
...πππ...
Pria yang hampir berusia kepala 4 itu, berjalan sempoyongan untuk membeli makanan Prancis kesukaan Aileen di restoran khusus makanan Prancis.
Dia terlihat lesu karena Aileen hilang ingatan, entah mengapa ia merasa kecewa dan sedih karena ingatan Aileen tidak ingat bahwa gadis itu pernah menyatakan cinta padanya.
"Eh...tapi bukankah ini bagus? Kalau Aileen tidak mengingat hal itu, artinya hubunganku dan Aileen bisa kembali seperti semula. Ayah dan anak...tapi kenapa aku merasa tidak senang?" gumam Leon gusar, dia tengah duduk di salah satu kursi restoran Prancis.
"Pak, ini pesanannya sudah siap!"
"Baiklah," Leon beranjak dari tempat duduknya dan mengambil makanan yang dipesannya untuk Aileen. Tak lupa dia membayarnya dengan menggesek kartu karena ia tak punya uang tunai.
Leon pun berjalan pergi meninggalkan restoran tersebut, lalu bergegas kembali ke rumah sakit tempat putrinya dirawat.
****
Di ruang rawat Aileen.
Lusi dan Cleo saling berpandangan, sesekali mereka melihat gadis yang baru saja terbangun dari, itu dengan tatapan bingung. Rasanya mereka sulit percaya bahwa amnesia tidak hanya dalam dunia novel dan dunia sinetron saja. Namun ada di dunia nyata, ya contohnya seperti yang terjadi pada Aileen saat ini.
"Maaf, kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Aileen dengan polosnya, meraba-raba wajahnya. Mungkin ada sesuatu di wajahnya.
"Ai... apa kamu benar-benar amnesia? Atau kamu hanya berpura-pura saja?" ujar Cleo to the poin langsung pada intinya. Keningnya berkerut dan sangat menantikan jawaban dari sahabatnya.
"Aku benar-benar gak ingat kamu ataupun Tante ini." katanya polos sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Melihat gelagat Aileen, Cleo dan Lusi menyimpulkan bahwa gadis itu memang benar-benar hilang ingatan dan tidak berpura-pura. Apalagi cedera kepala yang sebelumnya dialami Aileen hingga membuat ia koma. Suatu keajaiban karena Aileen kembali siuman dan beruntungnya dia hanya hilang ingatan sementara, bukannya cacat seperti pasien cedera lainnya.
"Ya sudah jangan dipaksakan ya! Cleo, kamu jangan tanya-tanya lagi...nanti Aileen stress." tegur Lusi dengan lembut dan tidak membuat Cleo tersinggung.
"Hehe...siap Tante. Oh ya Tante, Aileen, aku mau pamit pergi dulu ya. Ada jadwal pemotretan siang ini,"
"Pemotretan? Apa kamu seorang model? Atau kamu aktris?" tanya Aileen tertarik.
"Aku seorang model, kamu juga terkadang suka ikut denganku ke lokasi pemotretan."
"Pantas saja kamu sangat cantik, tubuhmu juga bagus. Apa aku boleh ikut ke pemotretan denganmu, Cleo?" tanya Aileen kaku, seperti orang yang baru kenal dengan Cleo. Bahkan bicaranya saja formal.
Oh God! Kasihan sahabatku, kepalanya terbentur cukup keras.
"Cleo, apa aku boleh ikut? Aku bosan di rumah sakit, aku mau ikut ya!" Aileen hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun ia berhenti saat merasakan sakit pada bagian tangannya yang di perban. "Uh..."
__ADS_1
"Kamu mau kemana dengan kondisi seperti ini? Kamu masih sakit dan kamu baru saja siuman, Aileen." tegur Lusi, sembari membantu Aileen berbaring kembali di ranjang itu.
"Tapi Tante, aku bosan." rengeknya dengan bibir mengerucut.
Kalau melihat Aileen yang seperti ini, rasanya dia benar-benar Aileen hanya saja dengan versi lebih manja. "Maaf sayang, kamu gak boleh kemana-mana. Papa kamu juga lagi belikan makanan buat kamu,"
"Iya, nanti kalau kamu sudah sehat...aku pasti bakal ajak kamu ke pemotretan. Sekalian kamu siaran live lagi." kata Cleo sambil menenteng tas selempangnya.
"Siaran live?" gumam Aileen bingung.
"Iya, kamu seorang YouTubers...kamu juga endorse kosmetik!"
"Woah..." bibir Aileen membulat, kepalanya mengangguk-ngangguk seakan tak percaya bahwa dirinya adalah seorang YouTubers.
Cleo menatap Aileen dengan iba, kemudian dia mengatakan pada Aileen agar cepat sembuh. Lalu dia pun pergi dari rumah sakit, dijemput oleh William kekasihnya, untuk mengadakan pemotretan.
Tak berselang lama setelah Cleo pergi, Leon datang dan Lusi langsung pamit pulang karena anaknya sedang sakit. "Sorry ya Yon, aku harus pulang...Raisa lagi sakit dan dia sendirian di rumah. Asisten rumah tanggaku lagi pulang kampung."
"Oke Lus...makasih banget udah jagain Aileen. Cepet sembuh buat Raisa, kalau ada apa-apa...kamu bisa minta bantuan sama aku." kata Leon sambil tersenyum. Selama beberapa hari ini dia merasa sangat terbantu dengan kehadiran Lusi yang turut membantu menjaga Aileen di rumah sakit. "Dan sorry ya ngerepotin kamu, Lusi."
"Jangan bicara begitu Yon, kamu tau kan kalau Aileen udah aku anggap seperti anakku sendiri." Lusi tersenyum tulus, lalu mengelus pipi Aileen yang sekarang terlihat kurus itu.
Lusi pun pergi meninggalkan rumah sakit, meninggalkan Leon dan Aileen yang berada di ruangan itu. Leon menawarkan untuk menyuapi Aileen. "Papa suapi ya?"
"Tuan? Ai, papa ini papa kamu loh...kenapa kamu panggil tuan?" tanya Leon tak terima.
"Aku juga tidak tahu kenapa, tapi aku tidak mau memanggil tuan dengan sebutan Papa."
Deg!
Leon terperangah mendengar ucapan polos dari bibir Aileen yang menohok hatinya. Kenapa Aileen tiba-tiba bicara begitu? Mendadak dia merasa seperti orang asing.
"Tuan, sepertinya aku kesulitan untuk makan...apa tawaran tuan barusan masih berlaku?"
"Panggil Papa ya sayang? Papa kan papa kamu." ucap Leon lalu mengambil kotak berisi makanan yang sudah dibelinya untuk Aileen. Ia pun menyuapi Aileen dengan pelan-pelan. Wajah tampannya itu masih terlihat gelisah dan cemas.
"Apa kamu beneran papaku?" Aileen mengunyah makanannya sambil menatap Leon lekat lekat.
"Kenapa? Kamu tidak percaya?" tanya Leon sambil tersenyum, dengan tangan masih menyuapi Aileen.
__ADS_1
"Iya, aku tidak percaya karena untuk disebut papa, kamu masih terlalu muda. Apa usiamu 30 tahun?" tebak Aileen.
Tiba-tiba saja Leon mencubit hidung Aileen dan menekannya kesana-kemari. "Aduh...tuan...ini sakit." rengek Aileen merintih.
"Sopanlah pada papamu, Ai! Panggil Papa!"
"Memangnya berapa usiamu sampai mau dipanggil Papa?"
"Tidak penting! Yang penting aku papamu, panggil aku Papa." Leon melepaskan pegangannya dari hidung Aileen, lalu dia mengambilkan Aileen air minum.
Aileen meneguk air minum itu, dia masih menatap bingung kepada pria yang ada dihadapannya itu.
Aneh, mengapa aku tidak nyaman saat dia mengatakan bahwa dia adalah papaku?
"Kalau kamu Papaku, lalu dimana mamaku?"
"Mamamu sudah meninggal," jawab Leon.
"Kapan?"
"Saat kamu berusia satu tahun." kata Leon sambil membantu Aileen untuk duduk. Sebenarnya Leon bingung harus bagaimana menghadapi Aileen yang hilang ingatan ini.
"Lalu..."
"Jangan banyak tanya." pungkas Leon sambil menopang kepala Aileen untuk bertumpu pada headboard ranjang.
"Hem... Papa, aku mau ke kamar mandi."
"Akan papa gendong," sahut Leon, lalu menggendong Aileen. Mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi. Aileen di dudukan diatas WC duduk. Kemudian tangan Leon memegang celana Aileen dan hendak menurunkannya.
"Astaga! Papa, apa yang Papa lakukan?"
"Membantumu buang air, kamu terluka dan kesulitan untuk membuka celanamu sendiri."
"Tidak! Papa keluar saja, aku bisa sendiri."
"Papa janji tak akan lihat." janji Leon sambil menutup mata, ia membuka celana Aileen. Sontak saja wajah Aileen bersemu merah, lalu dia pun berusaha menyingkirkan tangan Leon dari celananya. "Pa...aku malu...jangan!"
Tak sengaja tubuh gadis itu dan Leon menjadi oleng dan membuat keduanya jatuh dalam posisi berbaring. Leon berada dibawah tubuh Aileen dan Aileen menindihnya.
__ADS_1
Namun hal yang paling membuat terkejut adalah ketika benda kenyal sensual milik mereka menempel.
...****...