Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 86. Kembali ke tanah air


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Leon mulai melakukan aksi dan hasratnya yang tadi tertahan, ya mereka akan melakukannya di dapur.


"Uh...mas...kita pindah saja ya? Aku...takut nanti ada yang kesini." Aileen mendesah, manakala Leon terus menjelajahi tubuhnya dengan lidah dan bibirnya. Bagian atasnya sudah habis dilahap oleh pria itu, meninggalkan jejak kepemilikan disana.


"Gak akan ada siapa-siapa sayang, mas lagi nanggung. Masa kamu tega?" pria itu melorotkan piyama tidur Aileen dan membuat bagian atas tubuhnya terpampang. Dengan penuh hasrat membara, Leon segera meremass si Lala dan si Lili hingga menciptakan lenguhan dari sang empunya.


Lenguhan itu terdengar seperti musik yang mengalun indah ditelinga Leon. Membuat pria itu semakin bernafsu ingin mencapai surga dunia goa Viana yang sudah lama tidak ia masuki.


Perlahan tapi pasti, Leon menarik si segitiga Bermuda berwarna pink itu hingga membuat si goa terlihat jelas di matanya tanpa sehelai benang. Pandangan keduanya telah sama-sama penuh gairah dan kerinduan, malam ini Leon pastikan akan dapat surga dunia itu.


"Ahhh!!" Aileen menjerit manakala ia merasakan jari-jari si pria mulai menjinakkan goa miliknya.


"Kamu masih sempit, Ai! Tunggu sebentar ya sayang." bisik Leon pada sang istri.


Keduanya telah sama-sama berkeringat setelah foreplay yang dilakukan Leon terhadap Aileen. Kini ia memulai aksi Pamungkasnya dengan si piton. Tak berselang lama kemudian, keduanya telah menyatu dengan posisi Aileen yang duduk diatas meja panjang di dapur.


Suara ketipak ketipuk syahdu mengiringi pergulatan panas mereka di dapur. Satu jam kemudian, keduanya telah sama-sama mendapat pelepasan dengan semburan vanilla di dalam goa Viana. Aileen dan Leon saling memeluk dengan kondisi bisa dikatakan berantakan.


"Thanks for night servis, honey." bisik Leon yang sudah merasa puas.


Aileen tak menjawab, ia hanya memeluk suaminya dengan erat penuh rasa bahagia. Ia sudah lama tak menyatu bersama suaminya ini.


Sebagai pria yang bertanggung jawab, Leon membantu Aileen merapikan pakaiannya kembali dan membersihkan sisa sisa percintaan mereka.


"Mas, aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi...aku sangat bahagia!" kata Aileen pada sang suami.


"Aku juga baby, mari kita kembali ke tanah air kita dan memulai hidup baru disana. Si kembar pasti akan senang," ucap Leon seraya tersenyum. Ia tak sabar ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Aileen dan kedua anaknya yang lucu itu.


"Iya mas,"


Usai pergulatan didapur itu, Aileen dan Leon kembali menemani anak-anak mereka tidur bersama.


****


Keesokan harinya, pagi itu setelah selesai sarapan bersama. Leon, Aileen, Bram, Erina dan si kembar bersiap-siap untuk pergi ke Indonesia. Negara tanah air mereka tercinta, Alea dan Alexander tak sabar ingin naik pesawat. Sebab selama ini mereka tidak pernah keluar dari mansion dan selalu berada di rumah.


Leon pun memilih pesawat pribadi sebagai transportasi mereka untuk kembali ke Jakarta. Terlihat si kembar yang berlarian di atas pesawat dengan perasaan bahagia.


"Woah! Aku naik pesawat! Yeeeh...aku naik pesawat! Horee!" Alea pergi jingkrak-jingkrak saking senangnya menaiki pesawat. Anak Leon dan Aileen yang satu ini selalu membawa boneka beruang milik mamanya kemana-mana. Boneka itu telah menjadi boneka kesayangannya juga.


"Alea, kamu jangan norak deh! Ayo duduk, jangan malu-maluin gitu." kata Alexander menegur adiknya yang jingkrak jingkrak di atas pesawat.


"Bialin aja! Aku senang banget soalnya, kamu jangan ganggu kesenanganku ya! Aku tau kamu juga cenang kan bisa naik pesawat? Tadi kamu juga senyum-senyum didepan pesawat sambil bilang yes yes yes." Alea menegur kakaknya, ia tak mau kalah. Alea ingin membalas Alexander yang selalu mengejeknya.


Wajah Alexander langsung memerah begitu mendengar ucapan Alea, sontak ia membuang muka dari tatapan Alea, Leon dan juga Aileen yang sedang tertuju padanya.


"Ih Alex gak mau ngaku! Alex jaim..." Alea dengan jahil menepuk-nepuk tangan Alexander.


"Siapa yang kayak gitu? Kamu jangan ngarang deh, Alea." Alexander menyangkal, wajahnya terlihat panik.


"Ih jaimnya gak ketolongan ya Alex ini, ayo ngaku! Cepetan!" Alea berkacak pinggang, matanya memicing menatap sang kakak yang lahir hanya berbeda 15 menit dengannya itu. Tapi Alexander tak mau mengaku, dia tetap jaga image dan tak mau terlihat seperti anak kecil, padahal dia memang anak kecil.


Akhirnya mereka berdua pun berdebat tak mau kalah, Aileen dan Leon senyum-senyum melihat kelakuan anak kembar mereka.


"Sayang, apa mereka memang selalu berdebat seperti itu? Apa tidak apa-apa?" tanya Leon pada istrinya, ia ingin tau lebih banyak tentang anak kembar mereka.


"Iya gak apa-apa kok, mereka emang suka begitu mas. Alea...kelihatannya dia jail sama kakaknya, tapi dia sayang banget sama Alexander. Dia juga imut dan gemesin, apalagi kalau lagi manja...aduh..."


"Iya kalau dia sih mirip Aileen junior, gemesin. Apalagi kalau lagi ngambek. Aku seperti melihat kamu waktu kecil dalam diri Alea."


"Benarkah?" Aileen tak percaya.

__ADS_1


"Iya, imut banget!" Leon mencubit pelan pipi Aileen dengan gemas dan wanita itu tersenyum lebar.


"Dan aku melihatmu pada diri Alexander, kamu mirip banget sama dia, mas."


"Oh ya?"


"Iya, dia jaim banget kayak kamu dan kaku! Tapi dibalik semua itu, Alexander penyayang sama kayak kamu. Dingin luarnya aja, dalamnya--"


"Panas!" Leon langsung memotong ucapan Aileen dan membuat wanita itu mendelik ke arahnya.


Pria itu semakin merapat kepada istrinya lalu membisikan sesuatu kepadanya. "Panas seperti semalam."


Blush!


Pipi Aileen langsung merah merona begitu mendengar bisikan dari sang suami. Ia jadi terbayang-bayang dengan kejadian semalam di dapur. Kejadian penyatuan mereka berdua yang penuh gelora.


"Mas..."


"Nanti lanjut di rumah ya," bisiknya lagi sambil menyentuh bibir sensual Aileen dengan jari telunjuknya.


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 17 jam, mereka pun sampai di Jakarta pada tengah malam. Kedua anak kembar mereka tertidur pulas, Alea digendong oleh Leon dan jagoannya digendong oleh Aileen.


Kini Aileen berada didepan mansion Xavier, rumah yang sudah 5 tahun lamanya ia tinggalkan. Air matanya mengalir begitu melihat rumah itu, ia tidak menyangka bahwa dia akan kembali lagi ke rumah itu.


Pintu rumah itu pun terbuka, terlihat seorang wanita tidak asing disana. Ratna, sekarang dirinya sudah semakin menua dan saat ini ia menangis melihat Aileen. Wanita tua itu terlihat sangat merindukan Aileen.


"Non..."


"Bibi."


Ratna memeluk Aileen dan Alexander yang masih tidur di gendongan Aileen. Ratna terkejut melihat dua orang anak disana, satu dibawa Aileen dan satunya lagi dibawa oleh Leon. Ia menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan yang menelisik, seolah bertanya siapa dua anak yang mereka bawa ini.


"Bi, mereka adalah anak-anak kami. Mereka kembar." jawab Leon yang seketika membuat air mata Ratna tak terbendung lagi.


Setelah menidurkan si kembar di kamar mereka, Aileen, Leon dan Ratna berbincang-bincang sedikit di ruang tengah ditemani secangkir teh hangat.


Aileen menceritakan semua yang terjadi padanya selamat tinggal di Italia, lebih tepatnya di mansion Arlando. Bagaimana kehidupannya di sana dan bagaimana dia menjaga si kembar agar tetap aman dari tangan kakeknya sendiri.


Disepanjang cerita itu, Ratna menangis sesenggukan membayangkan betapa menderitanya Aileen saat dia hidup di luar negeri, berjuang seorang diri untuk membesarkan kedua anaknya di tengah-tengah bahaya.


"Bi, bibi jangan nangis lagi ya. Disana aku tidak sendirian kok, aku dibantu oleh Erina dan juga mendiang pak Tony. Mereka selalu membantuku dan si kembar juga menjaga kami. Aku bisa bertahan di sana demi mereka."


"Hiks... syukurlah non, bibi senang akhirnya non bisa kembali ke rumah ini dan membawa dua malaikat kecil yang mirip dengan non dan juga tuan." tangisan pilu Ratna kini berganti menjadi tangisan haru, ya semuanya kini telah terselesaikan dengan kembalinya Aileen plus dengan si kembar juga.


"Iya Bi, aku juga senang bisa ketemu sama bibi lagi. Bibi semakin cantik saja,"


"Hadeuh si non, yang ada bibi ini makin tua non!" Ratna tersenyum mendengar candaan dari Aileen, candaan yang sudah lama tidak dia dengar.


"Tua? Mana ada? Bibi itu awet muda, malahan makin cantik lagi...hehe." Aileen terkekeh setelah melontarkan candaannya.


Apakah hari bahagia akan menghampirinya kali ini? Apakah penderitaannya akan berakhir? Sepertinya begitu, sebab dia sudah kembali berkumpul bersama suami dan anak-anaknya. Kembali ke tanah air tercintanya.


*****


Di sebuah rumah mewah, terlihat dua insan tengah memadu kasih. Mereka belum selesai dari pukul 9 malam tadi.


Hingga akhirnya suara tangisan bayi, membuat mereka menghentikan aktivitasnya. Ya, dua insan yang telah memadu kasih itu adalah Sam dan Cleo.


Bagaimana ceritanya mereka bisa bersama? Kini mereka adalah pasangan suami istri dan telah dikaruniai dua orang anak.


"Sayang, kita udahan dulu ya!" kata Cleo sambil merapikan pakaiannya kembali dan mengikat rambutnya.


"Ah-- tapi ini nanggung." kata Sam sambil mengusap rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


"Sayang, anak kita nangis."


Tok, tok, tok!


Terdengar suara ketukan pintu di luar kamar itu. "Mama, papa, Asha nangis!" ujar seorang anak laki-laki yang usianya tak jauh beda dengan Alexander dan Alea. Paras anak laki-laki itu sangat tampan, matanya berwarna abu-abu seperti mata William.


Cleo berjalan bergegas mendekati pintu lalu membuka pintunya, ia melihat putranya Raiden sedang berada disana.


"Mama...Asha nangis!"


"Iya sayang, mama akan pergi kesana." ucap Cleo sambil tersenyum pada putranya itu.


Cleo pun menghampiri putrinya yang berusia 1 tahun, bayi perempuan itu bernama Ashara. Anaknya dan Sam. Semenjak Cleo berhenti dari dunia permodelan dan menikah dengan William. Ia menjadi ibu rumah tangga karena William menginginkannya begitu, William berkata bahwa dia ingin Cleo menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak mereka.


Namun nyatanya semua Itu hanya alasan William saja. Sejak mempunyai anak, William sama sekali tidak peduli pada istri dan anaknya. Pria itu sering pergi keluar rumah, pergi pagi pulang pagi seperti itulah William. Dia mulai berubah saat Cleo melahirkan anaknya.


Bahkan William kembali pada tabiat lamanya yaitu suka bermain wanita. Cleo pikir dengan ikatan pernikahan di antara mereka, maka William akan berubah. 3 tahun Cleo menunggu agar suaminya berubah. Tapi nyatanya William sama sekali tidak berubah. Ketika belangnya ketahuan, William selalu berlaku kasar pada Cleo dan kerap kali memukulnya. Akhirnya Cleo bertemu dengan saya yang saat itu masih jomblo, sering membantu Cleo dan Raiden.


Hingga akhirnya tumbuh perasaan di antara mereka berdua dan membuat Cleo semakin yakin untuk bercerai dari suaminya. Cleo berpisah dan tak lama setelah itu, Sam melamar Cleo dan akhirnya mereka menikah. Sam juga menerima Cleo apa adanya, tentang ia yang memiliki seorang anak dengan William, ataupun status Cleo yang adalah seorang janda. Baginya tidak masalah, yang penting perasaan, komitmen, kejujuran, kesetiaan diantara keduanya.


****


Mansion Xavier.


Pagi itu menjadi pagi yang cerah, setelah kedatangan, Aileen, Alexander dan juga Alea. Rumah besar dan mewah, yang semula sepi itu kini menjadi ramai.


Terlihat Alea yang ceria tengah bermain bersama Ratna dan Frans di taman belakang. Mereka sangat menyukai Alea yang ceria dan energik. Mereka bahkan mengatakan bahwa Alea seperti Aileen waktu kecil, manja, aktif, ceria dan energik. Sementara sang kakak, Alexander tengah bermain dengan pak Anwar, supir di rumah itu. Main robot-robotan.


Mereka berdua serasa hidup bebas dari balik jeruji besi, selama ini mereka kan terkurung di Italia.


Aileen senang melihat kedua anaknya bisa tersenyum dan tertawa lepas disini tanpa ada tekanan. Ketika Aileen sedang sendirian, tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluknya dari belakang dan menunjukkan katalog sebuah seolah TK.


"Sayang, aku sudah ada rekomendasi sekolah TK untuk anak-anak kita! Sekolah TK yang bagus, memiliki fasilitas dan tenaga pengajar terbaik. Tentunya mereka akan terjamin disana, sayang."


"Aku lihat dulu ya mas." Aileen mengambil selebaran kertas itu dari tangan suaminya.


Wanita itu memperhatikan apa yang tertera di selebaran itu, ia tersenyum dan sepertinya apa yang dipilih Leon sesuai ekspektasinya.


"Ini bagus, aku setuju Mas!"


"Aku tau kamu pasti akan setuju denganku," Leon mengecup pipi sang istri dengan gemas.


"Aku akan mendaftarkan anak-anak ke sekolah ini besok, agar mereka bisa cepat sekolah dan tidak ketinggalan pelajaran." ucap Aileen semangat. Ia senang anaknya bisa sekolah di luar dan tidak homeschooling lagi seperti di Italia.


"Kenapa harus nunggu besok? Sekarang juga juga bisa langsung daftarkan mereka! Mumpung ini masih pagi." seru Leon yang tak sabar juga ingin melihat kedua anaknya segera bersekolah.


"Ya udah Mas, ayo kita pergi sekarang. Aku siap-siap dulu ya," ucap Aileen seraya beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamar untuk berganti pakaian.


Dan sesuai dengan ekspektasi mereka, Alea dan Alexander senang dibawa ke sekolah. TK Berlian itulah namanya, sebuah sekolah elit dengan fasilitas terbaik dan tenaga pengajar yang baik juga. Bagi Aileen dan Leon sekolah sama saja, tapi pasangan suami-istri itu ingin yang terbaik untuk anak mereka.


"Alex, sekolahnya bagus ya."


"Iya, ada taman bermain juga tuh. Alea pasti suka kan?" tanya Alexander pada adiknya.


"Iya, suka dong! Nanti Alex main sama Alea disana ya," kata Alea imut-imut manja.


Beginilah kalau mereka sedang akur, beda lagi kalau lagi berantem pasti seperti kucing dan tikus.


"Ayo sayang kita masuk ke dalam," ujar Leon mengajak istri dan kedua anaknya untuk masuk ke ruang kepala sekolah.


Namun saat Leon akan masuk ke dalam sana, tiba-tiba saja seorang wanita berpakaian seksi menabrak tubuhnya. "Aduh! Maaf pak saya tidak sengaja,"


Aileen tampak kesal saat melihat wanita itu menempel pada tubuh suaminya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2