
...πππ...
Setelah berbaikan dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan, Leon dan Aileen semakin lengket. Bak prangko dan amplop yang sulit dipisahkan. Bagai sepasang sepatu yang tidak akan bisa berjalan tanpa salah satunya.
Di rumah, di kantor, hampir setiap saat mereka bertemu dan bermesraan. Leon juga mulai berubah, dia yang awalnya cuek, mencoba untuk bersikap romantis pada Aileen.
Pria itu begitu mengayomi dan melindungi Aileen. Pagi itu pun adalah pagi romantis bagi mereka berdua seperti biasanya.
"Morning papa." sapa Aileen lalu mengecup pipi Leon dengan lembut.
"Morning baby." balas Leon, lalu mengecup pipi kanan Aileen. "Ayo duduk, kita sarapan bersama." Leon memegang tangan Aileen, lalu mendudukkan Leon mendudukkan Aileen di pangkuannya.
"Papa, jangan gini dong." Aileen terkejut, namun dia juga bahagia mendapatkan perlakuan seperti ini dari Leon.
"Gak apa-apa dong sayang, papa gak ngerasa berat kok." kata Leon sama sekali tidak keberatan.
Leon dan Aileen saling menyuapi makanan satu sama lain. Ratna dan dua pelayan lain di rumah itu melihatnya. Tapi mereka mulai merasakan gelagat aneh di antara papa dan anaknya itu. Mereka kini terlihat seperti pasangan kekasih daripada ayah dan anak.
"Bi Ratna, kok saya melihat ada yang aneh ya sama tuan besar dan nona muda?" bisik Lina, seorang pelayan di rumah itu yang bertugas di dapur. Lina mengerutkan kening melihat pemandangan itu.
Ratna terdiam dan tidak langsung menjawab namun wajahnya menjadi pucat. Sepertinya Ratna memang mengetahui sesuatu.
"Ah...aneh gimana?" Ratna malah bertanya balik dengan wajah yang gelisah dan mencurigakan. Sontak saja raut wajah Ratna mengundang kecurigaan kedua pelayan itu.
"Mereka kayak yang pacaran bi!" kata Mila, pelayan yang bertugas untuk menjaga kebersihan rumah kecuali kamar Leon dan kamar Aileen, itu urusan Ratna.
"Hussh! Jangan ngomong sembarangan kamu Mila." sergah Ratna berusaha menepis pikiran-pikiran itu dari Mila dan Lina yang mulai menyadari ada yang aneh di antara Leon dan Aileen.
"Serius bi, masa ayah dan anak bisa sedekat itu sih." Lina melihat adegan mesra didepan matanya.
"Eh...itu gak mungkin, jangan bicara yang aneh-aneh deh mendingan kalian kerja aja sana!" titah Ratna kepada kedua pelayan itu.
Lina dan Mila pun segera pergi dari sana, mereka melakukan pekerjaan masing-masing karena sudah diperintahkan oleh Ratna selaku kepala pelayan di rumah itu.
"Haaahh..." Ratna masih berdiri di sana dan menghela nafas panjang, dia tiba-tiba teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu.
#Flashback
Mansion Xavier.
__ADS_1
Ratna berjalan menuju ke lantai atas dan bermaksud untuk mengambil baju-baju kotor di kamar Aileen. Namun langkah Ratna tiba-tiba saja terhenti di depan pintu kamar Aileen. Ketika ia mendengar suara-suara desahann dan erangan di dalam kamar itu.
Wanita paruh baya itu kemudian mendekat ke arah pintu kamar Aileen dan melihat dua insan di dalam sana tengah bercumbu.
"Ahh...papa... stop it! Ini masih pagi pa, aahh...geli..." Aileen menggelinjang kegelian, akibat serangan kiss Leon yang bertubi-tubi menyerang leher dan wajahnya.
"Bentar lagi sayang, papa butuh isi daya sebelum mandi." Leon masih asyik menciumi bibir Aileen dengan bergairah.
"Pa, aku belum gosok gigi! Aku masih bau pa." Aileen berusaha menghindar dan memalingkan wajahnya kesana kemari.
"Papa juga belum...gak apa-apa kok, kamu tetap wangi. Ayo sayang, give me a power." pinta Leon dengan tangan yang memeluk Aileen begitu erat. Tatapan matanya tak pernah terlepas dari wanita cantik itu.
"But...papa---"
Leon menarik Aileen dari posisi berbaringnya dan kini mereka duduk di atas ranjang itu, Aileen duduk seperti koala di atas pangkuan Leon. Pria berusia matang itu menangkup kedua pipi Aileen, lalu mencium bibir Aileen dengan intens.
Keduanya tampak menikmati kegiatan yang mereka lakukan. Tangan Aileen bahkan mengalung di leher Leon dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Sementara Ratna, yang berada di ambang pintu kamar yang terbuka sedikit itu. Tampak syok melihat pemandangan di dalam sana.
"Tuan besar dan nona muda...mereka... ASTAGA!" wanita berusia setengah baya itu, menutup mulutnya yang menganga dengan satu tangan. Dia tak percaya saat melihat ayah dan anak itu tampak mesra.
Pandangan masyarakat tentang hal ini tentu tidak akan baik dan mereka akan berpikir bahwa ini semua tidak etis.
Bahkan pada suatu hari Leon menyadari bahwa Ratna telah mengetahui hubungan terlarangnya dengan Aileen. Saat malam hari, Ratna kembali ke mansion Xavier untuk mengambil barangnya yang tertinggal dan untuk kesekian kalinya dia melihat Leon Aileen bercumbu di dapur.
"Bi-bi Ratna?" Aileen langsung terperanjat saat melihat kehadiran Ratna di sana. Posisi Aileen masih duduk di atas pantry dengan kondisi kemeja yang kancingnya terbuka dan menampakan aset kembarnya.
"Bibi gak apa-apa kok, bibi ke sini cuman buat ngambil HP." Ratna tersenyum biasa saja. Leon dan Aileen langsung menghentikan kegiatan mereka dan bertanya kepada Ratna, pasalnya wanita paruh baya itu tidak terlihat terkejut melihat mereka seperti ini.
Ratna pun mengaku bahwa dia memang sudah mengetahui tentang Leon dan Aileen yang saat ini tengah menjalin cinta.
"Saya memang nggak bisa bohong sama bibi, saya memang pacaran sama Aileen." cetus Leon seraya tersenyum tipis. Ia memang tidak bisa merahasiakan apapun dari Ratna yang sudah seperti keluarganya sendiri dan tinggal lama di rumah itu.
"Papa!" Aileen menepuk pundak Leon, seolah mengisyaratkan padanya untuk tidak memberitahu Bi Ratna.
"Gak apa-apa non, bibi udah tau kok...hehe. Tenang saja non, tuan, bibi akan merahasiakan semua ini."
"Makasih ya bi." ucap Leon seraya tersenyum lega. Ia memang sudah mengira sebelumnya bahwa Ratna pasti akan merahasiakan semua nya. "Gaji bibi akan saya naikan,"
__ADS_1
"Ah... tidak perlu tuan!"
"Jangan sungkan bi," sahut Leon tak keberatan.
"Beneran tuan, tidak apa-apa. Yang penting hubungan tuan dan nona Aileen langgeng sampai menikah ya. Saya harap begitu karena nona adalah anak yang polos, jangan mengecewakannya tuan."
Aileen menangis haru mendengar apa yang dikatakan oleh Ratna, ia pun mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Ratna. "Bibi..."
"Saya sudah melakukan semua hal sejauh ini, karena saya memang akan menikahinya. Saya serius dan BI Ratna tidak usah khawatir."
"Syukurlah tuan besar."
Ratna tersenyum, ia senang karena Leon tidak main-main dengan perasaannya pada Aileen. Ratna berharap bahwa Aileen dan Leon bisa melewati semua rintangan cinta mereka dan langgeng sampai maut memisahkan.
#Endflashback
Ratna terus ada dari lamunannya dan dia langsung bergegas melakukan pekerjaannya seperti biasa. Sementara Aileen dan Leon berangkat bekerja bersama seperti biasanya.
Kali ini Leon dan Aileen dijemput oleh Bram karena Aileen tidak mau Leon memanfaatkan situasi ketika berduaan di dalam mobil. Dengan adanya orang ketiga, alias Bram. Maka Leon tidak akan berani macam-macam apalagi meminta vitamin C.
Tapi prediksi gadis itu semuanya salah. Leon tetap berani macam-macam, bahkan didepan Bram sekalipun.
"Ai, kamu pakai parfum apa? Wangi banget." pria berhidung mancung itu mengendus-endus leher Aileen, hingga hembusan nafasnya membuat Aileen geli.
"Pa...ada om Bram didepan." bisik Aileen tak nyaman.
"Terus kenapa sayang?" tanya Leon dengan wajah tanpa merasa bersalah.
"Ya, ya terus aja mesra-mesraan...biarkan aku jadi supir disini. Dunia memang milik kalian berdua." celetuk Bram sambil tersenyum.
Aku tak menyangka bahwa kamu akan sebucin ini sama Aileen. Tak kusangka bahwa kamu jatuh cinta pada Putri angkatmu sendiri.
"Maaf ya om Bram."
"Gak apa-apa, anggap aja angin lalu."
Tanpa peduli ada Bram disana, Leon tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Aileen.
...****...
__ADS_1