
...πππ...
Tangan Leon memeluk tubuh Aileen dan menahan gadis itu agar tidak jatuh ke lantai. Alhasil Aileen berada diatas tubuh Leon, namun bibir mereka menempel.
Deg!
Hati Leon seperti berpesta, saat merasakan bibir Aileen untuk ke sekian kalinya. Berdebar dan jujur ia rindu sentuhan itu.
Mata Aileen melebar manakala bibir yang katanya bibir papanya itu bersentuhan. Saat Aileen akan beranjak dari tubuh Leon, tangan Leon malah semakin memeluk dirinya.
Aileen melepaskan bibirnya dari bibir Leon. "Papa...kenapa..."
Kini Leon dan Aileen sudah duduk dilantai kamar mandi itu, dengan posisi Aileen dipangkuan Leon.
Hup!
Leon malah menarik tengkuk Aileen dan mencium gadis itu tepat di bibir. Aileen terkesiap, dia sangat terkejut karena ciuman itu dan apa yang dilakukan oleh Leon padanya.
Pikiran ingin menolak, namun tubuh berkata lain. Aileen menikmati lumattan demi lumattan yang di berikan Leon padanya. Dada dua insan yang saling bertukar Saliva itu, bergemuruh hebat dan merasakan ada debaran luar biasa disana.
Kerinduan, hasrat, gairah, bercampur menjadi satu. Leon malah semakin menjadi-jadi dan menarik tengkuk gadis itu semakin dalam, guna memperdalam ciuman mereka. Ciuman penuh rindu.
Sial! Ini gila, aku berciuman lagi dengan Aileen. Jelas, aku memang memiliki rasa pada Aileen...CINTA.
"Eungh--" lenguh Aileen ditengah-tengah belitan lidah dari papanya itu.
Dia bilang aku anaknya kan? Lalu kenapa dia menciumku begini? Rasanya kita seperti sepasang kekasih.
Buk! Buk!
Aileen memukul-mukul tubuh Leon dengan kedua tangannya, tenaga yang dia miliki tidak cukup kuat untuk memukul Leon karena ia belum lama bangun dari koma.
"Auw!!" Leon meringis kesakitan, manakala bibirnya digigit oleh Aileen dan akhirnya berdarah. "Kenapa kamu gigit Papa, Ai?!"
Plakk!
Aileen menampar pipi kanan Leon dengan tenaga lemah. Leon ingin tertawa tapi menahannya, bahkan tamparannya hanya seperti sentuhan kecil.
"Kamu bilang kamu Papaku, lalu kenapa kamu melakukan hal yang kurang ajar seperti ini?" tanya Aileen marah-marah, matanya berkaca-kaca seperti akan menangis. Wajahnya kebingungan dan gelisah. "Kamu melecehkan aku, dasar pria tua!"
Tangan Leon memegang kedua tangan Aileen dengan kuat. "Dengarkan aku dulu Aileen!"
"Dengarkan apa lagi? Dasar pedofil! Bajingan!" ketus Aileen sambil meneteskan air matanya.
__ADS_1
Leon menatap gadis itu dengan begitu dalam, tangan yang satunya menyibakkan rambut panjang Aileen ke belakang. Gadis itu masih cantik walau dalam mode sakit, wajah pucat, ia terlihat imut. Membuat Leon semakin terpesona oleh anak angkatnya.
Katakanlah Leon gila! Tapi inilah faktanya dan Leon tidak dapat membendung perasaannya lagi. Sejak Aileen koma, Leon menyadari arti Aileen bagi dirinya, dia takut kehilangan gadis itu.
Dengan sikapnya saat ini atas inisiatifnya sendiri, Leon yakin bahwa ia memang memiliki rasa yang sama pada Aileen. Apa ini karma karena dirinya pernah menolak cinta Aileen?
Tidak! Ini bukanlah karma, tapi rasa yang sudah ada sejak lama dan baru disadarinya sekarang.
"Lepaskan aku Papa! Lepaskan!" teriak gadis itu memohon minta di lepaskan.
"Aileen, aku bukan Papamu dan aku mencintaimu." ungkapnya sambil memeluk Aileen.
Jika Aileen tidak hilang ingatan, mungkin dia akan bahagia mendapatkan balasan cinta dari papanya. Sayangnya dia amnesia dan tidak ingat semuanya. Aileen menatap Leon dengan bingung, namun air matanya luruh.
"Apa yang Papa katakan? Apa papa sudah gila?! Aku kan anak Papa, papa sendiri yang bilang begitu." cicitnya bingung.
Cup
Leon mengecup kening, kedua kelopak mata, pipi, lalu beralih pada bibir Aileen. Kecupan singkat itu penuh sayang, mengandung arti cinta yang tulus penuh kasih.
"Pa... Papa..." Aileen terkejut.
"Maaf Ai, Papa terlambat menyadarinya. Seandainya papa lebih awal menyadari perasaan ini, kamu tidak akan menunggu, kamu tidak akan seperti ini."
"A-aku pengen pipis! Tanganku sakit!" Aileen menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung. Jujur, pernyataan cinta yang dilakukan di kamar mandi itu membuat Aileen semakin bingung.
"Tidak! Aku tidak mau dilecehkan lagi olehmu!" kata Aileen gusar.
"Papa cuma mau bantu kamu sayang, buka celana saja. Nanti papa keluar udah ini, kamu kesulitan buka celana dengan tanganmu yang seperti itu." ucap Leon seraya menatap lengan kanan Aileen yang masih terbalut perban.
"Aku bisa sendiri."
"Sayang..."
"Pergi!!" usir Aileen pada Leon dengan marah.
Pria tua ini kenapa dia begitu?
Leon menghela nafas. Ia tau dan bisa merasakan bahwa gadis itu sedang terkejut karena ulahnya yang terbilang sembrono untuk Aileen yang sedang kehilangan kenyataannya. "Baiklah, papa akan keluar. Tapi papa akan buka celanamu dulu!"
"Tidak mau!"
"Haaihhh..." Leon mendesah, lalu akhirnya dia memilih mengalah dan keluar dari kamar mandi itu. Dia menunggu tepat di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar mandi itu, Aileen terlihat kebingungan dengan wajah yang bersemu merah. Jari telunjuknya menyentuh bibir basahnya akibat pergulatan lidah tadi. Aileen berkaca di cermin dan melihat dirinya sendiri.
"Dia itu siapa? Papaku atau pacarku? Tapi...dia terlalu tua kalau dipanggil pacar dan terlihat muda untuk dipanggil Papa. Dia juga benar-benar gila, menyatakan cinta di kamar mandi! Berarti dia tidak serius, dia tidak cinta padaku." pikir Aileen bergumam sendiri.
Setelah 2 hari Aileen sadar dari koma dan mendapatkan pemeriksaan fisik secara keseluruhan. Aileen diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Lusi, Bram, Leon, Cleo dan William selalu ada disisinya.
Kini gadis itu tiba di rumahnya, dia melihat sekeliling ruang tengah rumah Xavier. Cleo, Lusi, Raisa, Bram, William menyambut kepulangan Aileen dengan dekorasi pesta di ruang tengah itu.
"Selamat datang Aileen!"
"Welcome home, baby." sambut Lusi sambil memeluk Aileen. "Are you okay, baby?" tanya Lusi lalu mengurai pelukannya.
"Iya Tante." Aileen balas tersenyum.
Cleo menghampiri Aileen dan menarik tangannya. "Ayo masuk! Kita mengadakan pesta kecil-kecilan buat kamu!"
"Iya."
Aileen dan Cleo berjalan ke dalam rumah. Mereka pun menikmati pesta kecil-kecilan yang diadakan orang-orang terdekat Aileen.
"Ayo Ai, makan ini..." Cleo hendak menyuapi Aileen dengan kue coklat. Mulut Aileen sudah terbuka dan bersiap menerima makanan itu.
Namun...
"Maaf Cleo, Aileen gak bisa makan sembarangan." Leon mengambil kue coklat yang ada di tangan Cleo.
"Aduh om...ini cuma kue coklat, bukan makanan sembarangan!" sergah Cleo sambil menggelengkan kepalanya. Dia heran dengan keposesifan Leon pada Aileen. Jelas mereka bukan ayah dan anak.
Si om...apa dia udah ngaku sama Aileen kalau dia cinta sama Aileen? Atau dia masih menyangkal perasaannya?
Leon memperhatikan kue coklat itu dengan dalam. "Gak bisa, harus tanya dokter Revan dulu. Apakah makanan ini---"
Hap!
Aileen langsung memakan kue coklat yang ada ditangan Leon. "Uhm...enak..."
Leon tersenyum, lalu dia mendekat ke arah Aileen dan mengecup sudut bibirnya.
"Kyaakk!! Papa!"
"Omigod!" Cleo ternganga, lalu dengan cepat, William yang ada di samping Cleo langsung menutup mulut kekasihnya itu.
"Ini baru enak." Leon menjilat coklat di sudut bibir Aileen dan sontak saja membuat orang yang melihatnya terkejut bukan main dengan skinship yang dilakukan Leon pada Aileen.
__ADS_1
...****...
Maaf ya, untuk yang merasa alurnya cepat...β€οΈ author memang gak suka bertele-tele atau bikin konflik yang berat... author gak suka berat-berat karena hidup sudah berat π€£