
Bab ini mengandung esek-esek, dibawah umur minggir!
...πππ...
Tidak tahan dengan godaan putri angkatnya, Leon memagut bibir cantik itu dengan lembut pada awalnya. Namun lama kelamaan berubah menjadi liar dan menuntut.
Lidah Leon satu persatu mulai mengabsen deretan gigi Aileen didalam sana. Dengan lidah yang saling membelit. Hingga suara desahaan dan erangan lolos begitu saja dari kedua insan yang tengah berpangkutan bibir dengan mesranya.
"Eungh--" Aileen secara refleks mengalungkan tangannya pada leher sang hot Daddy.
Pa, aku siap memberikan diriku untuk Papa kapan saja. Bahkan saat ini pa.
Bibir mereka sibuk berciuman, mengeluarkan suara decapan dan keciprak basah. Tangan Leon mulai bergerilya kemana-mana dan tak mau diam. Aileen juga membiarkannya begitu saja dan dia tampak menikmati semua itu.
Sentuhan dari pria yang ia cintai, papa angkatnya sendiri.
Tangan Leon meraba-raba bahkan meremass paha Aileen dengan gemas. Kemudian jarinya beralih ke atas, menyentuh pusar Aileen, mengelus-elus perut Aileen.
Tiba-tiba saja Leon terhenti dan mengurai ciumannya. "Adaah...apah paaah...?" tanya Aileen keheranan dengan nafas yang terengah-engah akibat ciuman panas barusan.
Leon menatap Aileen yang berada dibawah tubuhnya dengan tatapan nanar dan penuh hasrat. "Ai, papa boleh mencumbumu?"
Deg!
Aileen terkesiap mendengar pertanyaan Leon yang selama ini sangat ia tunggu-tunggu. Ia sebenarnya tidak mempermasalahkan soal perawan atau tidak. Bahkan saat tinggal di luar negeri, banyak teman-temannya yang telah melakukan hubungan intim sebelum menikah dengan pacar mereka.
Jujur, ia juga ingin merasakannya. Kenikmatan dunia yang selalu dibicarakan teman-temannya selama ia menempuh pendidikan di luar negeri. Hubungan intim disana seolah lumrah dan biasa.
"Silahkan pa, lakukan..." Aileen menganggukkan kepalanya, memberikan persetujuan untuk Leon menjamah tubuhnya.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan dari Aileen, jari-jari Leon mulai membuka kancing piyama tidur Aileen. Kebetulan hari ini Aileen memakai piyama tidur dan tidak memakai lingeriee tipisnya.
Dengan senang hati, Aileen menerima perlakuan seperti itu. Dia malah amat menantikan Leon memasuki dirinya, bersatu sepenuhnya dengan dirinya.
"Ai...kamu gak pakai braa?" pekik Leon terkejut begitu selesai membuka piyama bagian atas Aileen. Terpampang jelas dua gundukkan sintal nan menggoda mata, memanjakan bir*hi Leon sebagai seorang pria matang yang belum pernah melakukan hubungan intim.
"Iya pa, kalau tidur kadang aku suka gak pakai." kekeh gadis itu dengan polosnya.
"Kalau keluar rumah kamu suka pakai kan?" Leon mulai penasaran dengan Aileen, gadis yang dia besarkan itu. Apakah dia keluar rumah suka tak memakai itu? Kalau benar, maka ini gawat.
"Gak dong pa! Aku gak pakai itu kalau mau tidur aja, katanya kan bagus kalau tidur gak pakai braa. Biar udara leluasa masuk ke dalam tubuh kita dan aku---umpph--"
Leon mengecup bibir Aileen dengan lembut, hanya sebentar kemudian dia lepaskan. Ekspresi Leon yang habis mencium Aileen, membuat pria itu semakin seksi. Sumpah demi apapun di dunia ini, Aileen hanya melihat papanya yang paling tampan dalam hidupnya. Meski banyak pria yang singgah dalam hidupnya, tetaplah Leon nomor satu di hatinya, dalam hidupnya juga. Cinta pertama dan cinta terakhir Aileen.
"Papa...come on." Aileen tersenyum, mengajak Leon untuk segera menjamah tubuhnya.
"Papa..."
Suara lirih Aileen membuat libidonya meningkat. Leon segera melahap salah satu gunung sintal milik Aileen, tangannya yang satunya meremass gunung sintal yang lain.
Lidah pria itu mengobrak-abrik ****** merah muda milik Aileen. Sampai Aileen menggelinjang kegelian karena serangan Leon.
"Aaakhh....Papa, uuhh..." lenguh Aileen.
Pinggul gadis itu bahkan sampai bergerak, walau hanya oleh sentuhan lidah saja. Suara Aileen mendesah membuat Leon semakin semangat dan gencar memainkan ****** merah muda itu. Menarik bahkan menggigitnya kecil.
"Akh!" pekik Aileen, kemudian tangannya meremass rambut Leon. Menekankan kepala Leon semakin merapat pada dadanya.
"Ai...you make me crazy! F*ckk!" Leon mengeram merasakan di bawah sana si junior yang mulai sesak, namun dia berusaha sekuat mungkin untuk menahan hasratnya.
__ADS_1
Tangan Leon kini mulai memasuki area terlarang di balik celana piyama Aileen dan Leon semakin terkejut karena lembah surgawi itu tidak memakai segitiga pengaman. Ah, ini malah memudahkannya untukmu mengobrak-abrik lembah surgawi itu. Jalannya mulus semulus jalan tol.
Jari-jarinya menyelinap ke dalam sana tanpa membuka celana piyama putri angkatnya itu.
"Aakhh... aaaahhhh.... Papa.... Aakhh!"
Aileen merasakan sensasi jari-jari tangan milik orang lain bermain di lubang miliknya. Menggesekkan jarinya disana cukup lama di sana. Lalu satu jarinya memasuki lubang itu dan membuat Aileen berteriak-teriak kenikmatan.
Leon semakin terbakar oleh gairah, suara syahdu nan merdu Aileen membuatnya terbawa suasana. Jarinya semakin mengaduk-aduk milik Aileen. "Ukhh...papa sudah...a-aku..."
Jadi begini rasanya bercumbu, nikmat, perih , bahagia disaat bersamaan.
Aileen sudah terlihat berkeringat, beberapa kali pinggulnya terangkat ke atas dan ke bawah karena Leon.
Tiba-tiba saja jari-jari Leon terlepas dari lubang itu, dia menghentikan kegiatannya dan membuka semua pakaiannya, terakhir ia membuka gesper celananya. Aileen meneguk salivanya ketika melihat otot-otot dada roti sobek papanya terpampang.
Tangan Aileen menyentuh dada sang papa angkat dengan lembut. "Arggggh... Aileen hentikan..." Leon mengeram dan semakin kepanasan.
Sial! Yang dibawah sini benar-benar sudah diambang batas!
"Pa...masuki aku Pa! Ayo masuki aku!" ajak Aileen tak sabar, ia bahkan membantu Leon untuk membuka celana pria itu.
Namun pria itu tiba-tiba saja diam membatu, Aileen menatapnya dengan heran.
...****...
Hai Readers, maaf chapter ini agak panas... tunjukkan keberadaan kalian dengan komen dong , βΊοΈπaku merasa kesepian disini π
Malam pertamanya udah nikah atau sekarang aja ya π
__ADS_1