
...πππ...
Sebuah mobil yang tidak asing berhenti tepat di tempat parkir sunflower resto. Ya, itu adalah mobil Sam. Pria itu kembali kesana karena ingin menjemput ibunya. Hari ini dia ingin menghabiskan waktu dengan mamanya untuk menghibur mamanya yang baru saja bercerai.
Namun melihat raut wajah mamanya yang terlihat senang, Sam merasa senang tapi dia juga merasa aneh. Mengapa wanita itu tiba-tiba ceria? Lalu kenapa pakaian mamanya berbeda dari yang tadi.
"Ma..."
"Eh Sam...kamu udah datang?" sambut Sahara pada putranya dengan wajah yang berseri-seri.
"Iya Ma, maaf ya mama nunggu lama."
"Iya ih kamu tuh bukannya cepat-cepat kesini, mama mau kenalin kamu sama bidadari cantik dan baik hati." tukas Sahara seraya menepuk lengan Putranya.
"Maaf Ma, Sam kan udah punya bidadari sendiri. Jangan harap mama bisa jodoh jodohin Sam." sergah Sam yang sudah menolak kenalan dengan wanita yang dimaksud bidadari oleh sang mama. Padahal dia tidak tahu saja bahwa bidadari yang dimaksud Sahara adalah Aileen.
"Ya... baiklah kalau memang kamu mau begitu, Mama tidak akan memaksakan kehendakmu. Lagipula jodoh itu urusan Tuhan dan gak bisa dipaksakan." Sahara tersenyum, tadinya dia ingin menjodohkan Aileen dan Sam, namun katanya Sam sudah punya wanita idamannya sendiri. Maka Sahara juga tidak bisa memaksanya karena sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik sama seperti pernikahannya.
"Iya ma, syukurlah mama paham."
"Ya udah ,cepat kenalkan dong sama mama. Bidadari yang sudah buat anak mama taubat."
"Iya ma, doakan Sam bisa mengambil hatinya ya Ma. Nanti barulah Sam akan mengenalkannya sama mama." sahut Sam seraya tersenyum.
"Mama akan selalu mendoakanmu, nak." ucap Sahara tulus mendoakan kebahagiaan anaknya. Sahara tak mau pernikahan Sam sama sepertinya, dia ingin Sam menikah dengan orang yang ia cintai.
Setelah itu Sam dan Sahara pulang bersama, Sam juga pindah ke rumah untuk menemani mamanya yang mengambil cuti beberapa hari setelah perceraiannya. Ia ingin menenangkan dirinya.
πππ
Di dalam mobil, tepat di pinggir jalan. Aileen dan Leon saling berdekatan, bahkan tubuh kekar Leon sudah menindih tubuh Aileen.
Aileen terkejut, kenapa tiba-tiba saja papanya begitu. Apa maksudnya cara kekeluargaan?
"Pa...papa mau ngapain diatas tubuhku? Tu-turun pa..." kedua tangan Aileen mendorong dada Leon, meminta pria itu untuk menjauh darinya.
Sumpah demi apapun, Aileen sangat berdebar-debar saat ini. Kedua mata indah berwarna biru itu menatap polos pria yang kini berada di atas tubuhnya.
"Gak bisa Ai, kamu masih marah sama Papa dan papa mau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan." Leon semakin melonggarkan dasinya, sorot matanya begitu nanar pada Aileen.
Glek!
Aileen menelan salivanya dalam-dalam, ia tidak kuat dengan sensasi panas yang mungil tiba-tiba menyeruak ke seluruh tubuhnya. Apalagi saat Leon mulai membuka satu persatu kancing bajunya.
Oemji...papa mau ngapain?
"Papa..." lirih Aileen
"Kamu marah sama papa karena kamu gak percaya kan sama papa? Papa beneran gak ada apa-apa sama si Luna itu, papa cuma rekan bisnis sama dia." tutur Leon sambil melepas jasnya ke sembarang tempat dan terlempar ke kursi belakang mobil itu.
"Pa...papa..."
Detik berikutnya, dua benda kenyal dari 2 insan yang berada di dalam mobil itu telah menyatu. Awalnya pagutan itu terasa lembut, hingga kedua lidah mereka mulai saling menjelajah di dalam sana. Bertukar Saliva, saling menyesap manisnya bibir itu.
"Aahh.." erang Leon disela-sela ciumannya itu.
Lama kelamaan, ciuman yang lembut itu berubah menjadi intens dan brutal. Tak lama kemudian Leon mengurai ciuman itu, dia mengarahkan bibirnya yang panas dan basah pada leher Aileen.
"Ughh...papa," Aileen menikmati sentuhan dari Leon. Dia membiarkan semuanya mengalir sesuai ritme.
Suara decapan, erangan, desahaan terdengar di mobil itu dan mungkin hanya mereka berdua saja yang tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana.
Dan beberapa saat kemudian Leon mengakhiri cumbuan singkatnya dan dia menunjukkan dadanya yang telanjang.
"Pa..papa.." Aileen mulai panik, pikirannya mulai travelling ke mana-mana. Apa yang Leon lakukan dengan dadanya yang telanjang itu?
Mana mungkin dia akan melanggar prinsip yang selama ini dia jaga. Pikir Aileen dalam hatinya.
Aileen tidak tahu saja betapa laknat pikiran Leon padanya, jujur saja dalam hatinya. Leon ingin segera memakan wanita itu, dia tidak sabar dan berapi-api. Tapi dia langsung teringat dengan prinsipnya.
__ADS_1
"Kamu lihat ini baby, ada nama kamu didalam diri papa." Leon meletakkan tangan Aileen tepat ke dadanya, disana ada tato dengan nama Aileen dan ada tanda hatinya.
"Papa... sejak kapan papa pakai tato?"
"Bukan tato, baby. Tapi stempel! Stempel kalau Papa milik kamu dan kamu adalah milik papa."
Gadis itu meraba-raba dada dengan sedikit bulu milik Leon, lebih tepatnya dia meraba-raba tato bertuliskan namanya di sana. "Tatonya bagus banget pa, aku suka!" komentar Aileen tentang tato di dada Leon. "Aku kira papa buka baju mau ngapa-ngapain, ternyata mau nunjukin tato ini." imbuhnya.
Leon kembali ke posisi semula dan duduk di kursi kemudi. Kemudian dia memakai kembali bajunya. "Iya, tadinya Papa memang mau ngapa-ngapain kamu...tapi papa ingat, kalau kita belum halal. Papa belum bisa masuk sarang."
"Papa...papa omes!" celetuk Aileen sambil mengusap bibirnya yang basah akibat pagutan liat Leon. Kalau dalam urusan ciuman, Leon memang pro. Tapi bagaimana dengan urusan ranjang? Ah! Tuh kan, pikiran Aileen jadi kemana-mana.
Inget Ai inget! Eling kamu! Nyebut...nyebut...kamu belum boleh.
"Omes juga kamu suka kan?"
"Huh!"
"Udahan ngambeknya?"
"Masih." jawabnya jutek.
"Barusan papa udah pakai cara kekeluargaan, masih marah aja," ujar Leon seraya tersenyum pada Aileen yang masih cemberut.
"Cara kekeluargaan ap--"
Cup!
"Begini." jawab Leon setelah mencium bibir Aileen sekilas.
"Ish papa!" gerutu Aileen kesal.
"Udahan ya marahnya,"
"Gak mau." Aileen menggelengkan kepalanya, membuat Leon semakin gemas dengan gadisnya.
"Ya udah kamu maunya apa? Kamu mau papa bukain coklat yang papa bawa? Ah...atau kamu mau beli eskrim." kata Leon membujuk Aileen. Ia tau Aileen bukan gadis yang bisa dibujuk oleh barang, dia lebih suka dibujuk oleh makanan yang manis-manis.
"Yang..."
Deg!
Aileen membeku mendengar panggilan 'yang' begitu merdu di telinganya. Suara bariton rendah ala Leon begitu seksi terdengar oleh Aileen. Gadis itu memalingkan wajahnya ke jendela mobil, menyembunyikan senyuman dibibirnya.
"Ai..."
Aileen menoleh ke arah Leon saat namanya disebut.
Leon tersenyum lalu mengucapkan kata yang membuat Aileen semakin tersipu. "AISHITERU."
"Papa apaan sih!"
Detik berikutnya, Leon melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya seumur hidup. Dia menunjukkan isyarat cinta dalam bahasa Korea. Jari jempol dan telunjuknya saling menyatu.
"Sa-sarang-hae." ucapnya dengan susah payah dan kaku.
"Ish...papa..."
Tidak tahan menahan tawa, akhirnya gadis cantik itu tertawa melihat kekonyolan Leon untuk menghiburnya. "PFut..."
"Kamu udah gak marah lagi kan?" tanya Leon seraya mengusap pipi Aileen dengan lembut. Melihat tawa dan senyum
"Aku gak akan marah lagi kalau papa janji sama aku."
"What's promise, baby?" tanya Leon retoris.
"Papa harus jauhin cewek-cewek yang coba deketin papa, termasuk si Luna itu! Aku gak suka papa dekat-dekat cewek lain, pokoknya kalau sampai papa buat aku cemburu...aku marah sama papa, marahnya mau lama."
Leon tersenyum gemas melihat tingkah Aileen yang jauh berbeda dengannya yang dewasa. Tapi bukankah ini cinta? Menyatukan perbedaan. Cinta mungkin seperti puzzle untuk Leon dan Aileen, kesamaan yang dicari, tapi kecocokan.
__ADS_1
Aileen memiliki sifat yang manja dan kadang kekanakan, tapi Leon tetap menyukainya. Perlahan, Leon juga akan membimbing wanita yang dicintainya ini agar bisa menjadi lebih dewasa.
"Iya sayang, papa janji."
"Awas loh kalau papa bohong sama aku!" seru Aileen mengancam.
Pria itu meraih tangan kanan Aileen, kemudian memberikan kecupan manis di punggung tangannya. "Iya sayang, papa janji."
Setelah pembicaraan itu, Leon kembali melajukan mobilnya menuju ke kantor karena dia harus bekerja. Disepanjang perjalanan Leon memikirkan untuk mempercepat pernikahannya dan Aileen. Untuk itu, Leon meminta Bram memproses agar mengeluarkan Aileen dari kartu keluarga.
...****...
Kediaman Arlando.
Ericko tengah duduk santai didekat jendela ruang tengah. Atensinya tercuri begitu melihat Luna lewat didepannya. "Luna!"
"Papa?" Luna terdiam sejenak, lalu dia membalikkan badan ke arah Ericko.
"Sini kamu!" ujar Ericko pada Luna, putri bungsunya dengan seorang pelayan di rumah itu. Lahir karena ketidaksengajaan. Walaupun begitu Ericko tetap membiayai Luna, meski tanpa kasih sayang.
Luna memutar bola matanya dengan malas, kemudian dengan langkah pelan, Luna menghampiri Papanya. "Ada apa sih pa?"
"Kamu...apa kamu menyukai Leonardo Xavier?" tanya Ericko seraya memandang tajam pada Luna.
"Huh?" Luna terperangah mendengar pertanyaan tanpa basa-basi itu. "Darimana papa tau tentang dia?"
"Apa sih yang papa tidak tahu tentang kamu? Kamu lupa siapa papa?" tanya Ericko pada Luna, anaknya yang bisanya cuma menghambur-hamburkan uangnya saja. Belum lagi ia menganggap bahwa Luna adalah anak bodoh dan tidak pantas mengurus perusahaan, berbeda dengan Aileen yang berpendidikan tinggi dan cerdas, sama seperti kedua orang tuanya Nabila dan Mark.
"Benar juga, papa kan orang jahat...jadi papa tau--"
"CUKUP! Dasar tidak beretika! Pergi kamu dari sini."
Luna mencebikkan bibirnya. "Dasar pak tua bangka!" umpat gadis itu sebal pada papanya. Setiap mendapatkan hinaan dari Ericko.
"Apa kamu bilang?"
"Tidak apa-apa pa. Kalau begitu, Luna pergi dulu ya." pamit Luna dengan senyuman tipis di bibirnya.
Dasar tua Bangka! Bukannya menyerahkan semua hartanya padaku keturunan satu-satunya. Ia masih saja duduk di kursi pimpinan. Memangnya dia menunggu siapa sih?
Luna bingung, di usia yang sudah lanjut itu Ericko masih duduk di kursi pimpinan. Bukannya menyerahkan semua itu padanya, keturunan satu-satunya keluarga Arlando. Luna tak tahu saja bahwa masih ada Aileen.
Saat Luna hendak pergi ke kamarnya, ia melihat Toni menghampiri Ericko yang duduk di ruang tengah dan tangan Toni memegang amplop coklat.
Luna yang penasaran, diam-diam mengintip Ericko dan Toni.
"Bagaimana hasilnya?"
"Tuan bisa lihat sendiri." jawab Toni sambil menyerahkan amplop coklat itu pada Ericko.
Ericko langsung membukanya dan melihat sesuatu di kertas putih yang entah tulisannya apa. Yang jelas Luna penasaran dengan apa isinya.
"Hasilnya sama, jadi dia benar-benar cucuku." Ericko menghela nafas. Sudah beberapa kali tes DNA di lakukan dan hasilnya tetap sama.
Apa? Si tua Bangka itu punya cucu? Bukankah kudengar anak, cucu dan menantunya meninggal dalam kecelakaan pesawat?
"Iya pak, nona Aileen Sheravina Xavier benar-benar cucu anda." kata Toni memperjelas semuanya.
Luna terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka bahwa gadis yang ia tolong ternyata adalah keponakannya. Masih ada hubungan darah dengannya.
"Kalau begitu, siapkan semuanya sekarang! Kita harus membuat cucuku tidak tinggal bersama dengan Leonardo Xavier lagi! Aku tak mau dia bersama musuhku dalam bisnis dunia bawah."
"Baik tuan, akan saya hubungi semua media dan menyebarkan semuanya!"
"Ya, kita harus pastikan cucuku sendiri yang akan datang kemari!" ujar Ericko dengan senyuman menyeringai dibibirnya.
...****...
Ini satu bab aku satuin ya guys βΊοΈ yang malam sama yang hari ini, karena review malam lama...
__ADS_1
Btw, author minta pendapatnya dong...apa sejauh ini konfliknya berat?