
...πππ...
Suara gaduh itu mengalihkan perhatian semua orang yang ada di mansion Xavier. Belum lagi ada asap mengepul dari dalam dapur.
"Aileen! Aileen!" panggil Leon dengan panik, ia takut terjadi sesuatu pada Aileen didalam sana.
Leon telah sampai di dapur dan dia melihat banyak asap disana yang sampai menutupi penglihatan. Terlihat beberapa wanita berpakaian seperti maids berada disana. Dan ada seorang gadis dengan tubuh indahnya berdiri memegang spatula di depan kompor.
Leon melihat ada beberapa barang di dapur yang gosong, terutama alat memasak.
"Aileen!" Leon segera menarik tangan Aileen dan membawanya keluar dari dapur yang berasap itu. Kemudian dia memerintahkan orang-orang di mention-nya untuk mematikan kompor dan juga menghilangkan asap disana.
Gadis itu terlihat kacau di dalam pelukan papanya, kulitnya yang semula berwarna putih kini di hiasi corak hitam-hitam. Namun sama sekali tak mengurangi kecantikan Aileen.
"Bi Ratna, ambilkan air minum! Cepat!" ujar Leon pada kepala pelayan sekaligus pengasuh Aileen.
"Baik tuan besar!" sahut Ratna lalu pergi ke dapur dan mengambilkan air minum untuk Aileen.
Sementara itu Aileen terpaku dengan wajah sedihnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Leon berada didepannya, dia membantu Aileen untuk membersihkan wajah Aileen yang kotor dengan sapu tangan basah. "Sayang, kamu gak apa-apa kan? Apa kamu ada luka? Kenapa kamu diam saja?" tanya Leon bingung karena sudah dari tadi gadis itu hanya diam.
Aileen tidak menjawab dan malah menangis. "Hiks...hiks..."
"Baby, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" Leon cemas melihat Aileen yang semakin terisak.
"Ma-maafin aku pa...maafin aku..hiks.." Aileen mengusap air matanya dengan tangan, dia benar-benar malu karena telah gagal memasak dan malah membakar dapur. Padahal niatnya ingin membuat bekal makan siang untuk Leon.
"Sayang, kenapa kamu minta maaf sama Papa?" Leon menelisik wajah dan tangan Aileen, takutnya gadis itu memiliki luka. "Astaga sayang, tangan kamu luka!" seru Leon mendapati luka memar di telapak tangan kiri Aileen. "Papa akan panggil dokter Levin kesini!" ujar Leon panik.
Levin adalah anak dari dokter keluarga Xavier dan juga seorang dokter yang kini menjadi dokter keluarga Xavier.
Begitu bi Ratna berjalan sambil membawa air minum untuk Aileen, Leon langsung memerintahkan Ratna untuk menghubungi Levin. Namun Aileen melarang tidak usah menghubungi dokter itu.
"Gak usah bi! Aku gak apa-apa, gak usah Panggih dokter...hiks...hiks..."
Aku sudah gagal! Aku sudah gagal memasak dan malah membuat dapur terbakar...papa pasti kecewa sama aku.
Aileen berlari sambil menangis dan membuat semua orang yang melihatnya jadi bingung. Termasuk Leon.
"Bik, tolong hubungi dokter Levin ya! Saya mau susul Aileen dulu."
"Iya tuan...tapi tolong non Aileen jangan dimarahi ya tuan." ucap Ratna seraya memohon.
__ADS_1
"Mana mungkin saya memarahi Aileen,bik. Kenapa saya harus memarahinya?" Leon bertanya pada Ratna dengan bingung.
"Habisnya non Aileen ketakutan, sepertinya takut dimarahin tuan karena sudah membakar dapur!" tebak Ratna yang memang seratus persen benar, Aileen merasa takut dan malu pada Leon.
"Apa bibi berpikir begitu? Jadi--Aileen menangis karena itu?" gumam Leon berpikir.
Dia pun menyusul Aileen ke kamarnya untuk melihat keadaan Aileen. Berulang kali Leon mengetuk pintu kamarnya, tidak ada jawaban juga. Dan karena pintu kamar tidak dikunci, Leon masuk ke dalam sana.
"Ai...sayang..."
CEKLET!
Tiba-tiba saja pintu kamar mandi itu terbuka dan menampilkan Aileen dengan memakai handuk pendeknya yang menunjukkan paha mulus juga lengan dan leher putihnya.
"Pa... Papa! Kenapa papa ada disini?"
Leon sempat tertegun dengan mata yang terbelalak menatap kekasihnya itu. Namun sedetik kemudian dia langsung membalikkan badannya. "Ai...ke-kenapa kamu pakai handuk pendek itu? Ke-kemana ki-kimono handuk kamu yang biasanya?" tanya Leon dengan suara yang sedikit terbata-bata.
Lagi-lagi turn on...astaga!
"Kimono handukku, lagi dicuci sama Bi Ratna pa...jadi aku pakai handuk yang ini. Tapi kenapa Papa terdengar gugup?" tanya Aileen bingung, dia melihat punggung Leon.
Apa papa marah sama aku karena aku sudah membuat dapur hancur?
Jantung Leon berdegup sangat kencang, setelah dia baru saja menyaksikan pemandangan yang indah. Pemandangan yang bisa membuatnya turn on lalu menjadi hard on. Libidonya selalu saja memuncak saat dia melihat Aileen, padahal sewaktu kecil dia sudah sering melihat tubuh Aileen. Bahkan kita jarang mereka mandi bersama atau berenang bersama, tapi sekarang semuanya berbeda.
Anak kecil itu kini telah berubah menjadi seorang gadis dewasa yang mempesona, menarik perhatian lawan jenisnya. Merubah perasaan sayang Leon menjadi cinta.
Hasrat dan gairah menggebu-gebu di dalam dirinya, sebagai seorang pria normal yang berusia matang. Leon memiliki keinginan untuk memiliki gadis itu sepenuhnya, jiwa maupun raga.
"Astaga...astaga... Leon hentikanlah! Tahan! Tahan perasaanmu ini, tahan nafsumu ini! Kau tidak boleh melanggar prinsip yang selama ini kau jaga!" Leon merutuki dirinya sendiri kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan hasrat tersebut dari dalam dirinya. Meski yang di bawah sana terasa tegang dan panas.
Setelah kekacauan di dapur dibereskan oleh pegawai di mansion Xavier, Aileen yang telah bersiap-siap memakai baju kerjanya. Kini ia turun dengan langkah lesu. Sesekali matanya melihat Leon yang sedang duduk di meja makan. Pria itu terlihat menunggu seseorang, tentu saja orang yang ditunggunya adalah Aileen. Jangan lupakan dokter Levin, dia juga berada di sana setelah dihubungi oleh Ratna.
Dokter muda dan tampan itu melihat Aileen dengan tatapan terpesona. Dan sebagai catatan, pria ini masih jomblo.
Cantik sekali putrinya pak Leon. Levin berdecak kagum melihat kecantikan Aileen. Imut, babyfaced, semampai, bodynya juga aduhai.
"Baby, kenapa kamu menundukkan kepalamu seperti itu?" tanya Leon seraya melambaikan tangannya kepada Aileen untuk segera berjalan ke arahnya.
Gadis itu berjalan pelan-pelan menuju ke arah Papanya dan Levin. Leon langsung meminta Levin untuk memeriksa kondisi tangan Aileen dan mengobati lukanya.
__ADS_1
"Pa... Papa tidak perlu berlebihan seperti ini, aku kan sudah bilang kalau aku tidak apa-apa...ini hanya luka biasa." cetus gadis itu dengan bibir yang mengerucut.
"Udah...jangan banyak protes. Papa gak mau kamu kenapa-napa. Levin tolong periksa anak saya!" liriknya pada Levin yang kini duduk tempat di samping Aileen.
"Baik pak."
Levin senyum lembut kemudian dia memegang tangan Aileen dan memeriksa di mana bagian lukanya. Levin menemukan ada luka bakar di telapak tangan kirinya.
Dokter muda berkulit bersih itu, meniup-niup luka bakar di telapak tangan Aileen. Sementara Leon bertugas menyuapi Aileen dengan sarapan roti bakar. "Pa... Papa jangan suapin aku, malu ih... aku seperti anak kecil saja." gumam Aileen sebal dan malu karena ada Levin disana.
"Tidak apa-apa, nanti kita akan ke kantor...takutnya kamu gak keburu sarapan. Kamu punya sakit lambung, gak boleh telat makan." pria berusia matang itu dengan telaten menyuapi Aileen. Lihatlah betapa sayangnya Leon pada papanya.
Dimana lagi bisa dapat cowok dengan paketan lengkap begini dan bisa membuat hatiku meleleh. Perfect banget sih Papa...aku makin cinta sama papa.
Levin juga merasakan kasih sayang Leon kepada putrinya. Ya, Aileen memang pantas diperlakukan seperti Ratu. Dia cantik, imut, sudah pastinya Leon sangat menyayangi putrinya. Bahkan yang Levin dengar dari orang-orang, Leon sangat memanjakan putrinya satu-satunya ini.
"Tenang sedikit ya, mungkin akan sedikit sakit." kata Levin dengan suara lembutnya. Dia mengolesi telapak tangan Aileen yang terluka itu dengan salep, kemudian membalutkan perban ke luka bakar itu dengan lembut.
"Lukanya jangan sampai terkena air ya, dua atau sekitar tiga hari lagi... saya akan bukan perbannya." jelas Levin yang sebenarnya hanya modus. Perban itu bisa dilepaskan oleh Aileen sendiri, namun dia mencari-cari cara agar bisa bertemu dengan gadis cantik putri Leonardo Xavier itu.
"Terima kasih ya dokter Levin." ucap Aileen dengan senyuman ramahnya.
Oh my Gosh... senyum gadis ini mengguncangkan dunia hatiku.
Levin terpana melihat senyuman Aileen yang begitu manis dan imut, apalagi ketika gigi gingsul gadis itu terlihat.
Leon menyadari adanya sinyal bahaya dari Levin, akhirnya ia meminta dokter muda itu untuk segera pergi dari sana. Levin tidak banyak bicara dan langsung pamit karena dia juga harus segera pergi ke rumah sakit untuk menangani pasiennya yang lain.
Uh...dia mau coba-coba deketin Aileen, huh!
"Pa...aku mau bicara sama papa." ucap Aileen sedih.
"Okay...apa sayang?*
"Pa... maafkan aku karena aku membuat dapur terbakar. Tadinya aku mau memasak buat papa, tapi aku malah--"
"Sayang, papa kan udah pernah bilang sama kamu. Kamu gak perlu masak!" Leon pernah mengingatkan gadis itu untuk tidak melakukan pekerjaan rumah apalagi memasak.
"Ta-tapi aku ingin jadi istri yang sempurna untuk papa. Istri yang bisa segalanya."
Leon mendekat ke arah Aileen lalu dia mengecup keningnya. "Baby, kamu sudah sempurna di mata papa.... kamu adalah wanita yang paling sempurna dalam hidup Papa. Kamu adalah sinar mentari papa dan kamu adalah segalanya." jelas Leon dengan lembutnya, menatap gadis itu.
__ADS_1
Hati Aileen meremang melihat tatapan Leon kepadanya. Aileen ingat jelas saat itu Leon mengatakan padanya bahwa dia adalah ratu dan kelak dia tidak perlu melakukan apapun untuk suaminya. Kecuali melayani dan mencintai suaminya, setia tentunya adalah keharusan yang harus dimiliki oleh Aileen.
...****...