
...πππ...
Hari-hari keluarga Leon dan Aileen selalu di kelilingi canda tawa bahagia. Semakin hari sejak kehamilannya Aileen menjadi semakin cantik. Namun sayang dokter melarang Leon untuk menggauli istrinya selama masa kehamilan sebab kandungan istrinya rentan dan lemah. Ya, setidaknya Leon harus menahan diri sampai usia kandungan istrinya bisa dikatakan aman, 4 bulan ke atas mungkin.
Setiap hari Leon selalu memanjakan istrinya dan akhirnya Leon merasakan istrinya ngidam. Masa-masa inilah yang sangat penting dalam kehamilan Aileen, calon buah hati mereka yang ketiga.
Suatu hari di kala pagi, Aileen dan Leon tengah jalan-jalan di sekitar kompleks perumahan mereka. Mereka jalan-jalan berdua saja sebab si kembar sedang menginap di rumah Cleo dan bermain bersama Raiden.
"Mas..." lirih Aileen seraya menggandeng tangan suaminya.
"Kenapa baby? Anak kita mau sesuatu?" pria itu cepat tanggap dan langsung paham mengapa Aileen memanggilnya.
"Mas...aku memang mau sesuatu." bisik Aileen disertai senyuman indah di bibirnya.
"Mau apa? Makanan? Minuman? Atau kamu mau suruh aku panjat pohon lagi? Hem?" tanya Leon seraya tersenyum dan mengusap perut Aileen. "Anak Daddy mau apa nak?" Leon menatap perut itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku bukan mau makanan atau minuman sayang,"
"Kamu mau apa?"
"Aku mau dia mas," Aileen menatap ke arah seorang pria botak yang tengah duduk di kursi taman.
"Hah? Apa maksudmu sayang? Apa kau ingin menikah lagi dengan pria itu? Begitu?!" sentak Leon kaget.
Plakk!
Aileen langsung menepuk lengan kekar suaminya itu. "Aw! Sakit baby!"
"Makanya kalau bicara jangan sembarangan! Aku bukannya mau nikah sama bapak itu, aku mau--"
Aileen langsung mendekat ke arah suaminya dan membisikkan sesuatu yang membuat Leon terkejut bukan main. "APA? Kamu jangan macam-macam sayang?"
"Oh...jadi aku gak boleh? Aku cuma suruh pegang doang mas," wanita itu merengek bak anak kecil yang minta permen.
"Sayang..."
"Ya udah, aku mau pulang aja. Biarin aja nanti anak kita ileran!" beo wanita hamil itu marah.
Leon tidak bisa menolak istrinya, lalu dia pun menuruti permintaan istrinya meskipun permintaan itu aneh. Pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian dia mempersiapkan dirinya untuk melakukan apa yang diinginkan oleh istrinya tersebut.
Kini pria itu dan juga istrinya berjalan menghampiri si pria botak yang tengah duduk di kursi taman. "Permisi pak," sapa Leon.
"Ya, ada apa?" tanya si pria botak tersenyum, dengan kumis tebal di bawah hidungnya.
"Pak, maaf saya ingin meminta izin untuk memegang kepala bapak."
"Hah? Jangan kurang ajar kamu ya!" si pria botak itu langsung naik pitam seketika mendengar permintaan dari Leon. Namun disisi lain Aileen malah tersenyum malahan dia terkekeh melihat itu.
Aduh...anakku yang satu ini kayaknya bakal hobi nindas bapaknya nih.
__ADS_1
Leon melirik ke arah sang istri, wanita itu terus memberikan semangat kepada suaminya.
"Maaf pak, istri saya sedang hamil dan dia lagi ngidam. Dia pengen saya ngelus kepala sama kumis bapak!" kata Leon meminta izin walau dia malu-malu.
Si pria botak itu melunak mendengar penjelasan dari Leon. "Oh begitu...ya udah pak boleh deh."
"MAAF banget pak dan makasih banyak!" seru Leon pada si pria botak dengan sangat.
Leon mulai meraba-raba kepala botak dan kumis si bapak itu. Aileen puas tertawa melihatnya, keinginannya telah terpenuhi. Sementara Leon terlihat malu karenanya.
Ah tapi tidak apa asalkan di jabang bayi bahagia.
****
Tanpa terasa 7 bulan berlalu, kandungan Aileen telah menginjak usia delapan bulan dan tinggal satu bulan lagi mungkin Aileen akan melahirkan.
Perutnya terlihat membuncit, tapi pesona Aileen tetap tak terkalahkan. Ia tetaplah yang tercantik di mata suaminya.
Malam itu Aileen tengah menangis sambil memegang ponselnya. Leon yang baru pulang kerja, keheranan melihat istrinya seperti itu.
"Sayang, kamu kenapa nangis? Sayangku..." ucap Leon seraya menghampiri istrinya yang masih berurai air mata. Di peluknya Aileen dengan lembut. "Sayang, katakan sama mas! Siapa yang sudah menyakiti kamu? Siapa yang sudah bikin kamu menangis, hem..?"
"Mas...dengan keadaanku yang seperti ini, kamu tidak akan selingkuh dariku dan mencari kepuasan dari wanita lain kan?" Aileen menatap suaminya dengan berlinang air mata.
Ya Tuhan, apa Aileen sudah tau tentangnya?
Seketika wajah Leon memucat dan berubah panik saat mendengar ucapan Aileen. Dia mengusap air mata wanita itu dengan cemas. "Kenapa kamu bertanya begitu sayang? Mas tidak akan pernah melakukan semua itu!"
"Ten-tentu saja tidak sayang! Mana mungkin aku begitu, aku tidak mungkin."
"Tapi mas...kamu persis seperti itu. Kamu sering pulang malam dan juga kamu sering lembur. Aku tidak mau kamu selingkuh Mas!" kata Aileen sambil memegang tangan suaminya dengan erat.
"Ai..."
Maafkan aku Ai, jika kamu tau yang sebenarnya. Kamu pasti tidak akan memaafkan kesalahanku. batin Leon tegang.
"Kamu kenapa sih nanya kayak gini sayang?"
"Aku habis baca novel online mas, kasihan banget...suaminya selingkuh saat istrinya lagi hamil besar Mas! Gara-gara istrinya yang gak bisa kasih nafkah batin, dia cari wanita lain untuk melampiaskan nafsunya." celetuk Aileen sambil terisak.
Leon mengurai pelukannya, ia langsung menatap Aileen dengan marah. "Kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu baca novel kayak gituan? Kamu gak percaya sama mas?"
"Mas...bukannya gitu, aku kan cuma tanya aja." Aileen heran melihat suaminya marah bahkan membentaknya.
"Nggak! Kamu nuduh aku, kamu nuduh aku selingkuh!" bentak Leon pada istrinya. Aileen semakin heran dengan perubahan sikap suaminya itu, kemana sifat sabar Leon? Mengapa akhir-akhir ini Leon selalu lembur dan ada pekerjaan di luar kota?
"Mas...kenapa kamu jadi marahin aku? Kenapa kamu bentak-bentak aku?!" Aileen menangis tersedu-sedu, tangannya memegang perut besar itu.
Tanpa sengaja si kembar melihat pertengkaran itu, mereka langsung menuju ke kamar mommy daddynya. Alea dan Alexander tak mau ikut campur, mereka hanya melihat kedua orang tuanya dari ambang pintu.
__ADS_1
"Kak, kenapa akhir-akhir ini Daddy selalu bentak bentak mommy ya? Daddy juga jarang pulang awal ke rumah!" bisik Alea pada kakaknya.
"Kakak juga gak tau," jawab Alexander sambil menggelengkan kepalanya. Dia memang tak tahu apa-apa tapi anak itu curiga pada Leon yang ada apa-apa.
Didalam kamar, Leon meminta maaf pada Aileen karena sudah membuat istrinya menangis.
"Ma-maafkan mas sayang...mas tidak bermaksud untuk membentakmu...maafkan aku sayang." Leon kembali memeluk istrinya.
Mereka pun kembali berbaikan, tapi benar akhir-akhir ini mereka sering berselisih karena sifat Leon yang berubah.
Setiap Aileen menanyakan itu pada Bram, Bram tidak menjawab ada yang aneh dengan Leon karena menurutnya sikap pria itu biasa saja.
*****
Keesokan harinya, Leon pamit akan pergi ke luar kota katanya dengan Bram. Aileen percaya saja dan mengizinkannya pergi. Selama ini ia selalu percaya pada Leon, tapi kali ini Aileen ingin menyelidikinya sendiri. Entah itu kecurigaannya ataukah ada hal lain yang membuat suaminya berubah.
"Kak Agatha ayo kita pergi." ajak Aileen pada Agatha yang sudah menunggunya di depan rumah.
"Ai, kamu yakin? Kakakku Leon tak mungkin melakukan semua ini Ai."
"Kak, aku cuma mau memastikan saja. Bukan aku tak percaya padanya, tapi aku merasakan sendiri sikapnya berubah." jelas Aileen gelisah.
Semoga apa yang dia cemaskan tidak benar.
"Ya sudah, ayo naik dan kita ikuti Leon!" seru Agatha pada Aileen.
Mereka pun naik mobil dengan Agatha sebagai supirnya. Kedua wanita itu mengikuti mobil Leon. Arah mobil itu bukan ke kantor melainkan keluar kota dan melalui jalan tol. Leon pergi ke Bogor.
"Katanya dia akan pergi ke kantor? Tapi..."
"Ai tenang...Ai..." Agatha berusaha menenangkan Aileen yang gelisah dan hampir menangis.
"Om Bram juga bohong, kenapa mereka bohong padaku? Kata om Bram, dia pergi bersama mas Leon?" Aileen mulai takut, dadanya sudah sesak padahal belum apa-apa.
Agatha tidak tahu harus bicara apa untuk menenangkan Aileen. Sebagai sesama wanita, Agatha juga paham bagaimana perasaan Aileen.
Akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah di kota Bogor, dimana Leon memberhentikan mobilnya disana. Aileen dan Agatha keluar dari mobil itu.
Leon mengetuk pintu rumah itu dan keluarlah seorang wanita dengan perut buncit lebih kecil dari perut buncit Aileen mungkin sekitar 5 bulan. Kedua wanita itu berada tak jauh dari sana untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh wanita tersebut dan Leon
"Kamu sudah datang Mas?" sambut wanita cantik berambut pendek itu dengan ramahnya.
"Iya aku datang. Bagaimana keadaan bayi kita?" tanya Leon pada wanita itu dengan wajah dinginnya. Ditangannya Leon membelikan susu ibu hamil dan makanan untuk ibu hamil.
"Baik mas, dia merindukan ayahnya." jawab wanita itu seraya tersenyum.
Ya Tuhan, Aileen dan Agatha terkejut mendengar semua itu. Seketika tubuh Aileen gemetar, air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
"Bayi kita? Bayi kita?" Aileen menutup mulutnya yang menganga. Sungguh dia kecewa, sakit hati, betapa teganya Leon mengkhianatinya seperti ini.
__ADS_1
...*****...