Belenggu Cinta Papa Angkatku

Belenggu Cinta Papa Angkatku
Bab 57. Asupan vitamin c pagi hari


__ADS_3

...πŸ€πŸ€πŸ€...


Mobil sedan yang berwarna hitam itu mengikuti mobil yang dibawa oleh Sam. Dimana ada Aileen juga disana. Wajah Aileen terlihat kesal dan Sam tau itu. Sam juga tahu bahwa Aileen bersikap seperti tadi karena dia sedang ada masalah dengan Leon.


Seperti biasa, aku hanya dimanfaatkan olehmu. Tapi tidak apa-apa Ai...aku tidak masalah.


"Ai..."


Perih hati Sam sebenarnya melihat ada tanda cinta di leher dan tengkuk wanita cantik dan imut itu. Ia sudah bisa menebak bahwa semua tanda itu adalah mahakarya Leonardo Xavier, papa angkatnya. Dia ingin menanyakan ya namun dia takut hatinya terluka.


"Ya kak?" sahut Aileen sambil melepaskan ikatan rambutnya dan membiarkan rambutnya tergerai.


"Kamu udah gak apa-apa kan? Kenapa kamu udah berangkat kerja aja? Semalam kamu habis di rampok." kata Sam menunjukkan perhatiannya pada gadis itu.


"Aku udah gak apa-apa kok kak. Makasih ya, semalam katanya kakak sudah bantu mencariku." ucapnya sopan.


"Tidak usah berterima kasih, karena aku tulus ingin membantu kamu."


"Kenapa?"


"Karena aku suka kamu."


Aileen hanya terkekeh saat mendengar jawaban dari Sam. Jujur saja dia belum sepenuhnya mempercayai Sam karena setahu dia pria itu adalah seorang casanova. Dan biasanya seorang Casanova akan mudah menyatakan cintanya.


"Ya ya aku sudah tau." sahut Aileen santai.


"Hey, aku serius! Aku suka sama kamu Ai." Sam mengedarkan sedikit pandangannya ke arah gadis itu, dengan tangan yang masih memegang setir kemudi.


"Ya aku juga serius, kalau aku gak suka sama kakak." ucap Aileen santai namun masuk ke dalam hati Sam dan menyakitinya.


"Rupanya kamu masih menganggap bahwa ungkapan perasaanku ini bohong." cetus Sam merajuk. Aileen masih belum mengetahui bahwa Sam telah berubah, dia tidak bermain wanita lagi seperti sebelumnya. Bahkan dia menjauhi semua wanita-wanita yang pernah menjadi teman ranjangnya. Sam memutuskan untuk berubah demi gadis itu. Dia memutuskan untuk setia karena dia menyukai Aileen.


"Hehe...lalu aku harus bagaimana? Aku orangnya jujur...aku gak bisa bohong apalagi soal perasaanku sendiri. Dan lagi, kenapa Kakak menyukaiku? Banyak wanita cantik di luar sana yang menginginkan kakak. Aku mungkin hanya salah satu dari mereka." tutur Aileen.


"Jadi kamu pikir bahwa kamu hanyalah salah satu dari mereka? Tidak Ai, kamu dan mereka itu sangat berbeda...kamu special."


"Hahaha... Kakak tolong jangan menggombaliku seperti ini, aku tidak mau mendengar gombalan receh yang selalu kau ucapkan pada gadis-gadis di luar sana." Aileen lagi-lagi menganggap bahwa ucapan Sam hanyalah candaan yang sering dia lontarkan kepada gadis-gadis di luar sana.


"Ya sudah, kalau kamu beranggapannya seperti itu." nada suara Sam yang ramah tiba-tiba saja berubah menjadi dingin.


"Eh...kenapa marah? Jangan marah dong kak, bukankah kita sudah berteman? Teman harusnya memaafkan kan?" canda Aileen dengan wajah cerianya yang sebenarnya menutupi isi hatinya saat ini. Ia masih kesal dengan Leon yang membentaknya tadi saat sarapan.


Sam tidak mau suasana diantara mereka menjadi canggung, maka dari itu dia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Ai, kamu berantem sama papa kamu?"


"Eungh--"


"Cerita aja, kita kan teman... seperti yang kamu bilang." Sam merubah raut wajahnya kembali menghangat.


Ya, saat ini kita cuma teman tapi nanti kan...


"Gak apa-apa kok, cuma masalah kecil aja." jawab Aileen sambil mendesah. Mana mungkin dia menceritakan tentang Leon yang memiliki luka tembak, karena ia bertanya tentang luka tembak itu maka mereka berdua jadi bertengkar. "Kak Sam, menurutmu hubungan tanpa kejujuran dan kepercayaan...apakah semua akan baik-baik saja?"


"Tentu saja tidak, meski aku adalah seorang Casanova seperti yang kamu bilang. Tapi aku cukup paham dalam hal seperti itu karena aku juga pernah dikhianati. Kepercayaan dan kejujuran, bila tidak dijaga dengan baik... ujung-ujungnya hanya membuat terluka."

__ADS_1


Aileen kini menata pria itu begitu dalam, dia jadi menerka-nerka apa yang dikatakan oleh Sam. Apa yang dimaksud dengan dikhianati dan siapa yang sudah menghianatinya? Apa karena hubungan yang dikhianati itu makanya saya menjadi seorang cassanova?


Gadis itu jadi penasaran dengan masa lalu Sam, dia pun memberanikan diri untuk bertanya meskipun tidak yakin akan mendapat jawabannya. "Kak... apa Kakak pernah menjalin hubungan dengan seseorang lalu orang itu menghianati kakak? Apa begitu?" tanya Aileen ragu-ragu.


Sam tersenyum.


Di dalam perjalanan menuju ke kantor Xavier grup, Sam menceritakan sedikit kisahnya yang dikhianati oleh seorang wanita. Wanita itu adalah mantan tunangannya, cinta pertama dan sangat ia cintai. Namun hubungan mereka kandas di tengah jalan manakala Sam mengetahui hubungan gelap antara mantan tunangan yaitu dengan sepupunya.


Cerita hanya sampai disana karena mereka berdua telah sampai di depan gedung kantor Xavier grup.


"Sudah sampai nona!" Sam membukakan pintu mobil untuk Aileen dengan cara gentle. Aileen pun turun dari mobil dan tak jauh dari tempatnya berdiri, mobil Leon dan juga mobil Frans tepat berada di belakangnya.


"Makasih ya kak Sam, maaf juga... aku sudah memanfaatkan Kak Sam." Aileen merasa bersalah.


"Kalau begitu aku minta imbalannya, boleh?" Sam memegang tangan Aileen.


"Hah? Imbalan?" tanyanya dengan sepasang netra polos mengarah pada Sam.


"Ini gak gratis Ai, biaya memanfaatkan sumber daya manusia dan pesona ku...kamu harus bayar."


"Ya udah, kakak mau berapa?" Aileen hendak mengambil sesi dompetnya, namun tangan Sam keburu menghentikannya.


"Aku cuma mau....ini."


Cup!


Sam mengecup punggung tangan Aileen, matanya menatap Aileen dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan olehnya. Leon yang melihat pemandangan itu akhirnya menjadi tak tahan. Ia menghampiri Aileen dan Sam, bahkan langsung menyeret gadis itu masuk ke dalam gedung perkantoran.


Sam melambaikan tangannya pada gadis itu dan dibalas juga dengan lambaian tangan dan senyuman Aileen. Aileen pikir, rasanya tidak buruk juga mempunyai seorang teman lelaki. Bisa diajak bertukar pikiran soal pria yang lebih jelas mengerti pria lainnya.


Leon dan Aileen masuk ke dalam lift bersama, dia meminta Bram dan Frans yang berada di sana untuk naik ke lift lain.


"Kalian naik lift yang lain saja!" ujar Leon pada kedua bawahannya yang juga ingin naik lift.


"Ta-tapi pak..."


"Sudahlah pak Frans, seharusnya kamu mengerti apa maksud pak presdir." Bram langsung menarik dengan Frans keluar dari lift. Dia tau bahwa bosnya itu sedang ada masalah dengan Putri angkatnya dan ingin berduaan saja.


"Gak usah, pak Frans sama om Bram naik aja sini." ajak Aileen pada kedua pria itu.


"Kami akan naik lift lain saja." sahut Bram.


"Ya sudah, aku juga akan naik lift lain." ujar Aileen dengan suara ketusnya, ia melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift, namun Leon kembali menarik tangan gadis itu hingga tak berselang lama, pintu lift pun tertutup rapat.


Kini didalam lift hanya aja Aileen dan Leon saja. Leon bahkan masih betah memeluk gadis yang telah menjadi candunya.


"Papa apa-apaan sih!" Aileen berusaha melepaskan dirinya dari Leon, tapi percuma saja karena tenaga pria itu jauh lebih kuat darinya. Aileen ingin memberontak dan mengeluarkan seluruh tenaganya untuk lepas dari pelukan itu, akan tetapi ia takut menyakiti luka di perut sang hot Daddy.


"Ai...kamu marah sama papa?" Leon menatap sepasang netra berwarna biru tersebut dengan sendu. Meski beberapa kali gadis itu memalingkan mata darinya.


"Gak tau." jawab Aileen singkat.


"Baby..." lirih Leon. "Maaf Papa sudah membentakmu tadi, maafkan papa ya baby..." suara bariton rendah itu membuat Aileen selalu berdebar, tapi kali ini dia tidak mau kalah oleh debaran itu.

__ADS_1


"Bukan karena itu saja aku marah,"


"Lalu?"


"Karena Papa tidak jujur padaku saat aku bertanya kenapa bisa ada luka tembak di tubuh papa." cetus Aileen mengutarakan semua yang membuat kesal pagi ini.


"Maaf Ai, untuk hal itu Papa tidak bisa mengatakannya."


Aileen melepaskan dirinya dari pelukan Leon saat pria itu mulai menurunkan tingkat erat pelukannya pada Aileen. "Ya udah, aku bakalan terus marah kalau papa gak mau jujur. Pa, aku memang tidak tahu apa-apa soal mencari hubungan dengan seseorang... tapi aku tahu dari buku dan dari Cleo, bahwa ketika menjalin hubungan. Pasangan harus memiliki kejujuran dan kepercayaan satu sama lain!" ceramah wanita itu dengan bibir yang mengerucut.


Leon kembali memegang tangan gadis itu dan menggenggamnya. Berusaha membujuk agar Aileen tak marah lagi. Susah urusannya kalau gadis itu sudah merajuk.


"Sayang, maafkan Papa karena Papa tidak bisa menjelaskan untuk satu itu. Ada hal yang tidak bisa Papa katakan, tapi nanti kamu akan tahu."


Maaf Ai, Papa melakukan ini semua demi kebaikan kamu. Lebih baik kamu jangan tahu tentang keluarga papa kamu.


Kata-kata Leon tidak membuatnya puas dengan jawaban itu bahkan tidak memberikannya jawaban, dari mana luka ketembak itu dan siapa yang sudah melakukannya. Padahal hal ini yang ditanyakan oleh Aileen.


"Maaf juga pa, tapi aku tidak bisa menemukan jawaban di dalam kata-kata Papa. Katanya kita pacaran, kita akan menikah, tapi papa jujur aja gak mau."


"Baby, papa bukannya nggak mau jujur sama kamu sayang... papa akan jujur tapi nanti ya? Papa akan jelaskan sama kamu, im promise." Leon mengacungkan jari jempolnya pada Aileen.


Aileen masih menatapnya dengan marah, dia tidak percaya dengan ucapan Papanya. Kemudian Leon menautkan jari jempol dan jari telunjuk mereka sebagai persetujuan janji, ibaratkan cap stempel. "Papa janji, papa akan kasih tahu kamu nanti..."


"Ya udah, tapi janji ya Papa harus kasih tahu aku." ucapnya tegas.


"Oke baby."


Ting!


Pintu lift itu kemudian terbuka dan mereka pun sampai di lantai atas gedung itu. Tidak ada siapa-siapa selain mereka di sana karena Bram dan Frans mungkin masih dalam perjalanan, atau mereka memang paham kalau Leon sedang ingin berduaan dengan kekasihnya.


"Jadi kita baikan ya sayang?"


"Iya Pah."


"Papa boleh minta asupan vitamin C nya?" tatapan mata Leon tertuju pada bibir Aileen yang diolesi oleh lip tint berwarna merah menyala seperti Cherry. Ah, sungguh warna bibir itu sangat menggodanya, begitu sensual dan rasanya pasti manis bila dicoba.


"Hah? Asupan vitamin C?" Aileen terperangah saat mendengarnya.


Leon mengedarkan pandangannya pada ruang kerjanya yang pintunya masih tertutup. Kemudian dengan buru-buru dia menggendong Aileen dan membawanya masuk ke ruangan itu.


"Pa...papa kenapa?"


"Ai...papa minta asupan vitamin C biar semangat kerjanya!"


Aileen mengerutkan keningnya dengan bingung, kenapa Leon meminta vitamin C padanya padahal dia bukan dokter ataupun apoteker. "Maaf Pah, tapi aku nggak punya vitamin C...aku beli dulu deh ke apotik atau---hmph--"


Belum sempat gadis itu menyelesaikan kata-katanya, bibir Leon sudah membungkam bibir sensual Aileen dan melumattnya.


Inilah vitamin C yang Leon maksud. Ciuman.


...****...

__ADS_1


Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Sabar ya nanti author up 1 lagi tapi komen dulu hijau, kemarin review lama guys 😭


__ADS_2