
...πππ...
Di rumah mewah Xavier, Leon sedang makan sendirian dengan tidak bersemangat. Raganya ada di rumah itu tapi hatinya bersama Aileen di rumah sakit. Tak terlewat sedetik pun tanpa memikirkan Aileen.
Kenangan bersama Aileen di rumah itu membuat Leon menyadari bahwa arti Aileen begitulah penting di dalam hidupnya. Namun teringat dengan hubungan mereka yang retak akhir-akhir ini, membuat Leon merasa bersalah.
Bahkan Leon pernah menampar Aileen saat gadis itu baru pulang dari luar negeri dan itu demi membela Celia. Tak hanya itu, dia juga mengatakan tak akan peduli pada Aileen karena Celia yang terkena minyak panas. Leon juga melecehkannya dengan mencium bibir Aileen dan mengatakan maaf begitu saja.
"Maafkan Papa, Ai... Papa juga tidak tahu apa yang Papa rasakan kepadamu selama ini. Tapi papa sadar, ada yang berubah diantara kita sejak kamu kembali ke rumah ini." gumam Leon, lalu mengambil gelas berisi air minum dan meneguknya sampai habis.
Dreett... dreett...
Ponsel Leon berbunyi, dia melihat siapa yang menelponnya. Tertera nama Lusi disana, dia pun segera mengangkat telepon dari Lusi karena wanita itulah yang menjaga Aileen di rumah sakit. Apa terjadi sesuatu pada Aileen?
"Halo Si."
"Leon, cepat kamu kemari! Aileen.... terjadi sesuatu pada Aileen!" kata Lusi terburu-buru.
"Aku akan segera datang!" seru Leon lalu beranjak dari tempat duduknya dengan wajah panik. Dia segera mengakhiri makannya dan bergegas pergi ke rumah sakit dengan terburu-buru.
Leon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, dan hatinya begitu berdebar mendengar telepon dari Lusi, bahwa terjadi sesuatu kepada Aileen.
"Oh God! Please, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Aileen...please God!" Leon komat-kamit membaca doa demi keselamatan Aileen.
Waktu yang harusnya ditempuh sekitar 20 menit, tapi Leon hanya sampai 10 menit ke rumah sakit dengan mode ngebutnya. Nafasnya terengah-engah begitu dia sampai di lorong ruang rawat VVIP itu. Dia berlari dan melihat beberapa dokter masuk ke ruangan Aileen.
ASTAGA...apa yang terjadi?
Leon semakin mendekat ke ruangan VVIP itu, dia masuk ke dalam ruangan dan melihat ada tiga dokter memeriksa keadaan Aileen. Mereka adalah dokter profesional dan tentunya dokter senior yang diperintahkan oleh Leon untuk mengawasi Aileen selama gadis itu koma.
"Apa yang terjadi?" tanya Leon pada Lusi dan Cleo yang berdiri tak jauh dari tempat pembaringan Aileen.
"Om...Aileen sudah siuman," jawab Cleo sambil tersenyum haru melihat sahabatnya telah siuman.
"Aileen siuman?" Leon terperangah, ia tak percaya mendengar ucapan Cleo. Akhirnya ia melihat Aileen yang sedang di periksa dokter untuk memastikannya sendiri.
Ketiga dokter itu langsung memberi jalan pada Leon untuk mendekat pada Aileen. Wajah mereka terlihat sumringah. Ada rasa tak percaya juga, Aileen bisa kembali sadar.Tapi inilah kenyataannya.
"Ai..." lirih Leon melihat kedua mata Aileen yang sudah terbuka den memperlihatkan mata berwarna biru itu. "Kamu sudah siuman sayang?"
__ADS_1
Mata Aileen berkedip, menatap Leon. Wajahnya masih terlihat pucat dan dia belum bisa bicara.
"Syukurlah sayang! Syukurlah kamu sudah sadar," air mata Leon jatuh sampai membasahi punggung tangan Aileen, tak hentinya dia mengucap syukur pada Tuhan yang sudah mengabulkan doanya.
"Dokter! Bagaimana keadaan Aileen?" lalu Leon menoleh ke arah dokter dan menanyakan kondisi Aileen saat ini.
"Keadaannya sudah lebih baik pak, suatu keajaiban nona Aileen bisa kembali bangun. Hanya saja nona Aileen masih lemas karena terlalu lama tidur, nanti saya dan dokter lain akan memeriksa kondisi keseluruhan di ruang ct scan." jelas salah satu dokter yang berdiri disana dan merawat Aileen.
"Baik dok, terima kasih."
Setelah memeriksa kondisi Aileen dari luar, ketiga tim medis itu pun keluar meninggalkan ruangan Aileen. Menyisakan Leon, Cleo dan Lusi disana.
"Syukurlah Ai, kamu baik-baik saja." Cleo tersenyum bahagia melihat sahabatnya sudah siuman.
"Sayang, kamu mau apa? Kamu haus? Atau kamu lapar?"
"Ka...lian...siapa?" tanya Aileen terbata dengan wajah yang bingung menatap semua orang yang ada di dekatnya saat ini.
Sontak saja pertanyaan Aileen membuat Cleo, Lusi dan Leon tercengang.
"Sayang, ini Papa! Kamu lupa sama Papa?" tanya Leon cemas.
"Aku....tidak kenal kalian..." lirihnya pelan.
"Omigod!" Cleo ternganga mendengar ucapan Aileen yang mengatakan bahwa ia tidak mengenal mereka. "Apa ini seperti di film film?" gumam Cleo pelan.
Perkataan Aileen seketika membuat Leon panik bukan main. "Lusi, cepat panggil dokter!"
"Ah...siap Leon!"
Lusi bergerak cepat dan kembali memanggil dokter keuangan itu. Dokter pun memeriksa kondisi Aileen. "Sepertinya nona mengalami amnesia,"
"Amnesia? Beneran?" Cleo, Lusi menggelengkan kepalanya tak percaya. Sedangkan Leon mengusap wajahnya dengan kasar, dia syok dan tak percaya akan ada amnesia seperti ini. Ia pikir amnesia hanya ada dalam drama.
"Sepertinya benturan keras di kepala berpengaruh pada bagian ingatannya." terang dokter lagi yang membuat tiga orang disana mendesah.
"Lalu ingatannya akan kembali?"
"Tenang saja pak, sepertinya ini hanya kehilangan ingatan sementara. Mengingat luka di kepala tidak separah sebelumnya."
__ADS_1
Setidaknya jawaban dokter yang satu ini membuat Leon sedikit lega, hanya sedikit saja. Tidak banyak!
Setelah itu dokter kembali mengurus pekerjaannya dan meninggalkan ruangan itu. Aileen melihat pada Leon, Cleo dan Lusi dengan bingung.
"Tante, sepertinya anak ini benar-benar hilang ingatan." bisik Cleo pada Lusi, dia sudah akrab dengan istri Bram itu selama 3 hari terakhir karena menjaga Aileen bersama.
"Haih...apa kamu tidak dengar apa kata dokter barusan? Aileen beneran hilang ingatan!" bisik Lusi membalas ucapan Cleo.
Kedua wanita itu menatap Aileen dengan miris. Mereka tidak menyangka akan ada drama amnesia yang sering mereka tonton dalam drama.
Leon terlihat sedih, beberapa kali dia menelan saliva dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jadi--kalian siapanya aku?" tanya Aileen memecah keheningan disana, matanya melihat Cleo, Leon dan Lusi secara bergantian.
"Aku...aku teman kamu, sahabat kamu! Aku Cleo."
"Sayang ini Tante Lusi, tante adalah istri om Bram. Tante dan suami Tante sering bermain dengan kamu dari kecil," ucap Lusi seraya memegang tangan Aileen dengan lembut.
"Oh...akan aku ingat. Tapi siapa pria tua itu?" tanya Aileen seraya menunjuk pada Leon yang sedari tadi gelisah.
Leon pun menoleh ke arah Aileen dengan tatapan sendu. Rasanya ia terpukul dengan keadaan Aileen yang seperti ini.
"Ini Papa kamu," jawab Leon mendesah pelan.
"Papaku? Tapi kenapa ya papaku seperti tidak suka aku siuman?" tuduh Aileen yang sedari tadi merasakan ada yang berbeda dari sikap Leon. Mendesah, gelisah, bahkan memalingkan wajah dari Aileen. Wajar saja jika Aileen berpikir begitu.
"Maafkan papa, papa hanya tidak menyangka kalau kamu akan hilang ingatan. Papa senang kamu kembali," lirih Leon, seraya membelai wajah Aileen dan gadis itu tak menolaknya.
Oh tuhan, apa ini hukumanku? Karena aku telah mengabaikan perasaan Aileen dan tak percaya padanya soal Celia?
Krukkk..
Krukkk...
Bunyi memalukan itu terdengar keras dari perut Aileen. "Kamu lapar ya?"tanya Leon.
Aileen mengangguk.
"Baiklah, Papa akan belikan makanan untukmu. Lusi, Cleo tolong jaga Aileen sebentar ya!" kata Leon berujar pada dua wanita itu dan dibalas dengan senyum disertai anggukan kepala.
__ADS_1
...****...