
...****...
Sesampainya di rumah sakit, Leon menggendong Celia ala bridal dengan wajah panik. Lalu seorang petugas UGD datang dan membawakan ranjang beroda.
Setelah itu Celia dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan dari petugas medis. Beberapa menit berlalu, seorang dokter keluar dari ruang UGD dan dokter mengatakan bahwa luka di tangan Celia hanyalah luka ringan dan tidak akan menimbulkan bekas jika ditangani dengan benar.
Leon terlihat lega saat mendengar penjelasan dari dokter, pria itu pun masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat keadaan tunangannya.
CEKLET!
Pintu ruang UGD itu terbuka lebar, Leon melihat kekasihnya dengan sedih.
"Sayang," ucap Leon seraya menghampiri Celia yang kini sudah duduk di atas ranjang ruang UGD dengan tangan kanan yang di perban.
"Leon…" lirih Celia dengan tatapan mata sendu. Kemudian dia memeluk kekasihnya. "Leon, jangan salahkan Aileen lagi, anakmu tidak bersalah. Aku saja yang tidak berhati-hati saat memasak." Imbuhnya lagi sambil terisak di pelukan Leon.
'Dasar anak kurang ajar, berani sekali dia melukaiku. Awas saja akan aku akan membalasmu' batin Celia kesal pada Aileen yang sudah membuat tangannya terkena luka dari minyak panas.
"Sudahlah! Kau jangan membela Aileen terus, kali ini aku tidak akan membiarkannya. Dia sudah keterlaluan padamu dan aku akan menghukumnya nanti." Kata Leon tegas, dia sayang pada Aileen tapi dia juga sayang pada Celia. Dia tidak mau calon istrinya terluka. Nanti setelah di rumah, Leon berencana untuk menegur dan menghukum putri angkatnya itu.
Setelah Celia dibawa rumah sakit dan di tangannya dinyatakan baik-baik saja oleh dokter tanpa perlu di rawat, Leon bergegas mengantarkan Celia pulang ke apartemen miliknya. Celia memang selalu tinggal disana karena apartemen itu sudah diberikan Leon padanya.
"Makasih sayang, tapi kau lebih baik pulang saja." Ucap Celia begitu pria itu membantunya merebahkan diri diatas sofa empuk apartemen itu.
Leon tersenyum lalu menggelengkan kepalanya."Tidak sayang, aku akan menemanimu disini sampai malam. Kau harus makan malam dan tanganmu sedang terluka, mana mungkin aku membiarkanmu sendirian di sini."
"Tapi sayang, nanti putrimu…" Celia menatap kekasihnya dengan sendu, dari kata-katanya menyiratkan perhatian pada Aileen, namun hatinya berbeda dengan apa yang ia ucapkan.
"Tidak apa-apa sayang, dia pasti sedang menangis di rumah dan aku sudah suruh para bodyguard untuk menjaganya. Dia tidak akan macam-macam." Pria itu tersenyum. Ia tidak tahu saja bahwa Aileen sudah pergi dari rumah sambil membawa mobil sendiri dan entah kemana.
Leon pun merawat Celia dengan perhatian, dia seperti sengaja membuat Leon sibuk dengannya sampai pria itu tak sempat mengecek ponselnya.
*****
__ADS_1
Kini terlihat terang di langit berganti menjadi gelap. Pertanda bahwa hari telah malam. Leon kembali ke rumah setelah memastikan Celia tidur pulas di apartemen mewah tersebut. Saat sampai di depan rumah,usai memarkirkan mobilnya di halaman depan. Leon melihat beberapa bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Aileen sedang mondar-mandir disana dengan wajah gelisah. "Ada apa? Kenapa kalian semua ada disini?" Tanya pria itu dengan intonasi yang rendah namun dingin.
"I-itu pak–"
"Nona Aileen–itu–"
Ketiga bodyguard itu tidak berani menatap Leon, apalagi tatapan mata Leon berubah menjadi mata elang. Ketiganya gelagapan bingung.
"Kenapa kalian terlihat gugup seperti itu? Katakan yang jelas jangan ba-bi-bu begitu!" Ujar Leon dengan intonasi meninggi. "Apa yang terjadi pada Aileen?" Tanya Leon lagi.
"Tuan, maafkan kami yang tidak dapat menjalankan tugas. Kami takut dipecat nona Aileen," kata seorang bodyguard dengan rambut sedikit botak.
"Katakan yang jelas Frans!" Bentak Leon tak sabar dengan laporan dari bodyguardnya.
"Non…non Aileen pergi dari rumah dan membawa mobil sendiri."
Leon tercengang mendengar laporan dari kepala bodyguardnya yang bernama Frans itu. "APA? Kalian benar-benar tidak becus! Kalian tau dimana lokasinya kan? Jangan bilang kalian tak tahu?" Tanya Leon marah. Namun kemarahannya dia tunda dulu pada bodyguardnya sebab dia harus mencari Aileen yang semalam ini belum pulang.
"Non Aileen melarang kami untuk mengikutinya dan nona mematikan alat GPS di mobil itu. Saat kami mengikuti non Aileen, nona pergi meninggalkan mobilnya di tengah jalan dan setelah itu kami tak tahu nona kemana." Tutur Frans dengan kosakata dan penjelasan yang tidak lengkap karena dia takut akan kemarahan Leon.
"Kami sudah menghubungi tuan beberapa kali, tapi tuan tidak mengangkatnya." Jelas Frans lagi.
Leon pun terdiam sejenak, lalu dia melihat ponselnya di dalam sakit jas. Memang ada banyak panggilan dan pesan yang masuk ke ponselnya, tapi Leon belum membukanya karena tadi dia sibuk dengan Celia. "Kenapa ponselku dalam mode getar? Perasaan tadi tidak dalam mode getar?" Gumam Leon pelan.
"Cepat kalian berpencar dan cari putriku!" Titah Leon pada para bodyguardnya. Ketiga pria yang bertubuh tinggi dan berpakaian hitam-hitam itu menganggukkan kepala dengan kompak. Mereka pun menaiki satu mobil sedan berwarna hitam.
Leon juga menaiki mobilnya kembali dan pergi dari rumahnya untuk mencari Aileen.
"Kemana kamu sayang? Kamu tidak pernah keluar malam dan disini juga kamu tidak punya banyak teman." Gumam pria itu cemas.
Di sepanjang perjalanan Leon menelpon Aileen tapi tak kunjung mendapatkan jawaban juga dan membuat Leon semakin cemas. Tapi Leon tak menyerah dan terus menghubungi Aileen juga teman-temannya, tapi tak dijawab juga.
"Sial! Sepertinya nanti aku harus memakaikannya kalung pelacak atau benda yang bisa melacak keberadaannya. Dia tidak boleh jauh dari jangkauanku!" Gerutu Leon sambil menancapkan pedal gas mobilnya semakin kencang dan tak tahu mau kemana.
__ADS_1
*****
Aileen sendiri sedang berada di sebuah tempat hiburan malam, dimana banyak orang berhura-hura disana, ada Cleo dan pacarnya juga disana.
Suara dentuman musik, orang-orang berjoget ria, bercumbu, mabuk-mabukkan, berada dalam satu tempat dan membuat keadaan semakin ramai. Jujur saja Aileen tidak pernah datang ke tempat seperti ini. Walau tinggal di luar negeri selama 3 tahun, dirinya masih seorang gadis polos karena Leon begitu posesif menjaga dirinya.
"Gimana Ai? Kau sudah have fun disini kan?" Tanya Cleo sambil merangkul tubuh mungil sahabat baiknya itu.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Cleo, Aileen malah menatap ponselnya yang ada di atas meja.
'Papa sudah meneleponku puluhan kali? Apa aku angkat aja ya?' tanyanya dalam hati bingung.
"Pasti papamu kan? Angkat aja, bilang padanya kalau kau dia jangan peduli padamu lagi. Kau berani kan Aileen?" Saran Cleo setelah mendengar cerita Aileen tentang sikap papanya. Tapi Aileen tidak cerita tentang perasaannya terhadap Leon kepada Cleo karena takut Cleo membencinya.
"Hem baik, aku juga tak bisa menahan diri." Sahut Aileen dengan wajah polosnya.
Dia pun mengambil ponselnya yang masih berdering itu. Aileen tidak bisa menahan diri, dia tidak tega karena Leon terus menelponnya sampai puluhan kali. Akhirnya ia menjawab panggilan Leon.
"Halo Ai, syukurlah kau mengangkat telpon dari papa. Sayang kau ada dimana sekarang?" Tanya Leon cemas dan lembut, tidak marah-marah seperti tadi pada Aileen.
"Papa tidak perlu peduli lagi padaku pah. Kan papa bilang sendiri kalau papa tidak mau peduli padaku lagi. Pedulikan saja wanita itu!"
"Sayang, maafkan papa ya. Papa lagi-lagi memarahi dirimu. Papa minta maaf sayang. Kau ada dimana? Papa jemput ya sayang?" Leon berusaha membujuk Aileen pulang dengan kata-kata manisnya, dia menanyakan gadis itu ada dimana dan dia akan segera menjemputnya. Tapi Aileen menutup telponnya begitu saja.
Tut…tut…
Dengan kejam Aileen mematikan telepon dari papanya itu. Cleo dan kekasihnya langsung memberikan jempol pada Aileen.
"Haha bagus, nah gitu dong! Kau harus belajar nakal sedikit." Cleo tersenyum bangga dengan sikap Aileen yang mendengarkan saran darinya.
Aileen tidak menjawab, dia malah terlihat galau setelah menutup telepon dari Leon.
Di dalam perjalanan, Leon mendengus kesal karena Aileen menutup telponnya sepihak. "Astaga! Aileen, kau benar-benar menguji kesabaran papa!"
__ADS_1
Kemudian Leon menelpon seseorang dan meminta orang itu untuk membantunya mencari dimana keberadaan Aileen.
*****