Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 95. Kabar bahagia


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Alexander membantu Ratna untuk merawat Alea, ia merasa bersalah karena sempat mengatakan hal-hal yang buruk tentang Alea. Bahwa ia tidak menyukai Alea, membenci Alea dan tak mau punya adik seperti Alea.


Alexander sungguh menyesal, itu sebabnya ia tak berani mendekati Alea selama beberapa hari ini. Padahal Alea selalu menanyakan keadaan kakaknya itu, dia tidak marah sama sekali pada kakaknya.


"Tuan muda, demam nona Alea sudah turun. Lebih baik tuan muda tidur aja ya? Ini udah malam, jangan tunggu tuan dan nyonya pulang...mungkin mereka masih lama." ucap Ratna seraya menepuk rambut Alexander dengan lembut.


"Gak mau bi, aku mau disini aja jagain Lea." ucap Alexander sedih.


"Tapi tuan muda, nanti tuan muda sakit loh!" Ratna mengingatkan. "Besok tuan muda sekolah, jadi tidurnya harus cukup." imbuhnya lagi.


Alexander menggelengkan kepalanya, ia menolak ucapan Ratna. Alexander mengatakan bahwa ia akan tidur dengan Alea, tidak peduli dia akan tertular demamnya atau tidak. Pokoknya Alexander ingin menjaga saudara kembarnya itu.


Ratna tak bisa berbuat apa-apa, kedua majikannya juga belum pulang dan ia pun tiduran di sofa itu sambil menjaga si kembar.


*****


πŸ€Rumah sakit HarapanπŸ€


Seorang dokter wanita memeriksa kondisi Aileen kala itu. Leon sempat heran sebab si dokter itu adalah dokter kandungan dan tampak akrab dengan istrinya.


Apalagi dokter wanita itu menggunakan alat USG segala untuk memeriksa perut istrinya. Tentulah Leon keheranan dibuatnya.


Aduh, pasti sekarang aku ketahuan hamil deh. Padahal aku masih kejutan sama mas Leon.


"Aduh ibu, kenapa bisa pendarahan lagi? Saya sudah bilang kandungan ibu rentan.Apalagi saat itu ibu pernah jatuh kan?" cecar dokter itu sambil menyuntikkan obat penguat kandungan ke tangan Aileen. Wanita itu sendiri, masih terlihat kesakitan.


"Iya Dok,maafkan saya..." lirih Aileen sambil memegangi perutnya.


"A-APA? Pendarahan lagi?Kandungan? Pernah jatuh?" sontak saja pertanyaan keluar dari bibir Leon, keningnya berkerut mendengar ucapan sang dokter. Sungguh ia tak paham dengan apa yang dibicarakan dokter.


Lalu beberapa detik kemudian setelah Leon berhasil mencerna ucapan dokter. Leon pun bertanya. "Dok, apa istri saya sedang hamil?"


"Iya pak, benar. Apa bapak tidak tahu?" tanya balik dokter wanita itu. "Istri bapak sudah beberapa kali datang kesini, saat itu istri bapak pendarahan juga." jelas sang dokter yang seperti menaruh bensin ke dalam api.


Aduh! Mas Leon pasti marah nih, gimana dong?


Leon mengerutkan keningnya, ia menatap tajam ke arah istrinya. Ya jelas Leon kesal, kenapa istrinya tidak memberitahukannya hal penting seperti ini.

__ADS_1


"Lalu bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya dok? Apa perlu di rawat?" tanya Leon pada dokter itu, namun tatapan mautnya tak terlepas dari sang istri dan membuat Aileen memalingkan wajahnya.


Euh...mas Leon sangat menyeramkan!


"Untuk malam ini sebaiknya Bu Aileen berada disini dulu pak. Supaya pihak rumah sakit bisa mengontrol keadaannya, takutnya ada pendarahan lagi." jelas dokter.


"Tidak usah dirawat dok, saya tidak apa-apa!" Aileen menggelengkan kepalanya.


"Baiklah dok, terima kasih." jawab Leon seraya tersenyum tipis, ia tak mengindahkan ucapan Aileen.


"Iya pak, sama-sama. Jangan sampai istrinya kelelahan ya pak, beliau harus bed rest! Kandungannya rentan," ucap dokter itu sebelum ia pergi meninggalkan ruang rawat Aileen.


Begitu pintu ruangan itu tertutup, Leon segera mendudukkan dirinya di atas kursi tepat disamping ranjang istrinya berbaring.


Sontak, Aileen langsung membuat muka. Ia takut suaminya murka, dari tadi dia terus menelan saliva kasarnya.


"Sejak kapan kamu tau kalau kamu hamil? Terus kapan kamu pernah jatuh, Ai?" pertanyaan itu bagaikan tombak yang menghantam hati Aileen. Pasalnya suara Leon terdengar tajam di telinganya.


"Ai jawab! Aku butuh penjelasan," ucap Leon tegas. "Lihat aku, tatap mataku Ai." pintanya.


Dengan perlahan-lahan, Aileen membalikkan kembali wajahnya ke arah Leon. Namun ia masih belum berani menatap suaminya itu.


"Mas, aku baru tau kehamilanku saat ulang tahunku."


"Itu gak sengaja aku jatuh di butik," jawabnya bohong.


"Kapan?"


"Pas ulang tahunku juga, Mas."


"Jadi waktu itu kamu telat jemput si kembar karena kamu jatuh, terus ke rumah sakit?"tanya Leon lagi.


"Iya mas." Aileen menganggukkan kepalanya.


"Benaran kamu jatuh gak sengaja?" tanya Leon tak percaya saat melihat raut wajah Aileen yang gugup.


"I-iya."


"Tadi kamu bilang kan kalau kamu jatuh pas ulang tahun kamu? Oke, aku bakal suruh orang cek rekaman CCTV di butik kalau kamu gak mau jujur." Leon mengancam istrinya, lalu ia pun mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Ja-jangan mas! Oke aku jujur, aku jujur deh." Aileen memegang tangan suaminya.


"Bilang," ujarnya singkat.


"Celia dorong aku, mas." jawab Aileen pelan namun masih bisa terdengar oleh Leon.


"Celia? Dia ke butik kamu dan kamu gak bilang sama aku?!" Leon mengerutkan keningnya.


"Jangan emosi dulu mas!" serka Aileen melihat suaminya mulai emosi.


"Aku pikir dia sudah mati! Huh, beraninya dia menganggu istriku dan membahayakan bayi kita! Lihat saja, aku akan---"


Cup!


Leon terdiam manakala ia mendapatkan kecupan dari Aileen yang membungkam bibirnya. "Udah ya, jangan bahas itu lagi. Aku kan gak apa-apa! So please, jangan emosi."


"Kamu...selalu saja membuatku kehabisan kata-kata, sayang." ucap Leon sambil menggigit bibir bagian bawahnya.


"Aku hamil lagi, apa kamu gak senang? Kamu belum bilang selamat sama aku,"


Seketika wajah Leon langsung berubah menjadi bahagia, ia melupakan kekesalannya pada Celia. Leon mengusap perut datar istrinya. "Tentu aku senang sayang, didalam sini ada calon anak kita! Dan aku akan merasakan masa-masa kehamilanmu, kali ini aku tidak akan melewatkannya seperti saat kamu hamil si kembar. Aku akan menemanimu, sayang. Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan lagi!"


"Iya mas,"


"Nah sekarang kamu mau makan apa? Kamu lapar kan? Atau kamu mau minum apa? Aku siap melayani semua bentuk ngidam kamu sayang, meski permintaan kamu aneh-aneh."


Dimana lagi ada suami seperti Leon, ketika pria lain mungkin mengeluh ketika istri mereka sedang ngidam. Tapi beda halnya dengan Leon yang malah menawarkan istrinya untuk ngidam dan meminta yang aneh-aneh. Darimana Leon memiliki asumsi seperti itu tentang ibu hamil? Ya, saat Aileen menghilang dia pernah membaca beberapa buku tentang ibu hamil dan ia masih mengingat apa yang tertulis di buku itu.


"Mas, aku gak mau apa-apa. Aku mau istirahat aja." ucap Aileen.


"Benarkah? Kamu tidak mau aku bawakan makanan? Mangga muda? Atau--"


"Tidak mas, lebih baik kamu pulang saja kasihan anak-anak di rumah. Alea juga lagi sakit kan? Aku cuma butuh tiduran," Aileen cemas pada kedua anaknya di rumah.


"Hem...iya juga ya. Aku telepon dulu bi Ratna ya," ucap Leon seraya mengusap lembut pipi istrinya.


Sungguh ia sangat bahagia mengetahui Aileen hamil lagi. Leon berjanji bahwa kali ini ia tidak akan melewatkan proses kehamilan Aileen. Dulu Leon tidak sempat merasakan moment dimana Aileen hamil si kembar.


...****...

__ADS_1


Hai Readers, sambil nunggu up novelku...mampir kesini ya 😍😍😘 karya kak Vita Zhao.. seru banget ❀️❀️ Ter uwu uwu



__ADS_2