
...πππ...
Ruang Presdir Xavier grup.
Celia melihat dari ambang pintu ruangan itu, beberapa karyawan wanita mendekati kekasihnya, begitu dia datang semua karyawan wanita itu langsung pergi seolah takut dengan kehadiran Celia.
"Honey," panggil Celia pada tunangannya itu.
"Sayang, kamu sudah datang?" sambut Leon pada kekasihnya dengan senyuman hangat seperti biasa.
Celia berjalan mendekat ke arah Leon lalu duduk di pangkuannya. Tangannya mengalung di leher Leon dengan manja, ditatapnya wajah tampan pria berusia matang itu dengan kelembutan. "Apa pekerjaanmu sudah selesai sayang?" tanya Celia pada Leon.
"Sudah sayang, mari kita makan siang bersama...eh tapi kamu bawa apa?" tanya Leon sambil menatap kertas undangan berwarna merah di tangan Celia.
Wanita itu akhirnya menunjukkan apa yang dia bawa pada Leon. "Ini surat undangan untuk pesta pertunangan kita, sayang!"
"Pesta pertunangan? Tunggu sayang, bukankah kamu pernah mengatakan padaku kalau kamu tidak jadi mengadakan pesta resmi pertunangan kita?" tanya Leon sambil melihat surat undangan yang bertuliskan namanya dan nama Celia di sana.
Celia langsung cemberut dengan bibir yang mengerucut. Moodnya seketika menjadi buruk, dia tidak suka dengan ucapan Leon padanya. Ya dia memang mengatakan sebelumnya tidak jadi mengadakan pesta, tapi sekarang dia berubah pikiran.
__ADS_1
"Sayang, kamu marah padaku?"tanya Leon sembari mengerutkan keningnya melihat Celia cemberut.
"Apa aku gak boleh berubah pikiran? Apa cuma segitu saja sayang kamu sama aku?" tanya Celia dengan mata berkaca-kaca.
"Kok kamu ngomong gitu sih sayang? Aku kan cuma nanya...jadi kamu mau kita mengadakan pesta pertunangan?" ucap pria itu seraya membujuk kekasihnya, ia membelai rambut sebahu sang kekasih dengan lembut.
"Iya aku mau, aku ingin semua orang tahu kalau aku sudah bertunangan dengan kamu." kata Celia dengan manja pada Leon.
"Hem...baiklah, tapi seharusnya kamu mengatakan dulu padaku soal undangan ini sayang. Aku kan harus mempersiapkan pesta pertunangan kita lebih dulu, tapi kamu sudah menentukan tanggalnya di undangan ini."
"Ya...maafkan aku sayang," ucap Celia lalu mencium pipi kekasihnya.
"Iya!"
"Baik, aku akan suruh Bram untuk mengatur semuanya dalam satu Minggu. Kita akan bertunangan disana dan semuanya sesuai dengan yang kamu inginkan." Leon tersenyum lembut, dia rela melakukan apapun untuk wanita yang dia cintai itu. Tapi dia tidak tahu bahwa cinta Celia hanyalah kedok.
"Makasih honey, kamu emang paling pengertian deh sama aku! Ayo kita makan siang bareng, aku mau makan siang di mall sekalian belanja sayang." katanya sambil tersenyum.
"Oke, tapi jangan lama-lama ya karena nanti aku ada rapat." Leon beranjak dari tempat duduknya lalu menggandeng tangan Celia.
__ADS_1
Ada dompet cadangan bernama Leon ketika karirnya sudah mulai meredup sebagai model. Ya, rencananya setelah dia berhenti menjadi model dan artis, mimpinya adalah menjadi nyonya Xavier dan hidup bergelimangan harta. Kalau sudah kaya, apapun bisa dilakukan dan apapun bisa dia beli. Hidup enak adalah mimpinya.
Leon dan Celia baru saja turun dari lift, mereka melihat Sam dan Aileen didepan kantor, mereka terlihat seperti sedang berbincang.
Siapa pria yang ada di samping Aileen?. Mata Sam memicing begitu dia melihat sosok pria yang berada di hadapan putrinya. Pria dengan tubuh tinggi, berkulit putih dan hidung mancung, tampan itulah definisi dari Samuel Revaldo Ginting.
"Oh, itu Sam sayang." jawab Celia sambil tersenyum.
"Jadi itu yang namanya Sam?"
"Iya sayang, coba kamu lihat deh kayaknya Sam sama Aileen cocok deh. Iya kan?" Celia bertanya pada Leon, matanya memperhatikan raut wajah Leon saat ini.
"Cocok atau tidak, belum bisa dilihat dalam sekali bertemu. Mereka harus merasakan perasaan satu sama lain terlebih dulu, barulah bisa dibilang cocok." ucap Leon tegas. "Sayang, apa kamu yakin Sam itu baik?" tanyanya pada Celia dengan raut wajah serius.
"Iya sayang, Sam itu baik dan aku sudah kenal dia dari kecil. Dia adalah anak dari bibiku, dia juga cerdas, mapan dan aku rasa dia sangat cocok untuk putri kita." jelas Celia pada Leon, sambil tersenyum. Namun senyumannya menyembunyikan sesuatu.
Leon masih berdiri disana dan memperhatikan gerak-gerik Sam kepada Aileen. Terlihat Sam mencium punggung tangan Aileen dan gadis itu tidak menolaknya. Sementara Leon mengepalkan tangannya, ada rasa berdenyut didalam dadanya melihat pemandangan itu.
...****...
__ADS_1