Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 82. Aileen siuman


__ADS_3

...🍁🍁🍁...


Setelah Eriko, anak buahnya dan beberapa anak buah MR.X ditangkap oleh anak buah Leon. Leon membawa Aileen ke rumah sakit, ia tak melepaskan istrinya barang sedetikpun.


Tadinya Leon ingin cepat-cepat pergi ke Italia dan bertemu dengan si kembar juga, namun keadaan Aileen tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan ke Italia malam ini. Akhirnya Leon memutuskan untuk membawa Aileen ke rumah sakit terdekat lebih dulu di Prancis.


Frans menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, sementara Leon dan Aileen ada di jok belakang.


"Sayang, tetap buka matamu ya! Aku mohon," ucap Leon yang melihat Aileen mulai kehilangan kesadarannya.


"Aku...ngantuk...papa."


Panggilan papa itu sudah lama tidak ia dengar, meluncur dari bibir Aileen teruntuk Leon.


"Sayang, sudah lama kamu tidak memanggilku begitu..." ucap Leon seraya tersenyum dan mengajak Aileen bicara agar tetap menjaga kesadarannya dan menahan rasa sakitnya. Dua tembakan di punggung tentunya cukup menyakitkan untuk Aileen.


"Oh ya, Alexander...dia mirip denganku dan Alea dia sangat lucu, sepertinya dia cengeng sepertimu waktu kecil sayang." oceh Leon.


"Iya...sifat Alexander...mirip denganmu, setiap melihatnya...aku selalu teringat dirimu. Jadi--kau su-sudah tau mereka adalah anak-anak kita?" tanya Aileen terbata-bata, wajahnya semakin pucat saja.


"Iya, dalam sekali lihat saja aku bisa tau kalau mereka adalah gen ku. Alexander dan Alea keduanya mirip dengan kita, sayang. Terima kasih kau sudah melahirkan anak kita dengan selamat dan terima kasih karena kau sudah menjaga anak kita selama ini. Mereka sangat lucu dan terimakasih kau sudah bertahan selama ini," Leon membelai pipi Aileen dengan lembut. Dia menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


Baginya Aileen adalah wanita yang hebat, Aileen tetap bertahan dari Eriko dan melindungi kedua anaknya. Pasti berat untuk wanita itu menjadi kuat seorang diri tanpa Leon. Aileen yang manja dan selalu bergantung pada Leon kini menjadi wanita dewasa dan kuat.


"Syukurlah...aku pikir kau membenciku...aku pikir..."


Leon mengecup kening dan hidung Aileen bergantian dengan sayang. "Mana bisa aku membenci orang yang sudah mengorbankan dirinya untukku! Orang kucintai, tidak mungkin."


Aileen menangis mendengar ungkapan Leon padanya, membuat hati wanita itu menjadi lega. Sebab sebelumnya ia merasa bahwa Leon mungkin membencinya karena mengambil keputusan sendiri untuk meninggalkannya.


"Maafkan aku...karena aku sudah meninggalkanmu..."


"Aku akan memaafkanmu kalau kau dan anak-anak bersamaku selamanya!" Leon tersenyum lalu mendekap tubuh Aileen dalam pelukannya. Sungguh Leon merindukan pelukan ini, ia tak peduli sedang ada dimana dan ada siapa disana. Ia tidak bisa tahan untuk memeluk Aileen.


Selama 5 tahun, hidup tanpa Aileen sama seperti neraka baginya. Ia bahkan tidak menyentuh wanita manapun dan hanya menunggu istrinya kembali sambil mencarinya. Ternyata sekarang adalah waktunya, bahkan ia di hadiahi sepasang anak kembar yang lucu dan imut. Persis seperti mimpinya dahulu, mempunyai anak kembar bersama Aileen.


Kali ini aku tidak melepaskan kalian lagi, aku akan memberikan kalian kebahagiaan. Aku akan melindungi kalian!


Sesampainya di rumah sakit terdekat di Prancis, Aileen langsung di larikan ke dalam ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di punggung Aileen. Leon setia menunggu di luar menunggu bersama Frans.


Salah satu anak buah Leon melaporkan bahwa Mr. X berhasil kabur, namun Eriko dan anak buahnya masih berada di tempat yang aman.


"Tunggu saja pembalasanku pria tua! Kau sudah mengurung istri dan anakku selama 5 tahun lebih, aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja sebelum kau merasakan apa yang namanya penderitaan." gumam Leon sambil meremass tangannya dengan kesal.


"Tuan, tuan Bram menghubungi saya katanya tuan dan nona muda ingin mengetahui keberadaan tuan Toni dan juga nona Aileen." kata Frans pada Presdirnya itu.


"Sambungkan dengan video call," ucap Leon pada Frans.


Telpon Frans pun terhubung video call dengan ponsel Bram yang saat ini berada di Italia untuk menjaga si kembar.


"Halo om," sapa Alea lebih dulu, ia melihat wajah Leon di layar ponsel milik Bram.

__ADS_1


"Halo sweet heart, ada apa nak?" tanya Leon sambil tersenyum lebar.


"Om, mana mommy dan uncle Toni? Mereka baik-baik saja kan, om?" tanya Alea cemas, Aileen dan Toni adalah kesayangan Alea. Alea sangat sayang pada mommy dan pria yang sudah seperti kakeknya itu.


Leon terdiam sejenak, bagaimana ia bisa menjelaskan tentang Toni yang sudah berada di atas sana. Tentunya Alea pasti sedih, lalu tentang Aileen haruskah ia memberitahu kondisi mommynya saat ini yang masih di operasi?


"Om, kenapa om gak jawab? Mommy sama uncle gak apa-apa kan?" tanya Alea lagi, sementara Alexander terlihat diam di layar itu dia hanya menatap Leon. Memperhatikan raut wajah pria itu.


Alexander yang peka terhadap situasi, ia menyimpulkan sendiri dalam hati bahwa terjadi sesuatu pada Toni dan Aileen.


"Mommy kalian..."


"Tuan, dokternya sudah keluar!" kata Frans yang otomatis memotong ucapan Leon. Pria itu langsung paham ketika Frans memotong ucapannya, Frans bermaksud untuk membantunya dari kebingungan itu.


"Maaf ya sweet heart, Daddy mau temui dokter dulu. Kalian tenang ya, mommy kalian pasti baik-baik saja. Daddy kan sudah janji pada kalian akan membawa mommy kalian pulang." jelas Leon lembut.


"Iya om kami percaya," kali ini Alexander yang bicara. "Om harus bawa mommy pulang,"


"Ya sayang, sekarang mommymu sedang di rawat dulu. Kau harus bersiap-siap memanggil Daddy. Jaga diri kalian baik-baik."


Leon tersenyum dan mengingatkan kepada kedua anaknya untuk menjaga diri mereka baik-baik bersama Bram. Ia pun menemui dokter yang menangani operasi barusan.


Dokter itu menjelaskan bahwa kondisi Aileen baik-baik saja dan tidak ada luka dalam dari tembakan itu, hanya saja banyak luka lebam dan memar di tubuhnya. Ya, semua itu adalah bekas penganiayaan Eriko dan anak buahnya.


Dokter juga mengatakan pada Leon bahwa Aileen harus beristirahat terlebih dahulu setidaknya satu atau dua hari di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya pasca operasi. Leon paham, dia pun memutuskan untuk menginap di rumah sakit dan menjaga Aileen.


Wanita itu masih terpejam karena pengaruh obat bius dan tubuhnya yang lelah. Sesampainya disana Leon tak henti menatap Aileen. Wanita yang selama ini dia rindukan, kini berada di hadapannya dan berasa seperti mimpi. Selama ini Leon sangat kesulitan untuk mencari istrinya, tapi mereka malah bertemu dengan keadaan yang tidak terduga dan tidak disengaja.


Leon duduk di sofa ruangan VVIP itu, ia membuka ponselnya dan mengirimkan pesan pada Bram.


[Bram, aku minta tolong padamu untuk menjaga anak-anakku, pastikan anak-anakku aman. Aku akan menginap di rumah sakit, Aileen tertembak dan dokter mengatakan bahwa Aileen harus di rawat dulu satu atau dua hari]


Bram : Astaga, lalu bagaimana keadaan Aileen? Apa dia baik-baik saja Yon?


[Dia baik-baik saja Bram, katanya tak ada luka dalam yang serius. Hanya ada beberapa luka luar bekas penganiayaan]


Bram : Kau tenang saja Yon, aku akan menjaga si kembar. Kau fokus saja dulu menjaga Aileen.


Setelah itu tak ada balasan lagi karena Leon fokus menjaga istrinya di rumah sakit.


****


Di Italia, sebuah apartemen mewah milik Leon.


Si kembar masih belum tidur padahal malam sudah larut. Erina sudah membantu Alea dan Alexander untuk mandi dan berganti baju, tapi kedua anak itu masih belum bisa tidur.


Pikiran mereka tidak tenang sebab belum ada kabar jelas tentang mommy mereka dan juga Toni.


"Hey nak, kenapa kalian belum tidur huh?"tanya Bram pada kedua anak kembar itu yang masih terjaga dan duduk di atas ranjang.


"Kami cemas sama mommy sama uncle Tony, om." jawab Alea jujur.

__ADS_1


Dibandingkan dengan Alexander yang dingin dan jaim, Alea adiknya ini lebih berekspresi dan juga bisa diajak bicara. Ya, dia cerewet seperti Aileen waktu kecil.


"Om Bram udah terima pesan dari Daddy kalian, kalau mommy kalian baik-baik saja dan sedang tidur. Mommy kalian sedang beristirahat dulu dan uncle Tony juga sama." tentang Aileen memang Bram tidak berbohong, tapi tentang Tony dia berdusta.


"Om gak bohong kan?" tanya Alea.


"Ya, om gak bohong. Sekarang kalian tidur dulu ya, besok kita video call lagi dengan Daddy dan mommy kalian, juga uncle Tony." kata Bram perhatian.


Apa yang akan terjadi kalau mereka tahu bahwa pria yang bernama Toni itu sudah tiada?


Bram dapat merasakan bahwa Alya dan Alexander sangat menyayangi sebagai orang terdekat mereka. Bagaimana bila mereka berdua sampai mengetahui tentang keadaan Toni?


"Ya udah, Alea mau tidul dulu om. Alex ayo tidur, biar bisa cepet besok!" ajak Alea pada kakaknya.


"Iya iya bawel!" cetus Alexander yang akhirnya menurut juga walau ia cuek dan dingin.


Mereka berdua pun naik ke atas ranjang dan mencoba menutup mata. Apalagi dengan kejadian mengerikan hari ini, tentunya akan membekas di ingatan mereka.


Mati pun dimatikan, Alea sudah entar tidur pulas bersama Erina. Tapi Alexander masih terjaga, anak itu sepertinya banyak pikiran. Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


Alexander melihat banyak pengawal yang berjaga di apartemen itu.


Kruuukkk~~


Alexander memegang perutnya yang baru saja berbunyi, ia lapar lagi karena tadi hanya makan sedikit. Dia pun memutuskan untuk pergi ke dapur apartemen itu, guna mencari makanan di dalam kulkas.


Tiba-tiba saat kaki kecilnya akan melangkah menuju dapur, ada tangan besar yang menyentuh bahunya. Sontak saja Alexander pembalikan badannya dan menggigit tangan besar itu.


"Auw! Sakit nak!" pekik Bram kesakitan.


"Om Bram?" Alexander terkejut melihat Bram disana.


Bram tersenyum lalu ia mengajak Alexander untuk makan bersama. Mereka mengobrol tentang orang-orang yang selama ini berada di dekat Alexander dan bagaimana perlakuan Eriko kepada mamanya. Bram sedih mendengar cerita dari Alexander tentang bagaimana hidup mereka selama ini.


"Tenang saja, mulai sekarang kalian bebas melakukan apa yang kalian inginkan. Daddy kalian, pasti akan melindungi kalian."


"Benarkah daddyku bisa melindungi mommy dari kakek? Kakek kan punya banyak anak buah yang jahat dan juga--"


"Jangan meragukan Daddymu nak, Daddymu sekarang adalah orang yang kuat. Dia bisa melindungi kalian. Buktinya dia bisa menyelamatkan mommy kalian!" kata Bram berusaha meyakinkan anak itu untuk percaya pada Leon.


Alexander hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda persetujuan bahwa dia akan mencoba mempercayai Leon. Dan dia akan semakin mempercayai Leon bila pria itu berhasil membawa mommynya.


****


Keesokan harinya, Aileen siuman dan mulai membuka matanya perlahan-lahan. Ia melihat Leon berada di sampingnya, sepertinya pria itu juga baru saja bangun begitu menyadari pergerakan tangan dari Aileen.


"Selamat pagi sayang," sapa Leon lembut pada istrinya.


"Selamat pagi juga sayang." Aileen tersenyum memandang suaminya itu. Ada rasa bahagia saat dia membuka mata, saat melihat Leon adalah salah satu kebahagiaannya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2