam.


"Firasat?"


"Ya, firasat yang mengatakan bahwa Aileen tengah mengandung buah cinta kakak." jawab Agatha serius dan membuat Leon terperangah. Pikirannya jadi limbung, jika benar Aileen hamil anaknya. Dia pasti sangat kesusahan saat ini.

__ADS_1


"Aileen hamil?" gumam Leon dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Iya kak, ini hanya asumsiku saja dari mimpi yang kakak ceritakan. Sudahlah kak, kita doakan saja untuk keselamatan Aileen dan kakak jangan menyerah untuk menemukannya." Agatha kembali menyemangati kakaknya untuk mencari istrinya yang hilang.


Leon terdiam cukup lama, lagi-lagi ia meneteskan air mata. Ia takut terjadi sesuatu pada Aileen di luar sana. Leon juga merasa rindu pada Aileen.


Kabar ataupun sedikit jejak dari Aileen tidak ada sama sekali. Ericko pintar sekali menyembunyikannya.


****


Italia....


Di depan club' malam itu, Aileen berhasil dengan susah payah, keluar melalui pintu kuning. Tangannya berdarah tertembak oleh peluru yang ditembakkan Anderson padanya. Di belakang sama, terlihat Ericko dan Toni mengganggunya.


Nafas Aileen terengah-engah dan dia menatap kakeknya dengan tatapan tajam, penuh emosi membara. Sementara Toni menatapnya dengan lega karena Aileen berhasil selamat.


"Baguslah kau tidak mati," ucap Ericko dengan mudahnya.


"Ya, Aku tidak akan mati sebelum aku berhasil membunuhmu." kata Aileen sinis, sorot mata yang tadi takut kini berubah menjadi tajam dan berani.


Ericko melihat perubahan pada cucunya, ia menepuk-nepuk bahu Aileen dengan bangga. "Baiklah, aku akan menunggu saat di mana kau membunuhku. Tapi, kau masih harus terus belajar."


"Tenang saja pak tua, aku masih punya banyak waktu. Aku rasa umurmu juga cukup panjang, biasanya orang jahat memiliki umur yang panjang." Aileen sarkas, matanya melihat Eriko penuh dengan dendam.


"Ya, aku tunggu pembalasanmu cucuku tersayang."


Tak berselang lama kemudian, tubuh Aileen limbung dan Toni yang menangkapnya. Gadis itu tidak sadarkan diri.


Mereka pun tiba di mansion Ericko yang keberadaannya jauh dari keramaian. Mansion yang penuh dengan anak buah Ericko dan banyak pelayan disana.


Ericko memerintahkan dokter pribadinya untuk memeriksa kondisi Aileen dan mengobati luka tembak di tangannya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Luka tembak di tangannya tidak serius karena hanya mengenai kulit luarnya saja tidak sampai ke dalam. Namun..."


"Namun apa?" Ericko melihat dokter pria itu yang tampak bingung.


"Saya yakin bahwa nona sedang hamil, walau usia kandungannya masih kecil tapi saya masih bisa mendeteksinya." jelas si dokter.


"APA? AILEEN HAMIL?!" Ericko kaget Bukan main ketika dokter tersebut mengatakan bahwa cucunya tengah berbadan dua. Benih cinta Leon dan dirinya telah tumbuh didalam rahimnya.


...****...


Spoiler...


"Mom, kenapa kita berada disini terus? Kenapa kita tidak boleh pergi ke dunia luar? Kenapa kakek melarang kita pergi dan kenapa kakek memukuli mommy?" seorang anak laki-laki yang tampan, mencecar Aileen dengan beragam pertanyaan yang sulit dijawabnya.

__ADS_1


...****...


Author mau double up, jangan lupa vote, gift dan komennya ya 😘😘😍


__ADS_2